
Jin Hee mencoba tenang menghadapi bayi besar di hadapannya kini. Melangkah mendekati Min Joon dan menyentuh pipi untuk menyeka air mata yang terlanjur mengintip di sudut mata Min Joon.
“Mungkin jika kita berteman, semuanya akan kembali seperti semula. Lupakan aku sebagai orang yang pernah kau cintai, apa kau bisa?” Jin Hee membuat penawaran dan menggenggam tangan Min Joon.
“Tidak! Aku tidak bisa Jin Hee! Aku tidak bisa melakukannya,” tegas Min Joon menolak.
“Aku akan kembali lagi ke Jepang,” tutur Jin Hee dengan suara yang mulai tenang, “Karena aku sudah mencoba meninggalkanmu tanpa pamitan, akan lebih baik jika aku meninggalkanmu sekali lagi! Dan berpamitan dengan selayaknya,” lanjut Jin Hee mencoba tersenyum.
“Apa kau yakin?” ucapnya lemah.
“Hiduplah bahagia, anggap saja kau punya seorang teman dekat yang sedikit bermasalah denganmu! Itu sudah cukup bagiku.” Jin Hee menenangkannya sejenak dan masuk ke mobil dengan air mata yang tertahan.
“Aku akan menunggumu! Entah besok, lusa, dua minggu lagi atau dua tahun lagi, aku tidak peduli meskipun itu harus dua puluh tahun lagi.”
“Jangan buang-buang waktumu!” tepis Jin Hee.
“Kenapa? Apa sekarang kau begitu membenciku?” selidik Min Joon ingin benar-benar memastikan hubungan mereka. Jin Hee tampak kelelahan menghadapi pria besar yang terus merengek di hadapannya ini.
“Aku hanya tidak sanggup untuk melihat wajahmu!” tatapnya sejenak dan mulai menyalakan mobil.
"Kenapa?"
"Park Min Joon." Suara Jin Hee tertahan.
“Baiklah, pergilah jika itu menjadi keputusanmu. Tapi, kumohon, pikirkanlah kembali, beri aku satu kesempatan,” tawar Min Joon pantang menyerah dan perlahan mencoba merelakan Jin Hee.
Seperti pendapat Jin Hee, kini cintanya lebih mirip jual-beli karena ada rumus tawar-menawar sekarang.
“Akan kupertimbangkan!” timpal Jin Hee datar dan pergi meninggalkan Min Joon.
***
“Jadi kau menolaknya?” Kepala kecil Yoon menggeleng usai mendengarkan kisah yang tak sebanding dengan kisah ‘Sepasang sandal Lee Eung Tae’.
“Apa aku salah?”
“Kau salah besar! Bagaimana bisa kau menolak pria yang bersungguh-sungguh? Kau tidak akan mendapatkan pria lain yang seperti itu lagi. Ah, kecuali suami Nyonya Choi, Lee Dong Soo. Mereka punya tipikal pemikiran yang sama menurutku.”
“Aku berdebar Yoon, saat dia memeluk, aku berdebar. Rasanya seperti menelan jam besar dan bisa mendengar suara jantungku sendiri," gerutunya.
“Lihatlah! Kau bahkan masih berdebar, kau masih menyukainya, kau masih mencintainya, percaya padaku! Kenapa memilih jalan yang seperti ini?” Yoon kesal sehingga rasanya ingin menarik rambut gadis di depannya itu.
“Aku tidak mau menyakitinya dengan semua ingatan masa lalu. Bagaimana jika dia mencintaiku dengan alasan yang sama. Bahwa aku adalah alat untuk menebus rasa bersalahnya? Aku tidak sanggup jika harus merasa seperti benda lagi.”
__ADS_1
Yoon memeluk Jin Hee, mencoba menenangkan. “Baiklah, kau sudah melakukan yang benar.”
“Benarkah?” Jin Hee melepas pelukan Yoon.
“Kau ingat, pernah bertanya padaku apa itu cinta ’kan? Kau sudah menunjukkannya hari ini. Begini saja, tidak perlu berharap atau memberinya harapan. Cukup lanjutkan saja hidupmu.”
“Yoon, kau memang yang terbaik. Luar biasa …,” ocehnya tersenyum.
"Kau tersenyum? Wah, kau yang luar biasa sekali," sindir Yoon menahan kesal.
"Tapi, aku sudah melakukan hal yang benar kan?"
“Tentu saja… ah, aku ingin bertanya?” tanya Yoon membuat Jin Hee menatapnya bersunguh-sungguh. “Bagaimana rasanya?” lanjut Yoon membuat gerakan aneh.
“Apa?” pekiknya seolah mengerti.
