
Menikah, satu kata yang lucu bagi Nindy. Wanita yang kini berusia dua puluh tujuh tahun itu sama sekali tidak percaya dengan pernikahan yang bahagia, jika menurut sebagian orang menikah adalah hal yang membahagiakan, beda halnya dengan Nindy yang justru tidak mengerti apa sebenarnya arti pernikahan itu.
Nindy adalah seorang Dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Ibu kota. Dia adalah wanita yang penuh ambisi, orang-orang melihatnya sebagai wanita yang hampir mendekati sempurna kecuali satu hal, yaitu kehidupan percintaanya. Wanita itu sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan percintaan apalagi kehidupan pernikahan di saat usia nya yang sudah matang ini.
***
Pagi itu Nindy baru saja selesai bersiap-siap untuk ke kampus karena hari ini ia memiliki jadwal mengajar pagi hari, seperti biasa jika selesai berpakaian ia akan lebih dulu ke dapur untuk menyapa sang Ibu.
"Selamat pagi Ma" sapanya pada Ibunya yang tengah sibuk memasak di dapur, di meja makannya sendiri sudah tertata dengan rapi alat makan yang biasa mereka gunakan serta nasi yang tinggal menunggu lauknya saja
"Pagi sayang, sarapan dulu sebelum berangkat mengajar yah" kata Mamanya tersenyum ke arah putri bungsunya
"Tergantung situasi" batin Nindy tersenyum ke arah Mamanya
"Miraa..Miraa, apa sarapannya sudah siap? kau ini memasak saja lama sekali, dimana juga kau simpan alat cukur ku?" tanya seorang lelaki setengah berteriak dari dalam kamar yang cukup dekat dengan dapur
"Kau ini dari dulu tidak berubah, setiap pagi selalu berteriak padaku mencari sesuatu" jawab Mamanya dengan suara yang keras pula, lebih tepatnya terdengar sangat kesal
"Cari dulu alat cukur ku" pintanya tetapi dengan suara yang keras seperti memerintah istrinya agar segera melakukan apa yang ia minta
Dengan kesal, Mamanya mematikan kompornya dan berjalan keluar dari dapur. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, ia terlebih dahulu memberitahukan sesuatu untuk putrinya yang masih duduk dengan tenang menunggu sarapannya
"Nindy, kau jangan menikah dengan orang seperti Papamu. Tiap hari kerjanya hanya menuntut ini itu, makan pun harus di temani" kata Mamanya memberi saran pada putrinya itu yang hanya menanggapinya dengan tertawa kecil
"Akupun tidak berniat untuk menikah Ma" batin Nindy seraya menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Mamanya
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Mama mau mengambilkan alat cukur Papamu. Awas saja kalau benda itu ada ditempatnya" ancamnya menatap sinis ke arah kamarnya
"Mulai lagi" gumam Nindy, "Mama.." panggil Nindy yang menghentikan langkah Mamanya untuk segera ke kamar
"Ada apa? kau juga membutuhkan sesuatu?" tanya Mamanya dengan penuh perhatian
"Tidak Ma, Nindy sudah hampir terlambat. Makanan di dekat kampus juga lumayan untuk sarapan, Nindy berangkat dulu Ma" jawabnya berpamitan pada Mamanya
"Kau tidak sarapan lagi?" tanya Mamanya dengan tatapan sedikit kecewa
"Miraaaa, mana alat cukurnya?" tanya suaminya yang kembali berteriak padanya hingga membuat emosinya kembali naik
"Menyebalkan sekali orangtua itu" cebik Mamanya dengan tatapan seperti ingin menelan suaminya hidup-hidup, Nindy hanya tertawa melihat tingkah orangtuanya yang tidak pernah berubah sejak dulu
"Sepertinya tidak Ma, Nindy benar-benar sudah terlambat. Nindy berangkat dulu yah" kata Nindy sembari mencium pipi Mamanya dan beranjak dari sana setelah berpamitan
"Iya" jawab Nindy dengan suara yang agak di keraskan karena sudah berada di depan pintu
***
----Nindy----
Namaku Nindy, sudah mendengar dan menyaksikan keributan dirumahku pagi tadi? yah aku memang tidak terbiasa untuk sarapan dengan kedua orangtuaku karena sebenarnya aku menyukai suasana yang tenang. Aku sama sekali tidak broken home, hanya saja aku merasa tidak nyaman jika dua orang yang sudah tinggal bersama setelah sekian lama harus terus saling berteriak satu sama lain setiap paginya.
