Love Sign

Love Sign
Chapter 39: The Time We Have


__ADS_3

Min Joon mendekati benda-benda yang disimpan Jin Hee tepat di bawah pohon cinta mereka, Min Joon yang terlihat putus asa hanya mencoba tersenyum di tengah rasa sakit itu. Mungkin bagi Jin Hee ini hanya barang-barang yang menyakitkan, tetapi baginya semua ini adalah benda yang dipenuhi kenangan dan rasa akan cinta kasih mereka.


Dia mendekati batu besar di sisi pohon dan duduk di atasnya melihat hari yang mulai sore dengan keputusasaan yang mendalam. Min Joon kalah, dia tak mampu memenangkan hati gadis itu lagi. Gadis kecil yang begitu disukainya. Pelipur lara dan kebahagiaan Min Joon. Akan seperti apa hidupnya jika Jin Hee benarbenar meninggalkannya?


***


Jin Hee tiba lebih dulu di rumah, mendapati Yoon yang sedang berkemas untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Tatapan Jin Hee tampak lelah, Yoon meninggalkan pekerjaan dan mulai menggangu Jin Hee dengan pertanyaan aneh.


Jin Hee menghentikannya dengan pertanyaan skakmat. “Apa Ayah dan Kakakku belum datang?”


“Belum, mereka bilang akan pulang malam,” singkat Yoon. “Jadi, kau sudah membuangnya tidak?” lanjut Yoon melihat Jin Hee yang pulang dengan tangan kosong.


“Aku mau istirahat!” lemasnya tertatih menuju kamar tidur.


“Baiklah. Selamat beristirahat...,” ucap Yoon membungkukkan badan.


“Yoon …,” panggilnya terhenti di depan pintu kamar. “Bolehkah kau menemaniku sebentar, sampai mereka pulang,” pinta Jin Hee melirik Yoon. Yoon tersenyum bersedia mengikuti Jin Hee ke kamar. 


Jin Hee dan Yoon duduk bersama diatas tempat tidur, keduanya diam.


“Menurutmu aku salah?” tanya Jin Hee tiba-tiba, sambil membuka lemari tuanya.


“Apa? Apa maksudmu?” kaget Yoon.


“Aku sudah menolaknya!” lanjut Jin Hee melihat Yoon dengan senyuman yang aneh.


“Siapa? Menolak apa? Park Min Joon? Apa kau bertemu dengannya? Di danau? Lalu apa yang terjadi?” serang Yoon bertubi-tubi.


“Entahlah! Aku tidak ingin mengingatnya …,” jawab Jin Hee lemas.


“Ayolah kak, ceritakan padaku?” paksa Yoon.


“Tidak perlu!” tolaknya tersenyum.


“Kak Jin Hee …,” panggil Yoon terdengar manja.


“Aish ... kau menjijikkan!” sinis Jin Hee melihat sikap Yoon yang mencoba cute demi membujuknya.


Jin Hee pun menceritakan semuanya. Bahkan bagaimana Min Joon mengejarnya saat Jin Hee memutuskan pergi meninggalkan danau.

__ADS_1


***


Tanpa pikir panjang, Min Joon bergegas mengejar Jin Hee dan menahan langkahnya. Tangan Jin Hee terhenti untuk membuka pintu mobil. Telapak tangan Min Joon menarik kepala Jin Hee. Keduanya bertatapan mesra. Napas Min Joon semakin terdengar dalam, pandangannya menyempit menuju bibir mungil Jin Hee.


Rasa ini harus dipastikan, didaratkannya ciuman pada tempat yang tak seharusnya. Saat bibir indah Jin Hee bersentuhan dengan bibirnya, Min Joon hanya bisa menahan napas sembari menutup mata. Kedua tangannya menyergap kepala Jin Hee erat.


Jin Hee yang terkejut dan mendorong Min Joon menjauh. Tatapannya meruncing, mempertanyakan sikap kasar Min Joon. Kecupan, tidak. Ciuman yang terjadi kurang dari sepuluh detik itu, membuat api di kepala Jin Hee perlahan mereda. Tergantikan dengan rasa acak yang sulit untuk diungkapkan.


“Dengarkan aku!” ujar Min Joon lembut sembari memegangi pundak Jin Hee yang masih shock  dengan perlakuan Min Joon tadi. “Kumohon maafkan aku, mari kita memulai semuanya dari awal lagi. Aku masih berdebar saat menciummu.”


“Apa? Hah, tidak!” Jin Hee menggeleng saat kesadarannya kembali. “Aku terlalu sakit untuk bersamamu! Temukan saja wanita lain dan menikahlah! Eung …,” ungkap Jin Hee melepaskan tangan Min Joon.


“Lim Jin Hee, tidak Kim Jin Hee? Dengarkan aku!” paksa Min Joon.


"Sudah kubilang, tidak!"


"Jin Hee-ya ...."


