
Gista meringis nyeri ketika kapas berakohol menekan bekas cakaran yang menggurat sedikit di pipinya. 2 menit penuh Abi mendumel tentang ketidak hati-hatiannya dalam melindungi wajah. Belum lagi insiden yang dia alami langsung melejit, masuk ke dalam topik terpanas.
"Mereka duluan, ya. Yang mulai!" Gista membela diri.
Abi dengan gemas menekan sedikit luka Gista sampai Gista meringis kesakitan. "Ngapain sih, di ladenin? Kalau kayak gini kan lo jadi kena playing victim. Lo sendirian sedangkan mereka rame-rame. Jelas lebih menguntungkan posisi mereka, Gis."
Gista menekuk wajahnya dengan kesal, tidak bisa lagi membantah Abi. Jelas memang Gista berada di posisi yang paling tersudut.
"Yaudah, gimana dong sekarang?"
Abi mendengus "Ya nggak gimana-gimana. Lo diem aja sampai masalah kelar. Kalau mau naek jalur hukum ya ayo-ayo aja tapi posisi lo yang berat karena nggak dapet saksi."
"Jadwal gue gimana?" tanya Gista lirih.
"Sorry, Gis. Untuk sementara lo nggak bisa kemana-mana. Dan untuk fashion show--" Abi tidak sempat melanjutkan kata-katanya ketika Gista menghantamkan gelas ke dinding kamar dengan sumpah serapah meluncur rapi dalam lisannya.
"Bangke!" Geram Gista memukuli bantal yang ada di atas kasur.
"Nggah bisa banget ya lo bilang ini cuma salah paham?"
Abi menggeleng, merasa sangat bersalah. "Lo tau sendiri, kesepakatan udah di buat dan lo ngelanggar itu. Dian udah kontak gue, skandal kekerasan fisik nggak bisa di terima di acara Fashion Show Festival of Art. Orang-orang nggak akan fokus lagi sama baju yang lo pake, melainkan kasus kekerasan yang ngelibatin lo."
Lagi-lagi Gista mengumpat "Apa bedanya sih, dari kemarin-kemarin juga gue buat kasus terus. Kenapa malah kasus salah paham ini yang dipermasalahin. Nggak adil banget, sumpah."
Abi mendesah lirih, sangat mengerti kekecewaan yang melanda artis kesayangannya itu.
"Nanti gue usahain lagi deh bujuk si Dian. Sekarang tugas lo, jangan keluar ke mana-mana. Matiin hape dan kalau butuh apa-apa kasih tau gue aja, gue bakal nginep untuk sementara waktu."
Gista mengangguk, mematikan hapenya yang sudah panas dengan notifikasi beruntun dari berbagai sosmed yang dia miliki. Mungkin memang benar kata Abi, sebaiknya Gista tidak membuka sosmed dengan intensitas notifikasi yang mengerikan.
Klinung... Klinung...
"Abi! Lo pesen makanan?!" tanya Gista sedikit berteriak dari sofa tamu apartemennya.
"Engga!" Abi menyahut.
"Kira-kira siapa yang dateng?" tanya Gista yang langsung memancing Abi berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Lo buruan ngumpet dimana, kek. Takut wartawan nekat ke sini!" Ujar Abi, was-was. Mendorong bahu Gista menjauh dari radar ruang tamu.
Setelah mengamankan Gista, Abi merapikan penampilannya sedikit dari pantulan televisi yang baru saja dia matikan. Lalu berjalan ke arah pintu apartemen untuk mengetahui, wartawan dari stasiun mana yang mampu menyogok keamanan apartemen Gista.
Di pikiran Abi, ada dua kemungkinan. Kalau bukan wartawan dari KöTV ya wartawan dari TøPNews.
"Gista mana?"
Belum sempat Abi menyapa, seorang pria bertopi hitam menerobos masuk ke dalam apartemen lalu menutup pintu apartemen Gista dengan kecepatan yang tidak bisa Abi perhitungkan.
"Ngapain di sini? Kamu siapa?!" Abi berseru histeris, mencoba menghadang langkah pria tadi. Abi menyesal meninggalkan handpone yang seharusnya menjadi nyawanya di dalam tas. Apalagi dengan jarak telepon yang ada di apartemen Gista tidak membantu sama sekali.
