Love Hate Relationship

Love Hate Relationship
Kenapa Dia Mau?


__ADS_3

Selama kurang lebih dua jam, Nindy benar benar hanya diam di tempatnya menyimak materi yang di paparkan oleh pemateri, sekalipun ia tidak pernah membuka mulutnya walau hanya untuk berdiskusi dengan Harris.


Harris pun sama, ia benar-benar menyimak dan mengikuti jalannya seminar dengan serius hingga membuat Nindy mengurangi pikiran negatifnya pada Dekan tersebut.


Begitu moderator menutup seminar hari ini, Nindy pun meregangkan badannya yang cukup lelah setelah duduk selama itu. Harris tersenyum menatap ke arah Nindy yang sedang meregangkan otot lehernya.


"Lelah Bu Nindy?" tanya Harris pada Nindy, kali ini Nindy tidak mendengar adanya maksud lain dari Harris, benar-benar terdengar seperti rekan kerja


"Sedikit Pak Harris, tapi cukup menyenangkan juga, saya jadi mendapatkan bebarapa pelajaran baru lagi hari ini" jawab Nindy tersenyum tipis, jika ia pikir ini adalah senyuman tulus yang pertama ia perlihatkan pada Harris


"Kalau begitu, saya minta tolong sama Ibu Nindy agar bisa merangkum materi seminar tadi sekalian kalau bisa Bu Nindy mengambil beberapa gambar untuk laporan kegiatannya nanti" pinta Harris yang kali ini benar-benar terlihat berwibawa sebagai seorang Dekan, sangat berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya saat mereka berpapasan di depan


"Baik Pak" jawab Nindy menyanggupi permintaan Harris


"Saya permisi dulu, mau berbicara dengan mereka" kata Harris sembari menunjuk tiga orang yang sedang berdiri dan mengobrol di dekat panggung


"Iya Pak" kata Nindy mengiyakan, Harris pun segera berlalu dari sana dan menghampiri orang-orang tersebut yang mungkin saja dikenal oleh Harris


"Sepertinya aku terlalu memandang buruk Dekan itu, kalau seperti ini dia terlihat profesional, cukup baik jika bertindak seperti ini" batin Nindy merasa demikian setelah melihat sisi lain dari Harris


***


Begitu selesai, satu persatu peserta seminar hari ini keluar dari ruangan yang mulai terlihat kosong, Nindy pun juga turut bersiap untuk pulang setelah melihat Harris selesai berbincang dengan beberapa orang tadi dan tengah berjalan menghampirinya.


"Sudah mau pulang?" tanya Harris begitu berada di hadapan Nindy


"Iya Pak, kalau begitu saya pamit duluan" kata Nindy bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tas nya di kursi sebelahnya

__ADS_1


"Mobil kita terparkir di tempat yang sama, Mm kita bisa ke parkiran bersama?" kata Harris menawarkan namun ia terlihat ragu


"Tidak mungkin dia mau" batin Harris sudah menerka duluan


"Baiklah kalau begitu pak Harris" jawab Nindy menerima tawaran Harris


"Hah?" ucap Harris spontan tidak menyangka untuk pertama kalinya Nindy mengiyakan ajakannya


"Apanya yang "Hah", bukannya bapak mau ke parkiran?" tanya Nindy setengah tersenyum


"Oh iya, ayo" Jawab Harris gelagapan sembari mengikuti Nindy yang berjalan mendahuluinya


"Kenapa dia mau?" batin Harris bertanya-tanya merasa bingung kenapa Nindy menyetujui tawarannya, namun senyum samar terbentuk di bibirnya, tentu saja karena ia senang.


Begitu mereka berada di luar gedung, suasana ramai tadi perlahan sepi, mereka berdua berjalan bersebelahan tanpa ada yang membuka suara. Sebenarnya Harris sangat ingin berbicara lagi dengan Nindy, tapi ia takut jika Nindy kembali dingin kepadanya padahal ia sudah begitu bersyukur Nindy telah menganggapnya dan tidak menghiraukannya lagi.


