Love Different Age And Case

Love Different Age And Case
17. KEBERUNTUNGAN 'KECIL'(KALAU INI 'KECIL', YANG 'BESAR' KAYAK APA?) [3]


__ADS_3

...Adrian...


...β—‹...


...β—‹...


...β—‹...


"Nathan punya pacar yang baik banget, namanya Mbak Vita," Brian melanjutkan ceritanya. "Abang gw itu beruntung banget bisa punya pacar kayak Mbak Vita. Orangnya baik, ngga macam-macam. Nyokap gw aja sayang sama Mbak Vita"


"Oh, jadi Mbak Vita yang ada di ucapan thanks to di album Skillful itu pacar abang lo?' gw teringat ucapan thanks to Brian yang pernah iseng gw baca untuk cari tahu apakah Brian sudah punya pacar atau belum dulu itu.


"He-he.lo baca, ya, ternyata?" Brian kelihatan geli.


"Orang-orang yang gw tulis disitu, semuanya berarti banget buat gw"


"Termasuk Doraemon?" gw nggak bisa menahan tawa gw lagi. "Lo benar-benar punya teman yang namanya Dora dan Emon, ya?"


Brian langsung terbahak-bahak. "Iya, termasuk Doraemon! Gw sendiri nggak tau kenapa gw sampai bisa punya temen yang namanya matching gitu. Dora itu cewek, teman sekampus gw, anaknya lucu. Kalau Emon itu... yah... bisa dibilang cewek jadi-jadian, hehe..."


Gw dan Brian tertawa terbahak-bahak.


"Mmm... Ad, lo bawa kertas?"


"Buat apa?"


"Boleh gw minta nomor HP lo? Gw kan nggak bawa HP, jadi gimana kalau lo tulis nomor HP lo di kertas, biar lita tetap bisa terus berhubungan? Soalnya... itu... gw seneng banget ngobrol sama lo, ya lo menurut gw moodbooster banget lah!"


Anjir! Demi apa heh! Brian minta nomor HP-gw!!! Gw benar-benar speechless sampai nggak bisa bergerak. Ini mimpi atau bukan sih ah? Apa semua yang gw alami hari ini benar-benar nyata?! Maksud gw... harusnya gw yang minta nomor HP-nya bukan dia yang minta nomor HP-gw! Astaga!! Farel temen lo bakal punya nomor artis!


///


"Hatchi!"


"Kenapa Rel? Kok tiba-tiba bersin sih untung nggak kena makanan!"


"Sory-sory, gw nggak tau kenapa nih Nar... Kayaknya ada yang nggak suka sama gw deh!"


"Sirik pasti Rel"


Siapa yang ngomongin gw ya? Batin Farel bingung.


///


Masih dengan perasaan bingung luar biasa, gw merogoh-rogoh tas. Semoga ada kertas dan bolpin... semoga ada...

__ADS_1


Nggak ada. Bego.


"Ngg... sori, Bri, gw nggak bawa kertas..."


"Oh. Kalau gitu, nanti kita minta sama Mbak Mirna aja kertasnya"


Gw mengangguk. Brian tersenyum dan melambai memanggil pelayanan dan minta air putih. Saat itu bagian lengan kausnya tersingkap dan gw melihat sesuatu yang kelihatannya seperti... tato?


Oke, gw tahu tato di tubuh anak band itu sama wajarnya seperti adanya luka bekas jatuh di kaki anak SD, tapi ini kan...


"Mmmm... Bri?" panggil gw setelah pelayanan yang tadi pergi untuk mengambilkan pesanan Brian.


"Lo... Punya tato?"


Brian diam selama beberapa detik. "Iya, punya. Ada beberapa sih, tapi gw nggak mau nambah lagi kok"


"Yang di situ gambarnya apa?" gw menunjukkan tangan kiri Brian.


"Pendekar samurai"


Brian menggulung lengan kiri kausnya dan menunjukkan tato itu pada gw. Ya ampun, tatonya keren! Dan otot lengannya itu pliss!


Tapi... Yah, tahu kan... sekeren apa pun itu, itu tetap... tato. Dan image tato di masyarakat kita kan nggak bagus...


Ah, sebodo amat! Yang penting kan Brian bukan preman atau pelaku curanmor!


"Thanks" Brian melepaskan gulungan lengan kausnya sehingga tato itu tertutup lagi. Gw menangkap kesan dia nggak terlalu suka ada yang tahu soal tatonya itu. Mungkin dia kepengin membangun image anak baik, dan harusnya anak baik kan nggak punya tato.


