
10:20 Am, 15 April 2013.
Pagi ini, sebuah van hitam terparkir sedikit jauh dari depan rumah mewah. Dari kejauhan itu, tampak perempuan cantik dengan pakaian kasual, ia tengah bermain dengan anjing kecil di halaman samping rumahnya. Hanya ditemani seorang bodyguard dan asisten yang membawakan beberapa buku untuknya.
Buuukkh!
Setumpuk buku yang dipegang asistennya jatuh berserakan di lantai, tanpa basa-basi perempuan yang terlihat manis itu menampar asistennya itu. Keras! Hingga membuat bodyguard alias sang pengawal tersentak sesaat.
"Maafkan saya, Nona!" jawab asisten perempuan menahan rasa sakit.
"Bukankah sudah kubilang aku tidak suka berantakan! Apalagi kau sudah menggangguku! Aku paling tidak menyukai hal ini," marahnya. "Kau! Bawa dia pergi dari sini!" ucapnya menunjuk pengawalnya itu.
Si penjaga berbadan cukup kekar itu segera mematuhi perintahnya. Asisten yang tampak kurus pun kini sudah ada digenggaman pengawalnya.
"Pergi! Ambil gajimu pada ayahku, kau DI-PE-CAT!" teriaknya kesal mendorong perempuan yang tampak lemah, perempuan itu pun dibawa oleh beberapa orang ke dalam rumah.
Min Joon yang turun dari van terus memperhatikan kejadian itu, ia pun menghampiri perempuan yang sedang mengatur napasnya berat. Sadar ada tamu yang memperhatikannya ia lekas berdiri dan menghampiri Min Joon.
"Seperti inikah wanita yang coba dijodohkan denganku?" sindir Min Joon tiba-tiba.
"Ada urusan apa kau datang kemari?"
"Sudah dua kali aku berkunjung ke sini, kau selalu memperlihatkan sifat aslimu! Ini menunjukkan kau orang yang mampu menghalalkan segala cara, benarkan Cha Soo Yi? Apa kabarmu?" ungkap Min Joon frontal. Cha Soo Yi curiga dalam diamnya. "Aku hanya ingin menyapamu!"
"Benarkah?" ucap Soo Yi tersenyum. Min Joon mengangguk membalas senyumnya.
"Kalau begitu masuklah! Kebetulan ayah dan ibuku masih berada di rumah!"
"Baguslah kalau begitu!" ucap Min Joon menatap Soo Yi curiga.
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa mempertanyakan kinerja dan keterlibatan putrinya dalam kasus penculikan?"
"Penculikan? Apa maksudmu? Aku tidak menculik siapapun!" kilahnya. Min Joon tersenyum palsu dan perlahan melangkah maju mendahului Cha Soo Yi. "Park Min Joon!" cegatnya menekan langkah ragu Min Joon.
"Kenapa? Apa kau takut?" tuduh Min Joon membuat Soo Yi terdiam.
Soo Yi melihat sekeliling dan mendapati sebuah van terparkir di depan rumahnya. Matanya mulai panik, ada kewaspadaan yang tiba-tiba ditampakkan dari wajah oval itu.
"Tenanglah, itu bukan polisi!" Min Joon melanjutkan ucapannya penuh ketenangan.
"Memangnya kenapa dengan polisi?" ucapnya mengalihkan pandangan.
"Itu buronanmu," lanjut Min Joon, membuatnya terkejut. "Tidak perlu takut! Oh Ya ... apa kau tidak mau mempersilakan aku untuk duduk?"
__ADS_1
"Buronan? Apa maksudmu? Pergilah! Aku sedang tidak enak badan," jawabnya mendadak gagap.
"Katakan padaku di mana Jin Hee dan aku tidak akan melaporkanmu pada polisi!" ujarnya menghentikan Soo Yi yang hendak masuk ke rumahnya.
"Aku tidak tahu!" jawabnya yakin.
Min Joon kembali tersenyum, dia merasa ucapan Soo Yi terlalu kelihatan menipu. Bagaimana mungkin Cha Soo Yi tidak tahu, sedangkan Min Joon sudah mengecek pembayaran tiket penerbangan dua tahun lalu, sayangnya itu atas nama Cha Soo Yi. Hal ini tentu membuat keyakinan Min Joon bertambah kuat.
"Aku rasa itu belum genap dua tahun, nanti bulan November 'kan? Sun Woo bahkan masih menyimpan tiket keberangkatannya, apa perlu kujelaskan lebih rinci lagi?"
"Baiklah, katakan apa maumu?" Soo Yi seolah mengerti dengan gertakan Min Joon.
"Di mana Jin Hee?" tanya Min Joon duduk di ayunan kecil. Sementara Soo Yi terpaku sesaat, memikirkan jawaban tepat untuk menyelamatkan dirinya.
"Aku benar-benar tidak tahu. Baiklah, setahuku mereka lari ke Indonesia dan sudah setahun aku tidak lagi mencari mereka."
"Lalu, apa alasanmu melakukannya? Aah ... apa itu perintah ayahku?"
