
"Ohiya Bu Nindy, Dekan yang baru sudah dipindahkan hari ini, saya dengar dia tampan dan juga masih muda" kata rekan dosennya memberitahukan Nindy
"Untuk apa tampan dan muda" gumam Nindy memutar bola matanya dengan malas saat rekannya itu sudah kembali ke mejanya
Tidak lama kemudian, seorang staf Fakultas masuk ke dalam ruangan para dosen ekonomi tersebut dengan Dekan baru yang dimaksud oleh rekan dosen Nindy tadi
"Selamat pagi Bapak dan Ibu dosen sekalian, perkenalkan beliau adalah Dekan kita yang baru di Fakultas Ekonomi, namanya pak Harris" kata staf tersebut memperkenalkan Dekan baru mereka. Nindy yang sedari tadi sibuk memeriksa tugas mahasiswanya di buat penasaran dengan wajah baru dari Fakultas mereka, betapa terkejutnya ia saat melihat pria yang ia marahi tadi ada didepannya dan dia adalah Dekan baru di Fakuktasnya.
"Dekan baru...Dekan?, matilah aku" gumam Nindy kembali menatap Pria yang bernama Harris itu, Nindy mengangkat sebelah alisnya kebingungan saat Dekan baru itu tersenyum penuh maksud ke arahnya.
Nindy masih menatap baik-baik wajah Harris berharap orang itu bukanlah orang yang ia marahi tadi, Harris lalu mengangkat alisnya lalu memberikan senyum terakhirnya sebelum akhirnya menyapa para dosen maupun staff yang ada di dalam sana.
"Selamat pagi semua, saya Harris selaku Dekan baru meminta tolong yang sebesarnya kepada para rekan-rekan dosen untuk sama-sama belajar dan membangun Fakultas kita menjadi lebih baik lagi dan tentunya akan selalu diminati oleh para Mahasiswa, oleh sebab itu, saya mengharapkan kerja sama dari para rekan dosen sekalian. Terima kasih" Sapa Harris memperkenalkan dirinya dan meminta kerja sama pada para dosen dan terakhir tersenyum kembali ke arah Nindy
"Wah, beritanya memang tidak salah. Dekan bari itu benar-benar tampan, dia juga terlihat begitu muda. Apa dia sudah menikah?" gumam para dosen wanita di belakang Nindy dengan heboh bersama rekan-rekan mereka dibelakang, sementara Nindy lalu mencebikkan bibirnya dan menatap ke lain arah
"Abaikan saja Nindy, toh kau tidak salah sama sekali" gumam Nindy menatap Harris kembali dan memberikannya senyum tipis lalu kembali fokus pada pekerjaannya tadi.
Setelah itu semua berjalan seperti biasa setelah Dekan baru itu berlalu ke ruangan barunya.
***
Siang harinya ketika jam istirahat, satu persatu dosen meninggalkan tempatnya untuk makan siang, Nindy yang baru saja kembali dari kelas langsung menyimpan tas dan buku bahan ajarnya di mejanya.
"Lapar sekali, mereka semua sudah keluar untuk makan" gumam Nindy melihat ke arah sekitar
Wanita itu lalu berniat untuk keluar makan siang pula setelah menyimpan tas nya dan hanya mengambil ponsel serta dompetnya, begitu ia beranjak keluar, ia berpapasan dengan Harris si Dekan baru di Fakultasnya.
"Mau makan siang?" tanya Harris tersenyum ramah pada Nindy
"Iya Pak, permisi" jawab Nindy tersenyum tipis lalu kembali berwajah datar dan melewari Harris
"Kenapa wanita itu begitu angkuh?" gumam Harris yang melihat Nindy berjalan dengan cepat seakan menghindarinya
Harris lalu mempercepat langkahnya dan menyusul Nindy hingga ia dapat menyamakan langkahnya disamping Nindy.
__ADS_1
"Bu Nindy, kenapa jalannya cepat sekali?" tanya Harris yang berjalan sambil tersenyum memikirkan mereka seperti sedang berlomba jalan cepat saat ini
"Yah karena saya mau makan siang Pak" jawab Nindy tanpa mengurangi kecepatan langkah kakinya berjalan saat ini
"Apa harus berjalan sangat cepat seperti ini?" tanya Harris lagi yang kesulitan menyamai langkah kaki Nindy
"Kenapa Bapak mengikuti saya?" tanya Nindy tanpa menghiraukan pertanyaan Harris
"Saya mau minta tolong sama Bu Nindy, saya tidak tau tempat makan sekitar kampus" jawab Harris yang membuat Nindy tiba-tiba berhenti berjalan
"Maaf Pak?" kata Nindy menanyakan maksud Harris
"Akhirnya berhenti juga" kata Harris lega lalu mengambil nafas sejenak
"Bapak mau makan siang dengan saya?" tanya Nindy menebak maksud Harris
"Kenapa tidak, ditempat saya dulu saya sering makan siang dengan rekan sesama dosen" jawab Harris tersenyum ramah namun membuat Nindy bingung
"Maaf Pak, biasanya untuk makan siang Dekan itu di antar langsung ke ruangannya oleh staff Fakultas" kata Nindy menjelaskan hal yang bisa di lakukan di Fakultasnya
"Saya tidak suka makan sendirian" kata Harris dengan tatapan penuh maksud dan harap pada Nindy
Nindy masih berdiri disana menunggu Harris mengatakan apa selanjutnya, namun Harris hanya diam saja hingga membuat Nindy seperti menyia-nyiakan waktunya saja
"Permisi" ucap Nindy beranjak dari sana
"Kalau begitu..."
