Love And Recipe

Love And Recipe
Bab 8 [Flashback 0.1]


__ADS_3

Gishela Sasmita Rusadi


Nama yang tertera pada papan yang tertempel di salah satu bangsal sukses membuat Jeremiah kalang kabut mencari bantuan. Pasalnya, Jeremiah tidak sengaja menemukan Gishela pingsan di koridor asrama yang sepi.


"Gigi!"


Jeremiah menoleh ke asal suara, sepasang suami istri dengan raut wajah panik datang dengan nafas yang tersenggal. Jeremiah bisa menebak, kalau sepasang suami istri yang berada di depannya itu adalah orangtua dari Gishela. Dan tidak butuh otak sepintar Einstein untuk menebak kalau kedua orangtua itu lari dari parkiran sampai ke ruangan ini.


(Tulisan miring ceritanya dialog pakai bahasa inggris, ya)


"Kamu siapa?" tanya seorang pria yang Jeremiah perkirakan lima tahun lebih tua darinya.


"Saya temannya, Gishela. Saya yang membawa dia kemari. Saya menemukan Gishela sudah tidak sadarkan diri di koridor asrama yang sepi."


Pria tadi mengangguk, menepuk pundak Jeremiah dan mengucapkan sederet kalimat terimakasih. Dari situ Jeremiah sadar, bahwa kehadirannya cukup sampai di sini dan pergi secara diam-diam dari ruangan.


***


Jeremiah kira, dia hanya akan terlibat sekali seumur hidup dengan Gishela. Tapi ternyata tidak, untuk yang kedua kalinya dalam jangka waktu 3 bulan setelah insiden pingsan itu, Jeremiah kembali menemukan Gishela yang tidak sadarkan diri di koridor asrama yang sepi. Bahkan Jeremiah seperti dihadapkan dengan dejavu.


Buru-buru Jeremiah membopong Gishela yang pingsan untuk di bawa ke ruang kesehatan atau mungkin dilarikan ke rumah sakit.


Dahi Jeremiah bahkan sempat terlipat dengan sempurna ketika menyadari perbedaan berat yang dia rasakan ketika membopong Gishela. Tidak, Gishela tidak bertambah berat,  justru sebaliknya, dia terasa sangat ringan dari sebelumnya. Bahkan Jeremiah menyadari lekukan cekung di pipi Gishela yang terkesan seperti orang sakit karena air mukanya yang pucat pasi.


Lekukan badan Gishela pun sangat terasa dengan tulang yang menonjol meski sudah di tutupi dengan seragam yang kebesaran.


"Kapan terakhir kali dia makan?" Stuart bertanya pada Jeremiah.


Jeremiah menggeleng, tanda tidak tau ke petugas kesehatan asrama, dirinya tidak begitu dekat dengan Gishela karena mereka tidak pernah dalam satu pelajaran yang sama dan nyaris jarang bertemu.


"Kamu bukan teman sekamarnya?"


Lagi-lagi Jeremiah menggeleng.


"Aku baru ingin kembali ke kamar setelah makan malam. Tapi di tengah perjalanan aku menemukannya pingsan di koridor." Jelas Jeremiah.


Stuart mendesah "Tensi darahnya sangat rendah, perutnya pun kosong. Cekungan mengerikan sangat terlihat jelas. Apa dia diet ekstrim?" Stuart bermonolog.


Jeremiah menatap ngeri Gishela, dirinya tidak tau menahu tentang gadis itu karena Gishela terkenal sangat tertutup.


"Lihat ini, kulit wajahnya yang menipis. Dia sangat memaksakan diri dengan perawatan yang tidak tepat." Tunjuk Stuart pada bayangan urat yang ada di sekitar wajah Gishela.

__ADS_1


"Catatan kesehatannya pun makin hari kian menurun." Decak Stuart yang terlihat kesal, entah untuk kebodohan Gishela yang menyiksa diri atau merasa kesal dengan hal lain.


Jeremiah tidak mau ambil pusing, dirinya menatap Gishela dengan iba. Masalah sebesar apa sampai membuat gadis ini mati-matian menyiksa dirinya sendiri? Apa ada yang membully dia di sini? Karena seingat Jeremiah, Gishela baru pindah di awal semester.


"Apa aku bisa mengajukan diri untuk sekamar dengannya? Aku takut dia begini karena ada yang membullynya, mengingat dia adalah orang yang sangat tertutup." Tanya Jeremiah menatap Stuart.


Stuart mengangguk dengan setuju "Aku nanti yang akan mengurusnya. Lebih baik kamu menemaninya, aku rasa sebentar lagi dia siuman. Aku berharap sangat besar padamu, Ashley Jeremiah Princeton."


Meneguk ludahnya susah payah, Jeremiah mengangguk, dia sadar, hari-harinya tidak akan sama lagi.