"Dia hanya minta bantuanku untuk mencegah hubunganmu dan Jin Hee. Tapi, aku larut dalam emosiku sendiri, karena sepertinya benar-benar menyukaimu. Itu saja!"
"Aissh ... jangan mencoba untuk melindunginya."
"Ini sepenuhnya bukan keinginanku! Kumohon jangan beritahukan hal ini kepada mereka!"
"Lalu kenapa kau mengirim pembunuh bayaran?"
"Benarkah?" telisik Min Joon. "Baiklah, jika aku menemukan Jin Hee kau harus meminta maaf padanya!"
"Park Min Joon, bagaimana jika kita bicara di tempat lain!" saran Soo Yi khawatir ayah dan ibunya akan mendengar pembicaraan ini.
"Naiklah ke mobil!" perintah Min Joon.
"Ya. Aku ambil tas dulu, tunggu sebentar," jawabnya masuk ke rumah.
"Aku tunggu di mobil," singkatnya.
***
Caffe O'Latte, 15 April 2013, pukul 11.53 KST.
Min Joon mengajak Soo Yi ke tempat yang diinginkan. Selama perjalanan, Sun Woo terus memperhatikan dan menatap curiga kepada Soo Yi. Tatapannya pasti sangat mengganggu Soo Yi. Mereka pun tiba di restoran Perancis langganan Soo Yi.
Sudah jelas tujuan Soo Yi membawa mereka ke sini, privasinya dapat terjaga di tempat ini. Mereka mengikuti keinginan Soo Yi sampai ke sini, untuk mendapatkan informasi yang tak diketahui. Min Joon begitu yakin, jika perempuan bertaraf elegan itu memiliki sesuatu yang disembunikan. Sun Woo pun sebenarnya begitu berharap jika Soo Yi bisa membantu.
Mereka duduk di sudut ruangan yang cukup nyaman.
__ADS_1
"Kalian ingin pesan sesuatu?"
"Tidak perlu berbelit! Katakan yang sebenarnya padaku?" paksa Min Joon.
"Baiklah," singkat Soo Yi sembari menatap kedua pria yang tengah duduk tepat di hadapannya. Pria-pria yang seolah sedang mengulitinya dengan mata bersorot kepedihan, mata berbahaya yang membuatnya susah bernapas.
"Ceritakan dengan cepat tanpa melewatkan apapun!" lanjut Min Joon.
"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepadamu Lim Sun Woo. Malam itu paman meneleponku, dia bilang kau sedang berada di luar kota karena tugas di kantormu masih harus diperpanjang. Dia bilang aku bisa menggunakan waktu tersebut untuk memperingatkan Jin Hee bahwa aku adalah calon istrimu," ungkapnya mengingat.
"Apa ku menelepon Jin Hee malam itu juga?" sela Sun Woo.
"Tidak, aku menelepon besok sore-nya. Di saat aku selesai melakukan pemotretan. Paman bilang Jin Hee sudah mengubahmu menjadi anak yang tidak patuh, itulah sebabnya aku mematuhi paman. Sejujurnya, saat kau meninggalkan rumahmu aku memang merasa Jin Hee telah mengubahmu menjadi monster," ungkap Soo Yi.
"Kau tahu alasanku keluar dari rumah untuk melindungi Jin Hee, kau juga tidak tahu apa yang dulu sudah dilakukan ayahku kepada kekasihku yang lain?"
"Iya, kau benar! Aku memang tidak tahu tentang hal itu! Maaf karena sudah mengambil keputusan berdasarakan emosiku saja," ucap Soo Yi terdengar menyesal.
"Lalu kenapa kau mengikuti kemauannya?" ucap Sun Woo dengan nada sedikit emosi.
"Sudah kubilang aku terbawa suasana!"
"Hingga beraninya kau mengirimnya keluar negeri dan mencoba untuk membunuhnya!" lanjut Sun Woo emosi.
"Aku tidak melakukannya! Hari itu, sehari setelah ayahmu memintaku membelikan tiket atas nama Lim Jin Hee. Sejujurnya aku menelepon untuk meminta Jin Hee menjauh."
"Apa maksudmu?" tanya Sun Woo.
"Aah ... itu ... itu karena firasatku mengatakan hal buruk akan terjadi, dan saat itu aku bukan bermaksud untuk mengusirnya. Anehnya saat aku menghubungi untuk yang kesekian kalinya. Tiba-tiba saja dia terdengar patuh, bahkan tidak menolak apapun yang kukatakan." Soo Yi menjelaskan.
"Apa maksudmu?" tanya Min Joon dan Sun Woo.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sepertinya Lim Jin Hee sudah bertemu orang lain selain aku!" lanjutnya bercerita.
"Apa menurutmu ayahku yang melakukannya?"
"Aku tidak yakin! Saat itu, aku mencarinya karena hanya ingin membantumu! Itu saja."
"Tiket yang kaubeli, apa tujuan ke berangkatannya ke New Zealand?" Sun Woo penasaran.
"Paman memintaku untuk memesankan tiketnya ke Italia, kenapa?"
"Bukankah ini aneh?" pikir Min Joon.
***
__ADS_1
Bersambung