Love Different Age And Case

Love Different Age And Case
7. THE BOY


__ADS_3

...~Brian~...


...β—‹...


...β—‹...


...β—‹...


...β—‹...


Gw minum dengan rakus. Tenggorokan gw kering banget gara-gara menjawab sejuta pertanyaan di acara jumpa fans tadi. Pertanyaan yang paling membuat gw kepengin ngakak selebar-lebarnya jelas pertanyaan pertama. Seseorang cewek dengan baju seragam berpotongan superketat (sebenarnya cewek ini lumayan juga, kalau aja bajunya nggak sekitar itu dan membungkusnya seperti lontong) menanyai gw apa gw masih jomblo atau enggak. Hahahaha... terus, kalau gw jomblo, lo mau apa! Ngelamar jadi cewek gw? Aduh maaf gw sekarang nggak tertarik dengan cewek...


Dan seperti biasanya, gw cuma tersenyum kecut dan bilang bahwa ya, gw memang jomblo. Semua cewek dari ruangan itu langsung sumringah mendengar jawaban gw. Ya ampun, apa mereka berharap dengan setatus jomblo ini, gw bakal bisa memacari mereka semua sekaligus?


Sebenarnya, gw nggak merasa terganggu sama pertanyaan model begitu. Di tiap acara yang ada sesi tanya-jawabnya, gw selalu dapat pertanyaan itu. Gw ngerti sih apa alasannya, tapi tetap saja gw bosan kalau setiap sesi tanya-jawab harus menyiapkan jawaban 'ya, gw jomblo', sampai-sampai pernah suatu kali gw bosan setengah mati dan memutuskan pakai kaus bertuliskan i'm single ke acara jumpa fans. Waktu akhirnya ada yang tanya, 'Brian udah punya pacar belum?', gw cuma menunjukkan tulisan yang ada di kaus gw, dan semua orang langsung ngakak selebar-lebarnya. Sebenarnya itu ide yang lumayan bagus untuk menanggapi pertanyaan kayak gitu, sayangnya gw nggak mungkin pakai kaus itu setiap ada jumpa fans atau showcase kan? Bisa-bisa dikira baju gw cuma itu!


Gw masih minum dengan rakus waktu melihat satu sosok yang sangat gw kenal berjalan mendekat. Kinar, adiknya Karin. Tadi gw sempet shock waktu melihatnya jadi MC acara jumpa fans, tapi gw berusaha bersikap normal-normal saja. Tapi sekarang, setelah dia cuma berada tiga langkah dan gw, mau nggak mau gw panik.


"Hai," katanya begitu kami berhadapan. Gw jadi nervous, jengah melihat bayang-bayang wajah Karin di wajah Kinar.


"Hai juga. Gw lupa lo sekolah disini," kata gw basa-basi. Kinar tersenyum. "By the way, acaranya seru tadi."


"Iya. Makasih ya, kalian semua udah pada mau manggung di pensi sekolah ini. Tadinya gw kira, band lo nggak bakal mau jadi pengisi acara pensi sekolah gini. Yah... Secara band lo udah ngetop banget..."


"Justru ngetop atau enggaknya sebuah band itu bisa dinilai dari sering enggaknya mereka di booking untuk manggung di pensi-pensi, kan?" gw tertawa pahit, tapi Kinar masih terus tersenyum.


Lama-lama gw nggak tahan juga, pertanyaan-pertanyaan tentang Karin sudah berada di ujung lidah gw. Gw nggak bisa berlagak everything's okay begini terus di depan Kinar. Gw harus nanyak tentang Karin! Gimana kabarnya sekarang? Apa dia udah punya pacar baru? Apa dia udah ngelupain gw?


"Eh, Kin," kata gw persis ketika Kinar hampir mengatakan sesuatu juga. Gw nyengir aneh. "Lo duluan deh."


"Ada temen gw yang ngefans sama Skillful, tuh orangnya..." Kinar menunjukkan dua cowok yang berdiri nggak jauh dari kami. Kelihatannya mereka berdua sebaya Kinar. Mungkin anak sekolah ini juga. Tapi kok nggak pakai seragam ya?


"Anak sini?"


"Oh bukan, anak SMA Harapan. Salah satunya pacar gw, dan mereka khusus datang kesini karena pengin ketemu lo"


"Oh" gw menggumam.


"Yuk, gw kenalin. Mereka pengin foto bareng lo tuh"


Kinar berjalan menuju kedua temannya itu, yang salah satunya kentara banget bengong menatap gw, dan gw mengikuti di belakangnya.


"Hai," sapa gw sambil tersenyum.


