
Setelah beberapa tragedi ahirnya diandra bisa lepas dari arman karena suara panggilan ibunya
"di bangun, ini bibi mau pamit!"
panggilan ibu ela dikeraskan karena dikira diandra masih tidur seperti biasanya, kalau habis makan sahur diandra sering tidur lagi jika tidak ada kegiatan.
"iya bu, tunggu sebentar"
"buruan nanti bibi ketinggalan kereta" setelah mendapat kejelasan dari diandra kemudian ibu ela pergi pergi menemui keluarganya yang sudah siap untuk kembali kehalaman rumah masing masing.
"kak lepasin,ayo kita keluar, itu bibi mau pamit pulang" diandra memohon kepada arman untuk segera dilepaskan dari pelukannya karena keluarganya pada mau pamit pulang.
"cium sekali lagi dong!"
"pakai syarat segala, kaya anak kecil" jawab diandra sambil mengerucutkan bibirnya, dan itu malah membuat arman semakin gemas kemudian dengan segera arman menyambar bibir diandra.setelah puas arman kemudian melepaskan diandra dan mengambil celana panjang untuk dipakainya keluar kamar sedang diandra dengan hati yang masih dag dig dug dengan tingkah arman dengan segera merapikan pakaiannya dan mengambil kerudung kemudian keluar bersama arman menemui keluarganya.
"ahirnya pengantin baru keluar juga" sambut anton dengan masih menaikan kaki kirinya pada kaki kanannya.
"ngapain aja sih lama banget, ntar kita ketinggalan kereta" sahut saudara sepupu yang lainnya.
"asyik dong, jadi bisa nginep sini lagi he he" sahut diandra dengan tanpa rasa bersalahnya
"kalo kita masih disini entar malah gagal unboxing lagi, iya gak man!" lagi lagi anton melancarkan serangan pada pengantin baru.
"iya" armanpun mengiyakan untuk meladeni candaan anton
"tuch kan ada yang udah kagak nahan ha ha ha"
"sudah bercandanya? Ayo brangkat" saudara sepupu diandra yang lain ikut angkat bicara
"kalo gitu kita pamit dulu ya dek,, semoga nak diandra dan nak arman menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah"
"aamiin yaarobbalalamiin" semua mengaminkan doa bibi diandra, kemudian mereka bersalaman satu persatu lalu menuju taksi yang sudah menunggu didepan rumah.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalaam" jawab pak ahmad sekeluarga, setelah taksi berjalan arman juga berpamitan pada mertuanya untuk pulang ke rumah ayahnya sebentar bersama diandra. Namun tidak seperti rencana awal, ternyata diandra tidak jadi ikut arman pulang ke rumah karena merasa perutnya keram, semakin lama semakin sakit dan ahirnya arman menunda kepulangannya dan menemani diandra istirahat di kamar.
"kakak kalau mau ngambil yang penting di rumah pulang aja dulu gak papa"
"trus kamu gimana?"
"ini sudah biasa kalau mau kedatangan tamu pasti kayak gini"
"biasa gimana, orang kamu sampai kayak gini"
"tolong panggilin ibu aja kalo gitu!"
"mau ngapain?"
"biasanya sama ibu dipijit bagian sini jadi reda sakitnya" jawab diandra dengan meringis karena menahan sakit sambil menunjuk betis kanannya.
"kalau gitu biar aku aja yang pijit"
"emang kakak bisa?"
__ADS_1
"bisa banget, apalagi kalau pakai plus plus"
jawab arman dengan mengedip ngedipkan matanya.
"apaan sih kak, sakit banget ini"
"yaudah sini biar aku pijit, plus plusnya nanti malam aja he he" arman masih saja menggoda diandra, kemudian diandra memukul arman dengam bantal yang sejak tadi dipakai untuk mengganjal perutnya yang keram.
Cukup lama arman memijit diandra dan ahirnya diandrapun tertidur dengan pulas dan tidak merintih lagi. Melihat diandra yang sudah tertidur kemudian arman keluar untuk pulang kerumahnya sebentar.namun sebelum dia melanjutkan langkahnya dia bertemu ibu ela di halaman rumah.
"gak jadi kerumah nak?"
"ini baru mau brangkat bu!"
"diandranya mana?"
"nggak jadi ikut karena tadi perutnya keram"
"trus sekarang diandranya gimana?"
"tidur bu, tadi sudah mendingan kok"
"pasti dia mau datang bulan kalau perutnya keram begitu"
"aku berangkat dulu bu, nitip diandra ya"
"iya, hati hati nak"
Kemudian arman brangkat dengan menaiki motor yang biasa dipakai diandra, namun diperjalanan dia masih memikirkan ucapan ibu mertuanya soal sakit perut diandra yang menandakan kalau mau datang bulan. Kalau itu benar adanya bakalan gagal lagi nanti malam pertamanya, dan juga harus tertunda sampai beberapa hari. Namun kemudian dia membesarkan hatinya untuk sabar menanti karena menyadari memang itu adalah kodrat seorang wanita yang harus bisa ia terima dengan sabar.
