Love Hate Relationship

Love Hate Relationship
Memaki Dengan Halus


__ADS_3

Akhir pekan, waktu yang sangat diharapkan oleh Nindy agar tidak pernah datang namun disisi lain ia justru mengharapkan hari ini datang dengan cepat. Ia tidak mengharapkan hari ini datang dikarenakan ia tidak ingin bertemu dengan Haris walau itu hanya sebatas tuntutan pekerjaan, namun ia berpikir percuma saja jika menghindari sesuatu karena pastinya semua waktu akan datang pada akhirnya hingga ia memutuskan untuk berdoa agar hari ini akan datang dengan cepat dan berharap hari ini akan berlalu dengan cepat pula.


Hari inilah hari yang ditunggu-tunggu oleh Nindy. Hari dimana ia akan mengikuti kegiatan atas nama kampusnya bersama dengan Dekan yang sudah memberikan kesan pertama yang kurang baik dimata Nindy.


“Akhirnya hari ini tiba juga, bertahanlah Nindy. Hanya perlu menahan diri selama dua jam saja, abaikan saja orang itu” kata Nindy pada pantulan bayangan dirinya dari cermin, ia Nampak sudah sangat rapi dan siap untuk menghadiri seminar tersebut.


Nindy menarik nafas panjang lalu bangkit dari tempat duduknya, ia lalu mengambil tas yang ia letakkan di atas tempat tidur dan segera turun ke bawah.


“Nindy, bukannya ini akhir pekan sayang? Apa kamu punya jadwal mengajar dikelas pekerja?” Tanya Mamanya saat melihat Nindy yang turun dengan pakaian rapih.


“Tidak ada Ma, Nindy harus ikut seminar hari ini sebagai perwakilan kampus.” Jawab Nindy tidak bersemnagat namun tetap memberikan senyuman tipis saat menjawab pertanyaan Mamanya.


“Oh, kalau begitu sarapan dulu sayang.” Ajak Mamanya dengan penuh harap


“Iya Ma.” Ucap Nindy yang mengundang senyum diwajah wanita paruh baya tersebut, ia begitu senang saat putrinya itu mau sarapan dengan mereka, Nindy pikir pun hari ini akhir pekan jadi Papanya tidak akan berteriak memanggil Mamanya hanya karena mencari barang-barangnya sebelum berangkat ke kantor.


Nindy memakan dengan lahap makanan berat yang dibuatkan oleh Mamanya sebagai menu sarapan, tidak ada sedikitpun keluhan yang dilontarkan dari mulut wanita itu, ia hanya terus menyuapi mulutnya dengan sendok yang berisi makanan.

__ADS_1


“Nindy, kamu bekerja di akhir pekan?” Tanya Papanya dengan pertanyaan yang sama dengan Mamanya tadi, Papanya pun segera bergabung dengannya di meja makan, melihat hal itu, Mamanya pun dengan cepat menyajikan makanan untuk Papanya.


“Tidak Pa, Nindy ditugaskan sebagai perwakilan kampus untuk mengikuti seminar” jawab Nindy menatap Papanya sekilas saat memberikannya jawaban lalu kembali fokus pada sarapannya


“Ohiya? Padahal ada yang ingin Papa bicarakan denganmu hari ini” ucap Papanya mengundang rasa penasaran Nindy


“Katakan saja sekarang Pa” kata Nindy berusaha meluangkan waktunya sembari memperlambat makanny sementara itu Mamanya memberikan piring berisi nasi dan lauknya untuk Papanya


“Lain kali saja sayang.” Kata Papanya yang terlihat ragu untuk memberitahu Nindy apa yang akan ia bicarakan, ia pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu Nindy sekarang dan lebih memilih untuk sarapan dengan tenang bersama istri dan anaknya


“Baik Pa” jawab Nindy sembari melanjutkan sarapannya.


Pukul delapan lewat tiga puluh, Nindy tiba di depan gedung pertemuan yang menjadi tempat dilaksanakannya seminar yang akan ia hadiri dengan Haris, Nindy lalu memarkirkan mobilnya dan segera turun dari sana. Ia tiba ditempat tersebut tiga puluh menit lebih cepat.


“Ternyata Bu Nindy orangnya sangat disiplin, bahkan hadir lebih awal sebelum acara dimulai.” Puji seorang pria yang suaranya sangat tidak asing di telinga Nindy, pria itu berusaha menyamai langkah Nindy yang berjalan menuju ke aula gedung tersebut.


“Pak Haris..terima kasih pujiannya.” Ucap Nindy menoleh ke arah Harris dengan wajah datar sembari tetap melanjutkan langkah kakinya dan sedikit mempercepat langkahnya

__ADS_1


“Ah, apa Bu Nindy sudah sarapan? Saya lihat Ibu Nindy setiap pagi membeli makanan di toserba dekat kampus.” Tanya Harris berbasa-basi


“Itu privasi saya pak” jawab Nindy lagi-lagi dengan datar hingga membuat Harris menggaruk belakang kepalanya sedikit frustasi dengan sikap cuek Nindy


“Hanya masalah sarapan Bu Nindy.” Ujar Harris tersenyum dan terdengar sedikit memaksa, Nindy pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Harris yang langsung memasang senyum terbaiknya.


“Benar, saya tidak terbiasa sarapan dirumah. Lalu, apa ada hal yang menguntungkan untuk pak Harris dari kebiasaan saya itu?” Tanya Nindy dengan senyum tipis dibibirnya walau sebenarnya perasaannya sangat kesal saat ini


“Ada, tentu ada. Saya jadi lebih mengenal Ibu Nindy sedikit-sedikit, dan untuk Bu Nindy ketahui, saya juga tidak suka sarapan dirumah, sepertinya kita memiliki sedikit kesamaan Bu.” Jawab Harris begitu antusias seolah tidak kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan Nindy.


“Benarkah? Kalau begitu mulai besok dan seterusnya saya akan berusaha untuk tidak melewatkan sarapan dirumah saya.” Kata Nindy dengan maksud tertentu.


“Loh, kenapa Bu Nindy? Tanya Harris bingung, Nindy pun tertawa kecil mendengar pertanyaan Harris yang sepertinya tidak mengerti dengan maksud perkataannya, melihat tawa itu membuat Harris terdiam seketika, lebih tepatnya..ia terpesona melihat tawa dari Nindy


“Karena saya tidak ingin memiliki kesamaan dengan pak Harris” jawab Nindy dengan datar, “permisi.” Lanjutnya memberikan senyum manisnya untuk Harris setelah mengucapkan maksud dari perkatannya.


Nindy pun berlalu dari sana dan mendahului Harris yang masih mematung ditempatnya, pertama tawa dan kedua senyum manis Nindy, dua hal itu yang membuatnya tetap tinggal disana sembari memandangi punggung Nindy yang berjalan dengan tegas menuju ke aula.

__ADS_1


“Sepertinya aku sudah gila, bagaimana mungkin ia terlihat begitu cantik setelah memakiku dengan halus. Ah, kau benar-benar sudah gila Harris.” Gumamnya sembari tersenyum saat mengingat bagaimana Nindy tertawa dengan kebodohannya yang tidak bisa mengartikan maksud perkataan wanita itu.


__ADS_2