
Musim Panas 2014.
Jin Hee bersama keluarga barunya memutuskan liburan di Korea. Meninggalkan tempatnya bekerja, sang Ayah turut hadir dalam rangka mengunjungi makam Ibu dan Ayah tiri Jin Hee. Selain untuk hadir dalam festival lukisan musim panas, Jin Hee punya misi lain dalam kedatangannnya. Membuang sekotak tanda cinta, yang diyakininya akan menghapus ingatan bodoh tentang Min Joon dan mencoba untuk menghindari Richard Lee.
Dua hari tiba di Korea, mereka semua memilih untuk tinggal bersama di rumah lama milik Sun Woo dan Jin Hee.
Namun, untuk Sun woo, ia tetap akan pulang ke rumah yang diberikan Min Joon.
Mereka pergi mengunjungi makam dan bertemu di sana. Ayah Jin Hee dan Sun Woo tetap berada di sana saat Jin Hee hendak berpamitan untuk pergi ke suatu tempat.
Keduanya masih tampak canggung, tapi sikap manis dan ramah Professor Kim yang mirip Jin Hee, mampu mencairkan suasana.
“Moon Ha Na? Lim Sun Joong? Terima kasih karena memberiku kesempatan bertemu kembali dengan Jin Hee,” ujarnya duduk di sebelah pusara Lim Sun Joong. “Lim Sun Joong senang bertemu denganmu. Terima kasih telah memberikan puteramu kepadaku, akan kurawat dengan baik, menikahkannya dan menjadi ayah yang baik untuknya,” terangnya terdengar tulus.
“Paman …,” sela Sun Woo tersenyum.
“Lihat? Sangat sulit baginya untuk memanggilku Ayah, meskipun kami baru bertemu beberapa kali. Aku berharap kau tidak akan cemburu …,” ungkapnya tersenyum dan berdiri sembari tersenyum kepada Sun Woo yang memperhatikannya.
“Terima kasih, Paman,” katanya menghampiri.
“Akulah yang harusnya berterima kasih, kau sudah menjaga Jin Hee dengan baik. Apa sebaiknya kita melakukan sesuatu? Sesuatu yang harusnya bisa kulakukan dengan puteraku dan sesuatu yang bisa kau lakukan dengan ayahmu?” ungkapnya sambil membuat tanda dengan jari yang dibentuk memegang gelas dan mendekatkannya ke mulut.
“Kau bersedia?” tanya Sun Woo tersenyum. Ia mengangguk tersipu. “Ayo kita minum bersama, Paman!” seru Sun Woo mengajak Ayah Jin Hee pergi meninggalkan tempat itu.
Jin Hee yang menunggu di sekitar mobil tertawa saat melihat kedua pria berharga itu datang dengan senyum dan perbincangan yang hangat. Sama seperti hal yang pernah diingatnya dulu.
Jin Hee pada akhirnya meminta semua untuk pulang lebih dulu, karena dirinya harus pergi ke suatu tempat. Tak menolak, semua yang ada di hadapan Jin hee seolah tersihir dengan perintahnya dan pergi begitu saja.
***
Jin Hee menikmati matahari pagi di tepi danau, jam di ponsel menunjukkan pukul 09:44. Ia duduk di atas batu yang cukup besar, menatap lurus sambil sesekali memejamkan mata kecil. Sedikit angin yang menerpa wajah putih, membuat rambut Jin Hee berantakan dan menutup rapih sebelah mata.
Sebatang pohon setengah baya terlihat tenang, tak jauh di sebelahnya, pohon kenangan terus saja mengundang perhatian Jin Hee. Terdapat beberapa ikatan kain yang ada di situ, belum berubah posisinya seperti belum ada yang mengunjungi. Hal itu menciptakan rasa sesak yang ringan di dadanya.
__ADS_1
Senyum ringan dilontarkan saat melihat pohon itu, bosan duduk sendiri Jin Hee pun menuju mobil dan mengambil sekop pasir yang disimpan di bagasi mobil. Diseretnya benda berat itu, menyisakan jejak yang dalam di tanah. Dilepaskannya sepatu sport berwarna putih oranye dan mulai mendorong tanah dengan benda tajam dengan sisi tumpul itu.
Setelah puas menggali tepat di depan pohon besar, iseng, Jin Hee melepaskan sehelai kain yang tulisan di dalamnya telah luntur.
Jadi, kau memang tidak pernah datang ke sini lagi? Gumamnya getir.
“Baiklah kalau begitu!” serunya kembali menuju mobil, mengambil kotak berwarna emas dan kotak kardus berwarna cokelat.
Perlahan mengambil kotak emas dan meletakkannya tepat di atas sebuah kain besar yang telah digelarnya. Jin Hee menumpahkan semua isi kotak di atas kain.
Ponsel yang dihadiahkan Min Joon saat ulang tahun ke-24, dua buah amplop berisi beberapa foto, sebuah ikat rambut berwarna silver, sapu tangan berwarna cokelat, gantungan kunci berwarna biru berbentuk mawar; hadiah dari Min Joon saat ulang tahun yang ke 17 dan sebuah kalung cantik yang terdapat dalam kotak kecil.
Ia menduduki rerumputan lembut, kaki ramping cenderung kurus itu tiba-tiba mati rasa. Membuatnya terdiam beberapa detik hanya untuk menatap benda-benda penuh kisah itu.
