
.....
Hanna POV.
Setelah menonton film horor,aku dan Boss melangkah menuju ke restoran.Aktivitas hari ini begitu menguras tenaga ku,begitu pula dengan Boss.Tidak heran jika aku dan Boss sangat kelaparan.Makan satu cup popcorn berdua saja tidak lah cukup untuk mengganjal perut ku yang seperti karet.
"Ha,ha,ha,haaa...Ha,ha,ha,haaa.".Aku tidak bisa berhenti tertawa mengingat ekspresi lucu Boss saat melawan rasa takut nya ketika melihat adegan seram di film Arwah Ratu Goyang.
"Hanna!,kamu pasti menertawakan ku kan?".
Boss marah padaku,aku senyum saja."Maaf Boss!.Aku sudah berusaha untuk tidak tertawa.Tapi Boss sangat lucu sekali.Ha,ha,haaa...".Perutku terasa seperti digelitik sampai tertawa ngakak lagi.Air bening di pelupuk mataku bahkan sampai menyembul saking geli nya.
"Kamu senang sekali melihat ku ketakutan setengah mati.lnilah alasannya kenapa aku sembunyikan rasa takutku dari mu".
Tawa ku terhenti seketika tatkala melihat bibir Boss yang mengerucut."Jangan marah Boss!.Nanti ganteng nya hilang lho!".Ku menggoda Boss yang merajuk dengan cara menarik-narik lengan baju Boss."Apa Boss malu pada ku?.Aku cuma pelayan dan Boss majikan ku.Seharusnya aku yang malu karna sudah banyak merepotkan Boss?".
Aset paling berharga di wajah ku yang berperan penting mencium aroma,membentur dada Boss yang lebar begitu Boss membalikkan badannya mendengar ku terus mengoceh.
"Apa cuma itu saja yang ada di pikiran mu Hanna?.Hubungan kita cuma sebatas pelayan dan majikan saja?".
Bulu mata ku yang lentik berkedip-kedip tatkala Boss menatap ku dengan sedemikian sendu nya."Maksud Boss apa?.Bisa Boss jelaskan?".Gadis naif seperti ku mana mengerti ucapan Boss yang sulit ku cerna."Memang apa yang seharusnya ku pikirkan,Boss?".
Sungguh aku tidak tau yang seharusnya ku pikirkan.Satu pun tidak ada yang terlintas di pikiran ku.
"Sudahlah.Aku jelaskan pun percuma.Kamu tidak akan mengerti!".
Semarah itu Boss padaku sampai meninggalkan ku yang kebingungan mengartikan ucapan Boss yang tidak jelas."Tunggu aku Boss!".Ku kejar Boss yang memasuki restoran elit yang cuma bisa didatangi oleh orang-orang berduit saja."Wahhhh.Apa kita akan makan di sini Boss?".
"Ya.Cuma makanan di restoran ini yang menurut ku paling enak".
"Kurasa begitu".Senyum ku terus menghiasi wajah imut ku melihat surga dunia yang satu ini.Nikmat Tuhan yang tidak bisa ku dustakan.
Perasaan bahagia ku tidak bisa ku sembunyikan dari siapapun.Aku merasa beruntung dipertemukan dengan Boss ku ini meski cerita awalnya tidak menyenangkan.
Berkat Boss,aku mengenal dunia yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.Bisa berbelanja pakaian di butik,menonton film di bioskop dan sebentar lagi akan makan di restoran yang mewah ini.
.....
Rayn POV.
__ADS_1
Lagi-lagi aku melihat Hanna bersama Bagaskara di tempat ku makan saat ini.Belum puaskah Hanna menyiksa hati ku?.Tidak taukah jika aku begitu cemburu setiap kali melihat kedekatan nya dengan perjaka tua itu?.
"Kalian pulang naik taksi saja!.Gue harus pergi sekarang!".Makanan yang masih tersisa di piring ku tidak ku habiskan.Selera makan ku hilang seketika bersamaan dengan munculnya Hanna dan perjaka tua itu di restoran.
"Elo mau kemana Ren?.Pinjami gue uang buat bayar ongkos taksi nya!".
