Love And Recipe

Love And Recipe
Bab 3


__ADS_3

@bebetajia Bar bar sekali si pendek


@dewidua Gue kira co-hostnya si Carline. Ehhh kaget si Gista yang gantiin Duma. Diluar perkiraan banget.


@calonbojogalak Susah emang, yang biasanya terbiasa sama baju bagus sama make up di suruh ke dapur masak-masak.


@bapakkau kalau nggak mau dikomentari stop jadi arteeesss oy!


@makhlukneraka Itu apinya kenapa nggak nyamber sih! Gregetan gue.


@pakupalujadian Tontonan Indonesia cuma nyari rating doang *****!


"Saya nggak mau kerja sama lagi, sama dia!"


Hugo menunjuk sengit Gista yang duduk tepat di sebrangnya. Gista mengangkat wajahnya, angkuh. Di keluarkan dari acara ini pun tidak apa-apa, sebab, memang bukan keinginannya berada di sini.


"Tenang dulu, tenang." Danu menurunkan tangan Hugo dengan tepukan pelan di lengannya.


Danu memijat pelipisnya pelan, memandangi Gista dan Hugo bergantian.


"Realistis aja ya, Go. Kamu kalau di posisi Gista yang dihujat kayak gitu pasti kepancing juga emosinya."


Gista mengangguk membenarkan perkataan Danu.


Hugo mendengus, dia tidak terima dengan perkataan Danu.


"Saya kurang suka ya, Mas. Acara saya cuma jadi ajang pansos*nya dia." *Panjat sosial


"Heh!" Seru Gista "Di jaga ya, omongannya!" Geramnya menatap Hugo yang memandang remeh ke arahnya.


Hugo bersedekap tersenyum miring menatap Gista "Emang bener, kan."


Bagi Hugo, Gista terlihat sangat jelas ingin Pansos diacaranya yang kebetulan masuk ke katagori siaran live. Tidak ada pemotongan peradegan selain iklan lewat dan berakhirnya acara.


Gista mengatur nafas untuk menahan emosinya yang meledak-ledak. Gila! Gista tidak habis pikir, Hugo masuk ke dalam kategori selera Duma. Padahal manusia yang satu itu mempunyai mulut yang sangat menyebalkan!


"Mas Danu!" Fira, salah satu tim kreatif mendatangi Danu dengan heboh.


"Lihat nih! Tagar di Twitter."


Danu melihat ke arah layar hape milik Fira. Tagar #YouCanCook dan #YCCGistaBarbar bersahut-sahutan demi menempati posisi pertama tagar paling trending topik.


"Lihat ini juga, Mas!" Fira mengarahkan Danu ke time-line search Instagram miliknya. Di sana bertebaran adegan Gista yang mencak-mencak ke arah layar. Bahkan ekspresi Gista yang terkejut dengan api yang mengobar, sukses menjadi bahan Meme. Danu begitu takjub dengan efek yang di berikan Gista. Dia benar-benar jadi sorotan publik sekarang.


"Wah, jadi terkenal kan, acaranya. Sama-sama." Sindir Gista, puas.

__ADS_1


Hugo mendengus semakin kesal. "Pokoknya saya nggak mau kerja sama diantara Gista dan acara saya berlanjut. Kalau Mas masih pertahanin co-hostnya dia. Saya yang out!"


Sekarang Danu yang merasa serba salah, mempertahankan Gista untuk mendongkrak rating yang otomatis akan menjadi ladang uang atau melepaskan Gista dan kembali menjadi acara yang monoton. Hanya lempeng seputar resep dan cara memasak.


Danu mendesah "Inget kontrakmu kan, Go? Out berarti pinalti."


Hugo terhenyak, tidak pernah menyangka Danu akan berbicara mengenai kontraknya dengan acara ini. Jelas, perasaan kecewa merangkak perlahan menyayat ego Hugo.


Gista mendesah, untuk seseorang yang baru sukses dalam bidangnya mungkin acara ini sangat amat berarti karena dengan itu dirinya merasa diakui. Gista paham betul perasaan itu, mengingatkan dimana dirinya menjadi model pembuka ajang peragaan bergengsi.


"Udah, saya aja yang out. Saya pikir, nggak ada bagusnya juga saya di sini. Orang-orang di luar sana pastinya lebih fokus untuk menghujat saya dari pada fokus dengan proses memasak."


Danu mendesah, agak kecewa.


"Coba, pikirin sekali lagi, Gis. Pinaltinya 200 juta. Lumayan menurutku meski mungkin cuma nominal remahan buat kamu."


Gista tersenyum tipis menatap Danu. Coba kalau Danu tau, semua urusan ini yang menanggung adalah Duma. Jadi, garis besarnya Gista tidak akan rugi sepeserpun.


"Saya baru kesandung khasus, mungkin bakal berdampak lebih parah dari ini. Jadi, sebelum terlambat saya lebih memilih berhenti aja." Gista menjeda perkataannya menatap Hugo yang tengah terdiam mendengarkan semua kebijaksanaan Gista yang memilih mengalah.


