
Liburan telah usai, sekarang waktunya kembali beraktifitas di kampus.diandra mulai disibukan dengan tugas tugas penunjang semester ahirnya sedang arman mulai aktif dengan jadwal mengajar di kampusnya, tidak ada yang heran dengan keakraban arman dan diandra karena memang dari dulu mereka sudah dikenal bersaudara.dengan status baru arman sebagai dosen di kampusnya membuat fans arman semakin banyak bahkan ada yang tidak peduli dengan status arman yang sudah mempunyai tunangan, namun belum juga banyak yang tau siapakah tunangan arman, hanya beberapa teman arman saja yang tau kalau diandralah tunangan arman.bahkan teman teman diandra juga belum pada tau kalau diandra sudah bertunangan dengan arman.
"kok cincinnya gak dipakai?"
"takut hilang kak, aku kan biasanya suka ceroboh."
"dasar gadis manja, itu alasan yang gak masuk akal, tuh buktinya kamu juga pakai cincin."
Diandrapun kelimpungan karena ketahuan membuat alasan yang salah.
"he he he, cincin gak penting.yang penting kan komitmennya."
"tapi itu sebagai lambang di..Atw mungkin kamu memang gak suka dengan perjodohan ini?"
"bukan gitu kak"
"trus kenapa? Atau mau cari cabang dulu?"
"eèeeh enak aja, aku kan bukan playgirl"
"la trus" arman terus saja memberondong diandra dengan masalah cincin tunangan yang tidak dipakainya.
"aku belum siap cerita ke teman teman kalau aku udah punya tunangan kak. Aku takut jadi bahan bulyan mereka"
"hemmm" arman hanya mengangguk angguk sambil mengaduk aduk minuman yang nampaknya sudah tidak dingin lagi itu, karena mereka sudah terlalu lama duduk santai di rumah makan tersebut.sepertinya kali ini arman sudah bisa menerima alasan diandra.
"jangan khawatir kak,,,aku gak bakalan ngecewain ayah dan ibu kok" sambung diandra dengan suara memelas membuat arman ingin memeluknya seperti ketika mereka masih kecil dulu.
"habis ini kamu langsung pulang aja, gak usah mampir mampir dulu"
"aku mau mampir ke klinik ibu kak,hari ini paman gak bisa jemput ibu karena nganter ayah keluar kota"
"ok,,,salam buat ibu"
"iya kak, aku pergi dulu ya...assalamualaikum"
"waalaikumsalaam"
Diandra bergegas menuju ke mobilnya saat melihat jam yang melingkar ditangannya hampir menunjukan pukul dua siang. Dia mengendarai mobilnya tidak dengan santai seperti biasanya, dia menambah kecepatannya agar segera sampai di klinik ibu karena dia tidak mau ibu sampai menunggunya.ketika sampai di klinik diandra sudah melihat ibu keluar hingga diandrapun melambaikan tangannya tanpa keluar dari mobil dan segera saja ibu masuk ke mobil dan mereka pulang bersama dengan diiringi canda tawa.
Selepas sholat maghrib ponsel diandra berbunyi, diapun segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelfon, dan ternyata armanlah yang menghubunginya, diandra segera mengangkatnya tapi ternyata bu asih yang sedang menelfonnya. Bu asih memberi tahu kalau arman habis mengalami kecelakaan namun tidak ada luka berat ditubuhnya. Hanya kakinya yang mengalami lecet lecet hingga harus dilakukan perawatan.
"iya bu, habis ini aku segera ke sana, assalamualaikum" hanya itu yang terucap kemudian diandra segera bersiap untuk menjenguk arman.
"bu aku ke rumah bu asih dulu za!"
"mau apa malam malam begini"
__ADS_1
"kata bu asih kakak habis kecelakaan, tapi katanya cuma lecet lecet saja."
"semoga lekas sembuh, tapi sekarang ibu gak bisa ikut kamu jenguk kakak karena ini ibu harus segera entri data data pasien"
"yaudah gak papa, aku brangkat sendiri aja bu"
"hati hati jangan ngebut, semoga kakak segera sembuh"
"aamiin,,, assalamualaikum."
"waalaikumsalaam"
Diandra kemudian membawa motor menuju rumah arman karena rumah arman yang tidak terlalu jauh dalam beberapa menit dia sudah sampai.diandra memarkirkan motornya di halaman rumah arman dan bergegas masuk rumah yang tidak ditutup itu.
