Love And Recipe

Love And Recipe
Bab 15


__ADS_3

Hugo merasa sedikit agak kesal dengan kelakuan Duma yang sangat tidak profesional. Pasalnya, Duma secara sepihak mundur dari acara You Can Cook tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.


"Ya mau gimana lagi, Go. Dia malu mungkin. Masih satu acara sama kamu yang jelas-jelas udah nolak dia terang-terangan." Komentar Danu, dengan mata yang masih fokus di layar monitor.


"Itu bukan alesan. Nggak profesional banget, sih!" Hugo mendumel.


Danu hanya melirik sekilas.


"Udah tenang aja, besok udah ada gantinya, kok." Ujar Danu, mengusir Hugo secara halus untuk meninggalkan ruang kerjanya.


Hugo menghela nafasnya pelan, entah mengapa. Dirinya lebih merasa dihargai di luar dari pada di negaranya sendiri. Pengalaman yang membentuk Hugo untuk disiplin dan profesional dalam mengerjakan sesuatu. Maka dari itu, Hugo agak sedikit keras dengan masalah toleransi.


Hugo sangat berharap, pengganti Duma nanti, lebih bisa diandalkan.


"Gila ya si, Gista. Daddy sugarnya nggak main-main."


"Baru putus 'kan dia sama vokalis band itu!"


Langkah Hugo terhadang dua crew wanita yang heboh melihat ke layar hape. Mau tidak mau Hugo berdehem kecil meski tidak berefek sama sekali. Suaranya kalah dengan obrolan seru kedua wanita itu.


"Coba liat kolom komentarnya Vania Larasati!" Seru Salah satu wanita berambut model Shaggy Lob yang sukses menarik perhatian Hugo.


"Ada apa sih?" tanya Hugo tepat di belakang kedua wanita itu sampai mereka terperanjat.


"Eh, mas Hugo. Ngagetin aja." Cengenges Dini, menyenggol lengan Neva, agar temannya itu memberi jarak untuk orang lewat.


"Kalian dari tadi heboh sendiri menghadang orang mau lewat." Beritahu Hugo yang membuat kedua wanita itu cekikikan.


"Ya maaf, mas Hugo. Kita kalau gosip suka nggak tau tempat. Lagi seru, soalnya." Jelas Neva.


"Memangnya, ada gosip apa? Sampai kalian berdua heboh sendiri." Tanya Hugo, mencoba mengorek informasi.


Dini menunjukkan layar hapenya tepat di depan Hugo, postingan salah satu akun gosip--Lambe Ambyar--tentang salah satu pengusaha sukses tengah makan berduaan dengan salah satu model yang sedang naik daun, lengkap dengan caption yang agaknya berhasil memancing ribuan opini publik.


"Ini loh, mas! Lagi heboh dan masih panas-panasnya. Berita Gista sama suami orang." Dini memberitahu.


"Gista?" lirih Hugo dengan kernyitan yang cukup dalam.


"Mas Hugo nggak kenal Gista? Itu loh model Adacii yang desas-desusnya jelek semua." Ujar Neva yang langsung diberi sikutan tajam oleh Dini.


Hugo mengangguk saja "Jadi kesimpulannya, si Gista ini deket sama Adlan Rusadi?" tanya Hugo yang membuat kedua wanita tadi cukup kaget.


"Jangan kaget gitu, suara kalian kedengeran sampai ruangan mas Danu." Hugo melebihkan. Padahal dia mendengar ceriwisan Dini dan Neva tidak lebih dari jarak 1 meter.


Dini nyengir, mengangguk dengan semangat. "Iya, beritanya udah nyebar ke semua media." Beritahu Dini, membuka semua trending topic di semua media sosial yang dia miliki.


"Terkenal banget ya, Gista." Hugo berkomentar.


"Lebih terkenal karena sensasinya daripada prestasinya." Celetuk Neva.

__ADS_1


"Eh, mas Hugo pasti belum tau, ya. Pengganti mbak Duma itu, Gista?" Ucap Dini yang nyaris membuat leher Hugo patah saking cepatnya menoleh ke arah wanita itu.


