
Setelah selesai mengajar di jam kedua, Nindy dengan cepat kembali ke ruangannya di Fakultas. Ia berharap rekan-rekannya belum keluar dari sana sehingga ia bisa menghindari Dekan itu, Nindy cukup yakin jika Dekan itu pasti akan mengganggunya lagi hari ini.
Begitu tiba diruangannya, Nindy bisa bernafas lega karena melihat masih ada beberapa dosen disana yang sepertinya sedang bersiap-siap untuk makan siang.
"Aku harus cepat, sebelum mereka semua keluar dari ruangan ini" gumam Nindy menengok ke arah ruang Dekan dan melihat Harris masih ada disana.
Begitu selesai menyimpan barang-barangnya, wanita itu ingin segera berlalu dari sana, namun seseorang menghalangi langkahnya
"Bu Nindy" panggil seorang dosen laki-laki yang menghentikam langkahnya
"Ada apa pak Bima?" tanya Nindy tersenyum tipis namun dalam hatinya ia sangat ingin keluar dari ruangan itu sekarang
"Pak Harris mau bertemu dengan anda diruangannya" jawab laki-laki bernama Bima itu, seketika Nindy langsung terkejut karena ia sangat ingin menghindari orang itu
"Bertemu saya? ada apa yah?" tanyanya berusaha terlihat tenang namun dalam hatinya sudah sangat kesal
"Sepertinya pak Harris ingin membahas sesuatu dengan Bu Nindy, mungkin saja tentang seminar nasional yang akan diadakan minggu depan" kata Bima tersenyum ramah yang membuat Nindy membalas senyumnya secara terpaksa
"Kenapa harus saya?" tanyanya sekali lagi yang membuat Bima pun mulai kesal karena Nindy terlalu banyak bertanya
"Entahlah Bu, saya permisi dulu" jawab Bima kemudian berlalu dari sana
"Sebenarnya apa mau orang itu" gumam Nindy menatap sinis ke arah ruangan Harris
Nindy kemudian pasrah dengan situasinya dan berjalan dengan lesu ke arah ruangan Harris, ia lalu mengetuk pintunya perlahan dan membukanya
"Permisi Pak, katanya Bapak mau berbicara dengan saya" sapa Nindy dengan wajah datar hampir terdengar seperti tidak ada semangat di nada suaranya
"Ah iya Bu Nindy, silahkan masuk" kata Harris tersenyum ramah melihat kedatangan Nindy
__ADS_1
Wanita itu menuruti perkataan Harris dan masuk ke dalam ruangannya, ia lalu duduk di hadapan Harris dengan meja sebagai pembatas mereka
"Ada apa lagi ini?" batin Nindy mengeluhkan keadaannya sekarang
***
"Seminar pak? kenapa harus saya?" tanya Nindy saat Harris sudah selesai menjelaskan maksudnya memanggil Nindy
"Dosen yang lain pun mendapatkan tugas di akhir pekan nanti, bahkan ada beberapa yang ditugaskan untuk mengikuti workshop" jawab Harris namun jawabannya tidak cukup memuaskan Nindy, ia bahkan jarang mengikuti seminar Fakultas, tapi sekarang ia ditugaskan untuk mendampingi Dekan itu
"Tapi pak..."
"Saya tidak mau mendengar alasan, Ibu Nindy orang yang profesional kan?" tanya Harris memotong pembicaraan Nindy, mendengar pertanyaan itu membuat Nindy merasa terpancing, ia lalu menghela nafasnya untuk meredam kekesalannya
"Baik Pak, saya akan mengikuti seminar itu dengan Bapak" jawab Nindy memberikan keputusannya
"Sudah saya duga Bu Nindy orang yang profesio..."