"assalamualaikum"
"waalikumsalaam" arman yang duduk santai di ruang tamupun menyambut kedatangan diandra, dia sedikit kaget dengan kedatangan diandra. Arman segera berdiri namun karena kakinya masih sakit ahirnya dia tidak memiliki keseimbangan dan ahirnya ambruk duduk kembali. Diandra yang melihat itu agak panik dan segera mendekati arman.
"kamu kesini sama siapa?"
"sendiri kak, ibu sibuk"
"ada apa malam malam kesini?"
"tadi bu asih telfon katanya kakak habis kecelakaan, jadi aku segera kesini"
"ibu ini" arman menggerutu karena sebnarnya dia tidal ingin ada yang tau soal kecelakaannya
"seperti yang kamu lihat, masih utuh dan tetep ganteng he he he"
"udah sakit masih aja narsis"
"kenyataannya kan emang seperti itu"
"kapan kejadiannya? Padahal tadi sampai jam dua siang kita masih bareng"
"tadi pas habis dari rumah makan baru beberapa meter ada bola menggelinding dijalan, karena tidak siap ahirnya aku tabrak dan jatuhlah"
"hemmm, tapi motor kakak juga gak papa kan?"
"masuk bengkel karena aku naiknya agak ngebut trus jatuhnya nabrak trotoar"
"makanya kalo naik moto jangan ngebut"
"kalo gak ngebut za gak bakalan sampai sampai"
"tuch akibatnya kalo suka ngebut"
__ADS_1
"ini kan pas lagi apes, biasanya juga gak papa ha ha.eh kamu ambil minum sendiri za karena ibu gk ada!"
"aku gak haus, emang ibu kemana?"
"kondangan, zaudah kalo gitu pijitin aku ini badan pada sakit semua"
"enggak ah,, bukan muhrim"
"owh iya lupa kan belum halal. Jadi pengen segera dihalalin"
"sabaar kaak, tinggal enam minggu lagi"
"tapi rasanya udah gak sabar nih" jawab arman lagi sambil mengerlingkan matanya dan spontan diandrapun memukul kaki arman dengan bantalan kursi yang dipegangnya, armanpun mengaduh karena pas kena lukanya. Diandra yang merasa bersalah tanpa sadar lansung memegang kaki arman yang tertutup dengan sarung.
"maaf kak, aku gak sengaja"
"sakit tau"
"habis kakak sih suka nyebelin" kemudian arman mengangkat sarung yang menutupi kakinya karena sepertinya ada darah yang tembus di kain sarungnya.
"haduuuh maaf kak,,aku gak tau kalo sampai kayak gitu"
"tolong ambilin kotak p3k di kamarku!"
"iya kak" tanpa berpikir panjang diandra pergi kekamar arman mencari kotak p3k, melihat kamar yang rapi dan bersih diapun terkagum kagum lalu diandra segera masuk dan membuka laci tapi apa yang ia dapati, ternyata bagian dalam arman, diapun langsung berjingkat dan segera menutupnya.
"kak dimana kotak p3knya?" diandra berteriak karena tidak menemukan apa yang ia cari
"diatas meja di"
"gak ada"
"owh mungkin udah dipindah ibu ke lemari dapur, coba cari di dapur"
Diandra tak lagi menjawab kemuadian melangkahkan kakinya ke dapur, setelah mendapatkan apa yang ia cari diapun kembali menemui arman.
"sini aku bersihin" kemudian arman menyelonjorkan kakinya di sofa yang ia duduki, dia kembali membuka sarungnya yang kemudian terlihat banyak luka di kakinya.diandra membersihkan bagian luka yang mengeluarkan darah, setelah bersih dia mengembalikan kotak p3k ke tempatnya.
"mau ganti sarung juga?" tanya diandra karena melihat sarung arman yang ada darahnya
"nggak usah, nanti aja nunggu ibu"
"itu kan ada darahnya, emang gak jijik"
"enggak, kalo mau ganti sekarang emangnya kamu mau bantuin?"
"enggak" dengan segera diandra menolak dan armanpun tertawa mendengar jawaban diandra
__ADS_1
"mau kopi enggak?" ahirnya diandra mengalihkan pembicaraan mereka
"boleh" kemudian diandra beranjak ke dapur membuat satu cangkir kopi dan satu cangkir teh untuk dirinya sendiri, setelah selesai dia membawanya ke ruang tamu, merekapun minum bersama dengan diiringi obrolan obrolan yang sesekali membuat diandra malu sambil menunggu kepulangan ibu dari kondangan