
"Dia bilang begitu? Wah bagus, nih. Kemajuannya lebih cepet dari yang gue kira." Duma bertepuk tangan, sangat antusias mendengar cerita Gista. Berkat kontrak itu, Gista jadi rajin menceritakan tentang apapun yang berkaitan dengan Hugo. Termaksud tentang kata-kata ambigu yang Hugo katakan sewaktu pria itu makan masakannya.
"Terus, terus, gimana kelanjutannya?" berondong Duma dengan hebohnya.
"Ya nggak ada terus-terusan, karena abis itu syuting bubar."
Duma berdecak, sangat kecewa dengan jawaban Gista.
"Jadi lo nggak tanya maksud dia apaan?"
Gista mengangkat bahunya "Nggak, tuh. Ngapain amat. Gue mau tarik ulur aja dulu. Dari pada gue beramsumsi duluan mending tarik ulur aja sama Hugo."
Duma bertepuk tangan dengan wajah yang kagum memandang Gista "Keluarin, Gis, semua kemampuan lo. Kasih tau ke Hugo nggak semua cewek bakal gampang jatuh hati ke dia."
"Gampang, itumah. Penting belanja lancar." Kekeh Gista yang di acungi jempol oleh Duma.
"Gis, ada paket nih buat lo." Abi datang membawa kotak berukuran cukup besar yang di lapisi dengan kertas kado motif bunga-bunga.
Dahi Duma mengernyit ketika matanya sekilas menangkap nama si pengirim paket.
"Candra? Lo masih di kirimin barang, Gis?" tanya Duma.
Gista menggeleng "Ya enggak lah, gila. Ini tuh oleh-oleh, dia kemaren habis liburan ke LN."
Duma berdecak "Enak banget, lo. Modal balas budi di kirimin barang terus-terusan."
Gista tertawa saja, tidak menanggapi komentar Duma. Dia sibuk membuka bungkus kado dengan semangat.
"Si *****, tas LV model terbaru, dong!!" Seru Duma heboh ketika Gista mengangkat tinggi-tinggi hadiah yang dia dapatkan dari Candra.
"Buat orang yang berjasa buat karir gue, Candra." Duma membaca note yang ada di dalam kotak.
"Duhilah, berjasa banget, keknya lo, Gis." Decak Duma.
Gista mengibaskan rambutnya dengan bangga.
"Oh, iya dong. Yang kerja sama bareng gue pastinya sukses." Ujarnya jumawa.
Duma bertepuk tangan "Makin yakin gue, kerja sama kita berhasil."
***
SPOTLIGHT NEWS : HUGO DAN GISTA JALAN BARENG
@mamamuda enak ya jadi si Gista, sana sini cogan semua. Banter banter hot sugar dedihhh
__ADS_1
@mantankamu ya lord Gis, nggak puas banget ya cuma satu :')
@sayhello tolong itu tangannya jangan gandengan, sebagai tunangannya saya cembokur 💔
@xxxtnja make pelet apa sih dia *****
@bredual harusnya aku yang di sana :"
"Udah berapa lama, Gis. Sama Hugo?"
"Deketnya mulai kapan sih, mas Hugo."
"Cinlok ya di You Can Cook?"
Gista mati-matian menahan senyumnya tatkala Hugo-masih-menggandeng tangannya sampai mereka berdua sudah tidak lagi di sorot tajamnya kamera wartawan.
"Mau seterkenal apa, sih. Hm?" Decak Gista ketika menghempas paksa genggaman hangat Hugo. Yang seketika itu juga menghilangkan kenyamanan tatkala jari keduanya saling bertautan.
Hugo tersenyum tipis, menyandarkan badannya pada dinginnya dinding lift.
"Ya sampai saya ketemu sama gadis yang saya tunjukin ke kamu."
"Emang berarti banget, apa."
"Maksudnya?" tukas Hugo dengan kernyitan tajam.
Diam-diam Gista memperhatikan ekspresi Hugo yang masih berkenyit, mencerna keras maksud dari perkataan Gista. Dan membuat Gista sedikit berharap.
"Engga gitu juga," lirih Hugo pelan yang berhasil mematahkan harapan kecil Gista.
Dengan menggigit pelan bibir atasnya, Hugo melanjutkan perkataannya tanpa menatap ke arah Gista. "Gimana sih, perasaan bersalah yang menjalar sampai rasanya hidup aja nggak enak. Apalagi rasa bersalahnya memupuk bertahun-tahun."
