
“Apa kau tidak ingin menemui seseorang terlebih dulu?” tawar Sun Woo, sambil mengencangkan safety belt-nya.
“Siapa? Kak Min Joon?” tanya Jin Hee santai sambil memainkan ponsel.
“Siapa? Kak? Kakak? Apa kau baru saja memanggilnya Kakak? Apa yang sedang terjadi di sini? Aku mencium aroma terbakar,” ucap Sun Woo menanyakan panggilan tersebut.
“Kami sekarang berteman!” tandas Jin Hee.
“Benarkah? Bagaimana bisa?”
“Kau saja bisa berteman dengannya, aku juga ingin mencobanya!”
“Apapun keputusan kalian aku dan Ayah akan menerimanya! Tapi, kau harus tahu. Laki-laki dan perempuan akan memiliki masalah yang serius jika berada dalam pita persahabatan,” jawab Sun Woo.
“Ayah? Apa kau bilang?” Jin Hee mengalihkan pembicaraan, saat mendengar hal yang tak biasa terucap dari bibi Sun Woon.
“Aah ... itu. Aku memutuskan untuk memanggil Ayahmu. Aku mulai menyebutnya ayah,” jawabnya tampak malu-malu. Dengan pipi yang tiba-tiba merona.
“Baguslah!” katanya tertawa.
“Semalam Min Joon menghubungiku!” lanjut Sun Woo hati-hati.
“Benarkah?”
“Dia bilang ingin memberikan sesuatu padamu!” ucap Sun Woo.
“Apa?”
“Katanya sebuah tanda cinta untuk teman barunya,” jawab Sun Woo.
“Kita terus ke bandara!” sela Jin Hee.
“Aish... Kau benar-benar keras kepala!” ucapnya tertawa.
“Jika dia benar benar menganggapku teman dia pasti akan menyusul, iya ‘kan?”
***
Setiba di bandara mereka telah bersiap-siap di pintu keberangkatan, namun seseorang datang memanggil Jin Hee dan kawan-kawan. Seseorang dengan senyuman manis menghampiri mereka.
“Min Joon!” sapa Sun Woo menyambut.
“Maaf aku terlambat,” ucapnya membungkuk. Seolah menghormati pria yang tampak sedikit chubby di hadapannya. “Aku juga ingin ikut mengantarnya sama sepertimu,” lanjutnya tersenyum kepada Sun Woo. Melihat kedatangannya Jin Hee menghampiri kedua orang itu.
“Kak?” panggil Jin Hee mendekati Min Joon. “Terima kasih,” ucapnya singkat menjabat tangan Min Joon seolah-olah saling berbagi tatapan.
Dilepaskannya dengan cepat genggaman itu dan segera berbalik menuju ayahnya dan Yoon, mendengar ucapannya Min Joon hanya tersenyum.
__ADS_1
Dalam hatinya tampak kepercayaan yang tinggi, bahwa suatu saat nanti wanita itu akan menjadi miliknya, suatu saat nanti.
Saat di mana, luka yang tercipta mampu mengobati dirinya sendiri. Menjadikan luka itu sebuah kenangan berharga untuk dikenang dan bukan untuk dilupakan. Min Joon terus menatap pundak kecil Jin Hee.
“Hitungan ketiga, mohon berbalik,” ujarnya membuat Sun Woo tersenyum. “Satu.” Matanya menatap Jin Hee penuh kesungguhan, ditariknya napas panjang dan menoleh ke arah Sun Woo yang melihatnya sedari tadi.
“Abaikan aku, lanjutkan.” Sun Woo mencoba memberi ruang pada imajinasi Min Joon.
“Dua? Dua…,” ucapnya perlahan. “Tiga!” Jin Hee menoleh dan melambaikan tangan kepada kakaknya. Min Joon kegirangan, dikepalkannya kedua tangan dan berseru dalam hati.
***
Di dalam pesawat Jin Hee terus menatap ke arah langit di luar jendela, terus tersenyum dan memandangi benda yang dipegangnya erat sedari tadi.
“Benda apa itu?” tanya Yoon saat melihat ujung benda yang berbulu.
“Ini hanya sebuah kuas,” jawabnya singkat.
“Benarkah? Di mana kau membelinya? Atau saat berjabat tangan, dia memberikannya padamu? Pria itu, ouuh…,” candanya.
“Kuas ini, tertulis namaku,” lanjut Jin Hee tersenyum, mengabaikan ocehan Yoon.
“Hadiah yang bagus. Aah… jadi kau memutuskan akan kembali padanya?”
“Tidak! Untuk apa aku kembali padanya? Aku tidak akan pernah kembali kepadanya,” jawabnya terdengar yakin.
“Tapi, kenapa?” Yoon menyayangkan keputusan itu.
“Kebohongan? Tipuan? Dia tidak menipumu.”
“Dia tidak melakukannya. Tapi, aku terlalu yakin bahwa yang selama ini dia berikan padaku adalah kejujuran dan ketulusan. Tetapi, cinta kami dimulai dengan rasa penyesalannya pada orang tuaku. Itu yang kumaksud dengan kebohongan.” Jin Hee menggenggam erat benda kecil itu.
“Lalu untuk apa kuas itu? sepertinya kalian akan menjadi mantan kekasih yang saling mendukung? Aku tidak suka seperti itu, kau harus beri dia keputusan yang tepat. Menunggu dan mencarimu selama dua tahun, apa kau tidak kasihan?”
