
...~Brian~...
...○...
...○...
...○...
...○...
Gw nonton TV, tapi pikiran gw nggak tahu dimana. Sekarang jam tiga subuh, tapi gw nggak bisa tidur. Ernest dan Dovan, yang selalu sekamar sama gw. Ernest masih tertidur di dalam kamar sedangkan Dovan sedang berdiri di balkon kamar hotel, telepon dengan pengasuh anaknya yang ada di bandung.
Nah sedikit informasi nih buat fans nya Ernest dan Dovan. Ernest dan Dovan sudah memiliki anak, tapi anak itu bukanlah anak kandung mereka tapi anak yang sengaja di titipkan seseorang saat mereka hendak menolong korban kecelakaan. Wanita yang menjadi korban kecelakaan itu menitipkan anaknya kepada Ernest dan Dovan. Bayi itu pun langsung diambil oleh Dovan yang dengan senang hati menjaga bayi itu sampai sekarang. Tapi seiring bulan dan tahun kini jadwal Skillful semakin padat sehingga membuat Ernest dan juga Dovan merasa kesulitan mengurus anak itu, sampai suatu hari Ernest memperkerjakan pengasuh anak. Pengasuh dan anak itu sengaja mereka pindahkan ke bandung yang dimana asal tempat tinggal Dovan (agar saat mereka pulang nanti tidak repot-repot untuk pulang menemui anak dan keluarga).
Dan nggak tau deh, ini keuntungan atau malah petaka, tapi gw satu-satunya personel Skillful yang masih single. Rey, Dudy, Ernest dan Dovan semuanya udah married, mereka semua juga udah pada punya anak. Padahal pacar aja gw nggak punya. Miris nggak tuh?
Dan mungkin karena status gw yang masih jomblo itulah, sembilan puluh persen fans Skillful malah menamai diri mereka Brianders, alias fansnya Brian, bukan fans Skillful secara utuh. Gw risi, ngerasa nggak enak sama yang lain takut di anggap sombong padahal gw cuma 'anak bawang'.
Untung aja ternyata anak-anak profesional banget. Mereka nggak pernah protes atau marah sama gw. Dudy malah pernah bilang dia happy karena bukan dia aja yang punya banyak fans paling banyak soalnya kalau iya, istrinya pasti bakal cemburu. Ada-ada aja dia.
Tapi tetap aja gw ngerasa nggak enak. Dan kadang-kadang gw mikir untuk secepatnya married dan punya anak juga biar nggak ngerasa 'anak bawang' kayak gini. Umur gw 24, udah cukup kan buat married?
"Sascha sakit. Udah dua hari ini dia demam," kata Dovan setelah ia masuk kembali ke dalam. Dia menutup pintu kaca penghubung ke balkon yang tadinya dibuka lebar-lebar, dan berjalan menuju kamar, yang dimana Ernest sedang tertidur di kasur dan menghempaskan diri di ranjang samping Ernest.
Sascha nama anak Ernest dan Dovan. Anak itu berumur tujuh tahun, dan tampangnya persis banget Ernest (mungkin karena dari kecil dia sudah di urus oleh Ernest dan Devano sehingga saat ia besar memunculkan wajah orang yang sudah merawatnya). Dan juga kadang-kadang, kalau iseng gw kumat, gw sering bilang Sascha itu versi miniatur Ernest yang dipakaikan rok, dan biasanya semua orang bakal ngakak mendengarnya, termasuk Bang Budy yang selalu pasang tampang nggak bersahabat itu.
"Besok kan free, gw sama Mas Ernest mau pulang ke Bandung dulu, dan nanti gw bakal bilang sama Mas Ernest kalau Sascha sakit dan gw memutuskan buat pulang," kata Dovan seperti berbicara pada udara.
"Salam buat Sascha ya, moga-moga dia cepet sembuh."
"Hmm..." Dovan menggumam, dan kembali memainkan handphonenya seperti ingin menelpon seseorang lagi. Sedangkan gw melamun, free satu hari, lalu jumpa fans, dan besoknya manggung lagi di pensi SMA 93, siapa bilang, jadi vokalis band terkenal itu enak?
"Huft..." gw menghela nafas panjang.
"Kenapa Bri? Keliatan kayak punya banyak beban aja lo, sini cerita sama gw," tawar Dovan setelah ia selasai menelpon seseorang tadi.
"Gw nggak pa-pa kok cuma, gw mikir mau secepatnya married dan punya anak sama kayak kalian aja..."
"Lah tumben lo mikir gitu biasanya juga lo mikir jadwal panggung atau nggak lo mikir besok lo di omelin apa nggak sama Bang Budy hahaha..."
