Love Hate Relationship

Love Hate Relationship
Orang Dewasa Menikah Untuk Apa?


__ADS_3

"Yah, mulai lagi" gumam Nindy menggelengkan kepalanya merasa tidak heran lagi dengan perdebatan kedua orangtuanya itu.


Nindy lalu memalingkan wajahnya kembali melihat keluar jendela, tidak lama kemudian seorang wanita muda yang berusia sekitar dua puluh tahunan lebih bersama dengan seorang anak kecil yang berusia sekitar lima tahunan berjalan menghampiri Nindy dan langsung duduk di hadapannya


"Selamat pagi kak Nana" sapa Nindy pada kakaknya yang kala itu duduk didepannya


"Pagi dek" jawab kakaknya membalas sapaannya, "sapa Bibi, Abi" pinta Nana pada putranya agar menyapa adiknya


"Stop, awas saja kalau kau memanggilku Bibi, aku masih terlalu muda untuk sebutan itu" sanggah Nindy yang selalu menolak di panggil Bibi oleh keponakannya yang terlihat kebingungan saat Nindy berbicara seperti itu


"..." bocah lima tahun itu hanya terdiam menatap Nindy dengan tatapan seakan bertanya ia harus memanggilnya apa, seperti mengerti, Nindy pun langsung menjawabnya


"Okey, bilang selamat pagi kak Nindy" kata Nindy mengarahkan keponakannya itu, Nana hanya tersenyum melihat dua anak dengan perbedaan umur sepuluh tahun itu didepannya


"Pagi kak Nindy" ucap Abi dengan suara yang menggemaskan


"Cerdas, selamat pagi anak kecil" jawab Nindy tersenyum sembari mencubit kecil hidung keponakannya


"Papa dan Mama mana Nin?" tanya Nana melihat ke arah sekitar namun tidak menemukan keberadaan orangtuanya


"Biasa" kata Nindy yang langsung dimengerti oleh Nana yang langsung tersenyum menggelengkan kepalanya


"Duduk disini sayang" Nana membantu putranya agar bisa duduk dengan nyaman di atas kursi , "Mereka berdua tidak pernah berubah dari dulu" kata Nana tersenyum menatap adiknya


"Kakak juga seperti itu, bertengkar lagi?" tanya Nindy yang sudah bisa menebak apa yang terjadi diantara kakaknya dan kakak iparnya, setiap hari Nana akan datang ke rumahnya dan mengeluhkan masalahnya dengan suaminya pada Mamanya, hal itu membuat Nindy menjadi bingung kenapa dunia pernikahan seperti itu


"Kakak ipar mu sangat menyebalkan" cebik Nana sembari menuangkan segelas air putih dan memberikannya pada anaknya


"Aku bingung, orang dewasa sebenarnya menikah untuk apa? kenapa harus menikah jika setiap hari ada saja permasalahn yang muncul" kata Nindy menggelengkan kepalanya


"Kau masih kecil, kehidupan pernikahan memang seperti ini. Lebih baik kau belajar yang giat saja" jawab kakaknya dengan ambigu hingga mendatangkan rasa penasaran kenapa bisa dunia pernikahan seperti itu, ia lalu menepiskan semua pertanyaan dikepalanya lalu kembali fokus pada kakaknya


"Ohiya kak, kakak kesini diantar supir kan?" tanya Nindy


"Pergilah, dia didepan. Kakak sengaja menyuruhnya menunggumu" jawab Kakaknya yang sangat mengerti arah pembicaraan adiknya


"Terima kasih kak, kau memang sangat perhatian padaku. Aku pergi dulu" kata Nindy berpamitan pada kakaknya dan beranjak dari sana


"Nindy sebentar..." pinta Nana mengehentikan langkah kaki Ninidy, ia lalu mengambil sebuah kotak bekal didalam tasnya dan menghampiri adiknya, "Kau belum sarapan, makanlah dalam perjalanan, belajar dengan perut kosong itu sama sekali tidak baik" pesan Nana sembari memberikan kotak bekal itu pada adiknya

__ADS_1


"Terima kasih kak, kau yang terbaik" ucap Nana lalu kembali berjalan melangkah keluar dari rumahnya.


----Nindy-----


Seperti itulah kisahku yang sering melewatkan sarapan bersama keluargaku karena tidak menyukai suasana yang begitu berisik di pagi hari. Hingga saat ini, kakak kadang masih ke rumah tapi tidak begitu sering karena Mama sering mengajarinya untuk perlahan mengatasi masalah rumah tangganya.


Apa nantinya aku akan seperti itu? ah tidak, berpikiran untuk menikah saja tidak pernah terlintas dalam benakku.


***


Nindy yang kala itu baru tiba di area kampus terlebih dahulu mampir ke toserba yang ada di dekat kampus, ia berniat membeli bebapa makanan untuk dimakan sebelum mengajar.


Wanita itu memarkirkan mobilnya didepan toserba lalu turun dan segera masuk kedalam toko yang menjual beberapa makanan ringan untuk pengganjal perut.


Setelah selesai, Nindy lalu keluar dengan cepat dan masuk ke dalam mobilnya kembali dengan agak terburu-buru karena sebentar lagi ia harus segera masuk kelas dan mulai mengajar. Ia lalu mengemudikan mobilnya menuju ke parkiran didepan gedung dosen.


"Tidak sarapan dirumah lagi?" tanya seorang wanita yang seumuran dengan Nindy saat ia baru saja turun dari mobil


"Seperti biasa, terlalu berisik Nugrah" jawabnya tersenyum tipis pada rekan sesama dosennya yang juga teman yang paling dekat dengannya sejak pertama kali mengajar dikampus ini.