“Itu …,” lanjutnya menyentuh bibir Jin Hee.
“Aissh, kenapa kau membahas itu.”
“Apa rasanya masih sama? Kau sudah dua tahun tidak bertemu, aku pikir kalian akan melakukannya lebih lama.”
“Apa?" Jin Hee meradang.
"Apa yang kau bayangkan? Itu bahkan bukan sedetik, itu hanya sekejap. Lagipula aku tidak suka caranya. Aku tidak ingin melakukannya.”
“Eyyy, kau malu? Akan kuberitahu Professor untuk segera menyiapkan pernikahanmu.”
“Kau gila!” teriak Jin Hee mengejar Yoon yang terus menggodanya.
Yoon tertangkap, lehernya kini terapit dua lengan Jin Hee. Yoon menepuk tangan Jin Hee berulang kali. Dengan napas tersengal kedua wanita tak sadar usia itu tertawa bersama.
"Senang melihatmu tertawa," ucap Yoon tersenyum.
“Kenapa kau bisa memikirkan hal seperti itu? Apa kau sudah berpangalaman? Aku tidak pernah melihatmu berkencan selama hampir tiga tahun ini, jadi jangan mengatakan hal yang tidak-tidak.” Jin Hee melepaskan cengkeraman santainya.
“Aku bisa melakukannya. Itu hanya ciuman…. Kau pasti menyukainya kan? Kau hanya terkejut!” oceh Yoon membuat Jin Hee tertawa lagi. “Kakakmu pandai melakukannya!” lanjutnya berlari meninggalkan kamar Jin Hee.
“Kakakku? Hey, apa yang sudah kalian berdua lakukan? Jangan berkencan dengan kakak! Aaaih, apa itu?” Jin Hee tersenyum mendengar ketidaksengaajan Yoon saat berucap.
***
Jin Hee kembali memikirkan tingkah Min Joon sore tadi. Bagaimana bisa dia memastikan perasaan dengan cara itu? Jika hal itu tentang debaran, bukankah semuanya memang akan berdebar saat melakukannya?
__ADS_1
“Tidak, aku tidak punya rasa padanya lagi. Ini hanya debaran biasa. Pertanda bahwa jantungku baik-baik saja atau memang aku punya masalah dengan jantung?” pikirnya gelisah.
Malam itu dilaluinya dengan hati yang lapang, menimbang apa yang harus dilakukan? Meskipun semuanya telah berakhir. Tapi, ucapan Min Joon terukir dalam hatinya, mengisahkan semua cerita dalam lembaran kertas biru yang mengharu.
Harus bagaimana? Harus seperti apa untuk bersikap. Keputusan semuanya ada di tangan Jin Hee. Ia yakin ciuman itu takkan mengubah apapun. Bahkan takkan bisa mengembalikan waktunya dan Min Joon yang telah hilang.
Semua akan tetap sama, keputusannya tak kan berubah, dengan atau tanpa ciuman sekalipun.
Ponsel Jin Hee berdering, sebuah panggilan video masuk.
"Hah! Dia lagi!" seru Jin Hee kesal.
"Ada apa?" Jin Hee meneriaki layar ponselnya.
"Bagaimana di Korea? Menyenangkan?" Senyuman pria asing itu memenuhi layar ponsel.
"Hmm! Kenapa kau terus menghubungiku? Aku tidak tertarik padamu!" Jin Hee memiringkan kepalanya.
"Auh kau lucu sekali! Kudengar kau sering menghinaku?"
"Richard?"
"Apa?" Richard Lee mendekatkan wajahnya ke layar ponsel. "Apa kau selingkuh?" lanjutnya memicingkan mata.
"Untuk apa aku selingkuh. Hidung palsu!"
"Hey! Ini hidung asli!" ujar Richard tertawa.
"Aku sudah bilang jangan menghubungiku. Kita selesasikan semuanya saat kembali ke Jepang."
"Baiklah, aku masih menunggu jawabanmu! Segeralah pulang." Richard mematikan panggilan telepon tanpa menunggu reaksi Jin Hee.
"Hah, aku takkan pernah hidup tenang jika seperti ini. Park Min Joon! Sekarang Richard. Oh, tidak!" gerutu Jin Hee.
***
Seminggu berlalu, hari ini semuanya bersiap-siap untuk meninggalkan rumah, saling bahu membahu memasukkan koper besar ke dalam bagasi mobil. Mereka akan kembali ke Jepang.
Sun Woo dan Jin Hee duduk di mobil yang sama menuju bandara, karena Sun Woo menolak ikut dan tinggal di sana. Maka Jin Hee memutuskan untuk kembali ke Jepang.
***
Bersambung
__ADS_1