"Apa?!"


***


Entah sudah berapa kali Hugo berdecak tidak suka ketika menatap ke arah wanita yang tengah membenahi dempul dan gincu yang bahkan Hugo jamin tidak akan luntur meskipun di rendam dengan air.


"Mau masak atau mau kondangan." Celetuknya pedas. Yang sukses membuat wanita itu berbalik dan ikut menatap Hugo tidak suka.


"Mau masak juga harus terlihat cantik. Kalau bawaannya kusut, mana enak ditonton, yang ada langsung pindah siaran." Kilah Gista dengan tenang.


Hugo tidak menjawab, dirinya di sibukkan dengan peralatan yang di susun ke atas meja. Semalaman penuh Hugo menghabiskan waktu untuk mencari tau 'Sederet Sensasi Gista' yang membuat Hugo tidak habisnya mengumpat Danu meski pria itu tidak mengetahuinya.


"Ada yang bisa di bantu, nggak?" tanya Gista, yang Hugo anggap seperti basa-basi-busuk.


"Bisa diam dan tenang, aja? Bawelmu bikin kepala sakit." Ujar Hugo sadis, tidak mau ambil pusing tentang perasaan Gista yang bisa saja tersinggung dengan ucapannya.


Gista berdecak kesal. Memilih diam dan mengamati tangan Hugo yang cekatan menyusun dan merapikan bahan yang akan di gunakan memasak sesuai urutan.


"Siap, di posisi semuanya. Siap, ya! Satu.. Dua.. Take!"


Gista memasang senyum manis yang dia punya begitu pun Hugo yang langsung terlihat sangat ramah di depan kamera.


"Selamat pagi semua, kembali lagi di acara You Can Cook dimana semua orang bisa memasak. Tanpa ada alasan dan tanpa kecuali."


"Pagi ini saya tidak sendirian. Saya di temani si cantik Gista Sasmita. Dia akan jadi partner saya untuk kedepannya." Hugo mulai memperkenalkan.


(Tulisan miring suaranya Hugo ya!)


"Nah, jadi apa yang kita masak, Gis?"


"Hari ini, kita akan masak Soto Ayam Kuning Kental, chef!"


"Bahan-bahan yang di perlukan : 1 ekor ayam, 4 lembar daun jeruk, 1 lembar daun salam, 1 lengkuas seukuran jempol, 4 sendok teh gula, 1.5 sendok teh garam, secukupnya lada, secukupnya air, secukupnya minyak."


"Dan untuk bumbu halusnya, kita siapkan : 10 siung bawang merah, 5 siung bawang putih, 1 kunyit ukuran jempol, 6 butir kemiri, 1 sendok teh ketumbar."


"Wah semangat sekali, bagus-bagus. Jadi bisa saya jelaskan sedikit mengenai cara pengolahan menu kita pada pagi hari ini."


"Pertama, bersihkan ayamnya. Potong sesuai selera. Lalu sisihkan. Rebus air sampai mendidih, baru dimasukkan ayamnya sampai airnya cukup untuk merendam ayam."


"Haluskan bumbu, tumis hingga tercium aroma wangi. Masukkan tumisan bumbu dan bahan-bahan ke rebusan ayam. Masak hingga bumbu meresap ke ayam. Lalu koreksi rasa."


"Yang perlu di catat. Jangan lupa robek daun jeruk dan daun salam. Tujuannya untuk mengeluarkan aroma dan rasa bumbu. Untuk lengkuasnya jangan lupa diparut halus. Penggunaan penyedap masakannya pun optional ya!"


(Resep by : Chika, Cookpad)


Hugo agak jengkel karena Gista lebih banyak diam tanpa mau berinisiatif bertanya-tanya soal olahan yang dia olah. Wanita itu malah memilih diam seperti orang bodoh. Minus yang paling Hugo benci. Tidak profesional.

