
Ada kotak kecil dan dua buah amplop di sana. Selain itu, ikat rambut dan sapu tangan cantik berada di tempat yang sama.
Di sudut kotak sebuah kalung berbentuk kepingan salju dan beberapa lembar surat mengintip manja. Yang lebih mengejutkan Min Joon adalah dua buah kunci asing yang ada gantungan kunci berbentuk mawar biru, membuatnya tersenyum sesaat. Min Joon ingat betul tentang gantungan kunci yang diberikannya saat ulang tahun Jin Hee yang ke-17.
"Inikah alasan sesungguhnya kau tidak mengangkat teleponku? Tapi, mereka bilang kau ...," gumam Min Joon merasa bersalah saat melihat handphone milik Jin Hee juga berada dalam kotak itu. "Apa ini?" ucapnya saat mengambil kotak kecil berwarna merah.
Min Joon membuka kotak kecil dan menemukan dua buah cincin berlian, serta sebuah kertas memo berwarna kuning kusam. Kertas itu berisi pesan aneh, "Pergilah! Ini peringatan terakhir! Kita bertemu di bandara!"
Min Joon terkejut setelah membaca memo itu, pikirannya kalut. Entah apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan demi pertanyaan melingkari otak kecilnya. Ia bergegas turun ke lantai bawah dan meninggalkan barang-barang Jin Hee di kamar. Kotak cincin ber-memo digenggamnya erat. Wajahnya memerah padam, Min Joon akan meledak.
"Ayah! Ayah ...!" teriak Min Joon di depan ruang kerja ayahnya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu? Apa yang terjadi?" Ibunya yang baru saja datang dari kamar, tampak sedikit panik.
"Apa dia belum pulang?"
"Belum, ada apa? Apa yang sedang terjadi?"
"Ibu, apa kau yakin tidak tahu apa-apa tentang menghilangnya Jin Hee selama ini?" Min Joon mulai menginterogasi.
"Apa? Apa yang terjadi nak? Apa maksud ucapanmu itu? Duduklah!" ucap ibunya mencoba menenangkan.
"Ibu!" panggilnya terduduk lemas, "kau tahu dia ke mana 'kan? Jin Hee-ku."
"Jika ibu tahu, ibu akan memberitahukannya padamu."
__ADS_1
"Aku sudah mencarinya! Aku akhirnya bisa mencarinya. Aku menemukan harapan saat kembali ke rumah ini dan kemungkinan besar adalah kalian mengetahui sesuatu," terang Min Joon berharap jawaban.
"Apa kau berpikir kami menyembunyikannya? Kau tahu, ibu tidak akan membiarkanmu menjadi seperti ini. Membiarkanmu mencarinya seperti orang gila, jika bukan karena aku juga menginginkan Jin Hee sebagai menantu," ungkap ibunya menatap Min Joon sedih.
Ibunya terus membujuk Min Joon untuk mempercayai ucapannya. Menurut ibunya, ayah Min Joon tak ingin ikut campur saat pencarian Jin Hee. Namun demi Min Joon, ayahnya mengembalikannya ke perusahaan. Agar pria yang akhir-akhir ini menjadi perengek itu, bisa mencari Jin Hee dengan leluasa. Tentu saja ini terdengar seperti pembelaan dan tetap tak mampu menghapus rasa haus Min Joon akan informasi yang sesungguhnya. Namun, mendengar hal itu Min Joon tetap merasa ada yang aneh.
"Ayah pasti tahu sesuatu. Sekarang aku mengerti, mengapa sebelum kembali ke rumah ini, ia selalu menghalangiku mencari Jin Hee," bantah Min Joon penuh emosi.
"Dia tak menghalangimu nak! Dia hanya ingin kau kembali ke rumah!"
"Beritahu aku jika dia sudah pulang ke rumah!" datar Min Joon pergi menuju pintu keluar.
"Min Joon!" Ibunya hanya bisa terdiam melihat Min Joon yang pergi. Beberapa kali suara tuanya memanggil Min Joon pelan, mencoba untuk mengehentikan langkah puteranya itu. Tapi, Min Joon mengabaikan ibunya.
