
08 Desember 2013.
Beberapa hari berlalu, kakak beradik ini masih lengket seperti lem. Hari ini Jin Hee mengirim pesan kepada Kakaknya yang masih tinggal di rumah pemberian Min Joon.
Jin Hee berencana untuk bertemu di rumah lama mereka, pertemuan dua kakak beradik itu menciptakan sebuah jalinan yang dalam antara saudara tiri yang saling menjaga.
“Kopi?”
“Aku tidak minum kopi!” jawab Sun Woo sambil membaca buku di halaman rumah mereka.
“Sepertinya Eun Ji dan Jung Hee, selalu memberikanmu teh!” goda Jin Hee tertawa, membuat Sun Woo menutup bacaannya.
“Aah … Yoon, bisa buatkan aku teh?” panggilnya saat melihat Yoon yang keluar dari rumah, “Tempat ini tidak banyak berubah!” celetuk Sun Woo melihat Jin Hee yang tersenyum damai menatap jalanan sepi sambil memeluk tubuhnya sendiri, “Kau kedinginan?”
“Tidak!”
“Kau pasti kelelahan karena membersihkan rumah. Tempat ini tidak terlalu banyak berubah.”
“Yamoto, Kim dan Yoon yang membersihkan tempat ini. Tapi, di mana kau menemukan kunci rumah? Aku pikir sudah hilang.”
“Di kotak tempat kau menyimpan barang-barangmu dulu?”
“Aaah. Jadi kuncinya di sana? Apa kau tahu kata sandi kotak itu?” Jin Hee meremehkan.
“Tidak!” singkat Sun Woo membuat Jin Hee heran.
“Lalu? Di mana kotak itu sekarang? Bagaimana kau bisa membukanya?”
“Ouch, adik kecilku ini banyak bicara rupanya."
"Katakan padaku."
"Min Joon yang membawanya, dia juga yang membukanya!” Sunwoo melirik Yoon yang mulai menghampiri mereka.
“Ya? Min Joon?” Sinisnya.
“Kenapa? Sepertinya kau selalu tidak suka saat aku menyebut namanya?” kata Sun Woo melirik Jin Hee sembari tertawa kecil.
“Tidak!” tegasnya melihat Yoon yang sudah ada di dekat.
Yoon meletakkan cangkir teh dan mendapatkan ucapan ringan beserta senyum ramah Sun Woo. Meski Yoon melangkah masuk ke dalam rumah, pandangan Sun woo semakin terlihat oleh Jin Hee.
“Yoon menyukai Kim …,” bisik Jin Hee beranjak dari duduknya.
“Apa maksudmu? Kenapa kau mengatakannya padaku?” ucap Sun Woo mengejar Jin Hee yang berjalan sedikit cepat diiringi tawa yang mengganggu, “Kau keterlaluan!” seru Sun Woo saat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Jin Hee duduk di ruang tamu. Pandangannya menebar. Seolah film, ingatan tentang rumah ini menyebar. Ingatan kosong saat Sun Woo yang menggantikan sosok Ayah sekaligus Ibu baginya.
“Aku ingin tinggal di sini lagi,” ujarnya ringan menatap penuh harap.
“Bukankah kau harus kembali ke Jepang?”
“Kak, sejujurnya aku tidak tahu harus memulai ini darimana? Tapi, aku mohon berhentilah berteman dengannya, jika kau tidak mau tinggal di sini bersamaku. Kita bisa pergi ke Jepang bersama,” abai Jin Hee meminta.
“Jika tidak tahu harus memulai tidak perlu ceritakan apa pun.”
“Ini tentang kak Min Joon dan kelurganya?”
“Aah, jika tentang hal itu? Aku sudah tahu,” sela Sun Woo menatap Jin Hee. Ia terdiam mendengar ucapan singkat Sun Woo, “Apa yang sudah kuketahui adalah yang sebenarnya terjadi dan apa yang kau ketahui hanyalah apa yang dinginkan oleh Ibunya Min Joon,” lanjut Sun Woo terdengar dewasa.
“Apa maksudmu?”
“Tentang alat pelacak dan sebagainya. Aku sudah tahu semuanya,” ucapnya memalingkan wajah ke lain arah.
“Kau juga tahu jika Ayahnya yang meminta Min Joon meletakkan alat itu di mobil orang tua kita?”
“Tentu saja! Tapi, itu bukan penyebab kecelakaan.”
“Mana mungkin?” sangkal Jin Hee.
“Jin Hee, Ibu Min Joon sudah mengakui semuanya,” ucapnya membuat Jin Hee kebingungan. “Dan Min Joon pun sudah menceritakan kepadaku. Semuanya .…”
“Ibunya mengidap gangguan jiwa! Min Joon terlihat sangat menyesal,” katanya meyakinkan Jin Hee, “Dia juga sudah mengaku mungkin cintanya kepadamu, bukan sebuah cinta yang sesungguhnya, tapi dia tetap berharap bisa memulainya lagi denganmu!”
“Omong kosong. Dia hanya sedang mencoba membela kedua orang tuanya Kak, kenapa kau percaya ucapannya?” ujar Jin Hee menolak pernyataan Sun Woo. “Lalu, apa alasanmu menyembunyikannya dariku?”
“Tentang apa?”