"Ini sudah lewat tiga puluh menit Bu Nindy, makan siang disini saja bersama saya" kata Harris memberikan penawaran pada Nindy
"Masih ada satu jam lagi pak Harris, saya bisa makan siang kurang dari satu jam, terima kasih tawarannya, permisi!" ucap Nindy sembari tersenyum dengan maksud tertentu, ia lalu berdiri dan menyambar tasnya hingga membuat bingkai foto di meja Harris terjatuh
"Oh maafkan saya, biar saya bantu" kata Nindy merasa bersalah, ia lalu mengambil bingkai foto tersebut dan tidak sengaja melihat foto yang sepertinya itu adalah kedua orangtua Harris
"Terima kasih bu Nindy" Ucap Harris saat Nindy memberikan bingkai foto itu padanya
"Permisi" kata Nindy pamit
"Pak Tama? Jadi dia anaknya atasan Papa" batin Nindy masih mengingat dengan jelas wajah pak Tama yang ia temui di kantor tempat Papanya bekerja dulu.
__ADS_1
***
Nindy keluar dari ruangan Harris dengan perasaan kesal, baru kali ini ia mendapatkan tugas dari kampus namun ia tidak merasa begitu senang.
Nindy menatap makan siangnya saat sudah berada disalah satu warung makan dekat kampus sembari bernafas malas mengingat ia harus menghabiskan akhir pekannya bersama dengan Dekan yang menurutnya menyebalkan itu.
"Kenapa harus aku? sebenarnya Dekan itu punya masalah apa denganku, kenapa selalu berada disekitarku?" gerutu Nindy namun tetap menikmati makan siangnya
Setelah selesai makan siang, Nindy berniat kembali ke kampus karena ia masih memiliki satu mata kuliah lagi yang harus ia bawakan hari ini.
Perlahan Nindy mulai melupakan kekesalannya dan memutuskan untuk menerima saja apa yang di tugaskan untuknya, toh terus memikirkan masalah itu hanya akan membuatnya menjadi stres saja, pikir Nindy
Saat akan memasuki gerbang kampus, Nindy dikejutkan dengan klakson mobil yang tiba-tiba berhenti didepannya seolah akan menabraknya hingga ia terdiam ditempatnya karena ketakutan. Seorang pria lalu turun dari sana dan menghampiri Nindy
"Hey, apa kau buta? kenapa berjalan sambil melamun seperti itu?" seru pria tersebut membuat Nindy tersadar, seketika emosi Nindy pun ikut naik saat melihat pria tersebut
"Kau..." ucap Nindy sembari menunjuk pria yang ia temui semalam dengan Sarah, pria itu adalah Arka, orang yang diakui Sarah sebagai kekasihnya, "Kau yang kurang ajar, aku sudah berjalan dipinggir tapi kau malah seperti mengincarku" kata Nindy sembari menunjuk-nunjuk dan memaki Arka
"Sudah salah masih menuduh orang" ucap Arka terlihat sengaja memancing emosi Nindy
"Minggir, dasar pria kurang ajar" kata Nindy sembari mendorong bahu Arka dengan kasar karena menghalangi jalannya
Nindy pun berlalu dari sana dengan perasaan kesal dan tentu masih terkejut karena mengira ia benar-benar akan tertabrak oleh mobil Arka tadi.
"Dia benar-benar galak, aku baru pertama kali bertemu dengan wanita sepertinya, pasti dia pikit aku benar-benar akan menabraknya tadi" ujar Arka tersenyum puas melihat Nindy yang berjalan masuk ke dalam kampus dengan kesal setelah bertemu dengannya
*Beberapa saat yang lalu
Arka baru saja keluar dari kampus setelah bertemu dengan seseorang, wajahnya sama sekali tidak terlihat senang dilihat ia masuk kedalam mobilnya lalu membating pintu mobilnya dengan keras dari dalam.
__ADS_1
Ia lalu melajukan mobilnya perlahan meninggalkan lapangan parkir kampus dan menuju ke gerbang, saat akan keluar dari gerbang ia melihat Nindy, wanita yang ia temui kemarin bersama Sarah. Nindy terlihat berjalan dengan melamun namun jalannya masih dipinggir hingga ia tidak membahayakan dirinya berjalan seperti itu, milihat Nindy berjalan sendirian membuat Arka tersenyum miring
"Wanita itu, sepertinya akan seru" gumam Arka lalu melajukan mobilnya dengan agak cepat menuju ke hadapan Nindy seolah akan menabraknya, ia pun tersenyum puas melihat Nindy sangat terkejut saat ia berhenti dengan jarak mobilnya yang sangat dekat dengan Nindy*.