"Kalau boleh tau, lo salah apa ke dia?" tanya Gista.
Hugo menoleh menatap Gista, senyum tipis muncul menghiasi wajah tampannya.
"Banyak." singkatnya, yang diam-diam membuat Gista juga tersenyum tipis.
"Semoga berhasil, ya buat nemuin dia. Dan terimakasih udah nganterin ke apart." Ujar Gista ketika mereka sudah sampai di depan pintu kamar apartemen Gista.
"Dan oh iya, gue cuma mau bilang. Minta maaf boleh, tapi jangan berharap buat di maafin. Apalagi salah lo banyak, dan gue tebak pasti fatal banget sampai nyari dia segininya. Sorry, gue cuma mikir realistis aja." Tukas Gista sebelum Hugo berniat beranjak pergi.
Hugo tersenyum lembut dia mangangguk sebagai tanda mengerti "Saya tau, tapi seenggaknya saya udah coba buat minta maaf."
Gista lagi-lagi tidak tahan untuk menahan lengan Hugo yang berniat pergi.
"Terus, setelah minta maaf, mau apa?" tanya Gista "Sorry, penasaran aja. Kalau nggak di jawab juga nggak apa-apa." Sergahnya cepat ketika Hugo menatapnya dengan tatapan yang sedikit kurang nyaman.
__ADS_1
Hugo mengangkat bahunya, dia juga belum tau setelah itu mau apa. Terlebih dia sadar caranya mencari Gigi terlalu berlebihan. Padahal, menghampiri teman lama kedua orangtuanya dan langsung mencari info keberadaan anak mereka pastinya mudah. Atau tidak? Mengingat beberapa kali dia berjuang menemui Adlan dan Vania yang berakhir dengan gagal karena bentroknya jadwal yang padat.
"Nggak tau, saya belum kepikiran sejauh itu." Hugo mengaku.
Gista tersenyum tipis, dia mangangguk lalu melepaskan tangannya dari lengan Hugo. Bagi Gista, ini akan jauh lebih mudah untuk menyakiti Hugo. Balas dendam yang setimpal, menurut Gista.
***
"Gis, responnya di luar dugaan banget!" Seru Abi pada sabtu malam ketika mereka masih ada di lokasi pemotretan.
"Respon apaan?" tanya Gista heran, sambil menghapus make up di wajahnya.
Abi mengangsurkan handponenya ke depan wajah Gista, menampilkan sederet komentar yang ada di Sosmed miliknya.
"Sedikit banget haters yang komen, selebihnya bilang cocok." Tukas Abi.
"Ya bagus, gimik berhasil."
Abi menepuk pipi artis kesayangannya dengan bangga.
"Kerja bareng lo duit ngalir sana-sini, makasih, loh!" Gurau Abi.
Gista berdecak "Setimpal lah. Ya. Sama bejibun haters." Tukas Gista membuat Abi tertawa.
"Jadwal gue hari ini apa lagi?"
Abi mengecek tab yang selalu dia bawa "Ada janji temu sama Pak Adlan buat bahas resort yang mau di buka bulan depan."
"Skip aja itu. Ada lagi?"
Abi menggeleng yang membuat Gista lega.
"Yaudah, gue balik. Kangen kasur."
Gista merapikan semua barang bawaannya, mengecup pipi Abi sekilas dan berpamitan pada Jian, fotografer yang sudah membimbingnya seharian ini.
Bersenandung kecil dengan langkah yang ringan, Gista kurang waspada dengan kedatangan satu butir terlur yang melayang tepat ke arahnya dan mengenai telak kepalanya sampai telur itu pecah dan isinya meluruh ke rambut Gista.
"Iyuh!" Respon Gista ketika tangannya merabai rambut yang sudah basah, lengket dan berbau amis.
Mata Gista lalu melayang ke arah asal telur itu terlempar, di dapatinya beberapa wanita muda yang masih mengenakan seragam putih-abu tengah menatapnya dengan sinis.
Gista mendesah, dari sekian haters yang dia miliki. Gista paling tidak suka dengan hatersnya yang masih abege labil. Terlalu merepotkan.
Gista menjatuhkan tasnya tepat di sisi kakinya. Menyingsing lengan bajunya sambil menghampiri genk remaja ababil itu.
"Kalau benci jangan main belakang. Jatuhnya pengecut. Ayo sini maju." Tantangnya yang langsung di sambut dengan bringas oleh para remaja itu.
__ADS_1
Sedikit memberi pelajaran, tidak masalah, kan?