"Itu kan, yang chef Hugo mau."


Hugo tidak menjawab, dia malah pergi menjauh dari Gista, Fira dan Danu. Keputusannya tidak bisa di ganggu gugat. Meski melihat Gista yang berbesar hati mengalah. Toh, bagi Hugo sama saja. Di matanya, Gista hanya berpura-pura mengalah untuk dikasihani. Setelah berhasil dikasihani pastinya wanita itu bebas melakukan pansos yang dia mau.


Sudah kebaca!


"Hih! Biasanya lo bodo amat sama netizen! Kenapa harus sekarang meluap-luap?!" Duma menyentak, marah.


Gista yang sedari tadi disibukkan mengelus Milky--kucing himalaya kesayangannya--hanya melirik ke arah Duma, kesal.


"Ya jadi gue aja sini, biar ngerasain gimana dibilang nggak pantes ada di acara masak, dihujat sangkut pautin skandal kemaren yang nggak ada nyambung-nyambungnya." Cecar Gista.


Duma mendesah, menyingkap poni yang menghalangi pandangannya.


"Iya, tapi kenapa baru sekarang? Lo kayak baru sekali dua kali digituin." Kata Duma tidak habis pikir. Membuat Gista tertegun, membenarkan.


Iya, ya. Kenapa baru sekarang. Pikirnya merasa aneh sendiri.


"Ya mungkin gue terpengaruhi sama hormon PMS sama emang lagi stres aja." Kata Gista meragu.


Duma mendengus, memijat kepalanya yang serasa nyut-nyutan. Gagal sudah semua rencananya.


"Yaudah sih, Dum. Rencana buruk itu kan emang nggak pernah berakhir baik. Mending lo relain aja. Cari yang lain. Hidup bahagia, deh." Ujar Gista.


Duma melempar bantalan sofa ke arah Gista dengan gemas. "Bodolah!" Serunya sebal sendiri, membuat Gista terkekeh geli.

__ADS_1


Ting... Tong....


Gista dan Duma saling tatap ketika mendengar bunyi bell apartemen Gista yang berbunyi.


"Siapa, Gis? Abi?" tanya Duma.


Gista mengangkat bahunya, menandakan tidak tau. "Nggak mungkin Abi, dia mah nggak pake acara mencet bel segala langsung nyelonong masuk." Kata Gista menjelaskan kelakuan Managernya.


Gista bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu. Di lihat bagaimana pun rasanya Gista menolak percaya, bahwa yang berada di balik pintu apartemennya adalah sesosok lelaki paling menyebalkan yang baru saja dirinya dan Duma bicarakan, Hugo.


"Siapa, Gis?" Duma mendatangi Gista, sedikit heran melihat respon Gista yang sedikit menegang.


"Hai."


Satu sapaan itu sukses membuat Duma kehilangan udara di sekitarnya sepersekian detik. Orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta dan mematahkannya dalam waktu bersamaan, kini tengah berdiri di depan Gista tanpa ada ekspresi rasa bersalah.


"Gis, gue balik!"


Duma langsung mengambil tas yang dia taruh di sofa, meninggalkan kediaman Gista tanpa berniat berbasa-basi. Duma masih belum siap menahan terjangan rasa sakit yang dirinya peroleh dari Hugo.


Gista menghela nafasnya sedikit kesal. Sifat kekanakan Duma kadang lebih menyebalkan dari yang dia kira.


"Mau, ngapain?" tanya Gista tanpa berbasa-basi. Membiarkan Hugo berdiri di depan pintu.


"Mau keluar sebentar? Ada yang harus kita omongin."


"Omongin apa lagi?" sergah Gista, pasalnya diantara mereka sudah tidak ada lagi tanggung jawab dalam bentuk apapun.


"Soal You Can Cook?"


Gista mengerut kebingungan, menatap Hugo yang menatapnya dengan ekspresi datar. Tapi Gista menyadari, dirinya masih melihat percikan rasa bersalah di mata tajam Hugo.


"Jadi..." Hugo memberi jeda, menatap Gista sedikit berharap.


Gista akhirnya mengangguk, menerima ajakan Hugo.


"Tapi, gue nggak mau keluar. Di sini aja bisa, kan?"


"Nggak bisa!"


Gista terlonjak kaget ketika Hugo menjawabnya dengan tidak santai.


"Maaf." Hugo buru-buru meminta maaf, mungkin sadar responnya terlalu berlebihan.


"Kamu tinggal sendiri 'kan di sini? Takut ada salah paham, kalau-kalau ada yang melihat kita. Ke kafe di bawah aja, gimana?" tawar Hugo menjelaskan.

__ADS_1


Gista langsung saja menerima tawaran Hugo. Biar lebih cepat selesai, pikirnya.


__ADS_2