Love Hate Relationship

Love Hate Relationship
Sangat Tidak Tau Malu


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang sangat panjang bagi Nindy, saat jam mengajarnya selesai ia segera bergegas untuk pulang.


Seperti yang telah dipesankan oleh Mamanya, ia terlebih dahulu mampir ke kantor Papanya untuk menjemput Papanya. Setibanya disana, Nindy memarkirkan mobilnya lalu turun dari sana untuk menuju ke lobi.


"Nindy.." panggil Papanya yang baru saja keluar dari lift, lelaki paruh baya tersebut melambaikan tangannya dengan begitu semangat ke arah putri bungsunya.


"Papa, apa Nindy lama?" tanyanya begitu ia sampai dihadapan Papanya


"Tidak sama sekali sayang, apa kau pernah tidak tepat waktu?" tanya Papanya memuji sifat disiplin putrinya


"Ah Papa bisa saja" ucap Nindy tersenyum riang


"Ohiya, kau sudah makan? mau singgah di restoran sebentar?" tanya Papanya sembari berjalan berdampingan dengan putrinya


"Tidak usah Papa, Mama pasti sudah memasak makan malam" jawab Nindy meyakini Mamanya saat ini tengah sibuk menyiapkan makan malam dirumah


"Sudah lama Papa tidak keluar denganmu" kata Papanya seolah memaksa putrinya untuk makan berdua dengannya


"Lain kali saja Papa, Nindy sudah ada janji dengan Mayang mau keluar nanti malam jadi kita sudah harus sampai dirumah sebelum makan malam" kata Nindy menjelaskan pada Papanya, raut wajah Papanya pun seakan berubah sedikit kecewa, bukan karena Nindy menolak ajakannya tetapi karena hal lain


"Selalu saja dengan Mayang, sekali-kali keluarlah dengan pria, pengenalan dan..."


"Mobilnya Nindy parkir disana Pa" kata Nindy memotong pembicaraan Papanya dan berjalan dengan cepat mendahului Papanya


"Huffttt, anak itu selalu saja menghindari pembicaraan seperti ini" keluh Papanya menghela nafas melihat putrinya yang berjalan begitu cepat mendahuluinya


Pria paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya merasa begitu bingung dengan putrinya. Ia pun segera mempercepat langkahnya untuk menyusul putrinya, namun berhenti kembali saat seorang pria yang kelihatannya lebih tua darinya menyapanya


"Sudah mau pulang, Pak Ahmad?" tanya pria tersebut hingga mengurungkan niat Papa Nindy untuk menyusul Nindy


"Iya Pak, putri saya sudah menjemput. Bapak belum pulang?" tanyanya dengan sopan pada pria yang terlihat cukup karismatik sebagai seorang pimpinan perusahaan


"Ada yang ketinggalan di ruangan saya" jawabnya tersenyum ramah


"Perlu saya ambilkan Pak?" tanya Papanya Nindy menawarkan bantuannya sebagai bentuk kesopanan pada atasannya


"Oh tidak perlu Pak, terima kasih untuk kerjanya hari ini dan juga tawarannya" kata atasannya tersebut yang terlihat begitu bersahabat dengan karyawannya


Nindy yang sedari tadi berjalan tanpa menoleh ke belakang merasa aneh karena tidak ada siapapun yang menemaninya berbicara, ia lalu berbalik dan melihat Papanya dari jarak yang lumayan jauh darinya, ia pun segera kembali dan menghampiri Papanya.

__ADS_1


"Papa.." kata Nindy merangkul lengan Papanya


"Ini putri Pak Ahmad?" tanya atasannya merasa penasaran dengan wanita yang baru saja menghampiri mereka


"Iya Pak Tama, ini putri bungsu saya. Ini atasan Papa Nindy sekaligus pemilik perusahaan" kata Papanya saling memperkenalkan mereka berdua secara bergantian satu sama lain


"Senang bertemu dengan anda Pak" ucap Nindy dengan senyum yang ramah dan nada bicara yang sangat lembut hingga membuat pak Tama merasa nyaman dengan wanita itu, seolah mengingat sesuatu, Pak Tama langsung tersenyum ke arah Nindy


"Nindy? kamu Nindy?" tanyanya dengan begitu senangnya


"Iya Pak, Bapak mengenal saya?" tanya Nindy penasaran karena atasan Papanya terlihat begitu antusias saat mengetahui namanya


"Tentu saja, wah waktu benar-benar cepat berlalu. Dulu kau sering ke kantor ini waktu kecil" jawab pak Tama mengingat waktu dulu saat Nindy masih kanak-kanak dan sangat sering datang bersama Papanya saat itu