"Ih enak aja, gw mikir gitu biar gw nggak jadi anak bawang lagi!"
"Oalah ternyata lo mau cepat-cepat married biar nggak di bilang anak bawang lagi toh bwahaha..." Dovan tertawa setelah mendengar alasan gw mau cepat-cepat married.
"Inilah alasan kenapa gw nggak mau cerita keluh kesah gw ke kalian! Gw tau alasan gw bagi kalian lucu tapi bagi gw itu bukan candaan. Serius deh kasih solusi kek biar gw nggak jadi anak bawang terus!" Gw memohon kepada Dovan sambil mengedipkan mata beberapa kali, gw tau ini memalukan tapi mau gimana lagi Dovan adalah orang yang paling tepat dalam memberikan solusi.
"Hahaha paan tuh muka jijik gw liatnya, hahahaha"
"Arghh... Tersebut lo deh kalau lo nggak mau kasih gw solusi mending gw tidur!" jawab gw ketus.
"Eh eh iya deh gw kasih solusi," jawab Dovan akhirnya, gw yang tadi sempat mau kekamar langsung berbalik arah kembali menghampiri Dovan.
"Hmm... Lo mau married kan?" tanyanya dan gw mengangguk cepet.
"Lo udah punya pacar belum?"
"Belum"
"Pernah pacaran berapa kali?"
"Sekali... Dan itupun udah lama banget..."
"Wah susah ni bro... Muka lo ganteng tapi cuma pacaran sekali!"
"Ya mau gimana lagi coba, gw pacaran waktu gw kuliah semester dua dan setelah itu gw nggak pernah lagi pacaran... Lo taukan mantan gw dulu putus sama gw karena...,"
"Intinya gimana lo mau married kalau pacar aja lo nggak punya!" potong Dovan cepet.
"Ya mana gw tau coba..." gw menjawab dengan malas.
"Tapi dari yang gw dengar dari abang lo... Bonyok sama abang lo udah pernah beberapa kali jodohin lo tapi lo-nya nggak mau, kenapa?" tanya Dovan penasaran. Dulu memang Bonyok sama abang gw pernah jodohin gw, tapi gw tolak mentah-mentah. Gw juga nggak tau kenapa gw bisa nolak mereka semua, seperti mulut dan badan gw bergerak tanpa di perintah.
"Gw nggak tau... Tapi satu hal yang aneh dari gw..."
"Paan?" tanya Dovan penasaran.
__ADS_1
"Gw kok kalau liat cewek tuh kayak nggak tertarik gitu, ya maksud gw walaupun dia cantik dan pakaiannya terbuka tetep aja menurut gw itu biasa aja... Tapi waktu sama mantan pacar gw nggak gitu deh, tapi kok sekarang malah gini? Liat wajah mereka aja buat gw enek buat jalanin hubungan!" jawab gw yang langsung membuat Dovan terdiam beberapa saat seolah mencerna omongan gw barusan.
"Bri... Gw mau nanyak sekarang sama lo,"
"Kenapa?"
"Lo bilang kalau lo nggak tertarik sama cewek, terus lo juga bilang lo enek liat wajah mereka sampai lo nggak mau menjalin hubungan, apa itu pengaruh karena lo baru pertama kali pacaran Bri?"
"Gw rasa sih bisa jadilah... Tapi waktu gw pacaran dulu baik-baik aja kok. Tapi sekarang nggak tau kenapa jadi gini, huh!" gw mendengus kesal dengan diri gw sendiri. Kok bisa gitu gw seaneh ini?
"Maaf sebelumnya Bri... Apa sekarang lo sama kayak gw... Lo belok?" tanya Dovan ragu-ragu dan gw langsung bingung dengar pertanyaannya tadi 'belok?'
"Maksud gw apa... Apa lo gay*?" gw langsung melotot kaget mendengar Dovan yang menanyai gw gay*. Hah gila kali gw malah ngikutin jejak-nya Ernest sama Dovan! Dan ya kali gw berbelok arah hanya karena udah lama nggak pacaran setelah putus sama Karin.
"Arghhh! Udalah gw mau tidur aja! Lo nggak bisa kasih gw solusi apa pun..." gw langsung pergi kekamar dan meninggalkan Dovan yang masi berkutat dengan pikirannya sendiri. Sedangkan gw duduk termenung di pinggir ranjang berusaha mencerna perkataan Dovan. Masa si gw jadi gay*?
...****...
Paginya gw sama Dovan saling diam dan tidak ada yang menyapa di antara kami setelah kejadian tadi malam. Ernest yang melihat kami berdua berbeda dari biasanya pun menghampiri kami.
