
...Adrian...
...β...
...β...
...β...
"Oh ya, Bri, gimana kuliah lo? Udah kelar?" gw mengganti topik.
Suer, gw nggak tau kenapa gw bisa bertanya kayak gitu. Masalahnya, gw kehabisan bahan pembicaraan, dan tiba-tiba aja salah satu topik di milis Brianders, tentang kuliah Brian yang belum kelar juga, melintas di kepala gw.
Brian mendongak, tawanya sudah berhenti total. "Kuliah gw baik-baik aja. Mmm... agak molor gara-gara jadwal Skillful, tapi... sejauh ini oke kok."
"Oh. Oke."
"Gw bukan jenis orang yang meremehkan pendidikan, Ad. Yah, lo tau kan, dunia anak band ini nggak mungkin selamanya gw geluti. Pasti nanti ada hari saat orang sudah nggak suka Skillful lagi, dan mau nggak mau band ini harus bubar. Kalau gw nggak punya bekal pendidikan, gw mau jadi apa?" Brian tersenyum gelisah.
Ya ampun, gw benar-benar nggak pernah kepikiran bakal seperti apa Brian kalau dia keluar dari Skillful nanti.
"Yah, lo kan kuliah hukum. Keluar dari Skillful, kalau nggak jadi pengacara, ya lo jadi notaris lah! Gw udah bisa ngebayangin dari sekarang kok! Brian James Siregar, SH. Penjabat pembuat Akte Tanah. Nanti lo bakal berkumis dan pakai kacamata minus. Kayaknya oke juga" gw mengedikkan bahu, dan di luar dugaan gw, Brian tertawa lagi.
"Ya ampun, lo lucu banget! Jarang ada cowok humor kayak lo!"
"Gw?" tanya gw bingung. Gw sendiri juga nggak tau kenapa stok banyolan dan pelesetan gw lagi banyak hari ini. Ada di sebelah Brian kayaknya punya 2 macam pengaruh buat gw. Kalau gw nggak Speechless dan jadi bisu mendadak, gw bakal jadi supercerewet dan nggak bisa berhenti mengoceh.
Tapii kayaknya lebih baik jadi cerewet deh ya...
"Iya! Lo lucu! Udah lama gw nggak ngobrol sama orang yang bisa bikin gw ketawa sampai kayak gini!"
"Trims. Gw juga seneng banget lo milih gw buat acara ini"
Hening sesaat.
"Eh, gw mau nanyak nih... Konser dimana sih yang menurut lo paling berkesan?" akhirnya gw punya bahan pembicaraan baru setelah memutar otak.
"Lho, kok jadi kayak interview gini?" Brian nyengir.
"Tapi gw jawab deh. Konser tahun lalu, di Manado. Gila, waktu itu penontonnya sedikit banget, dan superpasif! Gw sampai nggak tau lagi gimana harus komunikasi sama mereka. Gw tau si gw emang sering di juluki vokalis band paling patah dalam hal berinteraksi sama penonton, tapi waktu di Manado itu gw nyoba segala cara! Gw bahkan goyang ngebor, tapi penonton-penonton itu masih diem aja!"
Gw bengong, tapi sedetik kemudian tertawa sampai perut gw sakit. Brian goyang ngebor! Gila, cowok ini lucu banget!
"Yang di surabaya kemarin itu juga berkesan banget lho,"
Cerita Brian riang. Kayaknya dia seneng disuruh cerita tentang konser-konser yang pernah dijalaninya bareng Skillful.
"Oh ya? Kenapa?"
"Yah... Berkesan bukan dalam artian 'bagus' sih, tapi berkesan karena di konser itu gw nangis!"
"Hah?"
"Iya, gw nangis soalnya venue- nya itu ruang ber-AC dan tertutup, sementara orang-orang pada ngerokok semua! Jadilah ruangan itu berasal dan gw sampai nangis saking perihnya mata gw!"
"Hahaha..." gw tertawa lagi. "Tiap kota punya kesana sendiri-sendiri ya?"
"Betul banget" Brian tersenyum. "Oh ya, Ad, ada satu hal yang sebenarnya dari dulu pengin ga tanyain ke lo"
Ha? Apa? Dia nggak mungkin nembak gw, kan? Maksud gw..
"Lo indo, ya?" tanya Brian sebelum pikiran gw bertambah ngawur.
Oh ternyata dia cuma mau tanya itu. Fool me, nggak mungkin lah dia nembak gw!
