
***
"Jin Hee-ku ... apa kita memang harus terpisah?" Mengingat semua itu membuatnya semakin merindukan Jin Hee, yang hilang bagai ditelan bumi. Semua cara telah Sun Woo lakukan walaupun kini dia merasa nyawanya juga berada dalam bahaya.
Sun Woo berpamitan kepada Jung Hee, teman masa kecil itu setidaknya bisa sedikit membantu.
"Berhati-hatilah!" ucap Jung Hee melepas kepergiannya.
"Aku akan menghubungimu, berhati-hatilah ya ...," ucapnya pergi.
Sun Woo lantas kembali menuju tempat persembunyiannya, selama ini ia tidak tinggal diam. Dia terus mencari keberadaan adiknya dan berharap bisa terbebas dari orang yang terus mengejar. Orang misterius yang tahu siapa dirinya. Orang misterius yang memisahkan Sun Woo dari Jin Hee.
Siapa yang tahu, pria yang dulunya gagah, kini menjadi sekurus sapu. Mata indah yang dulunya sipit, terasa sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Hidupnya berantakan, seandainya Jin Hee masih bersama, kesusahan ini tak perlu dilaluinya. Seandainya ia mengikuti keinginan orang itu, ini semua tidak akan pernah terjadi.
"Semoga kau baik-baik saja!" Hanya harapan yang bisa digantungkannya.
***
Seoul. 07 Maret 2013, pukul 20.45 KST
Ini sudah memasuki tahun kedua tanpa kehadiran gadis cantik bernama Jin Hee. Diselimuti langit malam yang kelam, berteman mimpi yang perlahan memudar. Min Joon kembali mereview perjalanannya selama beberapa bulan ini.
Semua hal itu, menciptakan kegelisahan yang bersahabat dekat dengan kegundahan yang menyapa hati. Menciptakan retakan-retakan rindu yang sangat banyak, tak mampu terbendung. Terasa akan meledak dalam waktu yang singkat, bagaikan serangan jantung yang mencoba menahan sakitnya yang menderu; itulah kegalauan.
"Kau melamun lagi?" tanya seorang wanita berkeriput manis di sudut mata indahnya.
"Tidak," jawab Min Joon segera mematikan handphone tempatnya menatap wajah Jin Hee.
"Kau akan bertemu Cha Soo Yi besok!"
"Aku mengerti."
"Tidurlah!" ujar ibunya pergi meninggalkan Min Joon.
Sejak kemarin, Min Joon memutuskan untuk benar-benar mencari Jin Hee, bukan menunggu informasi bayangan yang dibagikan ibundanya. Lebih baik mencari Jin Hee daripada menunggu di dalam sangkar. Namun, hari ini dia tidak bisa pergi ke manapun. Orang itu terus menghalangi dan membuatnya tetap di dalam rumah.
***
__ADS_1
Apgujeong. Rabu, 20 Maret 2013.
Beberapa hari telah berlalu, pagi yang dingin mulai terasa hangat. Burung-burung berkicau bertengger di kabel listrik antar rumah, membuat hati jadi damai. Beberapa orang mulai disibukkan dengan kegiatan sebelum menuju kantor, ada saat orang-orang ingin pergi menjauhi kebisingin ibukota yang semakin lama semakin menganggu.
Tempat ini dipenuhi dengan orang-orang pekerja keras, penuh dengan keinginan dan kemauan yang kuat. Sekuat jemari dua manusia yang saling menggenggam, tak mudah terlepas, tapi rentan saling menyakiti.
Gadis berambut panjang meninggalkan secangkir teh hangat di atas meja kaca. Tatapannya mengikuti pandangan Min Joon yang menelanjangi kain kelabu; penutup jendela panjang.
"Pagi ini sangat indah." Min Joon bergetar.
"Aaah ... kau benar sekali, apa yang bisa kita nikmati dari lantai 14 ini?"
"Kau benar! Aku hanya bisa melihat beberapa gedung yang lebih tinggi dari gedung ini. Ah, aku bisa melihat Kuil Bongeun," guraunya. Membuat gadis di sebelahnya menggelengkan kepala. Dia sepertinya senang melihat sahabatnya mulai belajar bercanda, ini seperti melihat sosok Min Joon dua tahun lalu.
Min Joon segera menyambar jas yang dipegang gadis itu dan pergi menuju tempat disajikan teh hangat.
"Aku pergi," ucapnya begitu saja.
"Min Joon!" panggilnya berlari menuju lift.
"Hey, Lee Hyu Ri! Kenapa kau berlari?"
"Apa kau punya penyakit jantung?" Tiba-tiba Min Joon menanyakan hal aneh.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" tegurnya masih tampak lelah.