Harris yang terkejut melihat Nindy langsung duduk dihadapannya dan melihat Nindy memegangi pergelangan kakinya sembari menahan sakit.


"Bu Nindy baik-baik saja?" tanya Harris dengan begitu khawatir


"Iya Pak Harris, hanya terkilir sedikit" jawab Nindy berusaha meredam rasa sakit yang ia rasakan di pergelangan kakinya


"Saya bantu berdiri" kata Harris menjulurkan tangannya di depan Nindy


"Tidak usah, saya bisa sendiri" tolaknya dan berusaha untuk berdiri sendiri namun, "Aww" Nindy kembali ke posisinya karena kaki nya masih sakit setelah terhempas ke samping tadi


Harris pun menggelengkan kepalanya memikirkan betapa keras kepalanya wanita yang ada didepannya ini, entah karena harga dirinya yang tinggi atau apa, tapi Harris bingung karena apa salahnya menerima bantuan dari orang lain, pikir Harris.

__ADS_1


"Bu Nindy.." panggil Harris yang masih setia di posisinya di hadapan Nindy


"..." tidak ada tanggapan dari Nindy, ia hanya mendongakkan wajahnya menatap Harris yang memanggilnya


"Apa Bu Nindy tau, kenapa tangan pria diciptakan lebih besar dari tangan wanita?" tanya Harris yang membuatnya bingung


"Apalagi yang ingin Dekan ini katakan, barusan dia sudah sangat cocok jika diam saja" batin Nindy sembari menggelengkan kepalanya tidak mengerti maksud pertanyaan Harris


"Tangan pria diciptakan lebih besar karena mereka harus menanggung kehidupan ditangannya, tapi salah satu alasan kecilnya adalah agar bisa menjaga wanita dan tentunya membantu wanita yang sedang terjatuh seperti ini" jelas Harris memberitahu maksud pertanyaannya, ia bahkan menjulurkan tangannya dihadapan Nindy sekali lagi yang hanya menatapnya bingung


"Hah?" tanya Nindy masih tidak mengerti


"Ayo, berikan tangan Bu Nindy agar saya bisa membantu Bu Nindy" kata Harris memajukan tangannya supaya lebih dekat dari Nindy, wanita itu pun tersenyum mengetahui maksud Harris yang terlalu bertele-tele dengan penjelasan yang berujung dengan maksud menolongnya


"Baiklah, terima kasih pak Harris" ucap Nindy kemudian sembari menggapai tangan Harris yang langsung menariknya dan membantunya berdiri


"Lihat, tangan saya benar-benar besar, hampir dua kali lebih besar dari tangan Bu Nindy..itu artinya saya bisa diandalkan untuk menolong Bu Nindy" kata Harris masih betah menggenggam tangan Nindy yang tenggelam dalam genggaman tangannya yang memang besar


"Tidak usah mencari alasan pak Harris, sekarang saya sudah berdiri jadi tolong lepaskan tangan saya" kata Nindy sembari tertawa kecil, ternyata Harris masih saja suka bercanda seperti ini


"Baik" jawab Harris tersenyum lalu melepas tangannya dari tangan Nindy, ia kemudian melihat kaki Nindy sejenak lalu kembali bertanya, "Apa Ibu Nindy bisa berjalan ke mobil?" tanyanya terlihat masih khawatir


"Saya bisa, kaki saya hanya terkilir biasa. Sudah sering seperti ini" jawab Nindy yang menjelaskan jika tersandung seperti ini sudah menjadi kebiasaannya.


"Jika membutuhkan tangan saya, bilang saja" kata Harris dengan begitu percaya diri


"Terima kasih pak Harris" ucap Nindy tertawa kecil menanggapi candaan Harris

__ADS_1


Lagi-lagi tawa Nindy mampu menghipnotisnya, ia kembali terpatung sesaat setelah melihat tawa Nindy yang benar-benar seperti terhibur akan kehadirannya dan tentu saja itu membuatnya merasa senang.


__ADS_2