"waalaikumsalaam" jawab kayla yang sedang menyapu halaman rumah.
"tumben embak yang nyapu?"
"emang aku dari dulu kan anak yang rajin ha ha ha, pengantin baru kok pulang sendirian? Mana bidadari hatimu?"
"perutnya sakit jadi enggak ikut"
"waduh semalem kamu apain aja sampai sakit begitu?"
"enggak diapa apain"
"la itu kok bisa sakit perut?"
"ya bisalah namanya juga manusia biasa, aku masuk dulu"
"dasar adik durhaka" setelah selesai menyapu kayla kemudian menyusul arman kedalam rumah, dan di dalam rumah arman sudah duduk bersantai dengan ibunya.
"man istrimu sakit kok malah kamu tinggal kesini?"
"tadi habis aku pijitin dia tidur mbak" arman memberi kejelasan pada kayla
"emang biasanya nak diandra seperti itu kalau mau datang bulan, jadi itu sudah biasa, kalau bangun nanti biasanya sudah sembuh" ibu asih menambahi kejelasan arman
"apa,, datang bulan. Bakalan menunggu lama ni arman,,kasihan" ledek kayla sambil mengelus elus kepala adiknya
__ADS_1
"putri kemana mbak kok sepi?"
"tadi diajak jalan jalan sama mas bagas, enggak tau kemana kok gak pulang pulang."
"embak kok nggak ikutan?"
"males ah, nanti malah cepat lapar dan haus lagi"
"kayak baru pertama kali puasa aja cepat lapar dan haus"
"emang kan gitu biasanya man"
"aku ke kamar dulu, puasa puasa jangan suka ghibah" kemudian arman pamit ke kamarnya untuk ngecek pekerjaannya karena beberapa hari ini dia cuti untuk memepersiapkan acara pernikahannya, namun didalam kamar dia kembali memikirkan ucapan ibunya tentang kebiasaan diandra saat akan datang bulan namun kemudian dia tepis pikiran tentang itu lalu konsentrasi dengan pekerjaannya. Setelah selesai dia membereskan laptopnya dan beberapa berkas untuk dibawa ke rumah diandra. mengingat cuti masih berlanjut karena cuti bersama hari raya idul fitri dia ingin segera menyelesaikan pekerjaanya di rumah diandra.
Selepas sholat dhuhur arman berpamitan kepada keluarganya untuk kembali ke rumah diandra namun ketika sampai di dalam kamar dia merasa aneh mendapati minuman dan beberapa makanan ringan di meja kamarnya sedangkan diandra tidak ada. Belum sempat arman beranjak dari kamarnya dia mendengar suara gemercik air di kamar mandi dan sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah diandra.
"kamu didalam di?" tidak ada jawaban dari diandra namun masih terdengar gemericik air didalam kamar mandi, mungkin diandra tidak mendengar jadi tidak ada jawaban. Kemudian arman mendekat ke kamar mandi dan mengetok pintunya.
"di kamu didalam?"
"iya kak" ahirnya diandra menjawab dengan suara lantangnya dan tidak lama kemudian diandrapun keluar dengan wajah yang segar.
"kakak sudah pulang? Sudah sholat dhuhur atau belum?"
"sudah,,,tadi sholat dulu baru pulang kesini"
"kak" dengan malu malu diandra ingin mengatakan kalau dia sekarang sedang haid
"ada apa? Perut kamu masih sakit?
"iya tapi sedikit"
"apa perlu periksa ke dokter"
"enggak usah, itu sudah biasa kok"
"jangan menyepelekan penyakit"
"sebenarnya hari ini aku kedatangan tamu"
"tamu siapa? Di depan tidak ada siapa siapa"
"tamu bulanan kak, haid"
"kamu haid?" arman sedikit kaget
"iya, kalau sakit perut begini memang biasanya mau datang bulan" jawab diandra sambil menundukkan kepalanya
"yaah gagal lagi dong nanti malam" arman hanya bisa garuk garuk kepalanya lalu merebahkan diri diranjang yang kemudian disusul oleh diandra
"maafin aku ya kak" suara diandra memelas
"untuk apa minta maaf, mungkin emang belum waktunya unboxing, tapi kan masih bisa pemanasan" jawab arman sambil bangun dari rebahannya kemudian mengelus kepala diandra dengan senyum jahilnya.
"huuufh dasar mesum"
__ADS_1
arman hanya tertawa mendengar jawaban diandra, kemudian memeluk pinggang diandra dan mengajaknya istirahat siang