"Brian, kenalin ini Farel," kata Kinar sambil menunjukkan seorang cowok berkulit putih yang menatap gw kagum. "Farel ini pacar gw Bri"


"Hai Farel"


"Hai"


"Yang ini Adrian, temennya Farel" Kinar menunjukkan cowok satunya, yang bengong menatap gw tadi itu. Wajahnya lucu, dan... I don't know, she looks... different. Kelihatannya dia ini bukan orang Indonesia asli, tapi kalau indo juga kayaknya nggak mungkin. Tinggi begini, tapi yah bisa dibilang lah dia sedada gw tinggi nya.


"Hai Adrian" gw mengangguk dan tersenyum lagi. Hal yang kayaknya salah besar, melihat Adrian yang semakin bengong menatap gw.


Adrian mengaduh waktu Farel mencubit pipinya, berusaha membuat temannya itu nggak bengong lagi. Gw hampir nggak bisa menahan tawa melihatnya. Adegan itu lucu banget, apalagi pipi Adrian langsung merah mendadak. Untungnya, gw nggak sampai tertawa. Sejak jadi vokalis Skillful gw udah dibiasakan menahan emosi. Dan itu termasuk nggak boleh menertawai fans. Bisa gawat kalau akhirnya mereka salah paham dan malah sakit hati.


"Emm... Eh Brian udah punya pacar?" tanya Farel tiba-tiba.


Aduh! Pertanyaan itu lagi!


"Belum. Gw jomblo kok." mau nggak mau, gw harus menjawab juga. Kayaknya lidah gw ini sudah hafal banget. Ibaratnya menu messages di HP, Kata-kata gw tadi itu sudah tersimpan di bagian temlates, tinggal di insert setiap kali dibutuhkan.


"Ohh kebetulan si Adrian juga jomblo tuh, dia kan fans lo dan lo idolanya bisalah kalian pacaran... Hahaha"


"Paan si Rel, ngaco benget lo kalo ngomong!"


"Eh kok ngamuk... Bukannya lo yang bilang lo mulai suka sama Brian?"


"Bego! Nggak gitu maksud gw tolol! Suka dalam arti fans!"


"Hoo gitu toh, bilang dari tadi!"


"Ck! Dasar lo nya aja yang nggak bisa nyerna omongan gw.."


"Ututututu bayi gw ngambek, uda gk mau ya ketemu sama Brian? Ya udah yuk kita pulang nanti sampai kamar gw kelonin deh"

__ADS_1


"Farel bangsat!"


"Hahahaha" gw dan Kinar tertawa melihat interaksi mereka yang menurut gw lucu banget. Gw juga tadi sempat melihat Adrian yang menunduk entah karena apa. Mungkin pipinya sudah tambah mereka lagi.


"Oh ya, Bri, Adrian ini suaranya keren lho," Kinar angkat bicara. "Diacara kelulusan seniornya, dia nyanyi lagunya Skillful!"


Adrian mendongak dengan panik, dan benar, dugaan gw pipinya bertambah merah. Ya ampun, gw jadi kasihan sama cowok ini! Masa gw bisa bikin cowok speechless sampai segitunya sih?


"Oh ya?" tanya gw tertarik. Gw suka banget kalau ada orang lain yang menyanyikan lagu Skillful. "Pasti suara ko bagus, sampai diminta nyanyi di acara kelulusan gitu"


"Eumm.. Enggak juga sih, biasa aja kok..." jawab Adrian tergagap, dia menatap gw takut-takut, seolah gw ini majikan dan dia pembantu gw yang baru memecahkan piring.


Tapi waktu dia menatap gw itulah baru gw bis melihat bola matanya yang berwarna coklat muda, bulu mata lentik, alis tebal tapi rapi juga rambutnya yang perpaduan antara warna coklat dan merah. Gw nggak tahu itu rambut asli atau hasil semiran di salon, tapi kalau dilihat dari alisnya yang juga sewarna itu...


Nggak mungkin kan, kalau dia menyemir alisnya juga?


Lho, kok gw jadi ngurusin alis orang lain sih?


Setelah itu Farel, Adrian dan juga Kinar mulai menanyai gw segala macam, mulai dari kampus gw, apa lagi favorit gw di album Skillful, gimana perasaan gw sebagai personel Skillful yang paling ngetop (yang ini gw bantah seratus persen, karena gw nggak pernah menganggap diri gw kayak gitu), dsd, dst, dll. Gw seneng-seneng aja menjawab semua pertanyaan itu, rasanya senang ada yang peduli dan pengin tahu tentang kehidupan gw. Hal yang kayaknya nggak mungkin gw alami kalau gw nggak bergabung sama Skillful.


Kira-kira sepuluh menit setelah itu, gw mendengar suara yang sudah gw hafal betul. Bang Budy.