Well, kalau gitu gw nggak akan tanya-tanya tentang tato lagi. Biarpun gw penasaran setengah mati di bagian tubuh mana lagi si Brian punya tato.


"Halo pasangan baru! Ekhem! Kayaknya romantis banget nih!" goda Anastasya, yang tiba-tiba nongol entah dari mana. Gw melirik jam tangan gw dengan panik. Jam setengah sebelas malam! Heh? Jadi waktu gw bersama Brian sudah habis?


"Oh, harus dong, kan khusus buat Pacar selebriti, hehe..." Brian tersenyum.


"Tapi sori banget nih, gw harus memisahkan kalian berdua sekarang~" Anastasya memasang tampang sok galak, lalu menyela di antara gw dan Brian.


"Gimana, Ad, puas hari ini?" tanya Anastasya.


"Eh...puas, kok. Tapi kok cuma sehari doank sih?"


"Eits, kalau mau lebih dari sehari, ya kalian usaha sendiri donk! Itu di luar kemampuan gw! Kencan pertama atas bantuan Pacar selebriti, selanjutnya terserah Anda!" Anastasya menirukan slogan iklan kolonye cowok yang terkenal itu. Gw merenggut kesal.


"Nah, mau take sekarang?"


Gw mengangguk dengan berat hati. Gw kayak nggak rela pisah sama Brian! Anastasya lalu pergi dan mengobrol dengan Mas Ivan, sang kameramen, dan kru-kru yang lain, sementara gw terdiam di kursi gw. Anehnya Brian sudah nggak ada lagi di kursinya. Ohhh... waktu gw bareng Brian tinggal hitungan detik, tapi cowok itu malah hilang entah kemana, padahal semenit yang lalu dia berdiri di sebelah Anastasya. Mungkin dia pergi waktu gw mengobrol dengan cewek itu tadi.

__ADS_1


Aduh, gw benar-benar nggak rela pisah sama Brian! Kenapa sih hal-hal menyenangkan cuma terjadi sekali seumur hidup? Dan katanya tadi Brian minta nomor HP-gw? Apa dia cuma basa-basi aja? Ah, gw memang cowok yang kege-eran...


"Hei, ini kertasnya..."


Gw mendongak dan melihat Brian berdiri di hadapan gw, menyodorkan kertas dan bolpoin. Ya Tuhan, dia benar-benar minta nomor HP-gw?!


"Ad?... kok malah bengong? Gw... nggak boleh minta nomor HP lo, ya?"


"Ha? Eh... bukan gitu," gw cepat-cepat mengambil kertas dan bolpoin yang disodorkan Brian. "Gw tadi cuma lagi mikir aj kok..."


"Mikir apa? Pacar ya?"


Gw hampir keceplosan bilang 'gw nggak punya pacar' waktu gw ingat kalau bilang kayak gitu bisa berkesan gw ini nggak laku. Percuma tampang ganteng gini nggak laku, ihh... amit-amit! Kecuali kalau Brian jelas-jelas bertanya, 'lo punya pacar?' baru gw bakal menjawab gw sebenarnya jomblo, hahaha...


"Nggak, bukan mikir pacar kok. Ada deh.."


Ayo tanya dong, gw udah punya pacar ap belum? Ayo tanya...


"Ya udah deh kalau gitu, tulis nomor HP lo ya di kertas itu" Brian tersenyum.


Sial, ternyata dia nggak tanya gw punya pacar atau belum! Gw mendesah kecewa, lalu menuliskan nomor HP-gw di kertas yang diberikan Brian.


"Nih" gw mengembalikan kertas bertuliskan nomor HP-gw itu ke Brian. Ya Tuhan, semoga dia benar-benar menelpon gwΒ  nanti. Semoga. Semoga. Semoga.


"Thanks ya Ad" Brian melipat kertas itu dan memasukkan di saku celananya.


"Yuk, sekarang gw harus benar-benar memisahkan kalian!"


Anastasya datang lagi, kali ini sambil membawa mikrofon


Ugh... Kenapa hari semenyenangkan ini harus berakhir!


...***...


^^^Ok next^^^


^^^Eps selanjutnya^^^


^^^Maap klo ad typoπŸ™‡πŸ»β€β™€οΈ^^^


^^^Follow + komenπŸ’¬^^^


^^^Jangan lupa vote juga>


^^^Bantu promosi juga biar makin rame:')^^^

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2