Ku abaikan ocehan Adrian yang memalukan dan yang membuat ku mempercepat langkah ku.Yang benar saja.Cuma untuk bayar ongkos taksi saja sampai tidak punya.Benar-benar payah dan kere.Padahal masih ada Arya dan Farhan yang bisa saja menyuruh salah satu sopir pribadi keluarga nya untuk menjemput ke mall.
Aku bersembunyi dibalik troli makanan yang didorong pelayan restoran demi menghindari Hanna dan perjaka tua itu.Malas aku melihat wajah perjaka tua itu yang membuat ku muak saja.
"Haiii Rayn?.Kamu suka main ke mall juga?.Kupikir kamu tidak suka shopping di mall?".
Susah payah aku mencoba menghindari Hanna dan perjaka tua itu,tapi malah berpapasan di dekat wastafel.Terpaksa aku menyapa Hanna."Haiii Hanna?!.Iiya.Aku kemari karna desakan teman-teman ku".
"Kamu sudah mau pulang ya?.Padahal aku baru mau makan disini.Rayn,maukah makan lagi bersama ku dan...".
"Tentu saja aku mau Hanna.Itu pun jika cuma kita berdua saja".Bukan maksud ku memotong perkataan Hanna.Aku tidak mau Hanna menyebutkan nama lelaki yang ku benci didepan ku.
"Apa kamu keberatan jika kita makan bersama?.Makan rame-rame akan lebih enak dan seru kan?".
Keberatan?.Tentu aku sangat keberatan."Sama sekali tidak Hanna.Tapi akan lebih nyaman jika kita makan berdua saja tanpa harus ada orang ketiga".Ku lirik perjaka tua yang ku anggap nyamuk pengganggu kesenangan ku.
"Hanna,lain kali aku akan mentraktir mu makan.Luangkan lah waktu mu untuk ku ya?!".Aku malas jika harus makan satu meja bersama perjaka tua itu.
"Baiklah.Akan ku usahakan Rayn".
Jawaban Hanna membuat ku tersenyum senang."Baiklah.Sampai jumpa Hanna?!".
"Silahkan!.Pintunya disana!".
Serasa ingin muntah ketika kulihat senyum sarkastik di wajah perjaka tua yang menunjukkan dimana pintu keluar dari restoran ini padaku.Yang benar saja.Keparat itu pikir mata ku buta apa?,sampai tidak tau mana pintu keluar dan mana pintu masuk?.
"Dasarrr perjaka tua".Hati ku dipenuhi amarah saat ku tinggalkan Hanna bersama perjaka tua itu direstoran.
Langkah ku dari restoran menuju basement ku lebarkan.Mini Cooper ku yang terparkir di basement ku kendarai.Emosi yang berlebihan memicu ku mengebut dijalanan yang lengang.
"Astaga!!!".Karna ulahku ini,aku nyaris mengantarkan nyawa sepasang pejalan kaki yang hendak melintasi zebra cross,ke gerbang kematian,jika saja aku terlambat menginjak rem.
"Ya Tuhan ku.Ampunilah dosa ku!".Kejadian ini kembali mengingatkan ku pada peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Suatu hari saat malam akan menjelang fajar sepulang dari rumah sepupu ku dari Papa yang tinggal di desa,aku menyetir sendiri dalam keadaan mengantuk.Akibat dari kelalaian ku itu,dua nyawa sepasang suami istri yang sudah berusia paruh baya melayang.
Secara tak sengaja aku menabrak kedua orang tua yang menyebrang jalan dalam kegelapan secara tiba-tiba tanpa menengok ke kanan dan ke kiri.Entah siapa mereka dan pulang dari mana pasangan suami istri yang ku tabrak itu sampai tewas seketika di tempat.Kematian suami istri itu ku ketahui saat ku beranikan diri memeriksa denyut jantungnya yang ternyata sudah tidak berdetak lagi.
Luar biasa kaget dan bingung bercampur dengan rasa takut bercampur ketika aku sadar dengan yang sudah ku lakukan saat itu.Tak tau harus berbuat apa,aku malah melarikan diri dari tempat kejadian yang membuat ku trauma berat yang berkepanjangan.
Butuh waktu lama untuk ku bisa bangkit dari traumatik itu.Sudah lama berlalu,tapi masih saja menghantui pikiran ku kadang kala.Sejak peristiwa kelam itu,aku tidak berani bertandang ke desa dimana rumah sepupu ku berada.
