Love And Recipe

Love And Recipe
Bab 14


__ADS_3

"Mbak, Gis. Gimana tanggapannya dengan unggahan remaja yang melejit akibat terkaitnya kasus kekerasan yang melibatkan mbak Gista?"


"Apa benar mbak Gista yang memulai?"


"Apa ada kemungkinan kasus ini akan naik ke jalur hukum?"


@Trantula Sumpah ya kelakuan si Gista, suruh risen aja jadi arteeesss.


@babyyu Kalau jadi mereka gue sih langsung visum terus nuntut Gista.


@Yourbae Kelakuan si pendek terlalu mencerminkan warga +62. Terlalu bar-bar.


@Cimplon21 Nah, gini dong. Buat apa Tuhan, nyiptain tangan kalau bukan buat baku hantam.


@Jamugendongmbokyem Guwe tim remaja dwong!


Gista tersenyum tipis menanggapi berbagai pertanyaan wartawan yang mengerumuninya seperti semut. 4 orang pengawal suruhan Duma begitu telaten menjaga Gista sampai membuat jarak wartawan agar tidak begitu mengganggu langkah Gista.


"Wow." Respon Duma, ketika melihat sahabatnya lecet-lecet.


"Kok, bisa?" Cuma itu yang keluar dari bibir Duma saking tidak bisa berkata-kata.


"Semua bermula ketika gue di lempar telor dan pastinya tau kan kelanjutannya apa."


Duma menepuk pundak Gista, prihatin.


"Lo lagi kenapa, sih? Akhir-akhir ini gampang banget sewot dan baperan. Ada masalah apa? Cerita sini sama gue."


Gista menggeleng dengan tegas "Bawaan lagi bendera merah aja. Jadi gampang sensian."


"Jadi, gue denger dari Abi. Hugo ke tempat lo, ya?"


"Hooh. Dia mempertanyakan keprofesionalan gue."


Dahi Duma mengerut "Gis."


"Apaan?" sahut Gista sambil melihat-lihat daftar menu.


"Gue rasa, Hugo tertarik deh sama lo."


"Ya bagus, lah. Jadi biar makin cepet matahinnya. As you wish, babe." Respon Gista.


"Tapi beneran kan, lo nggak akan pernah tertarik sama dia?" tanya Duma, lirih. Yang sukses memancing perhatian Gista.


"Tenang, masih apal di luar kepala nih. Isi pasal-pasal perjanjian kita."


Duma mengangguk dengan perasaan yang lega.


"Emangnya nih ya, setelah gue berhasil matahin hati Hugo. Selanjutnya lo mau ngapain?" tanya Gista.


Duma tersenyum miring, pikirannya sudah membayangkan rencana yang dia susun selama ini.


"Udah gue bilang kan, tugas lo bikin Hugo jatuh cinta sama lo. Kalau udah tinggalin dia buat gue. Gue mau masuk ke dalem hati dia saat dia ngerasa dunianya nyaris hancur dan gue berhasil ambil hatinya sebagai sosok penyelamat."


"Brengsek." Kecam Gista.


"Emang." Duma tidak keberatan jika dikatai brengsek. Toh memang Duma mengambil jalan terbrengsek untuk bisa mendapatkan Hugo.


"Menurut lo, gue bisa ngancurin hatinya separah apa?" tanya Gista.


Duma terlihat berpikir sebentar "Dari responnya ke lo. Mungkin lo bisa ngancurin dia sampai tahap dia ngasih dunianya ke lo."

__ADS_1


Gista dan Duma tertawa bersamaan. Memang itu yang Duma mau. Akan jauh lebih mudah mengambil hati seseorang dalam keadaan orang itu terpuruk. Dan itu juga yang Gista mau. Menghancurkan Hugo sama seperti Hugo menghancurkan hatinya. Menghancurkan dirinya di masa lalu.


"Gimana syuting lo sama dia di program yang baru?" tanya Duma.


Gista mengangkat bahunya dengan santai "Nggak ada yang istimewa sih, kita cuma jalanin semua skenario yang udah di atur."


"Lo ngerasa nggak sih, 3 hari ini gue liat You Can Cook. Lo lagi jelasin bahan masakan sampai baca-bacain komentar masuk. Mata Hugo nggak pernah lepas dari lo." Jelas Duma.


"Apa mungkin perhitungan gue meleset ya. Dia ternyata lebih cepet jatuh cinta ke lo." Tambahnya lagi.


Gista mengibas rambutnya dengan angkuh "Lo masih ngeraguin pesona gue?"


Duma tertawa terpingkal-pingkal sampai matanya tidak sengaja membaca sederet pesan masuk yang ada di hape Gista.


Hugo : Bisa ketemu hari ini?


"Jawab, mau." Suruh Duma.