"Ayo semuanya masuk bus!" teriaknya pada seluruh kru dan personel Skillful yang ada di ruangan itu. Semua menurut dan langsung berjalan menuju pintu keluar aula kecil, yang terletak disisi kiri gw.


"Gw balik dulu ya," pamit gw pada Adrian dan Farel.


"Kin, gw balik dulu. Mmm... salam buat Karin..."


Kinar terdiam selama beberapa detik, tapi akhirnya dia mengangguk juga. Gw nggak tahu apa yang ada di pikirannya, mungkin dia kaget karena ternyata gw masih ingat sama kakaknya.


Ya iyalah, Kin mana mungkin gw bisa ngelupain kakak lo? Gw nggak pernah sekali pun ngelupain dia, even though I've tried so hard...


...****...


Gw baru aja mau mandi waktu HP gw berdering. Nomor tak dikenal.


"Halo?"


"Selamat sore, dengan Brian Siregar?"


"Iya, ini siapa?"


"Saya Mirna, dari bagian produksi acara Pacar Selebriti di TOP Channel," kata orang itu lagi. Gw melotot. Pacar selebriti?


"Ehm... Oh ya, ada yang bisa saya bantu, mbak Mirna?"


"Ada," jawabannya sambil tertawa kecil. "Kami ingin minta kesediaan Brian untuk jadi bintang tamu di acara kami"


Gw mengernyit. Tunggu, kalau nggak salah, pacar selebriti itu acara reality show yang memberi kesempatan ke seorang fans untuk jadi pacar idolnya selama satu hari, Kan? Jadi, maksudnya, gw harus pacaran selama satu hari penuh dengan seorang cewek yang nggak gw kenal? Kalau yang terpilih cowok gimana? Masa gw pacaran sama cowok sehari penuh! Bisa di ledek Ernest nih pasti...


"Waduh Mbak, saya rasa kalau untuk minta saya mengisi acara begini, sebaiknya Mbak langsung menghubungi ke manajemen Skillful aja..."


"Ah ya, tadi saya sudah menghubungi Pak Budy, dan beliau bilang oke, tapi saya harus konfirmasi juga ke Brian, soalnya ini kan yang jadi bintang tamunya Brian secara Individu bukan seluruh personel Skillful"


Gw menelan ludah. Gw sih mau-mau aja jalan sehari sama fans cewek, apalagi kalau cewek itu fans Skillful yang udah bersusah payah mendaftar ke acara pacar selebriti ini. Seingat gw sih nggak gampang untuk jadi peserta acara ini. Banyak saingannya.


"Saya dijadwalkan untuk episode tanggal berapa, Mbak? Soalnya kalau untuk bulan ini kayaknya nggak bisa, jadwal Skillful padat banget" gw melihat kertas schedule Skillful yang tertempel di tembok kamar gw. Damn, hari yang kosong bisa dihitung jari!


Mbak Mirna terdiam sesaat. "Ehh... Akhir bulan? Sekitar tanggal 26?"


Gw melirik jadwal lagi. 26 Agustus kosong. Kok bisa pas begini ya? "Kalau tanggal itu bisa sih, kebetulan kosong"


"Waduh, syukurlah," suara Mbak Mirna terdengar riang lagi. "Kalau begitu kami bisa mulai memilih tiga surat penggemar yang terbaik, dan nanti Brian sendiri yang akan menentukan pesertanya dari tiga orang yang kami pilih itu"


"Oh. Oke deh kalau gitu"


"Oke. Terima kasih Brian"


"Sama-sama Mbak Mirna"


Mbak Mirna menutup teleponnya, dan gw langsung menuju kamar mandi. Nathan udah ribut ngajak ke tempat biliar, dan kalau gw nggak selesai mandi dalam lima menit kayaknya dia bakal ngebunuh gw. Anak itu kan paling nggak bisa disuruh nunggu.


...****...


Ten Ball ramai banget malam ini. Baru di gerbangnya aja, gw nyaris tuli saking ramainya orang-orang yang lagi main biliar di dalam sama. Waktu gw masuk, beberapa cewek menoleh, dan terus-terusan memelototi gw seakan gw ini setan.

__ADS_1


"Brian, ya?" tanya seorang cewek seksi yang tiba-tiba sudah berdiri didepan gw. Gw mengangguk. Ya ampun ni cewek pakaiannya bener-bener kurang bahan deh. Tapi boleh lah, karena body nya oke punya.


"Boleh foto bareng?" tanyanya lagi. Gw sekali lagi mengangguk. Cewek itu sumringah dan langsung mengeluarkan HP-nya untuk foto bareng. Gila, cantik plus seksi begini HP-nya XXX pula! Ckckck... Tapi gimana pun gw nggak ada rasa tertarik satu kali pun.


