
@Suketi Fix, Player sejati Gista, tuh!
@banserep Tolong ada yang tau lapak abang gondrong? Saya mau silahturahmi.
@hijaubunga Pantes aja kita menjomblo sampai detik ini, jodohnya di embat semua sama @Gistata #savejomblo
@Babakosan Si @Gistata cantengan kali ya kalau nggak bikin pansosan
@Bukansoksuci Udah gaes, keenakan Gista manen pahala di gibahin terus!
Kerlipan blitz dari kamera bersahut-sahutan menyilaukan pandangan Gista yang berjalan ke arah mobil yang Abi siapkan untuk menjemput artis kesayangannya itu. Gista terpaksa menelepon Abi karena tidak mungkin dirinya dan Jeremiah keluar sedangkan ada puluhan wartawan yang sudah menunggu di depan resto.
Berbagai macam jenis mic, recorder, dan handphone pintar sudah bergerumun di sekitar Gista. Wartawan seakan berlomba-lomba untuk bertanya beberapa hal tentang pria gondrong yang di duga berciuman dengan Gista.
Gista hanya tersenyum saja, terus berjalan dengan Abi yang berusaha keras membuka jalan untuk Gista. Untung saja, Hugo mau membantu Jeremiah keluar dari restauran lewat pintu belakang khusus karyawan. Kalau tidak, Gista yakin Jeremiah sudah eksis tebar pesona akan ketampanannya itu dan tidak keberatan terus dihimpit banyaknya kamera dan mic wartawan.
Kalian pikir Jeremiah keberatan? Justru salah. Manusia satu itu adalah spesies paling narsis yang pernah Gista kenal.
(Tulisan miring pertanyaan wartawan ya)
"Cowok gondrong tadi siapanya Gista?"
"Temen." Abi yang menjawab sekenanya dengan masih bersusah payah membelah manusia yang ada di hadapannya.
"Kalau temen, harus ciuman ya?"
Gista meringis ketika menatap Abi yang mendelik kesal menatap salah satu wartawati yang tepat berada di samping kirinya.
"Ada hubungan apa Gista sama Adlan Rusadi?"
__ADS_1
"Sekarang sama cowok gondrong ya, Gis."
Dan pertanyaan memuakkan penuh dengan nada menyindir terus saja bersahut-sahutan. Bahkan Abi kewalahan membelah wartawan yang benar-benar memblock jalan mereka. Padahal mobil yang diparkir Abi berjarak sangat dekat dengan pintu masuk restauran tapi rasanya berjarak berpuluh kilometer jauhnya.
Mati-matian Abi menahan diri agar tidak mendorong dengan keras para wartawan yang menghadang jalan mereka. Tapi Abi sadar, kalau dirinya melakukan itu bisa saja ada berita gempar esok harinya dan menyangkut pautkan Gista.
Di tengah kewalahan Abi yang menjawab sekenanya dan Gista yang mulai lelah di desak meski senyum kerja masih menghiasi wajah cantiknya, Hugo berjalan sembari menarik tangan Gista dan membelah kerumunan wartawan dengan mudah karna para wartawan yang setengah terkejut dengan kedatangan Hugo yang menarik Gista menjauh.
"Mbak Gis, kalau bukan klarifikasi dong!" Seru salah satu wartawan yang sudah mulai menyadari kepergian Gista. Tidak lupa dengan para juru kamera yang secepat kilat memfoto kepergian Hugo dan Gista yang bergandengan dari arah belakang.
"Kalau kalian semua ngejar artis saya, saya bisa nuntut kalian, ya!" Abi memberi peringatan dengan nada jengah ketika para wartawan sudah mau mengambil ancang-ancang mengejar Gista dan Hugo yang berjalan ke arah pelatara parkiran.
***
Hugo terlihat lega ketika berhasil mengeluarkan Gista dari kerumunan wartawan. Genggaman tangannya pada tangan Gista dia lepaskan ketika sampai di depan mobil Juke miliknya.
"Makasih. Tapi jangan kaget kalau besok ikutan di buru wartawan." Singkat Gista dengan senyum tipis.
"Justru itu yang saya mau, semakin banyak saya tersorot, semakin bagus."
Gista berdecak, sedikit miris memang tapi dirinya juga harus tetap pada pendirian awalnya. Membongkar rahasia tentu akan menghambat acara balas dendamnya karena Gista yakin dirinya akan melunak dan luluh bila Hugo mengetahui identitas aslinya.
"Ya, pokoknya makasih lah." Decak Gista.
"Nggak gratis, loh." Ujar Hugo ketika Gista berniat meninggalkan Hugo.
Gista menatap Hugo dengan kernyitan bingung
"Kan udah dibayar sama popularitas." Ujarnya tajam.
__ADS_1
Hugo berdecak, menarik Gista untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Heh, mau kemana?" tanya Gista.
"Meeting sama mas Danu buat acara You Can Cook. Manager kamu belum kasih tau?" pungkas Hugo. Melajukan Juke putih kesayangannya.
***
Niat awalnya, Danu ingin menambah beberapa pertanyaan dari penonton agar di jawab dengan santai oleh Hugo seperti percakapan hangat pada umumnya. Tapi, setelah berita Hugo yang menarik tangan Gista menjadi hotline news, Ide untuk menjadikan You Can Cook sebagai Reality Show jadi sangat menarik.
Sayangnya, meski sudah mendapat Writer profesional dan semua rencana singkat yang sangat matang. Gista menolak mentah-mentah usulan Danu. Gista menganggap program itu hanya ajang memancing pertikaian antar fans atau kemungkinan terburuk, haters Gista akan semakin bersikap bar-bar. Dan akan menyusahkan dirinya, nanti.
"Duduk dulu, Gis. Kita bahas ini dengan kepala dingin." Ujar Abi.
"Tapi saya setuju dengan artis saya. Kemungkinan haters Gista semakin menjadi-jadi, pasti merepotkan kegiatan kerja kami nantinya."
Danu mengangguk paham dengan kekhawatiran Gista.
"Oke, gimana kalau program ini nggak akan kita sampaikan ke publik sebelum selesai? Jadi semacam program rahasia? Bagaimana?" tanya Danu hati-hati.
"Hugo kan nggak mau yang bergimik." Protes Gista menunjuk sengit Hugo yang masih santai di tempat duduknya.
Danu menatap Gista dan Hugo bergantian, seperti merasa dejavu dengan kejadian ini meski dengan kasus yang berbeda.
"Kata siapa?" Hugo menginterupsi "Saya setuju-setuju aja." Ujarnya kalem, membuat senyum Danu melebar.
Gista mendengus jengkel, menatap Hugo yang memang sangat niat kalau soal urusan popularitas.
"Jadi gimana, Gis?" tanya Danu sekali lagi.
__ADS_1
Gista tersenyum sinis, memilih pergi tanpa berniat menjawab pertanyaan Danu.
"Emm, tolong kasih saya sama artis saya waktu buat mikir ini. Nanti saya kabari secepatnya." Sergah Abi cepat, menyusul Gista yang sudah menghilang di balik pintu.