__ADS_1


"Oh, iya. Saya juga lagi suka masak pakai Saora Saus Tiram." Ujar Hugo dengan luwes. Kini mereka memasuki sesi iklan. Sesi terakhir siaran masak memasak ini. Dan Hugo sangat bersyukur acara memasak kali ini lebih cepat sama seperti yang dia harapkan.


Gista mengangguk dan ber-O dengan kagum.


"Jadi, apa chef mau buat menu special yang murah meriah dengan itu?" tanya Gista. Senyum palsunya mengembang dengan sempurna.


"Wah! Bagus idemu, Gis. Coba siapkan bahan yang sudah saya siapkan sebelum syuting." Suruh Hugo, diam-diam tersenyum miring.


Gista buru-buru menaikkan satu ikat kangkung, sepiring kecil bawang merah yang sudah di iris tipis, satu butir tomat merah dan segelas air di atas meja.


Grasak-grusuk! Nilai Hugo.


"Jadi, cara mengolahnya sangat amat simple ya. Kita cuma butuh satu ikat kangkung segar, irisan bawang merah, tomat, air dan minyak secukupnya."


Gista mengangguk-angguk saja ketika Hugo menerangkan.


"Tahapnya mudah sekali, Gis. Pertama-tama, siangi atau potong kangkung dan tomatnya. Setelah itu cuci bersih dan tiriskan."


"Selanjutnya, panaskan wajan dengan minyak secukupnya. Tumis irisan bawang merah sampai harum."


"Setelah itu, tuang dua sachet Saora Saus Tiram. Masukkan kangkung lalu aduk dan kasih air secukupnya saja. Saat kangkung sudah mulai layu masukkan irisan tomat dan aduk kembali. Setelah matang, hidangan siap di sajikan. Gampang, kan?"


(Resep by me)


Gista mengangguk semangat, lebih kagum ketika Hugo mempersilahkannya mencicipi soto ayam dan tumis kangkung.


"Gila, enak banget!" Gista mengerang keenakan. Dari semua ekspresi yang dia tunjukkan, baru kali ini dia jujur.


"Bacakan komentar yang masuk!" Desis Hugo memlototi Gista. Pasalnya Gista malah asyik mengunyah kembali ayam dan tumis kangkungnya.


Meski terlihat dongkol karena Hugo mengganggu acara icip-icipnya, Gista otomatis melihat ke arah layar dekat dengan kamera. Membacakan satu-satu komentar yang masuk dengan senyum palsunya lagi. Mengabaikan beberapa hujatan yang beruntun masuk memaki-maki dirinya.


Awalnya, Gista bersusah payah mengabaikan semua komentar beruntun yang menghujatnya itu. Tapi lama kelamaan komentar yang tidak terkendali itu sukses mengusik kesabaran Gista.


"Iya, itu yang namanya Eulis-Depok. Kalau merasa lebih pintar dari saya sebagai co-host tolong ke studio 8."


"Maaf, ya Angel-Bali. Namanya boleh bagus komentarnya jelek banget!"


"Itu, Ningsih-Bogor. Kalau sekiranya saya nggak pantes jadi co-host. Sini gantiin saya ke studio 8."


Hugo menatap Gista dengan kaget. Ucapan yang tadinya teratur membaca pertanyaan kini melantur kemana-mana.


"Gis!" Peringat Hugo, pelan.


Gista tidak mengindahkan Hugo, yang ikut mematik tingkat kekesalan Hugo bertambah.


Gista terpekik kaget karena adanya api yang berkobar di atas pan tepat di depannya. Teknik Flambe Hugo sukses membuat para crew langsung mengambil alat pemadam untuk memadamkan api yang dinilai Hugo terlalu berlebihan. Gista melirik Hugo yang ekspresinya seperti ingin menguliti Gista hidup-hidup.


Hugo sengaja melakukan itu untuk membuat Gista diam.

__ADS_1


Hugo sukses membuat Gista terdiam dan membuat Gista menyadari kalau dirinya sudah mengacaukan acara memasak.


Hancur sudah semuanya! Geram Hugo.


__ADS_2