"Ada apa lagi Pak?" tanya Nindy membalikkan badannya menghadap ke arah Harris yang menggantungkan kata-katanya
"Selamat makan siang, Bu Nindy" jawab Harris tersenyum ramah dan hanya dibalas sekali anggukan kepala oleh Nindy tanda ia mengiyakan perkataan Harris lalu ia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya beranjak dari sana
***
"Gara-gara Dekan baru itu jam makan siangku jadi berkurang tiga puluh menit, aku harus mengajar sejam lagi" gerutu Nindy menunggu pesanannya datang
__ADS_1
Saat ini ia berada di warung makan depan kampus yang biasa ia tempati untuk makan siang, Nindy masih tampak kesal pada Dekan baru itu. Ia lalu mengambil ponselnya dan membuka beberapa aplikasi sosial medianya untuk melupakan kekesalannya sembari menunggu makannya yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Nindyy" sapa seseorang yang langsung duduk di depannya
"Sarah" jawab Nindy tersenyum tipis ke arah wanita yang terlihat sebaya dengannya
"Nindy, kenapa kau selalu mengabaikan telpon dariku?" tanya wanita bernama Sarah tersebut yang nampaknya cukup mengenal Nindy
"Maaf Sarah, belakangan ini aku sangat sibuk. Sebentar lagi mahasiswa ku akan ujian tengah semester" jawab Nindy mengalihkan pandangannya ke lain arah
"Oh begitu? kau pasti sangat sibuk" kata Sarah dengan wajah prihatin
"Begitulah" ucap Nindy memegangi leher belakangannya
"Ohiya Nindy, sebenarnya aku ingin meminta bantuan mu lagi" kata Sarah yang langsung mengatakan keinginannya tanpa berbasa-basi seolah ia memang sudah merencanakan pertemuannya dengan Nindy ditempat ini, bukan hanya karena kebetulan, pikir Nindy
"Bantuan? Bantuan apa Sarah?" tanya Nindy tersenyum tipis namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya
"Kau tau, kekasihku akan berulang tahun minggu depan. Hmm sebenarnya aku ingin meminjam uang darimu, gajiku belum di bayarkan kantor" jawab Sarah dengan mudahnya hingga membuat Nindy tersenyum bingung
"Meminjam uang lagi?" tanya Nindy
"Iya Nindy, maafkan aku. Aku malah meminjam lagi saat aku belum mengembalikan uangmu yang dulu" jawab Sarah tidak merasa berat sama sekali
"Itu kau tau" batin Nindy begitu kesal
"Aku sebenarnya tidak enak padamu Nindy, tapi hanya kau sahabatku yang sangat dekat denganku dan selalu menolongku" kata Sarah berusaha menarik simpati Nindy
"Tidak enak? sahabat? cih" batin Nindy kesal
"Kirimkan saja nomor rekeningmu serta jumlah yang kau butuhkan, aku akan mengirimkannya nanti" kata Nindy tanpa berbasa-basi agar Sarah bisa cepat pergi dari hadapannya
"Benarkah? wah kau memang sangat baik Nindy, terima kasih banyak, aku pasti akan membayarmu kembali. Aku pergi dulu, nikmati makan siangmu" kata Sarah begitu senang dan langsung berdiri dan berpamitan pada Nindy saat melihat pemilik warung itu membawakan pesanan Nindy, persis seperti yang dipikirkan oleh Nindy
"Silahkan Bu Nindy" kata pemilik warung yang sudah mengenal Nindy
__ADS_1
"Terima kasih Bu" ucap Nindy tersenyum ramah pada pemilik warung tersebut walau sebenarnya ia sedang kesal melihat Sarah sebelum makan siangnya, pemilik warung itu lalu meninggalkan Nindy yang akan memulai makan siangnya
"Wah, kenapa hari ini begitu menyebalkan?" gumam Nindy kesal sembari mengunyah makannnya