
Cuaca hari ini terasa sangat panas, sinar matahari yang mulai meresap kedalam kulit membuat banyak orang memilih untuk mencari pelindung, seperti halnya diandra yang menutup kaca mobilnya dan menaikan suhu ac di dalam mobilnya, tidak seperti biasanya yang membiarkan kaca mobilnya terbuka untuk menikmati angin yang berkejar kejaran menyapa bersamaan dengan lalu lalang kendaraan.
Padatnya kendaraan hari ini membuat diandra tidak bisa cepat sampai di rumah apalagi terlihat didepan seperti ada kecelakaan yang membuat macet kendaraan, diandra menikmati perjalanannya dengan ditemani musik musik faforitnya.lalu dia melajukan mobilnya ke rumahnya, tidak seperti perintah arman yang menyuruhnya pulang ke rumah ayahnya,namun dia berkirim pesan kepada suaminya kalau dia mampir ke rumah dulu untuk mengambil beberapa buku untuk persiapan tugas kuliah besok. ketika sampai rumah diandra segera membersihkan diri dan melaksanakan sholat duhur, setelah itu dia mengambil beberapa buku yang dia butuhkan dan memasukannya kedalam tasnya, namun dia tidak segera pergi ke rumah ayah wijaya tapi istirat dengan tidur siang di rumahnya dan tidak terasa waktu menunjukan pukul 4 sore, ketika bangun dia ingat perintah suaminya kalau disuruh pulang ke rumah ayahnya, dengan segara dia mempersiapkan diri dan membawa barang barang yang dia butuhkan lalu berangkat dengan mengendarai motornya. Tidak sampai hitungan jam diandra sampai di rumah pak wijaya, dan disana dia di sambut ibu asih yang sudah menanti kedatangannya karena sebelumnya arman sudah mengabari ibunya untuk nitip diandra karena dia hari ini akan pulang larut malam.
"kok baru kesini nak?"
"iya bu, tadi ketiduran di rumah" jawab diandra sambil menyalami tangan bu asih
"kamu sudah makan atau belum?"
" sudah bu, tadi di kampus bareng kakak"
"ya sudah silahkan ke kamar, ibu mau ke dapur buat siapin makan malam"
"aku bantuin ya bu! Tapi aku taruh ini dulu ke kamar" ucap diandra sambil mengangkat barang bawaannya
"gak usah nak, kamu istirahat aja"
"aku sudah gak capek kok bu, aku bantuin sambil belajar bu!" sahut diandra lagi kemudian dia pergi ke kamar untuk menaruh barang bawaannya. Setelah itu dia menyusul bu asih ke dapur untuk membantu memasak.
"tadi pagi pas sarapan kamu masak apa?"
"telur dadar sama sambal terasi seperti biasanya bu" diandra menjawab sambil senyum senyum karena teringat tadi pagi sambalnya yang agak keasinan tapi mereka berdua tetap memaknnya.
"kok senyum senyum gitu?"
"he he ,,,tadi sebenarnya sambelnya agak ke²asinan tapi kakak tetep lahap makannya"
Bu asih tersenyum mendengarnya karena dia tau mungkin itu hanya untuk menyenangkan diandra yang belum mahir memasak, karena sebenarnya arman juga tidak begitu suka dengan sambal.
"padahal biasanya kakak gak begitu suka sama sambal za bu, kakak sukanya kan sama aneka mie instan" diandra menambahi karena dia juga tahu kalau arman tidak suka sambal
"iya,,,tapi selera orang kadang bisa berubah"
__ADS_1
"ya mungkin saja bu"
"menurut kamu suamimu itu gimana? Kamu seneng gak menikah dengannya?" ahirnya bu asih bisa menanyakan langsung perihal ini kepada diandra karena dia khawatir kalau diandra terpaksa harus menikah dengan arman karena perintah ayahnya. Bu asih hanya ingin ada kebahagiaan antara keduanya karena diandra sudah dianggap sebagai putri bungsunya, kalau soal arman bu asih sudah tau kalau ada rasa cinta dihati arman untuk diandra selama ini. Namun ditanya seperti itu diandra terlihat malu dan bingung untuk menjawab.
"gimana za bu, kakak itu aneh, sebenarnya dia itu orangnya baik tapi kalau di kampus dia itu terkenal killer he he he"
"apa kamu senang menikah dengannya?"
"pokoknya kalau ayah sama ibu bahagia tidak ada alasan bagiku untuk tidak bahagia bu" ahirnya diandra menemukan jawaban untuk menutupi rasa gengsinya.