Jin Hee terdiam, ditariknya napas yang tak teratur itu.


“Baiklah katakan? Aku akan mendengarkanmu!” Jin Hee bersandar di mobil, mencoba tampak baik-baik saja. Padahal kakinya gemetar menahan sesuatu yang bergejolak di kepala.


“Apa itu mengubah sesuatu? Hah!” seru Jin Hee dingin menatap Min Joon.


“Jin Hee!” panggil Min Joon yang telah berubah seperti pengemis cinta.


“Kemana saja kau, saat aku mengalami tekanan oleh orang yang tidak kukenal? Kemana saja kau selama aku tidak ada? Apa kau benar-benar mencariku atau kau malah sedang menikmati hidupmu? Kemana saja kau, saat aku berpikir Ibumu sengaja melakukannya pada Kakakku dan aku malah tetap berdiri di sisimu?” tanya Jin Hee tiba-tiba.


"Kau tidak pernah memberitahuku hal itu!" Suara Min Joon meninggi.


"Lihat, kau tidak akan pernah berubah. Kau dan sifat kekanakan yang tak ingin mengalah itu, sungguh menyebalkan."


“Maafkan aku!” sesalnya.


“Apakah selama dua tahun ini kau mengikuti nasehatku? Apa kau masih berteman dengan alkohol? Apa alasan kau kembali ke rumah itu benar-benar untuk mencariku? Lalu, siapa itu Hyu Ri? Bukankah kau tinggal di rumahnya selama beberapa minggu, kan? Kau bahkan sering menginap di sana? Kau pikir kau bisa sepenuhnya menjaga cintamu itu? Kau pikir aku tidak tahu semua itu!!!” ungkap Jin Hee emosi.


“Jin Hee!” panggilnya lemah.


“Di mana kau saat aku membutuhkan kejujuranmu? Apa menurutmu itu cinta, itu sebuah kebohongan!” teriak Jin Hee. “Hubungan kita … dimulai dengan kebohongan!”

__ADS_1


“Tapi, aku sangat mencintaimu!” tandasnya malah membuat Jin Hee semakin kesal.


“Sangat tidak pantas jika aku memberitahukan ini padamu, tapi bersikaplah dewasa! Kau pikir cinta bisa memaafkan semuanya?”


“Menurutmu selama ini aku salah?” tanya Min Joon dengan mata yang berlinang.


“Tidak, tidak ada yang salah! Salahnya adalah karena aku memilih untuk mencintaimu.”


“Kau tahu, cinta tidak pernah salah!” tandasnya.


“Park Min Joon, cinta bisa saja salah. Jika dimulai dengan awal yang salah.”


“Kumohon maafkan aku!” ucapnya menitikkan air matanya.


“Aku sudah memaafkanmu! Apalagi yang perlu aku katakan padamu! Aku, aku hanya, hanya tak sanggup, tak sanggup mengingat kenangan saat kau menyakitiku dengan semua kebohongan itu! Kau mendekatiku karena rasa bersalah, pengakuan cintamu hanya karena ingin menebus rasa bersalah pada kedua orang tuaku. Kau tidak berhak atas cinta yang kuberikan. Kau tidak berhak atas semua tanda cinta yang kau dapatkan!!!”


“Jin Hee,” rintihnya terdengar menangis. Jin Hee terkejut melihat pria kekar di hadapannya sedang menangis.


“Ya? Kau menangis?” Jin Hee melemah. Min Joon menggeleng dan tampak mencegah matanya mengeluarkan butiran itu. “Hey! Kau seorang pria, jangan menangis! Pria tua! Jangan seperti ini.” Pukul Jin Hee pelan di pundak Min Joon yang mulai terisak.


"Maaf!” ujarnya mencoba tegar.


Jin Hee mengeringkan air matanya tanpa menatap Min Joon. Ditariknya napas dalam-dalam, diembuskan secara teratur.


Melelahkan, tapi harus dilewati.


***


Bersambung


*Hai, semuanya. Assalamualaikum.


Kak Bi mau mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia Love Sign ya. Terima kasih atas like, komentar, vote dan dukungnannya. Terima kasih sudah membantu Love Sign untuk tumbuh perlahan-lahan.


Tokoh dalam cerita ini hanyalah fiksi, visualisasi karakter yang ada hanyalah pemanis bagi orang-orang yang kesulitan membayangkan tokoh dalam cerita dan juga hasil reqeust-an beberapa pembaca.


Jangan lupa untuk tinggalkan Like, Komentar, Voting poin biar bisa masuk ranking, Voting Koin biar bisa nambah penghasilan Author, biar bisa lebih semangat berkarya. Daaan, share cerita Love Sign ke teman-teman Kpopers dan K-drama Lovers-mu ya.


Oh iya, selamat datang untuk pembaca yang baru bergabung usai mendapati Love Sign di Daftar Cewek Impian.

__ADS_1


Terima kasih*.


__ADS_2