"Dia pasti sudah lupa Pak" kata Papa Nindy yang juga mengingat masa-masa itu


"Wah Pak Ahmad, anda membesarkan putri anda dengan baik" puji Pak Tama saat melihat Nindy yang terlihat luar biasa hanya melihat dari penampilannya


"Terima kasih banyak untuk pujiannya Pak" ucap Papa Nindy yang juga merasa senang mendapatkan pujian seperti itu oleh atasannya


"Saya harus ke ruangan saya dulu, hati-hati dijalan" kata pak Tama menutup pembicaraan


"Permisi Pak" kata Nindy berpamitan pada atasa Papanya


"Iya Nindy, hati-hati dijalan nak" kata Pak Tama berpesan, ia bahkan tidak berhenti memandangi Nindy dan Papanya hingga mereka berdua keluar dari gedung perusahaan.


***


Malam harinya setelah selesai makan malam, Nindy berpamitan dengan kedua orangtuanya. Sebelumnya Nindy sudah memberitahu Mamanya bahwa ia akan keluar bersama sahabatnya setelah makan malam.


"Ma, Pa..Nindy berangkat" kata Nindy setelah ia selesai makan dan ditutup dengan segelas air putih


"Jangan pulang terlalu malam Nindy" kata Mamanya berpesan


"Iya Ma, Nindy pamit" jawab Nindy tersenyum pada kedua orangtuanya sembari berpamitan


Nindy terlebih dahulu ke ruang keluarga untuk mengambil kunci mobilnya dan tidak sengaja mendengar pembicaraan samar kedua orangtuanya yang menurutnya sangat aneh tapi lucu


"Yang terakhir makan, dia yang cuci piring" kata Papa Nindy saat ia menyelesaikan makan malamnya

__ADS_1


"Lagipula sejak kapan kau cuci piring" jawab Mamanya tersenyum tipis


"Mau ku bantu?" tanya Papanya menawarkan dengan wajah yang dibuat semanis mungkin


"Haha tidak usah" kata Mama Nindy dengan tawa yang pecah melihat wajah suaminya


Nindy yang mendengar percakapan mereka menggelengkan kepalanya sembari tersenyum namun tampak bingung


"Aneh sekali, setiap pagi berdebat dengan tenaga lalu malam harinya saling menggoda dengan manis" gumam Nindy sembari berjalan keluar dari rumahnya.


***


"Apa? Berapa banyak yang kau pinjamkan untuknya? Nindy, uangmu yang dulu saja belum dia kembalikan padamu" tanya seorang wanita yang saat ini duduk berhadapan dengan Nindy disebuah cafe


"Jangan terlalu berisik Mayang" tegur Nindy memperhatikan sekitar karena suara Mayang yang terlalu keras saat ia selesai menceritakan mengenai Sarah padanya


"Berapa banyak kali ini?" tanya Mayang masih penasaran


"Lima juta" jawab Nindy singkat lalu menyeruput minumannya menggunakan sedotan


"Astaga Nindy, kenapa kau begitu baik" ucap Mayang kembali dengan suara keras hingga Nindy kembali menegurnya dengan cepat


"Bukan baik, aku hanya tidak suka jika orang merengek padaku dan pada akhirnya juga akan ku lakukan untuk mereka. Dari pada lama, mending langsung ku iyakan, aku tidak sanggup jika harus mendengar rengekannya" jelas Nindy memberitahukan alasannya jika ia menolong seseorang yang akan mendatanginya jika membutuhkan sesuatu darinya


"Apa kau yakin dia bekerja disebuah kantor?" tanya Mayang meragukan alasannya mengenai gaji yang ia sebutkan pada Nindy


"Jelas tidak, aku dari dulu tau dia kerja di bar" jawab Nindy yang tau dengan pasti semua tentang Sarah


"Wah, kenapa wanita itu sangat tidak tau malu? padahal yang ku dengar kekasihnya sangat kaya" cebik Mayang terlihay sangat kesal


"Sudahlah jangan membicarakan orang lain lagi" kata Nindy mengingatkan


"Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu" kata Mayang menggelengkan kepalanya lalu segera meminum minumannya untuk mendinginkan perasaannya


Nindy lalu tersenyum melihat sahabatnya itu, bahkan ia merasa gemas pada wanita yang cukup berisi dengan pipinya yang chubby itu.


Saat tidak ada pembahasan lagi, mereka berdua dikejutkan oleh kedatangan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Wanita itu tidak lain adalah Sarah, ia langsung menyapa Nindy setelah melepaskan rangkulan tangannya pada laki-laki tadi


"Nindyyy, wah aku tau itu kau. Dari jauh aku bisa langsung mengenalimu" kata Sarah dengan hebohnya menyapa Nindy

__ADS_1


__ADS_2