Love Sign

Love Sign
Chapter 33: Recognition (2)


__ADS_3

“Tidak apa-apa jika dia kembali, dia tidak tahu bahwa pelaku sebenarnya adalah ibumu. Kalau diperlukan, aku yang akan menyerahkan diri. Tapi, kumohon selamatkan Ibumu!”


“Ayah!” Min Joon tersentuh melihat sikap Ayah yang selama ini dibencinya itu.


“Kalian adalah tanggung jawabku,” ujarnya mendadak menangis.


“Aku akan membujuknya,” kata Min Joon menenangkannya.


“Aku rasa Ibumu juga sudah menceritakan bahwa dia yang berencana melukai Sun Woo. Jika dugaanku benar, akan sulit membujuknya. Apalagi jika nanti dia mengetahui bahwa Ibumu yang menyebabkan kecelakaan kedua orang tuanya. Jin Hee pasti akan sangat membencimu, karena kau mencoba membela kami.”


“Bagaimana pun dia adalah Ibuku!” singkat Min Joon mendongakkan menahan sesuatu.


“Maafkan aku …,” ucap suara serak dari balik selimut.


“Kau terbangun?” Ayah Min Joon bergegas masuk ke dalam kamar.


“Ibu?” panggil Min Joon menghampiri ranjang ibunya.


“Min Joon … maafkan ibu.  Semuanya adalah kesalahanku.”


“Ibu beristirahatlah!” pinta Min Joon mendekati Ibunya dengan senyuman penuh keragu-raguan.


“Sore itu—”


***


19:08 KST, 09 November 2011.


Jin Hee diserang rasa takut yang mulai mencengkeram batin. Namun, tetap mencoba menyembunyikan rasa takutnya. Meskipun dia tak berhenti menemukan banyak surat berantai, di dalam kotak surat tua di halaman depan. Selama berhari-hari Jin Hee menyembunyikan hal ini dari Sun Woo.


“Kau mau ke mana?” tanya Sun Woo saat melihat Jin Hee dengan pakaian yang tidak terlalu tebal. Jin Hee menggeleng dan lekas mendorong Sun Woo ke dalam rumah, lalu pergi tanpa basa-basi.


Jin Hee tiba di taman dekat sekolah kanak-kanak. Mobil yang dikenalnya terparkir di sudut jalan.  Seorang wanita berpakaian hitam serta berkaca mata hitam datang menghampirinya.


“Apa kabar? Ibu?” sapa Jin Hee ragu.


“Ibu? Haha,” celetuknya tertawa, “Kau pasti tidak sebodoh itu ‘kan? Siapa Ibumu?” sindirnya. “Kau datang ke sini karena surat-surat itu ‘kan?”


“Bagaimana kau tahu tentang surat itu?” Jin Hee bersikap polos.


“Kau pikir ini sebuah kebetulan?” tanyanya balik. “Sepertinya suamiku memintamu untuk meninggalkan puteraku lagi?” lanjutnya lagi. Jin Hee mengangguk. “Ikuti keinginannya! Pergi tinggalkan Min Joon-ku dan tinggallah di luar negeri!”


“Ibu? Apa maksudmu?” tanya Jin Hee mencoba mengerti.


“Aku rasa Ibumu pasti tidak akan senang jika kau terus memanggilku seperti itu!” 


“Ibuku?” tanya Jin Hee berpikir.

__ADS_1


“Eoh, Ibumu!” tegasnya melipat kedua tangan di dada, menciptakan sebuah pemikiran yang masih mentah di otak Jin Hee.


“Hah, bagaimana ini? Hari itu kau maaa-sih sangat kecil, kau tidak tahu apa yang sudah Min Joon dan ayahnya perbuat pada orang tuamu!” ungkapnya tersenyum licik.


“Orang tuaku mengalami kecelakaan, apa hubungannya dengan paman dan Min Joon?” jawab Jin Hee mengelak.


“Sepertinya, semenjak hari itu kau sangat terpukul? Kau bahkan tidak bisa mengingat jika Min Joon adalah teman Kakakmu sejak kecil!” 


“Tentu saja aku tahu Kakak dan kak Min Joon berteman,” jawab Jin Hee meliriknya.


“Uuuuh… kau Juga mengenalnya? Saat itu usiamu enam atau lima tahun.”


“Mana mungkin? Kakak memperkenalkan Kak Min Joon saat aku di sekolah menengah.”


“Kau benar-benar lupa?” sela ibu Min Joon tertawa sinis.


“Apa kau tahu jika Min Joon yang membuat kecelakaan itu terjadi?” 


“Apa? Kenapa Ibu berkata seperti  itu?”


“Berhenti memanggilku seperti itu!” bentaknya.


“Ibu?” panggil Jin Hee mencoba meluluhkan wanita yang terlihat marah itu.


“Min Joon mendekatimu hanya karena rasa bersalah pada kedua orang tuamu. Dia tidak pernah mencintaimu, lagi pula Ayah Sun Woo bukanlah ayah kandungmu jadi seharusnya Min Joon tidak perlu melakukan semua ini lagi!”


“Kau pasti sedang mabuk?”


“Aku tidak mengerti ucapanmu, Bibi?” kata Jin Hee terdengar lemah.


