
Pagi harinya, Nindy bangun dari tidurnya dan segera mengumpulkan niat untuk menjalankam aktivitas rutinnya setiap hari. Ia merenggangkan seluruh badannya hingga merasa segar dan segera turun dari tempat tidurnya lalu berjalan masuk ke kamar mandi
Setelah selesai mandi, ia lalu memakai bajunya yang sudah ia siapkan dari semalam dan mulai berdandan hingga merapikan rambutnya seperti biasa sebelum berangkat bekerja.
"Tua? Apa benar aku sudah terlihat tua?" gumam Nindy bertanya pada dirinya sendiri karena mengingat kata-kata Arka tadi malam, ia lalu mengamati pantulan bayangan dirinya dari cermin dan memperhatikan wajahnya yang sangat cantik saat selesai dipoles beberapa cream dan bedak tabur serta lipstik tipis di bibirnya yang ranum
"Tua darimananya? keriput ku saja belum ada, dasar laki-laki kurang ajar" kata Nindy menjawab pertanyaannya sendiri saat selesai memeriksa wajahnya, ia bahkan memaki pria itu hanya dengan mengingat wajahnya
"Dengan perangaimu itu, tidak heran kau terlihat tua" kata-kata Arka kembali terngiang dikepalanya, ia lalu kembali memeriksa wajahnya dicermin meja riasnya itu
"Apa karena gaya rambutku yang selalu terikat? Atau hari ini ku urai dengan rapi saja?" tanyanya lagi meragukan penampilannya karena terus teringat kata-kata Arka yang begitu tidak sopan padanya.
Wanita itu berpikir lama didepan cermin hingga ia memutuskan untuk mengurai rambutnya hari ini, ia lalu melepaskan ikatan rambutnya dan menyisir rambut panjangnya yang indah lalu menatanya dengan baik hingga ia terlihat sangat cantik. Merasa puas dengan hasilnya, iapun tersenyum dan segera beranjak dari sana kemudian mengambil tas kerjanya dan bersiap untuk berangkat
"Wah..Anak Mama cantik sekali pagi ini, apa kau sedang jatuh cinta?" kata Mamanya saat melihat Nindy yang baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan yang berbeda dari biasanya hingga menimbulkan harapan bagi Mamanya yang tersenyum penuh maksud
"Jatuh cinta darimananya, ada-ada saja" jawab Nindy dengan wajah datar hingga membuat Mamanya mengehela nafas
"Untuk apa Mama berharap" ucapnya tersenyum tipis dan kembali berwajah datar pada putrinya, "Duduklah, sebentar lagi sarapannya siap" katanya menyuruh putrinya untuk menunggu sarapannya
"Miraaaaaa" teriakan Papanya dari dalam kamar membuat Nindy mengurungkan niatnya untuk duduk di kursi meja makan
"Apa lagi yang hilang?" tanya Mamanya dengan suara yang keras seperti menahan emosi, sadar akan situasinya, Nindy pun berniat pamit pada Mamanya
"Ma, Nindy berangkat dulu" katanya berpamitan pada Mamanya
"Sarapannya?" tanya Mamanya dengan wajah kecewa
"Dikampus saja. Papa sangat membutuhkan bantuan Mama, Nindy pamit yah" jawab Nindy sembari tersenyum lalu mencium pipi Mamanya dan berlalu dari sana.
__ADS_1
***
Nindy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal sembari bergumam sendiri didalam mobilnya
"Kenapa pasangan suami istri selalu seperti itu ya? paginya sangat bising tapi malam hari sangat damai. Aneh tapi juga lucu jika melihat Mama dan Papa seperti itu" gumamnya tersenyum kecil memikirkan tingkah orangtuanya yang tidak pernah berubah sedari ia kecil.
Wajah Nindy kembali tersenyum lebar saat melihat toserba di dekat kampus yang sudah terbuka sepagi ini, ia pun dengan tidak sabarannya memarkirkan mobilnya didepan toserba itu lalu segera turun dari mobilnya dan berniat membeli sarapan seperti biasanya.
Nindy memilih beberapa roti yang kelihatannya masih sangat baru, mungkin saja baru datang hari ini, pikirnya. Roti isi sosis dan ayam cincang menjadi pilihan Nindy, ia mengambil beberapa sembari tersenyum seakan tidak sabar untuk memakannya.