“Bahwa dulu kita tetangga wanita gila itu. Ibuku terlibat masalah karena wanita gila itu.” Lekas berdiri dan menampakkan mental emosional. “Aku, aku pergi dulu!” singkat Jin Hee memakai mantelnya dan berjalan ke luar rumah.
“Kau mau ke mana? Aku belum menjawab pertanyaanmu,” cegat Sunwoo.
“Menemui Song Hye Sun!” abainya.
“Jin Hee!” Sun woo menghampiri. “Yoon tahan dia!” serunya saat melihat Yoon masuk melewati Jin Hee.
Yoon memanggilnya dan tak mendapat respons dari wanita yang sudah melajukan mobilnya. Kini tak tahu harus berbuat apa. Sun Woo kebingungan. Jin Hee sudah berubah, dia bukan gadis yang dulu dikenalnya. Ada benih kebencian saat Min Joon hadir dalam percakapan mereka. Sudah tak tampak seperti saudaranya lagi, lebih pada orang asing yang ingin balas dendam.
***
14:25 KST, 08 Desember 2013.
__ADS_1
Salju baru saja mereda, Jin Hee tiba di depan rumah kosong. Berdasar informasi yang diperoleh lewat Yamoto dan Kim, tempat ini adalah rumah lama orang tua Jin Hee dan Sun Woo. Rumah tanpa kenangan masa kecil.
Jin Hee memperhatikan rumah yang berdiri tepat di sebelah rumah Min Joon itu dengan seksama. Selama bersama Min Joon dia selalu ke sini dan tak pernah sekali pun Min Joon mengingatkannya tentang rumah ini. Benar-benar pembohong yang berbakat. Apa aku pernah tinggal di sini? Pikirnya mengingat.
“Kenapa aku tidak bisa mengingatnya, saat itu kau siapa? Lim Jin Hee atau Kim Jin Hee?” gumamnya melihat ke langit mengisyaratkan agar tak boleh ada air mata yang menetes.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tegur suara yang tak asing baginya.
“Aku .…”
“Aku melihatmu dari jendela kamar,” selanya mendekat.
“Ah, Park Min Joon? Itu … Ibumu? Bagaimana kabarnya?” ucap Jin Hee kikuk mencoba berbasa-basi. Wanita yang datang berapi-api itu kini malah tampak malu seperti kucing yang baru saja dimarahi pemiliknya karena mencuri ikan.
“Dia ada di rumah sakit,” jawab Min Joon dengan ekspresi wajah yang datar. Mencoba datar lebih tepatnya, karena tak ingin gadisnya merasa tak nyaman jika dia bersikap berlebihan. Menjaga jarak.
“Aah ... itu tentang? Apa kotak barang-barangku ada padamu?” tanya Jin Hee menghampirinya.
“Ya, kau ingin mengambilnya? Mampirlah ke rumahku!”
“Tidak. Aku tunggu di depan pagar rumahmu saja!”
“Baiklah! Tunggu sebentar." Sesekali menengok ke belakang untuk memastikan wanita berbaju oranye itu adalah nyata, dan dia memang nyata. Aroma parfum Jin Hee terasa berbeda, namun aroma badannya tak bisa tersamar lebih lama. Itu Lim Jin Hee, yakinnya membatin.
Beberapa menit kemudian Min Joon keluar membawa kotak barang, beserta beberapa benda di atasnya.
“Ini apa?” ucap Jin Hee saat melihat beberapa bahan tambahan yang diberikan Min Joon padanya.
“Ini hadiah yang aku berikan padamu, aku menemukannya di rumah lama beberapa bulan yang lalu?” jawabnya sedikit tersenyum sambil menunjuk salah satu benda dengan wajah yang gugup.
“Hhh! Seharusnya kau tidak perlu mengembalikannya, secara teknis itu milkmu!” ucap Jin Hee mengangkat kotak. “Apa ini? Harusnya aku memakinya ‘kan?” batinnya tiba-tiba. Dan diam dalam dunianya sendiri, sambil memerika isi kotak.
“Aku tidak mengembalikannya, aku hanya ingin kau mengingat! Itu saja.”
“Tapi, ini milikmu?” paksa Jin Hee menyodorkan beberapa boneka kepada Min Joon.
“Hey hey, aku tidak suka boneka …,” ucapnya menantang Jin Hee.
“Baiklah, aku akan membuangnya.” Jin Hee mengambil semua barang dan masuk ke mobil seolah tak terjadi apa-apa.
“Aku juga akan membuang yang lainnya!” ancam Min Joon berharap Jin Hee keluar dari mobil. Dengan kekanakan Jin Hee mengabaikan ucapan Min Joon dan tetap mencoba melajukan mobil.
“Dia pasti kedinginan,” seru Min Joon saat melihat Jin Hee telah pergi, “Hah … Apa yang sudah kulakukan? Bukankah seharusnya aku minta maaf?” gerutunya melirik mobil Jin Hee yang mulai menjauh, “Dia bahkan membuang egonya untuk datang ke sini! Kau bodoh sekali Min Joon!” gumamnya kesal.
Menyisakan penyesalan karena telah menyia-nyiakan waktu singkat saat bertemu Jin Hee, waktu di mana dia bisa mengajak Jin Hee untuk berbicara empat mata. Waktu untuk dapat menumpahkan apa yang dirasakannya. Sebuah penyesalan, kerinduan dan kekhawatiran yang menjadi satu.
__ADS_1
***
Bersambung