"brarti sekarang kamu bahagia"
"iya bu" tanpa sadar diandra sepontan menjawab pertanyaan bu asih dengan penuh senyum dan melihat itu buasih pun ikut tersenyum bahagia.
"arman memang berubah semenjak kita diusir dari rumah kakeknya, dulu dia anak yang ceria dan selalu ingin tahu hal hal baru, kakeknya yang memanjakannya membuat dia selalu menjadi yang terbaik"
"dan sampai sekarang kakak selalu berprestasi za bu!"
"iya, tapi sikapnya itu yang berubah, semenjak meninggalnya kakek dan kita diusir dari rumah utama dia jadi lebih dingin dan sikapnya jadi keras sama orang"
"ayah mau pakai sayur atau sambel saja?"
"apa saja boleh bu!"
"sayurnya ini tadi diandra yang masak lho yah, dijamin enak pokoknya" sahut diandra dengan mengacungkan kedua jempolnya.
"emang iya bu? Kalo gitu kasih sayur yang banyak bu nasi ayah" semangat ayah untuk memakan masakan diandra membuat diandra semakin percaya diri dengan masakannya, sedang ibu asih hanya menganggukan perintah pak wijaya sambil tersenyum bahagia melihat keakraban mereka semua.
"ayah gak pernah tahu kamu memasak tapi kok tiba tiba bisa masak seenak ini di?" puji pak wijaya setelah menyendokan makanannya kedalam mulut.
"tadi ibu yang ngajarin yah!"
pak wijaya menengok ke arah bu asih mencari pembenaran, karena sebenarnya masakan diandra biasa aja, malah jauh dari kata enak, tapi demi menghargai jerih payahnya maka pak wijaya mengatakan masakan diandra enak.
__ADS_1
"iya yah, tadi nak diandra maksa bantuin ibu di dapur, jadi ibu suruh diandra yang masak sayur. Sudah ayo makannya jangan sambil bicara!"
"iya bu" jawab diandra, kemudian semua makan dengan tenang tanpa ada perbincangan lagi, setelah selesai diandra membantu ibu membereskan meja makan kemudian mencuci piring bekas makan mereka semua.
"kakak kalau kerja juga sering pulang larut malam bu?"
"nggak sering juga, tapi kalau ahir bulan biasanya pulangnya sering larut malam, apalagi waktu ahir tahun malah pernah sampai gak pulang"
"owh gitu za bu"
"tapi meskipun begitu dia tetep terus kirim kabar, kadang sambil mengeluh juga karena pekerjaannya tidak selesai selesai" mendengar penjelasan bu asih diandra manggut manggut memahami, karena selama ini dia memang tidak tau kalau arman bekerja pada sebuah perusahaan juga.
"nasinya biarkan di penghangat saja, nanti kalau suamimu pulang barangkali mau makan, kalau sayur sama lauknya ibu simpan disini za" ibu menjelaskan ke diandra sambil menunjuk meja dapur dengan tutup saji diatasnya.
"iya bu, ini sudah selesai aku kekamar dulu ya mau nyiapin tugas kuliah buat besok"
"owh iya, jangan lupa belajar yang rajin biar dapat nilai sesuai yang diharapkan"
"siap bu, nanti sekalian aku sholat isyak di kamar saja bu gak ikut jamaah he he"
setelah selesai dengan urusan dapur diandra masuk ke kamarnya lalu menyiapkan buku buku mata kuliah untuk besok, tapi kemudian dia teringat kalau belum menanyakan kabar ayah dan ibunya yang sedang berada di bali.
"assalamualaikum?" tidak butuh waktu lama ibunya sudah menganggkat telponya
"sekarang aku di rumah ayah wijaya bu"
"ada perlu apa jam segini kok masih di rumah mertuamu?"
"kita nginep disini karena kakak hari ini lembur, aku gak dibolehin di rumah sendirian, jadi aku disuruh nunggu kakak disini"
diandra mengobrol lama dengan ibunya sampai tidak terasa waktu menunjukan pukul sembilan malam, tidak ada sahutan dari ayah diandra karena kebetulan ayahnya sedang keluar.
"cepat istirahat, ini sudah jam sembilan lebih, jangan lupa besok bangunnya jangan siang siang, bantuin mertua kamu mengerjakan pekerjaan rumahnya"
__ADS_1
"iya bu, selamat malam, cepat pulang ya, assalamualaikum!" setelah menutup telfonnya diandra bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Seperti pamitnya pada bu asih tadi diandra sholat sendiri dikamar dan setelahnya dia bersiap untuk tidur lebih dahulu tanpa menunggu suaminya pulang