"Emangnya... kelihatan?" tanya gw ragu. "Banyak orang yang nggak percaya bahkan kalaupun gw terang-terangan mengaku indo..." jawab gw lesu sambil menunduk.
"Keliatan kok. Dan wajah lo tuh unik. Lo blasteran apa?" jawabnya sambil mengelus kepala gw, dan saat itulah gw mendongak menyala wajahnya dan menjawab pertanyaannya.
Dia memuji gw! Karena gw blasteran?
"Bokap gw orang Australia. Nyokap campuran jawa-cina..."
"I see..." Brian menenggak minumnya. "Soalnya, yang gw lihat nihxwajah lo benar-benar perpaduan bule, Indonesia, dan oriental. Orisinal banget"
Glek. Ge sampai nyarik nggak bisa ngomong saking ge-ernya!
"Adrian, Brian, udah siap?"
Gw menoleh, dan dengan kaget menyadari Mbak Mirna sudah berdiri di samping gw.
"Siap apa, Mbak?" tanya gw nggak ngerti. Apa udah mau take lagi, ya?
"Siap ke tempat kencan kita," jawab Brian dengan suara mengoda. Gw melotot.
"Memangnya, tempatnya bukan disini?" gw memandang berkeliling taman kafe ini dengan bingung. Perlatan syuting yang tadinya tersedia di taman, sekarang sudah hilang. Yang tersisa cuma tumpukan rapi kotak hitam besar di pojok taman. Pasti para kritikus sudah membereskan semuanya sewaktu gw mengobrol dengan Brian tadi.
"Lho, lo belum tau, ya?" tanya Brian. Gw menggeleng. "Kita bakal syuting di Wanna Be"
Gw melongo, menatap Brian dan Mbak Mirna bergantian. "Wanna Be?"
__ADS_1
"Mmm... begini, Adrian... Tim kreatif Pacar Selebriti sudah merancang konsep kalian kencan sambil merekam lagu diet di CD. Dan kami sudah menentukan tempatnya itu di Wanna Be. Adrian nggak keberatan, kan?" tanya Mbak Mirna. Ada semburat cemas di wajahnya, kayaknya dia khwatir gw bakal menolak konsep acara yang sudah disiapkan.
Gw mengedikkan bahu. "Oke, Wanna Be sound great," jawab gw akhirnya.
Memangnya gw punya pilihan? Kalau buat gw nih, asal sama Brian, kemana pun hayok aja deh!
...***...
Coba gw tanya, berapa fans yang bisa rekaman sama idolanya? Cuma gw!
Ini benar-benar gila. Gw nggak menyangka dalam hidup gw akan ada hari seindah hari ini!
Di Wanna Be, gw memilih 3 lagu untuk duet: Terlalu indah- nya Skillful (gw nggak akan, nggak akan dan nggak akan pernah lupa lagu ini, soalnya ini lagi saat Brian pertama kali menunjuk gw dari panggung!), Love you!, dan Surga abadi cinta kita.
Haha... Gw memang sengaja pilih lagu-lagunya yang romantis, soalnya kapan lagi gw bisa rekaman sama Brian? Ini kan a chance of a lifetime! Apalagi gw bisa membuat cover CD-nya dengan foto kami berdua! Hebat banget deh!
Selain rekaman, gw pamit sebentar untuk ke toilet. Dan setelah ke toilet gw izin kebelakang sebentar karena ada yang menelfon di HP gw. Mbak Mirna bilang dia mau ke belakang juga, jadi dia ikut gw, sementara Brian duduk menunggu di kafe Wanna Be.
"Iya ma... Mungkin aku bakal pulang agak telat"
"Ha?... Nggak kok"
"Iya ma iya... Dada mama"
Huft. Gw lupa ijin ke nyokap kalo gw keluarnya sampai malem.
"Mm.. Mbak?" panggil gw begitu dia berjalan menghampiri gw, mungkin urusannya udah selesai?
Gw melihat kiri dan kanan dan setelah itu gw memutuskan aman-aman saja kalau gw mau curhat di sini.
"Ya?"
"Brian tuh orangnya baik banget, ya?"
"Iya, dia nggak kayak seleb-seleb lainnya..."
"Apa semua seleb yang ikut di acara ini memang selalu baik gitu, Mbak?"
"Oh, nggak!" gw menangkap nada kesal di suara Mbak Mirna. "Dua minggu lalu kita syuting dan bintang tamunya si Arnold, aduuuhhhh... Lagaknya selangit!"
