
***
Bagi Min Joon yang baru berusia 12 tahun mengikuti perintah orang tua adalah hal yang utama, patuh dan menurut adalah temannya selain Sun Woo.
Tapi, Min Joon begitu dimanjakan oleh kakaknya yang berbeda 10 tahun darinya, kakak yang jarang dia temui. Membuatnya harus terus bersikap baik agar dapat menjadi seperti kakak laki-lakinya.
"Ayah ...."
"Oh, kau sudah datang! Kau melakukannya dengan baik!"
"Ayah apa ini?" tanya Min Joon menyentuh beberapa barang.
"Jangan mengganggu!"
"Mau pergi ke mana mereka?" gumam ayahnya memperhatikan titik merah yang bergerak perlahan di layar komputer.
"Aku dengar mereka pindah ke pantai?"
"Benarkah?" ujar ayahnya kembali memperhatikan. Serius.
***
Satu jam telah berlalu.
Min Joon, Sun Woo dan Jin Hee duduk di depan rumah mereka yang hampir kosong, mereka terlihat bergurau dan tertawa bersama. Polos, penuh ketidaktahuan akan liarnya dunia luar. Jin Hee, balita lucu itu telah menjelma menjadi anak perempuan yang cantik.
Di tempat lain ayah Min Joon tengah dihadapakan dalam kebingungan, karena sudah hampir lima menit yang lalu jejak orang tua Jin Hee dan Sun Woo tiba-tiba menghilang, mereka tak lagi terekam di GPS-nya dan berhenti di sebuah titik pada salah satu jalan.
Beberapa saat kemudian, terlihat beberapa orang berpakaian preman yang datang menghampiri rumah Jin Hee dan Sun Woo.
***
"Hentikan!" teriak ayah, meminta Min Joon menghentikan cerita yang menyiksa itu.
"Kau masih berpikir itu bukan cinta?" lanjut Min Joon dengan mata berkaca. "Kau sudah membuat dua orang kehilangan nyawanya! Dan membuatku menjadi penyebabnya."
"Min Joon!" marahnya.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita anggap perasaanku kepada Jin Hee adalah bentuk penyesalan. Tapi, apa menurutmu aku tidak bisa memberikan hati dan hidupku untuknya?" timpal Min Joon.
"Min Joon, hentikan!" bentak ibunya terlihat marah.
"Ibu! Kenapa kau biarkan ayah bersembunyi, seharusnya kau memberikan ayah kepada polisi! Biar mereka yang mengurus pembunuh ini," ungkap Min Joon sangat marah.
"Apa maksudmu?"
"Ibu!"
"Apa kau ingin berkata bahwa suamiku adalah seorang pembunuh? Tidak! Ayahmu tidak menempelkan alat itu, kaulah yang melakukannnya. Lagipula, bagaimana bisa sebuah alat pelacak bisa menyebabkan kecelakaan, itu bukan sebuah bom! Kita semua tidak bersalah dalam hal ini, itu sebuah kecelakaan dan kau harus menyadarinya ...," ungkap ibunya membela sang suami sambil menahan air matanya yang mulai terasa berat.
"Ibu!" panggil Min Joon bingung dengan sikap yang ditunjukkan ibunya.
"Jika memang anakku ini masih merasa bersalah pada kejadian yang terjadi hari itu, katakan saja! Katakan kepadanya. Katakan kau yang sudah membunuh orang tuanya! Jika bertemu dengannya lagi ungkapkan saja semua kenyataan itu," ucap ibunya mengancam.
"Ibu!" teriak Min Joon.
"Kenapa?" ucap ibunya terdengar menantang.
"Apa maksudmu?"
"Ini tentang wanita yang menelepon Jin Hee, kau pasti tahu sesuatu 'kan?" tanya Min Joon berharap.
"Apa maksudmu?" tanyanya terduduk di sisi suaminya. Tanpa diperintah siapa pun Min Joon menelepon menggunakan ponsel Jin Hee, dan mencoba beberapa nomor tanpa nama. Bunyi telepon berdering tiba-tiba, terdengar menggema di tengah perdebatan itu.
"Lihat, ponselmu berbunyi!" ucap Min Joon menelepon nomor yang tidak diketahui.
"Sayang?" ucap ayahnya terkejut.
Ibu Min Joon terdiam, pandangan matanya tak tentu. Ada rasa ingin membela diri, tapi dia terdiam membeku.