"Mungkin karena keseringan tidak sarapan dirumah jadinya roti ini seperti sudah menjadi favoritku" gumam Nindy merasa lucu jika ia membeli roti tersebut
"Jadi kau tidak suka sarapan dirumah?" tanya seorang pria yang berdiri tepat dibelakang Nindy hingga membuatnya terkejut dan langsung membalikkan badannya
"Pak Harris" ucap Nindy dengan suara kesal karena dikejutkan oleh Dekan itu
"Selamat Pagi Nindy" sapa Harris berusaha terlihat akrab dengan Nindy, namun Nindy hanya menatapnya dengan wajah datar
"Maksudnya?" tanya Harris dengan perasaan yang sedikit tidak enak mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Nindy
"Lupakanlah, permisi" jawab Nindy tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Harris, ia kemudian berniat untuk pergi dari sana namun Harris dengan cepat menggapai tangannya
"Hei tunggu dulu" kata Harris refleks memegang tangan Nindy namun segera ditepis juga oleh wanita itu
"Kenapa anda begitu kurang ajar?" tanya Nindy yang terlihat jelas sangat tidak menyukai sikap Harris yang seperti itu
"Oh maafkan aku, aku tidak bermaksud" ucap Harris yang juga merasa bersalah karena sembarangan memegang Nindy
"Permisi" kata Nindy dengan tegas dan berlalu dari sana menunu ke kasir
__ADS_1
Harris hanya mematung ditempatnya masih setia menatap Nindy yang membayar belanjaannya lalu keluar dari toko tersebut.
"Sangat kasar tapi juga sangat cantik" gumam Harris tersenyum tipis menyaksikan Nindy yang masuk kedalam mobilnya dengan wajah kesalnya
***
"Kenapa laki-laki itu sangat tidak sopan? dia seorang Dekan tapi kelakuannya seperti itu, dengan santainya dia memanggil namaku saja tanpa embel-embel Bu, dia pikir aku temannya? ck" gumam Nindy mengomel sepanjang jalan menuju ke ruangan dosen, Nugrah yang melihatnya dari kejauhan tersenyum lalu menghampirinya
"Masih pagi begini kau sudah marah-marah saja Nindy. Ada apa?" tanya Nugrah mengejutkan Nindy
"Nugrah" ucap Nindy sedikit terkejut
"Kenapa marah-marah?" tanyanya lagi merasa lucu melihat Nindy bergerutu sambil berjalan
"Kau tau..." Nindy menggantungkan kata-katanya yang sudah ia kumpulkan dengan penuh emosi namun segera di redam karena ia berpikiran lebih baik ia simpan sendiri saja, takut nantinya ada kesalahpahaman hingga urusannya panjang dikemudian hari, "Ah lupakanlah, tidak apa-apa" jawab Nindy menghembuskan nafasnya lalu kembali melanjutkan langkahnya
"Ya sudah kalau tidak mau cerita" gumam Nugrah yang langsung mengikuti Nindy, "Ohiya..tunggu sebentar" pinta Nugrah menghentikan langkahnya hingga Nindy pun mengikutinya, ia kemudian mengambil sebuah undangan dari tasnya dan menyerahkannya pada Nindy, "Ini untukmu, jangan lupa datang yah" kata Nugrah memberikan undangan tersebut, mata Nindy membelalak menerima undangan pernikahan yang diberikan untuknya
"Kau mau menikah?" tanya Nindy tidak percaya
"Iya, sebenarnya aku sudah lama ingin memberitahumu, tapi mungkin aku beritahunya lewat undangan saja hehe" jawab Nugrah tertawa kecil
"Selamat yah Nugrah, semoga semuanya lancar" ucap Nindy ikut bahagia
"Terima kasih Nindy, aku harap kau juga segera menyusul" kata Nugrah menyampaikan harapannya pada temannya itu, walaupun ia tau Nindy sama sekali tidak tertarik dengan hal itu
"Hmm entahlah" jawab Nindy tersenyum tipis
"Selalu seperti itu" kata Nugrah yang sudah mengetahui terlebih dahulu respon dari temannya itu
__ADS_1
"Cepatlah, kita bisa terlambat" ajak Nindy berlalu mendahului Nugrah karena tidak ingin memperpanjang pembahasan mereka saat ini.