Arnold? Gw berusaha mengingat-ingat. Oh, pemain sinetron itu. Ganteng sih, tapi emang dari lagaknya saja sudah ketahuan dia belagu. Cih gantengan gw juga, ya nggak?
"Eh, emang selangitnya gimana, Mbak?" oke sekarang gw udah masuk ke dalam mode gibah.
"Ya seolah kita semua ini asistennya, disuruh ini-itu! Dan waktu jalan sama peserta yang dipilihnya, dia benar-benar sok! Mbak yakin cewek itu akhirnya malah nggak ngefans sama Arnold lagi setelah ikut acara ini!"
"Kamu beruntung banget milih Brian, Adrian. Orangnya baik, sopan, dan perhatian sama semua orang. Sama kru-kru juga baik banget. Menurut Mbak, Brian itu selebriti terbaik yang pernah ikut acara ini deh!"
"Haha... Sebenarnya aku cuma iseng-iseng aja kok Mbak ikut acara ini, ehΒ nggak taunya aku dapet..."
"Iseng-iseng berhadiah kamu Ad, hahaha"
"Iya Mbak... aku juga seneng banget hari ini"
"Yuk kita balik lagi masa ini Brian nunggu lama"
Kami berjalan masuk dan menuju kafe tempat Brian menunggu. Tapi yang gw lihat begitu gw sampai di kafe benar-benar membuat gw heran. Brian berdiri sambil merogoh-rogoh kantong celananya dan bicara pada para kru Pacar Selebriti, ekspresinya bingung.
"Kenapa, Bri?" tanya gw penasaran.
"HP gw nggak ada. Apa jatuh waktu di Upgraded tadi, ya?" tanyanya bingung.
Gw mencelos. Kalau ho Brian benar-benar hilang, ini gara-gara gw! Hp-nya hilang karena kencan sama gw! Gw memang bawa sial!
Tapi... tunggu! Kok kayaknya gw sama sekali belum melihat Brian pegang HP-nya sih?"
"HP lo apa, Bri?"
"XXXXXXX. Kenapa?"
"Mmm... Soalnya kayaknya gw nggak pernah lihat lo pegang HP deh"
Brian tercengang. "Eh... Iya juga ya..."
"
Mungkin ketinggalan dirumah. Coba lo telepon HP lo dulu aja, siapa tahu ada yang angkat," saran gw.
Brian mangut-mangut, dan Mbak Mirna langsung menyodorkan HP-nya untuk di pakai Brian.
"Makasih, Mbak," kata Brian dan dia mulai memencet nomor HP-nya di HP Mbak Mirna. Ya ampun, benar apa yang Mbak Mirna bilang tadi, Brian memang cowok yang sopan dan baik banget. Lagi panik HP-nya hilang saja, dia masih ingat bilang terimakasih. Kalau HP-gw yang hilang, gw pasti sudah panik kayak cacing kepanasan. Dan coba saja gw terlahir sebagai cewek, gw jadi bisa mencintai Brian....
"Halo? Hah? Nathan? Lo dimana? Ohh... Jadi HP gw dirumah? Hahaha...Untung deh... nggak, gw lagi jalan-jalan, terus mau chat, tapi kok HP gw nggak ada... y udah, taruh di kamar gw aja. Thanks bro! "
Brian mengembalikan HP Mbak Mirna. Cengiran lebar mengembang di wajahnya.
"Thanks pinjeman HP-nya, Mbak. Ternyata HP saya ketinggalan dirumah. Tadi kakak saya yang angkat"
Gw menghembuskan napas lega. Untung HP Brian nggak benar-benar hilang!
__ADS_1
Mbak Mirna mengangguk dan menerima HP-nya kembali, setelah itu ia pamit pergi meninggalkan gw dan Brian yang masih berdiri berhadapan.
"Eum... Makasih saran lo yang tadi" ucapnya sambil mengelus kepala gw.
"Ha? Iya sama-sama..."
"Sebagai tanda terimakasih gw atas saran lo, gw traktir lo eskrim mau?" tanyanya sambil menatap gw lekat-lekat.
"Eum... Bo-boleh... kebetulan gw su-suka es krim..."
"Mau rasa ap biar gw pesen?"
"Ch-choco mint..." cicit gw pelan. Demi apa gw salting di tatap gitu sama dia! Apa lagi tangannya terus ngelus kepala gw!
