
Malam telah larut, namun dijalanan masih banyak terlihat lalu lalang kendaraan berkejaran, mungkin mereka orang orang yang sama seperti arman, memikul tanggung jawab orang banyak sampai tidak mengenal waktu. Mengingat ada istri yang menantinya di rumah dia memacu motornya dengan lebih cepat tanpa mempedulikan dinginnya malam yang menembus kulit meskipun sudah memakai jaket tebal, hampir jam 12 malam dia baru sampai di rumah. Semua sudah terlihat sepi, namun ketika dia memasukan motornya ke garasi suara pintu rumah terbuka dan muncullah sang ibu dengan wajah mengantuk menyambut kedatangannya.sebenarnya tadi yang mengetahui kedatangan arman adalah ayahnya karena ayahnya terbiasa tidur larut malam, namun ketika pak wijaya mendengar suara motor yang sudah dapat dipastikan bahwa itu anaknya datang kemudian pak wijaya membangunkan istrinya untuk membukakan pintu seperti biasanya.
"baru pulang kamu man?"
"iya bu" jawab arman sambil masuk kedalam rumah dan disusul oleh ibunya.
"kamu mau makan? Istrimu sudah tidur biar ibu yang siapkan!" seru ibu lagi sambil mengikuti arman yang berjalan menuju kamarnya
"nggak usah bu, tadi pas mau pulang baru saja makan, aku ke kamar dulu"
"iya,,, istirahatlah" kemudian bu asih kedapur untuk menyimpan makanan yang tadinya disisihkan untuk anaknya lalu dimasukan kedalam kulkas. Setelah itu bu asih kembali ke kamarnya untuk meneruskan istirahatnya.
Tanpa mengetok pintu arman langsung masuk kedalam kamarnya karena tau istrinya sudah tidur, dengan sinar lampu remang remang dia melihat sang istri sudah lelap diatas ranjangnya, kemudian dia menaruh tasnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak perlu waktu lama arman keluar kamar mandi dengan hanya berbalut handuk sampai pinggangnya, dia menyalakan lampu utama di kamarnya karena ingin mencari baju tidurnya, namun niatnya itu diurungkan karena melihat sang istri tidur dengan posisi yang membangkitkan gairahnya.tanpa pikir panjang lagi dia langsung menyusul istrinya diatas ranjang. Sentuhan demi sentuhan yang dilakukan arman ahirnya berhasil membangunkan diandra namun diandra hanya bisa pasrah karena posisinya yang berada dibawah kungkungan suaminya.
"kakak sudah pulang?"
"he,em" hanya itu jawaban arman karena dia sibuk menikmati posisinya saat ini, tangan dan bibirnya sudah merayap kemana mana dan itu membuat diandra tak bisa lagi berucap,keduanya kini saling menikati malam pertama mereka yang tertunda selama ini. Dengan terus berusaha ahirnya arman berhasil menyalurkan nafkah bathin pada istrinya malam ini.diandra nampak lelah dan menahan sakit kemudian arman mendekapnya dalam pelukan sambil membelai rambutnya.
"maafkan aku karena sudah tidak bisa menahannya sayang" tidak ada jawaban dari diandra hanya pelukannya yang semakin dieratkan.
"trimakasih sudah menjaganya untukku, maafkan aku jika yang pertama ini membuatmu sakit" arman terus saja membelai rambut istrinya dan sesekali menciumi keningnya sampai keduanya terlelap sambil berpelukan dalam satu selimut.
Selepas sholat subuh seperti biasanya bu asih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Sesekali bu asih melihat ke kamar arman, tidak ada tanda tanda penghuninya untuk keluar dari dalamnya sampai matahari mulai menampakan sinarnya kamar arman tidak kunjung dibuka.
"sudah jam segini mereka kok belum keluar za?" bu asih bicara sendiri namun itu tak lepas dari pendengaran pak wijaya yang sedang asyik menikmati kopinya di meja makan.
__ADS_1
"coba ibu panggil, barang kali mereka belum bangun"
"udah jam segini kok belum bangun emang gak butuh sholat subuh apa?"