"Ayo cepat, kau harus sarapan sebelum mengajar" ajak Anugrah dengan langkah kaki yang cepat mendahului Nindy


***


Pukul sembilan lewat empat puluh, Nindy sudah selesai mengajar dan berniat kembali ke gedung dosen saat kelas sudah sepi. Ia merapikan barang-barangnya dan keluar dari sana sembari membawa tas dan beberapa tumpukan tugas makalah yang dikumpulkan oleh mahasiswanya tadi.


Di perjalanannya menuju ke gedung dosen, ponselnya tiba-tiba berbunyi membuatnya segera mengambilnya didalam tas dengan agak susah karena tangan satunya pun penuh dengan tumpukan makalah.


"Halo, ada apa Ma?" tanya Nindy setelah berhasil mengambil ponselnya didalam tas dan menerima panggilan dari Mamanya


"Pulang nanti jangan langsung ke rumah ya, tolong jemput Papamu dikantornya" pinta Mamanya dari seberang sana


"Papa tidak membawa mobil Ma? tanya Nindy lagi


"Tidak sayang, ban mobilnya bocor tadi pagi kena paku di depan pagar jadi Papa naik taksi" jawab Mamanya menjelaskan situasi pagi tadi


"Baik Ma, nanti Nindy yang menjemput Pa...aww" Ditengah perjalannya menuju ke ruangannya, Nindy malah bertabrakan dengan seseorang hingga membuat barang-barang yang dibawanya jatuh berserakan bahkan ponselnya pun ikut terjatuh ke lantai


"Maaf Maaf, saya tidak sengaja" ucap orang yang bertabrakan dengan Nindy, nampaknya orang itu memang tidak memperhatikan jalan, sama seperti Nindy yang asik menelpon dengan Mamanya

__ADS_1


"Halo...Nindyyy..." panggil Mamanya yang bisa ia dengar dari ponselnya, Nindy segera memungut ponselnya sembari menatap sinis pria yang bertabrakan dengannya


"Iya Ma? Nindy baik-baik saja, sudah dulu yah" kata Nindy tidak mau membuat Mamanya khawatir karena teriakannya tadi


"Jangan lupa jemput Papa mu nanti" kata Mamanya berpesan


"Iya Ma, Nindy tutup yah" jawab Nindy lalu mematikan ponselnya.


Ia lalu menatap orang yang bertabrakan dengannya dengan tatapan sinis karena menganggapnya tidak berhati-hati saat berjalan, di tambah lagi tugas makalah dari mahasiswanya sudah berserakan dilantai


"Lain kali perhatikan langkah anda, kalau berjalan itu melihat kedepan" kata Nindy dengan suara tegas mengingatkan


"Maaf, saya sedang mencari kantor fakultas Ekonomi" kata pria itu merasa tidak enak pada Nindy


"Ruangannya disana, diujung sana" jawab Nindy menunjukkan jalanan ke fakultas tersebut, pria itu dibuat bingung sekaligus tersenyum karena wanita dihadapannya itu masih ingin menunjukkan arahnya walau ia nampaknya sangat kesal


"Terima kasih, ah biar saya bantu" ucap pria tersebut saat melihat Nindy berjongkok dan memungut barang-barangnya namun ditolak oleh Nindy yang memungutnya dengan cepat


"Tidak usah, saya bisa sendiri. Lain kali hati-hati, permisi" kata Nindy dengan kesal lalu berlalu dari sana, Pria tadi tersenyum menatap Nindy yang berjalan ke arah yang sama dengan tujuannya tadi, yaitu kantor Fakultas Ekonomi


"Galak sekali, padahal sendirinya tidak melihat jalan dan asik menelpon" gumamnya tersenyum mengikuti Nindy yang berjarak agak jauh darinya


***


"Menyebalkan sekali, tugas-tugasnya jadi kotor begini" gumam Nindy mengomel melihat susunan kertas-kertas itu menjadi sedikit kecokelatan diatasnya karena bekas debu dan pasir lantai tadi


"Ada apa? kenapa mengomel seperti ini Bu Nindy?" tanya salah satu rekan dosennya


"Tidak apa-apa Bu" jawab Nindy tersenyum tipis


"Ohiya Bu Nindy, Dekan yang baru sudah dipindahkan hari ini, saya dengar dia tampan dan juga masih muda" kata rekan dosennya memberitahukan Nindy


"Untuk apa tampan dan muda" gumam Nindy memutar bola matanya dengan malas saat rekannya itu sudah kembali ke mejanya


Tidak lama kemudian, seorang staf Fakultas masuk ke dalam ruangan para dosen ekonomi tersebut dengan Dekan baru yang dimaksud oleh rekan dosen Nindy tadi


"Selamat pagi Bapak dan Ibu dosen sekalian, perkenalkan beliau adalah Dekan kita yang baru di Fakultas Ekonomi, namanya pak Harris" kata staf tersebut memperkenalkan Dekan baru mereka. Nindy yang sedari tadi sibuk memeriksa tugas mahasiswanya di buat penasaran dengan wajah baru dari Fakultas mereka, betapa terkejutnya ia saat melihat pria yang ia marahi tadi ada didepannya dan dia adalah Dekan baru di Fakuktasnya.


"Dekan baru...Dekan?, matilah aku" gumam Nindy kembali menatap Pria yang bernama Harris itu, Nindy mengangkat sebelah alisnya kebingungan saat Dekan baru itu tersenyum penuh maksud ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2