“Kasihan? Haruskah aku merasa kasihan padanya? Lalu bagaimana denganku? Aku dan kakakku hampir kehilangan semuanya karena dia.”
“Lebih tepatnya karena kedua orang tuanya, ingat itu. Aiissh, kau inu hanya cari alasan saja. Iya 'kan? Kau hanya tidak bisa menerima bahwa semua asumsimu selama ini salah.”
“Yoon ….”
“Apa sulitnya mengakui perasaanmu? Mengakulah padanya.” Yoon terdengar menjengkelkan.
“Tidak ada yang perlu kuakui. Aku akan membuat lukisan baru di kanvas dengan kuas ini, agar bisa selalu mengingat bahwa cinta yang jujur adalah tujuan utamaku! Tujuan mencari cinta, tujuan bertemu cinta dan tujuan medapatkan cinta! Agar nantinya aku bisa bahagia bersama cintaku,” ungkapnya tersenyum memasukkan kuas berwarna perak ke dalam kotak yang berisi beberapa kuas.
“Tapi, jika dia tetap menunggumu? Bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?” Yoon membuat Jin Hee terdiam, benar-benar terdiam. “Kau tahu? Menurutku kau sudah mendapatkan hatinya. Kau sudah menaklukannya! Kau melakukannya dengan baik,” ungkap Yoon menepuk pundak Yoon.
Jin Hee tak pernah menolak secara jelas, jika suatu saat nanti dia dan Min Joon bisa bersama lagi. Namun, satu hal yang pasti untuk saat ini, Jin Hee hanya ingin mencari yang terbaik. Mencari hal yang bisa membuatnya benar-benar bahagia.
__ADS_1
Kini Jin Hee mendapatkan hal yang lebih berharga dari sekadar cinta. Memiliki Ayah yang sangat diimpikan, memiliki Kakak yang sangat dicintai, memiliki Adik yang selalu memerhatikannya, teman teman yang selalu menyemangati dan satu hal yang pasti, Kim Jin Hee memiliki seseorang yang selalu menunggunya.
Hal-hal manis dan pahit yang pernah dirasakannya bersama Min Joon biarlah menjadi tanda cinta penuh kenangan berwarna. Jin Hee takkan pernah menghilangkan semua itu dalam ingatannya.
Seberapa banyak dan seberapa dalam tanda cinta yang didapat maupun diberikan. Hanya ada hati untuk membuktikan segala cinta itu tidaklah fiktif belaka.
***
Setibanya di Jepang, ponsel Jin Hee tiba-tiba berdering.
Richard Lee, nama yang tertulis di layar. Jin Hee pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Kau punya waktu?" Suara Richard kali ini terdengar ramah. Jin Hee tersenyum penuh arti.
***
Bising di bandara, menyisakan dua pria bersahabat, yang saling tersenyum satu sama lain. Sun Woo kini mendapatkan cinta tulus dari sosok seorang Ayah, yang dihadiahkan Jin Hee untuknya.
Min Joon mendapatkan gantungan kunci mawar biru yang pernah diberikannya kepada Jin Hee. Saat berjabat tangan, tanpa sepengetahuan Sun Woo keduanya saling bertukar hadiah.
Bukan karena keduanya masih bersama, semua itu lebih kepada sebuah perpisahan manis yang ingin diciptakan keduanya. Min Joon tetap akan hidup dalam rasa bersalah akan tragedi masa lalu dan Jin Hee akan terus mengingat tragedi masa lalu agar tetap menjaga jarak dari Min Joon.
Cintanya takkan hilang hanya karena Kim Jin Hee pergi. Bukan seorang Kim Jin Hee atau Lim Jin Hee yang dicintai Min Joon, tapi sosok lugu dan lucu yang kini menjelma menjadi sosok yang kuat dan tegar.
Jin Hee, telah menjadi tanda mata paling indah dalam perjalanan cinta Min Joon. Tanda batas pagar, di mana dirinya akan tetap menunggu. Hingga waktu yang melelahkan, hingga tanda cinta baru muncul. Pertanda musim semi yang baru akan dimulai.
***
Bukankah cinta tak harus memiliki? Bukankah cinta tak harus sepasang kekasih? Bukankah cinta adalah sebuah rasa sayang yang memberikan manusia keberanian dalam mencapai kebahagiaan?
Mungkin, dari kejauhan cinta tengah melihat dan menunggu bagaimana caranya untuk menyambangimu, dengan cara yang jujur atau penuh kebohongan, itu masalah hati. Di saat hati mampu menerima apa adanya maka tubuh dan pikiran akan mampu menerima ketulusan dari orang lain.
Lalu, kau akan mampu menciptkan tanda cintamu sendiri. Lelah, sedih, bahagia, takut, khawatir dan rasa aneh yang sulit diungkapkan, lebih daripada benda-benda yang mengaku sebagai simbol atau tanda cinta.
***
TAMAT
***
Terima kasih sudah mengikuti Love Sign hingga sejauh ini.
Terima kasih atas support, like dan komentar.
Lebih dan kurangnya kisah Min Joon dan Jin Hee semoga mampu memberi pelajaran untuk kalian semua.
Sekian dari Bi. Terima kasih banyak. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar. Bi tahu, kalian pasti hapal betul cara untuk menghargai penulis.
__ADS_1
Maaf bila ada kesalahan kata ya... Sampai ketemu di project lainnya. Silakan mampir juga ke cerita Bi yang lain...
Wassalamualaikum! 😍