
"Apa kau marah padaku?" tanya wanita yang berada dalam keadaan kalut itu sambil menangis.
"Aku tidak tahu! Kau membuatku harus mengingat masa lalu itu, kau selalu membuatku gagal dalam setiap menyelesaikan masalah. Kenapa kau selalu bersikap seperti itu? Kau menyimpannya selama dua tahun, sementara puteramu menggila di luar sana? Eoh!!!"
"Aku—"
"Hentikan! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu! Hah, seharusnya aku bisa menebak jika semua ini adalah ulahmu... aku percaya padamu. Tapi, kau!" tambahnya menggeram kesal.
"Aku juga sudah menceritakan semuanya!" ocehnya menutup wajah yang memerah.
"Tentang apa? Pada siapa?"
"Min Joon yang membunuh orang tua Jin Hee!"
"Hye Sun!" teriaknya terkejut.
"Aku juga sudah memberitahukan siapa ayah kandungnya!"
"Kau gila! Kau benar-benar sudah gila ...," seru suaminya pergi.
Dia memutuskan meninggalkan wanita egois itu dalam kesendirian yang penuh penyesalan, akan masa lalu yang sesungguhnya tak ingin diingatnya lagi. Jika berlama-lama di sini, pria tua itu mungkin akan terkena serangan jantung.
Song Hye Sun terdiam. Mulai menangis saat ingatannya kembali pada hari di mana ia hampir saja membunuh seseorang. Semua kejadian dalam hidupnya bergerak tak sesuai keinginannya, ada seseorang dalam dirinya yang mencoba menyeret Hye Sun ke dalam masalah yang lebih besar.
***
Dua minggu sebelum ulang tahun Min Joon.
Sepanjang jalan, tampak licin. Salju yang mencair pada malam itu seolah mengerti niat kelam seseorang. Seolah menjawab segala keburukan hatinya, tragedi itu hampir saja membuatnya mengalami hari yang lebih buruk. Song Hye Sun bersama sopir lelakinya, memperhatikan dua orang dari kejauhan yang perlahan nantinya akan mendekat.
Song Hye Sun yang melihat kesempatan itu, segera meminta sopir menabrak Jin Hee dengan kecepatan penuh. Terjadi percekcokan antara tuan dan majikan, sayangnya sang sopir kalah dan memilih menuruti perkataannya.
Whuuusss....
Mobil dari arah depan menuju Jin Hee. Cahaya dari lampu sorot menyilaukan matanya, membuat Jin Hee terhenti.
"Jin Hee!!!" teriak Sun Woo menarik tubuh gadis yang tertegun oleh pijaran kekuningan itu.
Brruuk!
Mobil terhenti dan menabrak sesuatu. Song Hye Sun menoleh ke belakang dan melihat Jin Hee yang terduduk di pinggir jalan menatap ke arah mobil.
__ADS_1
"Cepatlah! Cepat jalan!" ucapnya meronta ketakutan. Mobil itu pun pergi menjauh dari pandangan Jin hee.
***
15 November 2013.
Pagi sudah menyambut Jin Hee, tiba-tiba pagi ini tak seperti biasanya. Dengan curah hujan yang rendah, seakan ingin menghentikannya dari sesuatu. Benar-benar disayangkan tak ada matahari yang menyapanya.
"Bukankah seharusnya sudah turun salju?" ucapnya menatap jendela besar.
"Ini baru awal bulan November! Kenapa Nona ingin sekali melihat salju?"
"Karena rasanya aku ingin sekali membunuh seseorang," jawabnya tampak serius.
"Nona!"
"Kirimkan alamat ini kepada mereka, katakan jika sudah selesai mengerjakan tugas yang kuberikan kita bertemu di sana!" perintahnya memberikan secarik kertas.
"Tapi, kenapa kau biarkan mereka berdua menaiki mobil itu, lalu bagaimana dengan kita?" tanya Yoon sambil mengambil kertas yang diberikan Jin Hee.
"Apa kau tidak lihat cairan yang sedang jatuh dari langit? Itu disebut hujan. Mereka butuh tempat berlindung dan kita akan naik bus, itu lebih baik. Bersiap-siaplah! Kita akan menemui orang tuamu terlebih dulu!" ujar Jin Hee santai.
"Apa aku tampak main-main Lee Yoon Yoo?" selidiknya sembari tertawa kecil.