***


Untuk mendekatkan diri dengan sosok Gishela yang tertutup sangat tidak mudah, butuh kekeras kepalaan yang tinggi agar Jeremiah bisa berada di sisi gadis pemurung itu. Sudah hampir satu bulan Jeremiah sekamar dengan Gishela. Tapi nyaris tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir mungil Gishela, kecuali jika ada hal-hal penting dan seperlunya saja.


"Oke, fine. Aku anggap kita tidak pernah sekamar."


Pada satu hari, Jeremiah menyerah dengan sikap dingin Gishela. Gishela benar-benar membentengi dirinya setinggi mungkin, dan tidak membiarkan Jeremiah menemukan celah untuk masuk menyusupi hidupnya.


Selama Jeremiah satu kamar dengan Gishela, Jeremiah rajin menggali informasi tentang keseharian Gishela. Mencari tahu tentang pembullyan atau hal-hal buruk yang bisa di alami oleh seorang gadis pemurung. Tapi hasilnya nihil.


Tidak ada tindak pembullyan secara verbal atau non-verbal atau kemungkinan tindak kekerasan sekali pun. Semuanya bersih, bahkan pemberi informasi yang Jeremiah kenal sangat bisa di percaya dan di andalkan.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Jeremiah benar-benar menganggap Gishela tidak ada untuk beberapa minggu ke depan. Awalnya memang seperti itu, tapi Jeremiah tidak tahan dengan kebiasaan buruk Gishela yang tidak mengisi perutnya dengan benar.


Bagaimana bisa manusia tidak makan berhari-hari, sekalinya mengisi perut hanya dengan satu buah apel. Atau kadang tidak makan sampai seminggu penuh. Dan tiap kali di tanya mengenai makanan selalu menjawab sudah makan yang jelas-jelas kebohongan besar. Belum lagi setiap ada acara makan-makan bersama, Gishela selalu membawa sikat gigi dan odol, bukan karena terlampau bersih, tapi terlampau cerdik. Setiap makanan yang masuk pasti akan di keluarkan Gishela dengan cara menyogok paksa tenggorokannya dengan gagang sikat gigi. Gila tidak, sih?!


"Kamu punya cita-cita kena anoreksia, ya?!" Tanya Jeremiah, tajam. Tapi tetap mengangsurkan roti isi tuna dan satu botol susu segar ke arah Gishela yang tengah membaca buku di bangku koridor.


Tidak mendapat respon seperti biasanya tidak lantas mematahkan semangat Jeremiah.


"Aku tidak tau apa masalah kamu. Setiap orang punya masalahnya sendiri. Sekedar informasi, aku ini penyuka sesama jenis, lebih tepatnya, aku merasa kalau diriku ini terperangkap di tubuh wanita. Dari umur 6 tahun aku sadar kalau ada yang salah pada diriku."


"Tapi keluargaku menolak keras pemikiran dan orientasi seksualku, mereka memasukkanku ke asrama setelah sebelumnya sebulan penuh di hujani dengan siraman rohani. Bayangkan, penyuka sesama jenis, siraman rohani, dan asrama putri. Setelah di dorong ke neraka aku di masukkan ke surga." Cetus Jeremiah mematahkan keheningan mencekam diantara mereka. Dan sedikit berhasil menarik perhatian Gishela.


"Jangan lihat aku seperti itu, aku begini bukan berarti menyukaimu. Tolong jangan menghakimi." Sergah Jeremiah cepat.


"Tapi aku penasaran, apa yang mendorongmu sampai di titik hidup segan mati tak mau. Maksudku, keseharianmu yang murung di tambah penyiksaan diri secara brutal, aku bertanya-tanya, kamu sedang menghukum dirimu sendiri untuk apa?"


Kemudian hening, Gishela memilin ujung bungkus roti isi tuna, wajahnya menyatakan kalau dirinya sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Gigi." Ujar Gishela mengulurkan tangannya di depan Jeremiah, yang di sambut hangat Jeremiah yang langsung menjabat tangan Gishela.

__ADS_1


"Ghigye?"


"Gigi!"


"Gyige?"


"Gigi!!"


"Gighe?"


"Gi-"


"Gi-?"


"Gi."


"Gi."


"Gigi."


"Gigi."


Setelah beberapa kali berdecak kesal, akhirnya Gishela tersenyum tipis menatap Jeremiah.


"Nama panggilanmu susah untuk di lafalkan. Bagaimana kalau Gizta?"


"Gista?"


"Nah, iya itu. Singkatan dari namamu. Gishela Sasmetha."


"Sasmita!" Koreksi Gista yang membuat Jeremiah meringis, merasa bersalah.


Gishela mengangguk, menurutnya nickname yang dibuat Jeremiah lumayan bagus dan enak di dengar.


"Terimakasih, Ashley."


Kini giliran Jeremiah yang berdecak tidak suka.


"Panggil aku Je, Jeje, Jery, Remy, atau Jeremiah tanpa di potong-potong atau tidak sama sekali."


Gista mengangguk, bukankah ini awal pertemanan yang bagus?

__ADS_1


__ADS_2