"Makasih ya," cewek itu tersenyum setelah selesai foto bareng gw. Waktu gw hampir pergi lagi, dia memanggil gw, dan menyelipkan sesuatu ke tangan gw.


Ya ampun. Nomor HP-nya!


"Call me" katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Oke, dia memang cantik, dan seksi, tapi gw nggak suka kesannya gampangan banget. Gw cuma nyengir bego, dan mengikuti Nathan dan Mbak Vita (pacarnya Nathan) yang sudah jauh di depan gw.


"Gila, gw dikasih ini nih," katanya setelah kami mendapatkan meja yang kosong. Nathan menyandarkan stiknya ke meja biliar, dan menatap kertas yang gw pegang.


"Apa tuh?"


"Nomor HP. Itu, sama cewek yang ada di sana tu" adu gw dan memberi isyarat dengan mata gw ke cewek dengan pakaian kurang bahan itu.


Nathan berdecak. "Cihuy banget tu cewek. Kesempatan Bri!"


"Nggak ah" gw menggeleng. "Males lihat tingkahnya jangan-jangan semua cowok dia kasih nomor HP-nya"


"Yee... Kenapa sih lo nggak mau memanfaatkan popularitas lo sedikit aja? Kalau lo mau nih, semua cewek di Indonesia bisa berjejer di depan lo dan lo tinggal tunjuk!"


Gw mendengus. "Gw cuma akan pilih Karin!"


"Okeeee... gw tau lo masih cinta sama dia, tapi lo harus inget dong, dia udah ninggalin lo, bro! Justru di saat lo mulai sukses"


"Memang.tapi justru itu yang gw hargai dari dia. Dia nggak silau sama apa yang gw punya sekarang. Itu kan bukti dia benar-benar sayang sama gw. Beda sama cewek-cewek lain yang justru berbaris didepan gw setelah gw jadi vokalis Skillful. Dan Karin ninggalin ga karena salah gw sendiri... gw mungkin bakal berbuat hal yang sama kalau gw jadi dia. Siapa sih yang tahan di... "


"Kok lo jadi sinis gitu?" potong Nathan, dia mengernyit.


"Cewek di dunia bukan cuma Karin tau! Nanti lo pasti ketemu yang lebih baik dari dia"


"Ada ala nih ribut-ribut?" Mbak Vita muncul dengan membawa tiga kaleng soft drink. Dia memang tadi pergi ke kasir untuk beli minuman sewaktu gw dan Nathan mencari meja yang kosong.


"Ini, si Brian" gerutu Nathan, "masa ada cewek mau kenalan sama dia, tapi dia malah nggak mau?"


"Bener Bri?" tanya Mbak Vita.


Gw mengangguk. Kadang-kadang gw ngerasa Nathan beruntung banget, bisa punya cewek kayak Mbak Vita.


Orangnya cantik, baik, manis, sabar, sayang pula sama ortu gw. Heran gimana caranya Nathan yang slenge'an ini bisa dapat cewek sesempurna Mbak Vita ya?


"Emang kenapa lo nggak mau?"


"Ceweknya payah, Mbak"


Kening Mbak Vita berkerut, dan Nathan memutuskan saatnya dia angkat bicara. "Tuh ceweknya, arah jam tujuh. Yang kayak gitu kok dibilang payah"


Mbak Vita melihat ke arah si kurang bahan itu, yang sekarang sedang cekikikan dengan dua temannya sambil curi-curi pandang ke gw.


"Cantik" gumam Mbak Vita sambil mengedipkan matanya menggoda gw.


"Cantik sih cantik, Mbak tapi gw nggak suka"


"Brian itu sok melankolis, beranggapan cewek kayak gitu cuma demen popularitasnya aja. C'mon, kalau lo sama dia, lo bakal sama-sama untung! Dia untung karena bisa jalan sama vokalis band ngetop, dan lo untung karena dia nggak malu-maluin buat diajak jalan!"


"Ya kalo gitu lo aja yang jalan sama dia," kata gw kesal. Muka Nathan langsung merah padam, dan gw yakin tadi matanya sempat melirik Mbak Vita takut, tapi Mbak Vita malah cekikikan.


"Iya, than" bela Mbak Vita, "kalau menurut kamu cewek itu segitu qualified nya, kenapa nggak kamu aja yang jalan sama dia?"


Nathan tertawa terpaksa. Tuh kan, gw bilang apa, dia beruntung banget dapat cewek kayak Mbak Vita.


...****...


^^^Ok next^^^


^^^Eps selanjutnya^^^


^^^Maaf kalo ad typo πŸ™‡πŸ»β€β™€οΈ^^^


^^^Follow+ komenπŸ’¬^^^


^^^Jangan lupa vote juga>


^^^Bantu promosi juga biar makin rame:')^^^

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2