"Jarak pintu rumah ke lift, tidak lebih dari 20 meter, kan? Lalu bagaimana bisa kau terlihat sangat kelelahan seperti itu? Nenek Hyu Ri?" lanjutnya menggoda.
"Apa? Hey, Park Min Joon, apa kau tidak bisa melihatnya?" ucapnya menunjuk ke arah kakinya sendiri. Heels berwarna hitam setinggi 11 sentimeter mengintip dari balik celananya. Min Joon mulai tertawa.
"Ah, lupakan saja! Ayo, aku bisa terlambat!" jawabnya menekan tombol, "jangan menertawaiku," lanjutnya menatap Min Joon yang masih tersenyum dan masuk ke dalam lift.
"Kau malu? Kau tidak bisa berlari menggunakan sepatu heels ya!" tawa Min Joon puas.
"Tidak semua wanita punya kemampuan itu!"
"Jin Hee-ku bisa lari dengan sepatu heels!" ujar Min Joon mengundang kekaguman Hyu Ri. "Aku ingat saat dia mengejarku menggunakan heels yang sangat runcing, meskipun terluka dia tetap mengejarku. Dia sangat berbeda kan?" lanjutnya melirik Hyu Ri yang terdiam.
__ADS_1
"Eumm! Gadis bodoh. Dia memang sangat hebat. Kau sudah terlalu sering menyombongkan gadis itu padaku! Hati-hati, aku bisa bosan nantinya ...."
Min Joon terkikik, senang rasanya bisa mengganggu Hyu Ri. Tinggal bersamanya setelah acara perjodohan bersama Cha Soo Yi, membuat Min Joon menemukan keberanian untuk benar-benar memulai pencariannya.
***
Melewati angin yang menusuk telapak tangan, penuh dengan debu yang menempel, kendaraan mereka melaju di area kosong dan melambat di daerah macet.
Suara klakson mobil yang terburu-buru, asap knalpot yang menghauskan ,membuat tubuh menampung bahaya zat radioaktif. Menjadi hiruk-pikuk jalanan sebuah ibu kota, sedikit mengubah pengertian musim semi.
Mereka berdua pun tiba di sebuah kompleks perkantoran, dengan santai Min Joon pergi meninggalkan Hyu Ri di pelataran gedung kantor dan meneruskan perjalanan menuju suatu tempat yang penuh dengan kenangan baginya.
***
Rabu, 20 Maret 2013, 09:20 Pagi.
Park Min Joon tiba di sebuah tempat yang dipenuhi pepohonan, di dekat danau ada sebuah pohon yang cukup besar. Min Joon mengikat potongan kain putih yang diberi tulisan untuk menenangkan jiwanya.
Potongan kain itu bergabung bersama beberapa kain lain, berkawan dalam damai saat angin menciptakan gerakan manis. Sedikitnya, hal itu mampu meringankan rasa rindu yang menjadi beban di hati.
***
Danau, belakang gudang tua. 11 April 2011.
"Kau lihat 'kan? Saat musim semi tempat ini juga sangat indah!" Gadis berbaju coklat memandang jauh ke depan danau. Park Min Joon tersenyum menatap gadis itu, menyetujui setiap rangkaian kata yang keluar dari bibirnya. Gadis itu memegang lengan Min Joon, seolah tak ingin berpisah.
Saat itu, Min Joon sangat penasaran dengan Jin Hee yang tidak pernah bercerita tentang hal itu? Ya, tempat dalam ingatannya kali ini adalah tempat yang sangat gelap dan menakutkan sebelumnya. Tetapi, hari itu semuanya terasa indah. Tempat ini menadadak jadi tempat kesukaan Min Joon. Kata Jin Hee, itulah kejutan yang sesungguhnya.
Mulai hari itu, tempat kejutan Min Joon saat ulang tahun menjadi tempat bagi keduanya untuk merayakan hari penting.
Min Joon masih mengingat, bagaimana gadis berkening mungil itu menulis di sapu tangan. Mata indahnya berkedip beberapa kali, seolah menikmati potongan-potongan kata yang sedang dibuatnya.
Pohon besar dengan kain berwarna hijau tampak mengalun mengikuti angin berembus.
"Di tempat ini aku mengikat janjiku denganmu. Kau bukan peri ataupun malaikat, tapi kau adalah sebuah Rasa yang diciptakan hanya untukku. Kau adalah Rasa cinta yang terindah, Min Joon Love Jin Hee." Itulah ungkapan yang ditulis Min Joon untuk membalas ungkapan Jin Hee yang tak sempat dibacanya. Karena secepat kilat gadis pendek itu naik di atas batu besar dan mengikatkan sapu tangannya.
***
__ADS_1
Bersambung