
Setelah seminar itu, perlakuan Nindy pada Harris perlahan berubah, tidak sedingin dulu. Hal itu membuat Harris makin bersemangat untuk mendekati Nindy, jujur saja pria itu memang sepertinya tertarik pada Nindy.
Dari seminar itu, Harris jadi tau ia harus bersikap seperti apa jika ingin terus mendapatkan perlakuan baik dari Nindy. Mungkin saja Nindy memang bukan tipikal wanita yang senang jika terus di kejar dan diperlakukan dengan manis, malah hal itu akan membuatnya risih, pikir Harris.
Pagi itu, Harris yang baru saja tiba di kampus berpapasan dengan Nindy di depan pintu masuk ke dalam ruang dosen yang dimana juga terdapat ruangan Harris, lelaki itu pun menyapa Nindy dengan tersenyum ramah
"Selamat pagi Bu Nindy" sapa Harris berbasa basi
"Selamat pagi pak Harris, permisi saya harus mengajar sekarang" jawab Nindy membalas sapaan Harris sekaligus berpamitan pada lelaki itu dengan menyunggingkan senyum ramah untuk membalas senyum harris
"Baik Bu, selamat mengajar" ucap Harris yang hanya di jawab dengan senyuman oleh Nindy yang segera berlalu dari sana
Harris masih setia berdiri di depan pintu memandangi Nindy yang berjalan menuju ke kelasnya untuk memulai kuliah
"Perlahan saja Harris" batin Harris sembari tersenyum samar lalu segera masuk ke ruangannya.
***
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, Nindy akhirnya kembali ke ruangannya bertepatan dengan jam istirahat karena ia mengajar di dua kelas sekaligus sampai mendekati jam istirahat. Ia segera masuk ke dalam ruangannya yang sudah terlihat kosong. Mendekati akhir pekan memang jarang dosen yang menempati ruangannya di fakultas dan memilih untuk melakukan pekerjaannya di gedung dosen, hanya beberapa dari mereka saja yang tinggal disana termasuk Nindy yang memiliki jam mengajar lumayan banyak dari yang lainnya.
Pada saat Nindy masuk ke dalam sana, Harris pun keluar dari ruangannya hingga membuat Nindy sedikit terkejut namun dengan segera ia mengontrol ekspresi wajahnya sembari terus berjalan ke meja nya
"Sudah selesai mengajarnya?" tanya Harris yang berjalan mendekati Nindy
"Iya pak, baru saja" jawab Nindy sembari tersenyum tipis
"hmm, Bu Nindy..." panggil Harris yang membuat Nindy berbalik ke arahnya
"Iya pak Harris? ada apa?" tanyanya penasaran sembari duduk di kursinya
"Bagaimana bisa pak Harris, yang ada saya penasaran. Sepertinya ada yang ingin pak Harris katakan" ucap Nindy dengan tatapan mendesak
"Ah tidak, saya hanya ingin mengajak Bu Nindy makan siang bersama, kebetulan saya memesan makanannya kelebihan dan daripada mubazir, jadi..." Harris menggantungkan kata-katanya sembari menatap Nindy, seketika ia pun kembali ragu, "Lupakan saja, saya bisa memakan semuanya sekaligus" kata Harris tidak melanjutkan lagi perkataannya tadi
"Jadi pak Harris mau menawari saya makan siang atau mau memakan semuanya sendiri?" tanya Nindy tersenyum melihat wajah bingung Harris
__ADS_1
"Rencananya ingin mengajak Bu Nindy tapi.."
"Terima kasih, kebetulan saya sedang lapar dan agak malas untuk keluar. Tadinya saya memang ingin pesan makanan saja" ucap Nindy memotong ucapan Harris, lelaki itu mengangkat sebelah alisnya kebingungan tetapi tidak lama kemudian ia pun kembali bersemagat
"Kalau begitu ayo, makanannya sudah ada di dalam" ajaknya begitu antusias
"Baik Pak" jawab Nindy sembari tertawa kecil, ia pun kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu mengikuti Harris yang sudah berjalan lebih dahulu menuju ke ruangannya.
***
Harris mempersilahkan Nindy duduk terlebih dahulu di meja tamu yang ada diruangannya dan ia sendiri mengambil kantong plastik yang agak besar dan berisi dua box makan siang didalamnya.
Lelaki itu dengan penuh keseriusan membuka plastik tersebut dan mengeluarkan satu persatu isinya, ia terlebih dahulu memberikan milik Nindy dan meletakkan di depan wanita itu lalu ia juga mengambil kotak makan siang miliknya dan mulai membukanya.
"Silahkan Bu Nindy" kata Harris mempersilahkan
"Terima kasih banyak Pak Harris" ucap Nindy memulai makan siangnya.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya makan siang bersama diiringi dengan obrolan ringan hingga membuat keduanya sedikit lebih akrab.