Pria tadi berdecak, membuka topi yang menutupi nyaris sebagian wajahnya.
"HUGO?!" Abi terkaget-kaget, pasalnya. Pikiran sampai Hugo menyambangi tempat tinggal Gista itu ada di urutan paling terakhir.
"Gista mana?" Ulang Hugo yang sepertinya tidak begitu memedulikan keterkejutan Abi.
"D-di kamar." Abi menjawab dengan nada yang masih kebingungan.
"Eh, mau kemana?!" Tanya Abi panik, mencoba menahan langkah Hugo yang menerobos masuk begitu saja.
"Eh, jangan. Ngapain ada di sini sih, makin bikin panas aja!" Abi menggerutu, mendorong bahu Hugo untuk keluar.
"Bentar aja, Bi."
"Bi... Ba... Bi... Emang gue ****!" Sewot Abi.
Hugo mendesah, "Bentar aja, sumpah." Hugo memohon.
"Siapa sih, Bi?" Gista muncul dari arah kamar, melongok siapa gerangan yang membuat keributan dengan Abi.
"Loh, Hugo?! Ngapain?"
Abi memutar bola matanya dengan kesal, menutup pintu apartemen Gista lalu meninggalkan Hugo bersama dengan Gista.
"Lima menit aja, ya!" Abi memberikan tatapan yang mengancam.
__ADS_1
Hugo berdehem, mengamati Gista dari ujung kaki ke ujung rambut. Penampilan Gista dengan atasan you can see di padu dengan celana super-duper pendek, sukses membuat alis Hugo menukik tajam ke bawah.
"Katanya kamu profesional. Tapi kenapa tiba-tiba mutusin buat nggak syuting?" tanya Hugo tajam.
Gista meraih remot tv, menyalakan tv yang masih menayangkan kehebohan yang dibuat Gista. Bahkan Gista menyalakan kembali daya hapenya yang langsung dipenuhi dengan norifikasi beruntun ke tangan Hugo.
"Serius, Go. Masih nanya?"
Hugo berdecak, tidak suka.
"Lagian nih, ya. Pasti posisi gue bakal di ganti sama co-host baru. Kalau acara lo masih maksa make gue, gue yakin nggak lama bakal tutup acara."
"Kata siapa?!" tanya Hugo tajam.
"Kelarin dulu semuanya baru bisa tau hasil akhirnya gimana. Toh kita ada program yang belum di publikasiin."
"Kenapa sih, maksa banget?!" Kini Gista berkomentar tajam.
"Lupa, ya. Kita kan ada kesepakatan bersama." Hugo mengingatkan sambil melangkah mendekati Gista yang mengerut kebingungan, ketika Hugo berjalan ke arahnya sambil membuka jaket yang pria itu kenakan.
"Kita udah sama-sama setuju, kamu bersedia buat bikin seorang Hugo terkenal dan kamu dapat bayaran dari setimpal dari saya."
Gista dibuat sedikit terkejut dengan tindakan Hugo yang mengikat lengan jaketnya mengitari pinggang Gista. Menutup dengan rapi paha mulus Gista yang sedari tadi membuat Hugo kurang nyaman.
"Lain kali, kalau ada tamu yang datang. Berpakaianlah dengan sopan." Ujar Hugo yang langsung berbalik pergi menuju ke arah pintu.
"Saya harap, kamu bisa lebih profesional lagi." Singkat Hugo sebelum benar-benar menutup pintu, meninggalkan Gista dengan perasaan tertohok.
"Abi!!!" Seru Gista memanggil yang membuat Abi lari tegopoh-gopoh menghampiri Gista.
"Apaan?"
"Bilang mas Danu gue besok mulai syuting!" Kata Gista dengan tangan yang sudah mendial nomor telfon Duma di hapenya.
"Tapi, Gis. Lo yakin?" tanya Abi sekali lagi. Pasalnya dia sedikit khawatir dengan beberapa kemungkinan terburuk yang bisa Gista hadapi.
"Iya, yakin banget. Udah bilang aja." Ujar Gista meyakinkan.
__ADS_1
"Hallo, Dum. Gue mau nagih perjanjian soal perlindungan gue." Kata Gista tanpa basa-basi ketika sudah tersambung dengan Duma.
"Apa sih yang enggak buat lo, Gis."