
Seminggu berlalu dengan penuh drama, diandra yang harus menghadapi kejahilan suaminya kini harus berlanjut dengan hari yang menegangkan.
"kak tungguin aku wudhu dulu!" kemudian diandra segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu, armanpun menunggunya dengan sangat sabar dan juga dengan hati berbunga bunga.
"udah selesai haidnya?" tanya arman memastikan dengan senyum penuh bahagia. Namun diandra hanya mengangguk sambil memakai mukenanya
"brarty nanti udah bisa dong?"
"bisa apa?" tanya diandra dengan pura pura tidak tau maksud arman
"nanti kalo habis sholat aku kasih tau, atau langsung aku praktekan" mendengar itu diandra jadi merinding dan tidak konsentrasi ketika melaksanakan sholat duhur. Selesai sholat diandra merapikan mukenanya, belum dia mengembalikan mukena ke tempatnya ibu sudah memanggil, dan itu membuat arman jadi nesu
"tok tok tok"suara ketokan pintu terdengar di kamar diandra
"siapa?"
"ibu, tolong keluar sebentar ibu mau bicara" kemudian diandra membuka pintu dan akan segera keluar menemui ibunya, namun ibunya menahannya dan menyuruhnya untuk mengajak suaminya juga
"ibu tunggu disana ya" seru ibu sambil menunjuk ruang tengah
"iya bu"
"jangan lama lama soalnya ibu buru buru" diandra jadi penasaran apa yang mau dibicarakan oleh ibunya. Kemudian dia masuk dan mengajak arman untuk menemui ibunya
"kak kita dipanggil ibu. Katanya ada yang mau dibicarakan"
"hemmm gagal deh" arman menggerutu karena misinya siang ini digagalkan oleh ibu mertuanya.
"buruan ditunggu ibu"
"iya iya"
Kemudian mereka berdua menemui ibunya diruang tengah
"ada apa bu?"
"di nanti sore ibu harus terbang ke bali, karena besok pagi ibu harus mengisi pelatihan disana"
"kok mendadak bu"
"ini sebenarnya tugas bu diana tapi mendadak suaminya opnam di rumah sakit, jadi ibu harus menggantikannya"
"ibu sama siapa?"
"ibu nanti ditemani ayah karena acaranya disana satu minggu"
__ADS_1
"lama sekali bu?" keluh diandra dengan wajah cemberut
"sekarang kan sudah ada nak arman, kalian baik baik di rumah za!"
"iya bu" jawab arman dengan penuh semangat, karena ia merasa ini adalah kesempatan terbaik untuk berduaan dengan diandra.
"ibu sudah packing, nanti ayah mertua kamu yang akan ngantar ibu ke bandara"
"la trus ayah gimana bu?"
"ayah berangkat dari kantor biar gak bolak balik, yaudah sekarang ibu mau istirahat dulu"
Kemudian ibupun pergi kekamarnya, namun arman dan diandra masih berada di ruang tengah untuk menikmati siang ini didepan televisi.
"aku bikinin kopi dulu ya kak!"
"iya"
Kemudian diandra pergi ke dapur untuk membuat kopi, hatinya terasa dag dig dug memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam, apalagi ayah dan ibunya sedang tidak di rumah.
"ini kak kopinya"
"makasih sayang" jawab arman dengan sangat lebainya, dan itu membuat diandra jadi malu dan salah tingkah.
"aku ke kamar dulu za kak, ada tugas kuliah yang belum selesai"
"enggak ah, aku kekamar dulu mau nylesain tugas kuliah"
"yaudah kalo gitu aku bantuin biar cepat selesai"
"enggak usah kakak disini aja" niat diandra adalah menghindari suaminya karena dia belum siap menghadapi kemungkinan kemungkinan apa yang akan terjadi hari ini. Namun sepertinya arman tidak mau melepaskan diandra begitu saja.
"hemmm, yaudah sana belajar yang rajin biar cepet lulus"
"ok kak" segera diandra mempercepat langkahnya untuk masuk kedalam kamarnya tapi alangkah terkejutnya diandra saat baru mulai membuka laptopnya arman sudah masuk kamar menyusulnya, dia mulai panik namun rasa panik itu segera hilang ketika arman naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya.
"di aku tidur dulu za, nanti kalo ibu mau brangkat tolong bangunin aku"
"siap kak, tidur yang nyenyak za"
"ok" jawab arman sambil mengerlingkan matanya, sebenarnya tidur yang dilakukan arman saat ini adalah untuk mengumpulkan energi untuk serangan nanti malam, dia sudah sangat siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami, sedang diandra tidak menyadarinya, dia merasa senang saat arman pamit untuk tidur siang itu artinya dia tidak akan diganggu saat mengerjakan tugas kuliahnya.
setelah selesai mengerjakan tugasnya diandrapun ikut meyusul arman untuk tiduran di ranjangnya karena tidak ada kegiatan apapun sambil memainkan hpnya, tidak terasa jam menunjukan pukul 4 sore dan itu adalah waktunya ibu berangkat ke bandara, diandra segera keluar kamar untuk menemui ibunya dan ternyata ibu sudah siap dengan kopernya tinggal menunggu pak wijaya yang masih dalam perjalanan.kemudian diandra berbalik arah untuk membangunkan suaminya karena ibu sudah mau berangkat.