"namanya juga pengantin baru bu, enggak kenal waktu" jawab pak wijaya sambil tersenyum karena sudah bisa menduga apa yang telah terjadi.dengan sedikit pertimbangan kemudian bu asih mengetok pintu kamar arman.
"man bangun, nak diandra kamu hari ini kuliah kan?" panggil bu asih sambil mengetok pintu kamar arman, sedangkan dua insan yang masih bergelung dalam selimut segera membuka matanya kemudian menatap jam yang menempel didinding atas pintu, waktu menunjukkan pukul enam pagi,diandra yang menyadarinya segera melepaskan pelukan suaminya kemudian bangun dan mencari baju tidur yang semalam entah dilempar kemana sama arman.
"tok tok tok" suara ketukan pintu terdengar lagi karena tidak ada jawaban dari dalam kamar
"iya bu, ini sudah bangun kok" jawab diandra dengan sedikit panik
" sudah siang nanti kamu telat berangkaat kuliahnya"
"kak bangun, kita kesiangan, ini sudah jam 6 lebih" namun arman hanya mengeliat saja dan malah dia menarik tangan istrinya hingga kembali jatuh kedalam pelukannya.
"nambah za" arman berucap pelan dengan suara khas bangun tidurnya dan itu berhasil membuat diandra jadi merinding.
"kak apaan sih ini sudah siang ayo bangun!"
"terlanjur kesiangan, sekali lagi za habis ini kita mandi bareng" dengan gerakan cepat arman sudah menindih istrinya, tangannya sudah kembali terampil mencari area faforitnya sedang bibirnya sibuk membungkam bibir istrinya, tidak berapa lama baju tidur yang baru saja dipakai oleh diandra kembali lolos dari tempatnya dan ahirnya pagi ini bertambah satu ronde lagi.setelah itu keduanya mandi bersama namun sudah tidak ada drama lagi.keduanya segera membersihkan diri dan segera melaksanakan sholat subuh yang telah habis waktunya, setelah itu mereka berdua keluar kamar dengan sudah berpakaian rapi. Diandra terlihat malu karena bangun sesiang ini, apalagi semalam dia sudah dipesan ibunya untuk bangun lebih awal dan membantu mertuanya mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kampus.
"ayo sarapan, ini ayah sudah nunggu dari tadi"
"iya bu" jawab diandra agak pelan karena malu sedangkan arman hanya mendongakkan kepala melihat kearah ayahnya
__ADS_1
"makanya kalo habis lembur itu pasang alarem biar bangunnya gak kesiangan" tutur pak wijaya sambil tersenyum melihat kearah anaknya namun arman hanya biasa saja menghadapi ucapan ayahnya, beda dengan diandra yang semakin malu mendengar penuturan mertuanya.
"nanti kalo suamimu pulang malem lagi kamu yang persiapan pasang alarem di"
"iya yah" jawab diandra yang tidak berani mengangkat wajahnya
"sudah ayo buruan sarapan, nanti kalian pada terlambat lagi" kemudian bu asih mengambilkan makanan untuk pak wijaya, dan itu diikuti oleh diandra.
"kakak mau makan sama apa?"
"apa saja tapi sambalnya jangan banyak banyak"
setelah selesai diandra mengambilkan makanan untuk suaminya kemudian dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri, seperti biasanya makanan faforitnya adalah sambel jadi dia mengambil sambal agak banyak.
"kebiasaan kamu itu sukanya sambel, jangan banyak banyak kalau makan sambel, banyakin sayur biar sehat"
"iya nak, jangan banyak banyak sambelnya, nanti perut kamu sakit lho" sahut bu asih membenarkan ucapan anaknya.
"tapi aku kan paling suka sama sambel, apalagi sambel buatan ibu" diandra membantah karena memang dia sangat suka dengan segala yang namanya sambel.
"ayah juga he he he" pak wijayapun ikut menyahut memberi pembelaan pada diandra
"jangan bicara terus, buruan makan nanti kamu terlambat kekampus"
"kakak yang mulai duluan" kemudian semuanya sarapan pagi bersama dengan tenang sampai diandra pamit pada kedua mertuanya untuk pergi ke kampus dan nanti pulangnya kembali ke rumahnya sendiri
__ADS_1