
Seorang wanita muda tengah menunggu di depan gedung besar yang tampak tak begitu ramai. Sebuah mobil datang mendekati gedung tersebut, Jin Hee dan Yoon keluar dari dalam lalu menghampiri wanita yang sedang menunggu mereka.
"Sudah lama menunggu? Maaf kami terlambat, aku pergi ke suatu tempat terlebih dulu," tanya Jin Hee risau.
"Pelukis Kim! Apa kabar?" ucap wanita itu menghampiri, "Oh sebaiknya kita bicara di dalam saja, di sini mulai dingin."
"Bagaimana, apa lukisanku sudah tiba?" tanya Jin Hee mengikuti langkah ringan wanita itu.
"Iya, mereka sudah tiba semalam! Sangat indah ...," jawabnya terpukau dengan senyuman ramah.
"Aku ingin melihatnya? Aku sangat merindukan mereka," ucap Jin Hee terdengar lucu.
"Tentu saja! Mari kita ke tempat penyimpanan," jawabnya menunjukkan jalan.
Melewati sepanjang lorong dan ruangan penuh dengan karya seni membuat Jin Hee merasa sangat damai, mereka pun tiba di sebuah ruangan dengan pintu berwarna perak, serta kunci besar yang ada di kanan pintu.
"Oh Ya! Ke enam lukisanmu akan di pajang di tempat ketiga tadi! Kau melihat tempat itu 'kan?" ucap wanita itu mengingatkan Jin Hee.
"Ya, terima kasih ...," kata Jin Hee terlihat tak fokus, "Manajer Go, bisakah aku melihatnya?" lanjut Jin Hee menyentuh ujung bingkai yang berselimut kain cokelat.
"Tentu saja!" ucap wanita yang dipanggilnya Manajer Go dan mundur beberapa langkah mempersilakan Jin Hee.
Jin Hee melepaskan satu persatu kain penutup berwarna cokelat muda yang menutupi ke enam lukisan. Gerakan ringan itu menampilkan beberapa lukisan yang tampak telanjang dari kain penutup bingkai, menunjukkan sisi berani dari ketegasan cat dan arti yang tulus di masing masing lukisannya.
"Kudengar saat lukisanmu di pamerkan museum Jepang, lukisan Butterfly dan Dream mendapat banyak perhatian dibandingkan lukisanmu yang lain dan itu sangat disukai para pengunjung. Kau pasti sangat bangga!" sela manajer Go memperhatikan Jin Hee yang tengah memandangi lukisannya sendiri.
"Warnanya rapuh!" ucap Jin Hee tiba-tiba, yang membuatnya bingung.
"Ya?" tanya Manajer muda itu keheranan.
"Mereka tidak bisa melihatnya sebagai sebuah kekurangan karena ada sisi di mana catnya lebih kuat, itu adalah sebuah kesalahan yang sebenarnya coba untuk kututupi," lanjut Jin Hee menaruh kedua tangannya di dada dan menatap wanita itu dengan senyuman ringan.
"Aah ... apa itu makna di balik lukisanmu?" tanya wanita itu menanggapi.
"Bagaimana menurutmu?" ujar Jin Hee.
"Hmmm, saat melihat lukisanmu ini. Jika itu tentang melupakan masalah, aku rasa bisa mengerti perasaanmu," jawabnya menunjuk sebuah lukisan, di mana ada seorang anak yang tengah menangis memegang setangkai mawar biru di tangan kanannya dan setangkai bunga matahari di tangan kirinya.
"Aah ... lukisan itu ...," seru Jin Hee mendekati lukisan yang ada di ujung lukisan lainnya.
__ADS_1
"Tadi kau menyebutnya rapuh 'kan?" tanya wanita itu disambut raut wajah Jin Hee yang tersenyum ragu, "Apanya yang rapuh? Oh ya? Aku penasaran berapa lama waktu yang kau butuhkan saat membuat dua lukisan terkenal ini?" lanjutnya penasaran.
"Pelukisnya yang rapuh, hahaha," canda Jin Hee. "Butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan lukisan yang tidak pernah selesai ini!"
"Kau bercanda? Lukisan ini belum selesai? Apa maksudmu?"
"Bagiku lukisan ini belum selesai, manajer Go! Tidak akan pernah selesai," ungkap Jin Hee tersenyum polos menatap manajer Go.
"Jadi?" ucap manajer Go mempertanyakan Jin Hee.
"Saat aku membuat Butterfly, adalah saat di mana aku bisa bertemu dengan orang baru di kehidupanku dan... di saat aku membuat Dream adalah saat di mana aku ingin bertemu dengan luka lamaku. Untuk itu Dream memiliki dua bunga berbeda di tangan anak itu, jadi bagaimana menurutmu manager Go?" ungkap Jin Hee berkisah.