“Hari itu Min Joon menempelkan sesuatu di mobil Ayah tirimu, sesuatu yang menyebabkan semua itu terjadi!” ungkapnya bercerita.


“Hah? Apa? Ayah tiri? Apa maksudmu? Ayahku, bukan Ayah kandungku?”


“Kau pasti tidak ingat dengan wajah ayah kandungmu? Kasihan,” sindirnya terdengar menyebalkan.


“Menurutmu aku bukan adik dari Kakakku? Lalu, siapa ayah kandungku?”


“Mana kutahu? Aku tidak tahu tentang hal itu, Ibumu orang yang sangat tertutup!”


“Kau benar-benar mengenal Ibuku? Siapa ayah Kandungku? Kenapa kau merahasiakan semua ini dariku? Kenapa tiba-tiba menceritakannya?” timpal Jin Hee dengan sejuta pertanyaan, dia mendekati ibu Min Joon yang sedari tadi membelakangi seolah menghindar.


“Ini semua permintaan Min Joon, dia memaksa untuk mendekatimu dan Sun Woo. Katanya dia ingin membayar kesalahan yang pernah dia dan Ayahnya lakukan!”


“Kau bohong!”


“Jika kau penasaran, kenapa kau tidak cari tahu di surat cerai Ibumu atau semacamnya?” kata Ibu Min Joon memberi saran.

__ADS_1


“Kau pasti berbohong! Kau keterlaluan!” seru Jin Hee tidak percaya dengan cerita ibu Min Joon yang dianggapnya bualan semata. “Tidak cukup membuat kakakku terluka, kau juga melakukan itu semua? Dan sekarang kau melakukan semua ini padaku!!!” marah Jin Hee.


***


Min Joon melepaskan genggaman tangan Ibunya saat tak sanggup mendengar cerita itu lagi.


“Min Joon, maafkan Ibu. Maafkan aku.” Suaranya bergetar, tertahan dalam kebekuan.


“Kau sudah keterlaluan! Maafkan aku juga, Bu!” seru Min Joon pergi meninggalkan mereka di bawah dinginnya malam.


***


19:21 Pm, 09 November 2011.


“Apa yang lagi yang lebih keterlaluan dari ini?” ujarnya berkilah, “Pergilah tinggalkan puteraku, atau carilah Ayah kandungmu! Aku tidak ingin kau menghancurkan puteraku sama seperti yang ibumu lakukan padaku! Moon Ha Na,” tegasnya menatap Jin Hee dengan tatapan kebencian, berbeda dengan Ibunda Min Joon yang dikenalnya.


“Kau? Kau,” ucap Jin Hee terbata-bata.


“Apa kau ingin hidup bersama dengan pembunuh Ibumu?” tanya ibu Min Joon dengan senyuman yang mulai menipis, “Jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukannya!”


“Di mana Ayah kandungku? Kau pasti tahu di mana dia? Benar 'kan?”


“Ibumu seorang pembohong, dia tidak pernah memberitahukan identitasnya yang dahulu, jadi mana kutahu siapa ayahmu!” jawabnya tegas.


“Berani-beraninya kau menyebut Ibuku seorang pembohong,” seru Jin Hee terdengar kecewa,  “Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku?” lanjutnya tersungkur di tanah.


“Untuk menyelamatkan Min Joon-ku!” teriak Ibu Min Joon terdengar sedih.


“Jika kau mencintainya? Biarkan dia membuang rasa bersalah itu, karena dulu dia hanya seorang anak. Anak kecil! Aku bisa memahaminya, aku yakin itu!” racau Jin Hee.


“Cukup! Kau tidak perlu ikuti tujuan yang diberikan suamiku, pergilah ke New Zealand. Mungkin kau bisa bertemu Ayahmu di sana!” ucapnya berjalan pelan tak peduli dengan ucapan Jin Hee.


“Kenapa aku harus menurutimu?” seru Jin Hee bangkit.


“Karena akan sangat pahit jika kau terus berada di sisinya!”


“Aku bisa menerimanya, meski Kak Min Joon melakukannya hanya untuk membuang rasa bersalahnya pada orang tuaku. Aku akan membuatnya benar-benar mencintaiku, jika itu diperlukan?  Kumohon?” pinta Jin Hee memelas.


“Kau sangat memalukan!


“Aku tidak tahu apa yang membuat aku sangat menyukainya. Tapi, jika kau bisa memberi aku waktu, aku akan …,”  ucap Jin Hee terhenti.


“Kau tidak ingin mengecewakan kedua orang tuamu ‘kan? Apalagi aku sudah bersusah payah menyingkirkan kakakmu malam itu dan sepertinya Ibumu masih menyayanginya! Jadi, semuanya menjadi sia-sia. Jika kau ingin Min Joon dan Sun Woo tetap aman, dengarkan aku! Ikuti keinginan ayah Min Joon! Mengerti?”  ucapnya berjalan menuju mobil mengabaikan pertanyaan Jin Hee.


“Kau!” panggil Jin Hee. “Tapi, kenapa kau bersikap baik padaku?”


“Setidaknya itu akan sedikit mengurangi rasa bersalah Min Joon kepada orang tuamu!” santainya masuk ke mobil.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2