Aku anak bungsu dari dua bersaudara, aku memiliki seorang kakak perempuan yang sudah menikah sejak aku duduk di bangku SD, aku pun sudah memiliki keponakan dari kakakku itu, saat ini dia sudah kuliah dan dia berkuliah di tempatku mengajar. Umurku dengan keponakanku itu hanya berjarak sepuluh tahun, itu karena kakakku langsung menikah saat dia sudah semester dua saat berkuliah dulu, suaminya seorang pengusaha yang cukup terkenal dan sukses.
__ADS_1
Di usiaku yang sudah menginjak angka dua puluh tujuh tahun ini, orang-orang disekitarku sudah banyak yang mendesakku agar aku segera menikah, bahkan orangtua dan kakakku pun sudah mulai mendesakku juga, tapi aku tetap pada pendirianku, sangat susah buatku untuk membuka hati pada orang lain.
Jika ditanya apakah aku ingin menikah? kemungkinannya tidak, entah aku tidak tertarik atau memang aku hanya tidak bisa menerima kehidupan pernikahan karena melihat kehidupan pernikahan orangtua dan kakakku. Entahlah, tapi aku bingung dengan orang yang sudah menikah. Setiap hari ada saja perdebatan yang mereka lakukan, lantas jika seperti itu untuk apa kita menikah? Papa dan Mamaku setiap hari berdebat tentang berbagai hal, bahkan untuk urusan rumah tangga sanak keluarganya, tapi tidak lama kemudian mereka berbaikan lagi dan saling membuat tertawa satu sama lain. Kakak pun sama dengan Papa dan Mama, setiap hari ia akan datang ke rumah dan mengeluhkan kelakuan suaminya, lalu tidak lama kemudian mereka berbaikan lagi, hal itu saja sudah membuatku pusing tentang masalah pernikahan.
Entah kapan dimulainya, saat itu aku benar-benar bertekad untuk tidak terjebak dalam kehidupan seperti Papa dan Mama, sejak saat itu aku benar-benar menghindari apapun yang berhubungan dengan dunia asmara yang berujung pada pembangunan rumah tangga baru.
***
Musim hujan tahun 2004
Pagi hari di tahun tersebut, seorang gadis yang sudah duduk di bangku SMP kelas tiga baru saja keluar dari kamarnya dengan menggunakan seragam sekolahnya dan juga membawa tas di punggungnya.
"Selamat pagi Mama" sapanya pada yang berusia sekitar tiga puluhan yang kala itu tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya
"Selamat pagi sayang, duduklah disitu sebentar lagi sarapannya selesai" kata Mamanya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh putrinya
Gadis yang kini memasuki usia remaja itu melihat keluar jendela rintik hujan yang turun membasahi bumi dengan cepatnya
"Hufftt, hujan lebat lagi. Aku paling malas ke sekolah saat hujan seperti ini" gumamnya sembari menghela nafasnya
"Miraa..Miraa, dimana kau letakkan dasiku? aku harus segera ke kantor" tanya seorang lelaki dari dalam kamar dengan suara yang keras meneriakkan nama istrinya
"Ada di lemari, semalam aku sudah menyiapkannya untukmu" jawab Mamanya dengan berteriak pula memberitahukan letak benda yang dicari oleh suaminya
"Andai ada ditempatnya, aku tidak akan bertanya seperti ini" serunya dengan kesal karena tidak menemukan apa yang ia cari
__ADS_1
"Menyebalkan sekali" cebik Mamanya dengan kesal dan mematikan kompor lalu keluar dsri dapur untuk segera ke kamarnya, namun sebelum itu ia berhenti di tempat putrinya duduk dengan manis "Nindy, kelak jangan menikah dengan orang yang seperti Papamu, mencari dasi sendiri saja tidak bisa" kata Mamaya memperingatkan lalu melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamarnya dengan omelan yang ia lontarkan disetiap langkahnya hingga masuk ke dalam kamarnya
"Yah, mulai lagi" gumam Nindy menggelengkan kepalanya merasa tidak heran lagi dengan perdebatan kedua orangtuanya itu.