"Jadi kau akan membuat lagi lukisan lanjutan untuk seri Butterfly dan Dream? Begitu maksudmu?" tanya manajer Go tertawa kecil.
"Itu bukan ide yang buruk?"
"Waah... hidupmu sangat rumit! Apa kau sudah memutuskan?" ucapnya seolah-olah mengerti dengan arah pembicaraan yang tengah dituju Jin Hee.
"Belum, Hah... sepertinya aku harus kembali ke hotel, terima kasih telah memberikan kesempatan untuk memamerkan karyaku di museum ini!" ungkap Jin Hee berterima kasih.
"Sepertinya salju akan segera turun!" ucap manajer Go perhatian.
"Nona Yoon!" panggil manajer Go.
"Ah maaf," bungkuknya beberapa kali. "Manajer Go. Tolong jaga lukisan Nonaku!" lanjut Yoon membungkukkan tubuhnya lagi.
"Tentu saja! Mari, aku antar kalian ke depan!" balas manajer Go mengikuti Jin Hee.
Jin Hee terhenti sejenak saat melihat sebuah lukisan di sudut ruangan, lukisan yang terasa tak asing dalam ingatannya.
"Bukankah ini Lukisan milik pelukis Kim?" tanya Jin Hee ketika melihat lukisan pemandangan perkotaan yang mewah nan megah menggambarkan keindahan dari suatu elemen berkuasa di dunia, yaitu UANG.
"Ah Kim Senior, mungkin dia seperti itu bagimu?" tanya manajer Go menggoda Jin Hee.
"Ya ... puterinya adalah teman lamaku."
"Jadi, dia inspirasimu juga 'kan?" tanya manajer Go.
"Ya... begitulah!" jawabnya ringan.
__ADS_1
"Manajer Go, tidak perlu mengantarkan kami dan terima kasih. Silakan lanjutkan pekerjaanmu! Ayo Yoon, kita pergi!" lanjut Jin Hee pergi, mereka berdua pun pergi dari museum dan kembali pulang menuju hotel.
***
Kali ini seperti mendapatkan semangatnya saat melihat lukisan-lukisan itu Jin Hee kembali menyetir. Setiba di hotel Jin Hee lekas melepas lelahnya dengan mandi, setelah mandi dia duduk di dekat jendela. Melihat langit dan memejamkan matanya sejenak. Ingatan pagi tadi mengetuk otaknya, ucapan Ji Yeon dan Dong Soo sedang meneror Jin Hee.
"Kenapa?" gerutu Jin Hee dengan napas yang sesak, "Yoon...?" teriaknya.
"Ya, apa kau butuh sesuatu?" ucapnya berlari dari kamar mandi menuju Jin Hee yang terlihat aneh.
"Bukankah aku memintamu untuk mencari tahu keberadaan Kakakku?" tatap Jin Hee tajam pada akhirnya.
"Iya?" jawabnya takut.
"Kanapa kau berbohong padaku? Kenapa kau bilang semuanya baik-baik saja?" marahnya.
"Aku tidak ingin membuat kau sedih karena tidak bisa menemukan informasi apapun."
"Tapi, kau dengar? Kata mereka Kakakku menderita, bahkan setelah aku mencoba untuk melindunginya!" ungkap Jin Hee mulai menangis.
"Maafkan aku kak...," ucap Yoon menundukkan kepalanya. Di sela-sela emosinya yang tak menentu, keduanya terdiam dan terpana saat melihat butiran salju yang tiba-tiba saja perlahan turun di siang hari itu. "Salju pertama...?" kata Yoon terpanah melihat kepingan es yang datang tiba-tiba itu.
"Ya ...," jawab Jin Hee menatap jendela kamar hotelnya itu.
"Aneh ... salju tahun ini datang lebih awal, ini bahkan belum bulan desember," ucap Yoon terdengar takut.
"Hmm, tak ada yang aneh di situ Yoon," singkat Jin Hee masih menatap jendela kamarnya.
"Salju yang cantik, di siang hari seperti ini turun salju? Waah, ini sangat indah!" lanjut Yoon mencoba mencairkan suasana, tak ada sambutan apa-apa dari Jin Hee. "Kak Jin Hee?" panggil Yoon.
"Apa?" jawabnya masih dalam keadaan menatap salju pertamanya saat kembali ke korea itu.
"Aku rasa saljunya akan sebentar saja, kau ingin keluar dan melihatnya?" tawar Yoon.
"Tidak!" tegasnya mengalihkan pandangan dari jendela dan membaringkan tubuh ke sofa panjang tempatnya duduk.
"Baiklah," tunduk Yoon perlahan menjauhi Jin Hee. Jin Hee terdiam melirik luar jendela yang terlihat begitu dingin, salju yang turun perlahan hampir 30 menit akhirnya berhenti.
***
__ADS_1
Bersambung