Beruntung tidak ada saksi mata sehingga aku bisa lolos dari jerat hukum.Tapi setiap saat aku selalu dihantui rasa penyesalan dan perasaan bersalah yang terus meluap dan tidak pernah surut dari hatiku.Sungguh bukan niatku lari dari tanggungjawab.Perasaan takut di hakimi massa dan jeruji besi membuat ku melarikan diri dari dosa ku.
Dalam ketakutan dan kebingungan,bukannya aku menyerahkan diri pada polisi,aku malah menenggelamkan diri di klab malam dan menenggak miras sampai mabuk berat dan meracau.Pikiran ku yang kacau membuat bicara melantur sehingga mengakui perbuatan ku pada Adrian.
Sebagai teman,Adrian cuma bisa menenangkan ku.Meminta ku untuk tetap bungkam dan merahasiakan kesalahan ku dari semua orang,termasuk Papa dan Mama.Menyuruh ku melupakan yang sudah terlanjur terjadi,dan menyemangati ku untuk melanjutkan hidup.Dosa besar yang sudah ku lakukan itu harus ku anggaplah tidak pernah terjadi.
Kupikir hal itu bisa ku lakukan dan mudah ku lupakan.Nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan dan bahkan berakibat fatal.Dalam keadaan mabuk berat,aku mengungkapkan perbuatan ku pada Papa.
Sialnya,kejujuran ku itu membuat Papa terkena serangan jantung dan menghembuskan nafas terakhir.Entah apa? yang membuat ku harus sejujur itu pada Papa jika aku sudah menghilangkan nyawa sepasang suami istri yang tidak di sengaja ku tabrak di desa.
Kini aku benar-benar menyesal.Akibat dari kejujuran ku itu nyawa Papa melayang.Seharusnya aku tetap diam dan tidak berkata jujur.Rupanya pengakuan dosa dan kesalahan ku bukanlah sesuatu yang selalu mendatangkan kebaikan.Mungkin seharusnya aku tetap membungkam mulut ku dan menutupi kejahatan ku demi kebaikan.Dengan begitu Papa akan tetap hidup dan tidak akan meninggal dunia.
.....
Bagaskara POV.
Dunia ini rupanya begitu terasa sempit.Suasana hati ku yang senang kembali direnggut Rayn.Belum sempat makan,nafsu makan ku sudah lenyap.Rayn tidak membiarkan ku bisa hidup senang dan tenang bersama Hanna.Bahkan selalu mencoba mencari masalah dengan ku.
"Hanna,sebaiknya kita makan ditempat lain saja.Ayo!".Aku tidak sudi makan bersama Hanna direstoran yang sama dengan tempat Rayn makan.
"Kenapa Boss?.Apa makanan disini harganya sangat mahal?".
Bukan harga yang ku permasalahkan.Hanya saja,aku merasa tidak nyaman setelah melihat wajah yang ku benci ada direstoran ini."Bukan begitu.Aku cuma tidak bernafsu saat melihat menu makanan disini".
"Baiklah.Terserah Boss saja.Padahal aku ingin sekali mencicipi makanan di restoran ini".Senyum Hanna yang menawan telah sirna diwajah cantik nya.
Aku sangat menyesal sudah mengecewakan Hanna yang begitu tertarik melihat gambar display menu yang terpampang di dinding restoran ini.Aku tidak bermaksud membuat Hanna kecewa dan sedih.
"Lain kali kita kemari,ok?!".Janjiku sebisa mungkin harus ku tepati.Entah itu kapan nya,tidak bisa ku pastikan.Yang penting tidak ku ingkari dan Hanna tidak kecewa.Kali ini saja,maafkan aku Hanna.
"Hmhhh,yaaa...Baiklah.Yang penting aku bisa makan makanan yang enak dan gratisan".
__ADS_1
Aku senang Hanna gadis yang penurut dan pengertian bahkan kembali tersenyum.Senyum menawan Hanna yang sempat hilang,kini bisa kulihat lagi.Senyum Hanna adalah yang terindah dimata ku.Kebahagiaan Hanna adalah yang utama bagi ku saat ini.