"Ha? Apa? Gw gk kedengeran?" dia menghentikan usapan di kepala gw, lalu sedikit menunduk dan mendekatkan telinganya didepan gw.
"Chocho mint..."
"Hoo lo suka rasa itu?"
"I-iya... kenapa?"
"Kebetulan gw juga suka rasa itu" jawab nya dan tersenyum manis kepada gw.
"Ya udah lo cari tempat duduk dan gw pesen, ok?"
"O-oke..." kok kayak jadi orang pacaran sih kita?
Gw mencari tempat duduk yang agak sudut dan di dekat jendela, setelah ketemu gw langsung duduk sambil menunggu Brian memesan dan membawa pesenan itu. 10 menit kemudian dia kembali sambil membawa 2 cup eskrim sedang di nampan.
Kami memakan eskrim sambil menunggu CD rekaman kami selesai dan foto untuk cover- nya dicetak.
"Seru ya, tadi rekamannya? Gw udah lama nggak hang-out gini"
"Apalagi setelah lo jadi vokalis Skillful, tambah nggak sempat ya?" tanya gw simpati. "Kan lo harus turun keliling Indonesia terus..."
Brian mengangguk. "Ya, kan dalam hidup ada yang harus di korbankan, Ad. Gw berhasil jadi vokalis Skillful, tapi di sisi lain gw juga harus mengorbankan kebebasan gw... Gw jadi nggak punya waktu jalan-jalan sebanyak yang dipunya orang lain. Gw juga harus cuti kuliah..."
Gw memakan eskrim dalam diam, mendengarkan Brian bercerita. Saat ini kami nggak disyuting lagi, karena semua adegan yang perlu sudah diambil sewaktu kami rekaman tadi.
"Hmm... Tapi kan lo bisa menganggap apa yang lo lakukan sekarang ini untuk masa depan lo," kata gw sok bijak, mengomentari cerita Brian tadi. "By the way, lo berapa bersaudara sih? Cuma dua ya?"
"He-eh. Abang gw namanya Nathan, yang angkat HP gw waktu gw telepon tadi itu. Dia baik, tapi kadang-kadang agak bawel juga" Brian tertawa geli. "Kalau lo?"
"Oh. Gw anak tunggal"
Brian membuka mulutnya, hampir mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia diam lagi.
"Kenapa? Percaya stereotip anak tunggal itu manja? Gw nggak gitu kok"
"Hei, gw kan nggak bilang apa-apa"
Ah, iya, dia kan nggak ngomong apa-apa ya barusan? Pipi gw langsung terasa panas saking malunya. Gw memang kadang-kadang tanpa sadar mempermalukan diri gw sendiri.
"Y-ya... Siapa tau lo be-beranggapan gw gi-gitu.."
"Hahaha lo kenapa jadi gugup gitu?"
"E-enggak kok!"
"Hahaha gk pa-pa kok kalo mau malu gk pa-pa lagian dilihat dari muka lo aja gw uda tau lo anak yang kayak apa"
Ucapnya sambil mengelus pipi gw. Astaga! Sekarang gw pengen banget teriak sekarang! Gw malu! Gw seneng! Arghhh!
Brian menarik kembali tangannya kemudian bersedekap dada dan menyandarkan punggungnya pada kursi lalu ia menatap ke arah jendela.
"Gw seneng sama hidup gw sekarang," Brian mulai bercerita (kelihatannya dia nggak melihat pipi gw yang merah, baguslah) "semuanya teratur dan seperti apa yang gw inginkan"
"Tapi kan lo nggak punya pacar," celoteh gw. Brian menoleh, dan gw langsung sadar lagi-lagi gw sudah mempermalukan diri gw sendiri. "Sori," gumam gw pelan.
"Nggak pa-pa. Lo benar, kayaknya gw memang butuh pacar"
Bagus, sekarang gw sudah membuat cowok yang ku suka setengah mati berniat cari pacar! Tapi tunggu! Arghh gw memang cowok tergoblok sedunia! Kalau setelah ini Brian benar-benar dapat pacar itu gara-gara celoteh tolol gw barusan! Dan mana mungkin dia pacaran sama gw yang jelas-jelas cowok!...
...***...
^^^Ok next^^^
^^^Eps selanjutnya^^^
^^^Maap klo ad typoππ»ββοΈ^^^
^^^Follow + komenπ¬^^^
^^^Jangan lupa vote juga>
^^^Bantu promosi juga biar makin rame:') ^^^
To be continue...
__ADS_1