Min Joon melajukan mobil dan berpura-pura tak mendengar suara lembut ibunya. Dia teringat barang Jin Hee yang masih tergeletak di meja kamar dan memutuskan untuk menelepon Hyu Ri.
***
Hyu Ri menghampiri dua pria yang berpura-pura tak melihatnya. Menyadari sosok itu Min Joon mendekat dan memperkenalkan rekan kerja Jin Hee, Han Jung Woo. Tanpa banyak bicara Min Joon mengambil dan memeriksa kotak yang dibawa Hyu Ri.
"Terima kasih sudah mengantarkannya untukku!" ujarnya bersiap menuju kamar.
"Apa kau akan menginap di sini? Aku bertemu ibumu dan dia sangat sedih, pulanglah Min Joon!"
"Aku akan menginap selama beberapa hari dan jika uang simpananku habis, aku akan pergi ke tempatmu!"
__ADS_1
"Apa kau gila? Kau pikir aku akan menerimamu di rumah? Aku sudah tidak punya loyalitas untuk orang sepertimu. Coba kau pikirkan? Sudah berapa kali kau meninggalkan rumah. Astaga! Bahkan hari ini kau tidak bekerja, seharian di rumah dan saat sore hari kau membuat keonaran! Park Min Joon, kau bukan remaja lagi! Apa usia 30 tahun membuatmu lupa bahwa kau punya hak dan kewajiban untuk lebih membahagiakan ibumu? Tapi, lihat--"
"Aku mengerti! Pergilah!" sela Min Joon menghentikan ocehan Hyu Ri. Sebenarnya menyelamatkan Hyu Ri dari napas tersengal yang mulai merambat halus di gendang telinga Min Joon.
Hyu Ri hanya bisa menggeleng, sepertinya dia tak akan bisa mengerti apa yang Min Joon inginkan dan bergegas untuk meninggalkan lobi.
"Han Jung Woo, sepertinya kau sudah bisa pulang! Terima kasih sudah menyempatkan waktumu di saat selesai bekerja seperti ini," ucap Min Joon menepuk pundak pria yang lebih muda 2 tahun darinya itu.
"Dan kau, biarkan Han Jung Woo mengantarmu pulang!" tawar Min Joon pada Hyu Ri.
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi!" ujarnya membungkuk 30 derajat saja. Tampaknya ia kesal dengan Min Joon.
***
Min Joon masuk ke kamar dengan tulisan 203 di depan pintu. Membaringkan badan yang tak begitu berotot itu lagi, mencoba mengistirahatkan hati dan pikirannya dan mempersiapkan hari esok untuk lebih fokus mencari Jin Hee.
Entah apa maksud dari memo berisi pesan aneh itu? Entah apa pula yang sesungguhnya menimpa Jin Hee. Min Joon terus menyesali sikap yang begitu saja mempercayai ucapan ayahnya. Saat mengetahui Jin Hee menghilang, seharusnya Min Joon mencari Jin Hee lebih cepat. Meskipun terlambat, Min Joon yakin mampu menemukan jejak Jin Hee dari barang-barang itu.
Bagiamana bisa Jin Hee yang kabarnya telah kabur bersama pria lain, justru meninggalkan jejak seolah ingin ditemukan? Jika dia benar-benar berkhianat, kenapa ada pesan aneh dalam kotak itu?
Bagaimana bisa Sun Woo pun ikut menghilang? Jika semua itu benar? Kenapa Jin Hee tak membawa ponsel yang bisa langsung digunakan untuk menghubunginya dan malah meninggalkan kunci rumah di dalam kotak itu?
Min Joon benar-benar frustrasi, kepala pun terasa semakin berat. Min Joon bangkit untuk menegak beberapa gelas wine dan menerawang langit-langit, sekejap tertidur dalam lelap. Membawa semua pertanyaan, yang akan membuat paginya lebih membingungkan lagi.
***
__ADS_1
Bersambung