"Tapi, kau selalu mempermainkanku 'kan!" ucap Yoon tersenyum malu.
"Hey, aku tidak akan melakukannya di sini! Ini adalah tempat kelahiranmu, ini daerah kekuasaanmu!"
"Apa kau bercanda?"
"Ayo, bersiap-siap!" sela Jin Hee.
***
Pemandangan alam terukir nyata pada garis langit dan danau yang saling memotong. Sentuhan hangat diredanya hujan yang menyentuh kulit, siap membasuh setiap kerinduan pada segala keresahan. Sebuah pohon besar yang telah gugur daunnya, melukiskan perasaan hati yang luruh mengikuti daun kecokelatan. Daun dan jiwa yang mengisi musim ini untuk menyambut musim dingin di depan mata.
Kain berwarna-warni itu tampak basah dan beterbangan, terikat di setiap urat pohon besar. Kain yang melambai-lambai terbawa pukulan angin seolah ingin mengeringkan tiap lembar tulisan yang ada, dan bagaikan ingin berguguran ke atas tanah.
Berada di situ, di tempat itu, membuat Jin Hee merasakan hal yang sungguh berbeda.
"Sepertinya tulisan yang kubuat di sini sudah tidak ada lagi?" ujar Jin Hee memegangi salah satu kain berwarna putih.
__ADS_1
"Benarkah? Apa yang kau tulis?" tanya Yoon penasaran.
"Hanya menulis sesuatu! Apa mungkin dia sudah mengeluarkannya dan menggantinya dengan tulisan-tulisan yang tidak berguna ini?" gerutu Jin Hee melepas salah satu dari sekian banyak kain tipis yang bergelantungan itu.
"Kembalilah!" baca Jin Hee tersenyum saat melihat tulisan di kain itu. "Maafkan aku!" lanjutnya membaca tulisan lain yang membuatnya tidak cukup terkejut. Tulisan tangan yang dibuatnya dua tahun yang lalu, menghilang. Tak ada satu pun lagi tulisan yang masih berada di tempat itu, yang ada hanyalah tulisan-tulisan penyesalan dan kegundahan buatan seseorang.
"Sebentar, apa mungkin kita salah tempat?" sadar Jin Hee sekejap.
"Mana aku tahu ...," jawab Yoon menduduki sebuah batu besar di sekitar tempat itu.
"Eoh! Batu itu!" seru Jin Hee saat melihat batu besar yang tampak basah oleh hujan.
"Kenapa dengan batu ini?" tanya Yoon panik dan bergegas bangun dari duduk manisnya.
"A ... a-a ... itu basah ...," jawabnya beralasan, namun terus menatap batu itu. Seolah mengingat sesuatu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 14:18 KST. Siang itu, dua pria datang membawa payung yang belum terbuka. Di tengah gerimis ringan, tiba-tiba saja muncul melengkapi hujan yang berhenti tadi pagi. Mereka datang menghampiri Jin Hee di tempat pengasingan, turut serta membawa informasi yang diinginkan.
"Bagaimana?" tanya Jin Hee menyambut dua pria tegap.
"Kami sudah mendapatkan informasinya, Nona ...," jawab salah seorang diantara mereka.
"Whoa ... kalian benar-benar pro!!!" puji Yoon habis-habisan.
"Kita bicara di sana," ucap Jin Hee berjalan ke mobil sambil dipayungi oleh salah satu dari mereka.
"Aaah, akhirnya bisa naik mobil yang nyaman!" ucap Yoon penuh rasa syukur.
"Apa bus dan taksi yang kita naiki kurang nyaman bagimu, hah?" sindir Jin Hee.
"Bukannya tidak nyaman, hanya saja aku sudah terbiasa naik mobil denganmu...," jawabnya terdengar lucu.
Mereka pun meninggalkan danau kenangan Jin Hee. Jin Hee membawa dua lembar kain berwarna putih yang berisi tulisan, "KEMBALILAH dan MAAFKAN AKU". Tulisan itu diyakini sebagai tulisan seseorang yang dikenal. Tulisan tangan orang yang mulai dibencinya.
Tulisan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Sesuatu yang hanya ia simpan sendiri, namun berpura-pura atas apa yang terjadi. Ingatan Jin Hee perlahan berlabuh ke hari itu. Ingatan yang coba dikuburnya dalam-dalam. Ingatan yang sama dengan seseorang bernama Song Hye Sun.
***
Bersambung
__ADS_1