Ya, sebentar saja. Seperti ini dulu. Batinnya bersuara lembut.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit pun telah berlalu. Tetapi, Jin Hee masih tak melakukan pergerakan apa pun.
Tubuhnya membeku, seakan ada sesuatu yang mengikat tubuh kecilnya ke pohon besar. Jin Hee tetap duduk di bawah bayangan pohon besar itu.
Tik.
Jin Hee tersadar dan bergegas membuang kenangan. Jin Hee berdiri. Diambilnya beberapa barang dan hendak memasukkan ke dalam lubang galian. Mendadak, tangan itu terasa berat, keringatnya mulai membasahi dahi. Keraguan menyerang Jin Hee, sanggupkah hatinya menata tempat yang telah berantakan itu?
Jin Hee menggelengkan kepalanya berulang kali menahan air mata agar tak mengalir, namun hati manusia terlalu lemah. Ia bereskan kembali barang-barang yang berserakan, memasukkan semua benda ke dalam kotak emas dan juga kardus. Jin Hee mengambil gantungan kunci berbentuk bunga mawar dan menyimpan di saku celana Blue jeans. Menutup kembali tanah galian dan menumpuk semua barang di bawah pohon, tepat di atas bekas galian.
***
Jin Hee bernapas lega, tatapannya mulai kembali ditata dan memutuskan untuk pulang saja. Meninggalkan barang-barang tak bertuan itu di sana. Dibawanya sekop untuk disimpan kembali di mobil.
Berbalik. Gleek!
Pria berbadan tinggi berdiri tepat di belakangnya. Min Joon menatap Jin Hee penuh rasa penyesalan, senyumnya tersembunyi di balik mata yang berair.
“Aku di sini.” Jin Hee menghiraukan ucapannya.
__ADS_1
Hanya menatap penuh kerinduan, juga kekesalan yang menyatu. Ingin rasanya Jin Hee berhambur padanya, memukul dan memeluknya secara bersamaan. Mendadak langkahnya menjadi begitu berat, suaranya tercekat kebencian.
“Jin Hee?” panggil pria itu menyadarkan Jin Hee dari kebisuan yang menyerang. Jin Hee mencoba untuk mengabaikan Min Joon dan hendak kembali ke mobil.
Dengan sigap dan penuh keyakinan, Min Joon menahan lengannya. Jin Hee terhenti, tangan Min Joon terasa sama. Kehangatan dan kehidupan di jemari pria itu masih sama. Jin Hee menepisnya dan berbuah tarikan lembut yang menuju langsung ke pelukan Min Joon.
Jin Hee kembali mendarat di dada bidang pria itu. Untuk sesaat, Jin Hee menikmati pelukan itu, bahkan dirinya hampir membalas. Syukurlah, hatinya kini semakin kuat dalam berhadapan dengan Min Joon. Jin Hee mampu menahannya dengan baik.
Bisikan pria itu terdengar nyata di telinga. “Maafkan aku!”
Jin Hee pun mulai menangis tanpa suara, membuat pria itu memeluknya semakin erat.
“Lepaskan aku …,” gumam Jin Hee lirih mencoba mendorong tubuh yang tengah memeluknya. Namun pria itu memegangi pundak Jin Hee yang lemah dan memeluknya kembali dengan erat.
***
Kali ini, terpaksa Jin Hee lepaskan sekop yang dipegangnya, ia lepaskan keraguan yang menyerang selama beberapa bulan, dilepaskannya kebencian tak beralasan karena kesalahpahaman itu dan membalas pelukan Min Joon dengan tangisan kepedihan. Yang bahkan sesungguhnya tak sanggup didengar oleh Min Joon dan ingin segera diakhiri.
Min Joon mengungkapkan permintaan maafnya, Jin Hee menolak. Baginya, semua hanya tinggal cerita. Tak ada yang perlu dijelaskan. Entah itu kesalahpahaman atau kenyataan, Jin hee sudah terlanjur menghentikan rasa cintanya kepada Min Joon.
“Kau ingin aku melakukan apa untuk menebus kesalahan mereka?” Min Joon masih berusaha.
“Aku tidak butuh apa-apa, cukup kita akhiri semuanya!” tegas Jin Hee. “Kak, aku mencintaimu. Tetapi …,” ujar Jin Hee tersenyum di balik wajah sedihnya.
“Aku juga!” ucapnya mencoba tenang.
“Untuk itu, jika kita bersama, kau dan aku akan hidup dalam penyesalan. Aku ingin kau hidup bahagia dan melupakan semua. Jadi, kita akhiri saja semuanya!”
“Aku ingin kita melupakan semuanya dan memulai lagi dari awal! Kau dan aku, hanya kita berdua,” jelas pria itu meminta.
“Aku tidak bisa!” potong Jin Hee hendak pergi.
“Jin Hee …,” teriak Min Joon menahan, “Dulu, saat ulang tahunku kau pernah bertanya tentang cinta pertamaku?” ucapnya menghentikan langkah Jin Hee. “Kau masih ingin tahu tentang hal itu?” tanyanya.
Jin Hee berbalik dan menggelengkan kepala dengan lembut pertanda menolak dan lekas menuju mobil. Jin Hee meninggalkan Min Joon yang hanya bisa terdiam melihat punggung kecil itu, lagi dan lagi mencoba untuk meninggalkannya.
__ADS_1
***
Bersambung