Ayah Min Joon dan Min Joon kini berbalik memertanyakan beberapa hal kepada wanita paruh baya yang masih tampak cantik di usianya itu.
Dia terus saja mengelak, menolak menjawab pertanyaan Min Joon. Saat didesak, ia malah berdalih bahwa menghubungi Jin Hee hanya untuk memberikan semangat. Atas masalah penolakan dari sang suami dan masih mengaktifkan nomor itu dengan alasan menunggu telepon dari Jin Hee.
"Ayolah, Bu! Bicara yang sebenarnya." Min Joon kembali mendesak, memaksa tak keruan.
__ADS_1
"Aku harus bicara apa?"
"Sejujurnya, sudah sangat lama aku tahu di mana keberadaan Jin Hee! Jadi, untuk itu tolong katakan padaku, jika bukan kalian yang menyebabkan masalah ini?" pinta Min Joon sedih.
"Putraku, masih banyak wanita lain di luar sana! Ibu yakin dia meninggalkanmu karena tahu kau tidak akan menjadi pewaris di keluarga ini, karena kakakmu."
"Ibu? Apa aku tampak seperti anak umur 11 tahun yang bisa kalian bodohi? Usiaku sudah 30 tahun," serunya terdengar kesal.
"Karena usiamu itulah, Ibu mohon segeralah menikah! Cari wanita lain yang benar-benar mencintaimu, kau sudah mencari orang, yang bahkan tidak pernah menghubungimu sedikit pun!" ungkap ibunya terdengar menjengkelkan.
"Ibumu benar! Kakakmu bahkan sudah menikah sejak 10 tahun yang lalu! Kau harus segera menikah dan berikan kami cucu," sela ayahnya membungkam Min Joon.
"Apa ini saat yang tepat untuk membicarakannya? Apa bagi kalian, nyawa orang lain hanyalah permainan?" selorohnya kesal mendengar ucapan itu.
"Aku mohon lupakan Jin Hee!" tutur ibunya terduduk lemas.
"Aku tekankan sekali lagi, Jin Hee-ku bukan seperti yang kalian tuduhkan ... dan hatiku juga bukan seperti yang kalian tuduhkan," ucapnya menahan pedih pergi meninggalkan ayah dan ibu yang hanya terdiam di ruang kerja yang luas itu.
Min Joon terlalu kesal untuk berpikir Jin Hee. Kini dia yakin, ada sesuatu yang disembunyikan Jin Hee juga orang tuanya. Satu-satunya cara adalah mnecari tahu, apa Jin Hee memang telah mengetahui fakta masa lalu itu. Fakta tentang kematian orang tuanya, fakta sesungguhnya tentang masa lalu semua orang.
***
Min Joon pun kini tak tahu harus bagaimana, apa dia harus terus mencari Jin Hee atau berhenti di saat dia telah menemukan setitik cahaya untuk menemui Jin Hee, hanya dikarenakan sebuah masa lalu yang terus mengganggunya.
Masa lalu memang sebuah tolak ukur untuk masa depan, tapi masa lalu bukan untuk dilupakan melainkan untuk dikenang agar dapat selalu membuat pemilik kenangan terus mengingat baik buruk dirinya pada masa lalu, agar dapat memperbaiki masa kini dan masa depannya.
Min Joon begitu berharap sang ayah mau bertanggung jawab tentang apa yang terjadi pada Jin Hee dan dirinya.
Malam itu berakhir dengan amarah Min Joon, ia merasa bersalah tak dapat berbuat apa-apa. Hanya gantungan kunci yang dulu dihadiahkan kepada Jin Hee kini berada digenggamannya, bukan tangan hangat Jin Hee yang begitu dirindukan. Membuatnya selalu berpikir, "Jin Hee, kau di mana? Apa kau baik-baik saja?"
Sebenarnya rasa apa yang kini sedang dirasakan Park Min Joon kepada Jin Hee? Apa sebuah rindu yang melilit karena rasa cinta kah? Atau ini rindu dan sesal karena dipenuhi rasa bersalah?
Keinginannya untuk mencari Jin Hee takkan pernah berakhir meski apapun yang terjadi, satu hal paling utama yang ingin dilakukan Min Joon yaitu untuk meminta maaf.
***
Bersambung
__ADS_1