"Bri tumben lo diem mulu, biasanya lo sama Dovan dah sibuk poto-poto buat update.. Tapi kok ini kalian malah diem-diem aja, ada masalah emang?"
"Nggak ada!" jawab gw ketus meninggalkan Dovan dan Ernest berdua.
"Van, kenapa lagi sama Brian?"
"Huft... Tadi malam dia curhat sama minta saran sama aku mas..."
"Terus?" tanya Ernest yang kini sedang merangkul bahu Dovan dan duduk di sofa ruang tamu.
"Aku sempet bingung waktu dia cerita tentang dirinya, aku tadi malem sempet nanyak sama dia tapi ragu-ragu... Aku tanya 'bri apa lo gay*' dan dia kaget pas aku nanyak gitu..." jawab Dovan lesu.
"Terus Brian jawab apa hmm~?"
"Dia marah dan langsung ninggalin aku, jujur aku nggak enak hati karena udah nanyak yang enggak-enggak sama dia mas... Aku bukannya mau nyinggung dia atau apa, tapi dari cerita dia yang aku dengar aku malah nyimpul dia sama kayak kita."
"Udah jangan sedih gitu, biarin aja dulu taukan dia personel paling muda? Udah nanti paling baikan lagi tau sendiri kan Brian anaknya kayak apa?" jawab Ernest sambil mengelus puncak rambut Dovan dan langsung dihadiahi pelukan hangat Dovan.
...****...
Selama perjalanan pulang pun tidak ada basa-basi sama sekali. Biasanya kalau di mobil gw sering ajakin dia ngobrol. Duh gw jadi ngerasa nggak enak nih, padahal semalam gw juga yang minta tolong sama dia buat ngasih solusi tapi taunya gw malah marah-marah sama dia. Huft...
Nathan punya tinggi 190cm, sifatnya tengil banget parah, kulit dia putih tapi nggak sampai putih mayat dan punya tubuh yang menurut gw cukup atletis dengan 8 kotak dibagian perutnya dan bisa di bilang dia cukup tampan untuk orang yang tinggal di negara ini, karena Nathan punya rupa agak kebule-bulean dengan hidung yang mancung. Sedangkan gw cuma punya tinggi ya bisa dibilang hampir sama seperti Nathan sekitar 187cm. Untuk masalah kulit gw juga sama seperti abang gw (putih). Masalah tubuh, gw kalah sama dia tapi tidak lupa gw juga punya 6 kotak di perut gw yang tersusun rapi. Wajah gw juga bisa dibilang termasuk orang tertampan lah, hidung gw juga mancung ya walaupun enggak semancung dia. Tapi tetep aja omongan para tetangga itu gimana!
"Ma... Ada artis datang nih" ledekan khasnya setiap kali gw pulang ke rumah mulai keluar.
"Akh diem lo, gw baru pulang udah mau lo buat rusuh! Sabut dengan hangat kek, peluk kek atau apalah yang-"
"Chup! Nih udah gw cium jangan ngambek lagi adikku sayang, HAHAHAH!"
"BANGSAT LO BANG! MAMA BANG NATHAN HOMO MA ADUIN KE MBAK VITA!!" sialan mood gw hancur karena si curut itu mana pake cium-cium pipi lagi ihhh! Kenapa juga gw bisa dapet abang modelan gini!
Mama muncul dari dapur, senyumnya mengembang melihat gw sama Nathan berantem. Gw langsung berdiri sambil mengendus-endus aroma makanan yang di masak mama.
"Kalian ini kenapa sih? Berantem mulu kalau ketemu!"
"Nathan-"
"Abang!"
"Ahh bacod lo!"
"Kenapa hmm?"
"Itu mah biasa bikin orang emosi terus tiap pulang kerumah! Kan Brian cape ma habis manggung terus pas pulang-pulang udah bikin emosi aja!"
"Ck pengadu lo Bri!"
"Apa? Iri karena mama lebih sayang sama gw? Huhu kasian anak pungut"
"Lo!"
"Apa?!"
PLAK! PLAK!
__ADS_1
Mama menimpuk kami berdua dengan centong sayur yang dia bawa dari tadi.
"Udah-udah pusing mama dengernya! Kalian tuh sama aja, kamu Nathan jangan buat adek kamu pulang kerja malah kamu kerjain dia tuh cape butuh istirahat. Kamu waktu nggak ada dia siapa yang nyuruh mama buat nelpon adek kamu karena kamu kangen sama dia, siapa yang nyuruh mama buat bikin makanan kesukaan Brian karena kamu kangen sama dia?"