"kak bangun, ayo bangun"
__ADS_1
"jam berapa ini?"
"jam 4, ayo keluar! Ibu sudah mau berangkat tuh"
"iya bentar, aku cuci muka dulu"
"cepetan za, aku tunggu diluar"
"iya iya"
Kemudian diandra keluar kamar dan menemui ibunya, dan ternyata mobil yang dikendarai pak wijaya baru saja sampai di halaman rumahnya
"suamimu mana?" belum sempat diandra menjawab ternyata arman sudah berada dibelakang ibunya
"itu kakak baru bangun tidur"
"kalo gitu ibu berangkat dulu ya, takutnya ayah sudah menunggu disana"
"aku ikut ke bandara ya bu, sebentar aku ambil tas dulu"
"enggak usah, kalian berdua di rumah aja, kan sudah ada ayah mertuamu yang mengantarkan"
"tapi aku kan pengen ikut juga"
"gak usah di, pengantin baru dilarang perjalanan jauh sebelum hari ke 36"
"pasti itu ajaran neneknya ibu" meskipun masih membantah namun diandra tetap mematuhi kata kata ibunya, dia hanya mengantar ibunya sampai di halaman rumah saja.
"ibu berangkat dulu, kalian baik baik di rumah" diandra dan arman hanya mengangguk saja kemudian keduanya menyalami bu ela dan pak wijaya bergantian, mereka berdua masih di halaman rumah menunggu sampai mobil tidak terlihat, hal seperti ini memang sudah biasa dialami diandra, tapi biasanya kalau ibunya pergi dinas bu asihlah yang menemaninya. Berbeda dengan sekarang, ketika ayah dan ibunya pergi diandra harus tinggal berdua dengan arman, laki laki yang membuat hatinya dag dig dug dalam beberapa hari ini.
"kenapa? Masih pengen ikut ibu?" tiba tiba saja arman memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipundak kanannya, bibirnya yang hampir menyentuh telinga membuat diandra merinding tidak karuan
"kak apaan sih, malu dilihatin tetangga" diandra mengurai kedua tangan arman yang semakin erat memeluknya, namun sepertinya hanya sia sia, arman malah menyemayamkan bibirnya diceruk leher diandra.
"kalau gitu kita kekamar saja!" tanpa aba aba langsung saja arman mengangkat tubuh kecil diandra kemudian membawanya masuk
"tutup pintunya sayang" ucap arman lagi dengan suara beratnya karena seperti sedang menahan sesuatu, dan diandrapun menuruti kata kata suaminya, bahkan kemudian dia mengunci pintunya karena takut ada yang tiba tiba bertamu ke rumahnya. Setelah selesai mengunci pintu diandra mengalungkan tangannya dileher arman karena takut jatuh, dan setelah sampai di kamarnya kemudian arman menutup pintu kamar dengan kakinya, karena sudah diselimuti gairah segera arman menurunkan diandra diatas ranjangnya dengan pelan pelan. Diandrapun bergerak mundur seperti akan melarikan diri dari terkaman singa yang kelaparan namun pergerakannya segera dicegah oleh arman dengan segera menaiki tubuhnya.
"kak aku takut" suara memelas diandra membuat arman semakin bergairah
"maafkan aku jika membuatmu takut, tapi aku sudah tidak bisa menahannya sayang" tangan arman sudah bergerilya kemana mana, dan bibir yang tadinya menancap di leher diandra kini mulai turun kebawah dan meninggalkan beberapa bekas kepemilikan di leher. Ketika bibir arman sampai diujung dada diandra dengan segera dia menghisapnya sambil kedua tanganya meloloskan pengait branya.Diandra mulai mendesah dan meremas bantal yang berada disampingnya ketika arman meremas dadanya, namun sesekali masih terucap oleh diandra kalau dia takut, namun itu tidak membuat arman berhenti untuk menjamahnya, dan setelah keduanya polos tanpa busana arman mulai berusaha memasuki bagian inti diandra, berkali kali dia mencobanya namun masih terus saja gagal sampai waktu menunjukan pukul 5 sore ahirnya arman menyerah dengan sambil memeluk diandra didalam selimutnya.
"belum bisa sayang, terlalu sempit" ucap arman dengan nafas yang masih memburu, namun diandra hanya tertunduk menahan malu.
"sudah jam 5 ayo mandi!"
__ADS_1
"kakak saja mandi duluan, aku tadi sudah sholat ashar" arman mengangguk kemudian melepaskan pelukannya pada diandra, tapi sebelum dia beranjak dari ranjangnya dia mengecup kening diandra agak lama dan marapikan kembali selimut yang dipakai diandra
"maafkan aku sayang atas kegagalan sore ini, nanti malam kita coba lagi za" setelah berucap seperti itu segera arman ke kamar mandi membersihkan diri untuk melaksanakan sholat ashar yang sudah hampir terlambat