"Udah. Hari ini di tempat gue." Lapor Gista.


"Gue ikut!" seru Duma ketika Gista bersiap untuk pergi.


"Lah, makanannya gimana?"


"Udah jangan kayak orang susah." Ujar Duma sambil meletakkan tujuh lembar uang seratus ribuan di atas meja.


***


"Saya kira kamu bakal nolak ajakan saya." Itu yang Hugo katakan ketika Gista sudah membukakan pintu masuk untuk dirinya.


Gista mengangkat bahunya dengan acuh. "Lo kan type manusia yang nggak terima penolakan dalam bentuk apa pun." Gista mengolok.


"Memangnya, kamu tau saya?"


"Nggak perlu tau lo lebih jauh, semua udah keliatan dari kesan yang lo liatin ke gue."


"Jadi, ada apa?" tanya Gista langsung ke inti pokoknya.


"Cuma mau mastiin kamu aja."


Dahi Gista berkerut dalam. Menatap Hugo penuh dengan tanda tanya.


"Mastiin buat apaan?" tanya Gista yang berjalan menuju ke arah dapur, diikuti Hugo.



"Ya mastiin, kamu baik-baik aja, Gi."


Tangan Gista terhenti ketika ingin menuang air panas di dalam gelas.


"Lo bilang apa tadi?"


"Mastiin kamu baik-baik aja?" ulang Hugo yang menyita perhatian Gista.


"Ngapain peduli." Singkat Gista.


"Ya enggak juga."


"Lo sengaja kan ke sini terus biar kena liput kamera." Gista menuding yang membuat Hugo terkekeh.


"Iya, udah liat headline terbaru?"

__ADS_1


"Udah. Hugo yang setia menemani Gista. Ck! Norak." Gista menyerahkan kopi buatannya ke Hugo.


Hugo menyesap kopi buatan Gista sambil mengamati Gista yang memilih duduk selonjoran di sofa.


"Gigi saya patah, loh." Hugo bercerita, berusaha memecahkan keheningan aneh yang terjadi.


"Terus kenapa? Kurangin manis aja." Gista menyahut, matanya tidak lepas melirik tempat persembunyian Duma.


Demi Tuhan, dari semua tempat kenapa Duma memilih menguping di balik pintu kamar yang terbuka.


"Ini baru pertama kalinya gigi saya patah. Apa harus ke dokter, ya?"


Gista menatap Hugo dengan decakan kesal.


"Emangnya gue konsultan kesehatan lo, apa? Mau lo tambel lagi mau di lem biar nyatu lagi. Bodo amat, Go."


Hugo tertawa yang sukses membuat Gista membeku karna saking takjubnya.


"Suara apa itu?" tanya Hugo waspada ketika mendengar derit suara pintu.


"Suara kucing gue!" Seru Gista buru-buru, menahan tangan Hugo yang hendak berdiri dari duduknya.


"Meoowwww." Di tempatnya bersembunyi, Duma berusaha menirukan suara kucing. Saking terpesona oleh suara tawa lepas Hugo dirinya lupa kalau tengah bersembunyi di balik pintu.


"Suara kucingmu kenapa?" tanya Hugo terheran-heran.


"Ah, em. Anu. Biasa musim kawin jadi suaranya aneh." Jelas Gista.


Hugo yang masih antara percaya dan tidak, memutuskan untuk mengangguk, mengiyakan saja. Kembali mengamati Gista dengan serius.


"Gis." Panggilnya.


Gista menoleh, menatap Hugo yang memandanginya dengan serius.


"Apa?"


"Saya mau tanya, tapi kamu jawab jujur. Bisa?"


Perasaan Gista mulai tidak enak ketika membalas tatapan Hugo.


"Soal apa dulu, nih?"


"Soal kamu."


"Tentang apaan?"


"Nama kamu, Gishela Sasmita kan?"


Gista membeku di tempatnya. Situasi ini sangat di luar dugaan. Seolah belum cukup membuat perasaan Gista kalang kabut. Hugo belum selesai mendikte semua tentangnya.


"Panggilan kamu, Gigi."


"Kamu pernah sekolah di Jakarta sebelum hilang di Sydney."


"Kamu anak ke dua dari keluarga Rusadi."


"Kamu, Gishela Sasmita Rusadi. Orang yang selama ini saya cari." Ujar Hugo lamat-lamat. Matanya mengamati ekspresi Gista dengan serius.


Gista mati-matian menahan ekspresinya. Bekerja di bidang entertain sukses mengajarkan kontrol diri yang baik.


"Nama gue tuh Gista Sasmita. Cuma karena punya nama Sasmita bukan berarti lo bisa cocoklogiin sama gue." Jelas Gista dengan debaran jantung yang bertalu-talu.

__ADS_1


__ADS_2