"Hahaha mampusss lo!"
"Kamu juga Brian siapa yang nyuruh mama buat selalu bilang ke Nathan kalau kamu kangen sama dia, kangen di ajak main sama dia, nangis malem-malem karena kamu kangen sama Nathan!"
"Siapa yang suruh?"
"Kami..." jawab kami berdua.
"Sekarang baikan jangan berantem lagi, abang peluk adek nya dan adek peluk abang bilang 'abang/adek minta maaf nggak ulang lagi' cepet bentar lagi papa pulang masakan mama belum siap karena ulah kalian."
Gw dan Nathan dengan terpaksa saling pelukan dari pada terus berantem perut gw juga uda demo minta di kasi makan.
"Abang minta maaf nggak ulang lagi" kata Nathan sambil memeluk gw.
"Hmm... Adek juga minta maaf nggak ulang lagi" jawab gw sambil memeluk Nathan.
"Hahaha adek gw udah besar ternyata kangen lo waktu kecil Bri,"
"Dihh ya kali gw kecil mulu bang!"
"Hahaha" tawanya sambil mengelus kepala gw.
"Bang lo tinggi bener dah"
"Kenapa? Nyaman di peluk abang karena abang tinggi?"
"Nggak gitu tolol!" jawab gw ketus
"Ugh, enak banget meluk lo Bri... Kangen banget gw sama lo sumpah demi apapun, tidur di kamar gw ya? Kangen meluk lo kalo tidur~" mohon nya dengan manja.
"Ck! Sera deh" jawab gw frustasi, tapi sebenarnya gw juga kangen si tidur am si kutukupret ini.
"Nah gini dong akur... Ya udah mama tinggal mama mau sambung masak lagi, inget jangan berantem!"
Setelah mama melesat ke dapur gw dan Nathan langsung melepaskan pelukan. Idih ogah gw kalau di peluk terus sama tuh orang. Tapi pelukan abang gw tu enak banget sih...
Gw langsung melesat kedapur meninggalkan Nathan yang duduk di sofa sambil bermain handphone. Gila tuh orang serasa kayak nggak terjadi apa-apa!
"Mama masak apa, kok wangi banget?" gw menjatuhkan travel l bag di lantai dan membuka-b uka tudung saji
yang ada di meja makan. Kosong.
"Sayur bening, ikan pindang, tempe goreng, sambal daun bawang, sama ayam rica-rica. Semua masih mama masak tunggu sebentar lagi ya~"
Perut gw langsung demo. Lapaarrrr! Padahal tadi dari hotel, gw sama anak-anak sempat makan pecel di warung tenda, tapi sekarang gw sudah lapar lagi.
Apa? Kaget tau ada band ngetop yang personel-nya makan di warung tenda? Nggak usah segitunya lah, itu sudah jadi kebiasaan anak-anak dan kru Skillful kok. Dalam band ini, ada satu prinsip yang paling utama : berusahalah seirit mungkin. Bukan pelit atau apa, tapi kita semua jenis orang yang suka sayang kalau membuang uang cuma buat gengsi. Dan di Indonesia ini siapa sih yang bisa meramalkan kapan sebuah band bakal nggak diminati lagi? Nggak ada kan! Jadi, selama Skillful masi banyak yang suka, semua personel dan krunya menabung sebanyak mungkin, buat jaga-jaga kalau besok album kami nggak laku lagi. Kayak semut yang menimbun persediaan makanan selama musim panas untuk musim dingin gitu deh.
Hahaha... Sok wise banget deh gw. But that's the fact.
"Tadi gw ketemu Karin," kata Nathan sambil menarik kursi yang ada didepan gw dan duduk di situ.
"Dimana? Dia lagi ngapain?" mata gw membesar mendengar nama Karin.
"Hahah ketipu!" Nathan ngakak. Gw menciut. Orang ini menyebalkan!!
"Lo masi segitu cinta-nya ya sama Karin? Denger namanya aja sampai segitu minatnya!"
"Nggak usah rese deh" gw menggelengkan kepala, pura-pura nya telinga gw tuli mendadak. Gara-gara abang gw yang tengil ini, gw jadi teringat lagi sama Karin! Sial! Nathan brengsek!
...****...
^^^Ok next^^^
^^^Eps selanjutnya^^^
^^^Maaf kalo ada typo🙇🏻♀️^^^
^^^Follow+ komen💬^^^
^^^Jangan lupa vote juga>
__ADS_1
^^^Bantu promosi juga biar makin rame:')^^^
To be continue...