
Setelah sholat subuh Virna beranjak menuju dapur hari ini dia akan membuat sarapan untuk papa dan juga adiknya, Virna merasa kembali ke masa dimana dia belum menikah suasana rumah yang Virna rindukan selama ini akhirnya dia bisa merasakannya...
bau harum dari masakan Virna membuat orang-orang yang tinggal disana datang menghampiri meja makan, Virna bisa melihat kedua laki-laki yang ada di rumah itu sudah duduk di kursi meja makan, mereka masih menggunakan pakaian Koko dan juga sarung...
Virna juga akhirnya bisa bertemu dengan adiknya, adiknya begitu tampan wajahnya sangat imut kalau saja Vano bukan anak remaja pasti mereka tidak akan percaya, tapi disayangkan Vano harus duduk di kursi roda untuk sementara waktu...
" kenapa gak ganti baju dulu " ucap Virna sambil menyimpan hasil masakannya diatas meja...
" nanggung nak " ucap Vrans
" papa sama Vano sholat berjamaah di masjid " tanya Virna
" iya kan setiap Subuh papa sama Vano usahain sholat berjamaah di masjid " ucap Vrans
" mau makan sekarang " tanya Virna
" boleh soalnya papa pagi-pagi harus ke kantor sekalian surat cerai kamu papa bawa " ucap Vrans
Virna lupa kalau papanya adalah seorang pengacara yang cukup terkenal, jadi saat pertama papanya tau papanya akan mengurus perceraiannya Virna belum sadar kalau papanya sendiri lah yang akan turun tangan waktu itu...
" iya pah nanti Virna ambil di kamar " ucap Virna
" kamu duduk juga kita makan bersama " ucap Virna
" iya pah " ucap Virna
sedangkan Vano anak itu memiliki sifat pendiam dan tak banyak bicara juga walaupun sama keluarganya sendiri, Virna bisa melihat wajah tenang Vano...
" hari ini jadwal Vano terapi, mau Kaka temenin " ucap Virna
Vano yang sedang makan sarapannya sedikit tersedak karena ucapan kakaknya, Vano menatap sang kakak, Virna hanya memberi senyuman berharap Vano mau dia antarkan itung-itung pendekatan seorang kakak ke adiknya...
" boleh " ucap Vano singkat lalu melanjutkan lagi makannya
padahal dalam hati Vano sangat senang karena kakaknya mau menemani dia terapi, Vano sangat takut kalau kakaknya akan malu memiliki adik sepertinya karena Vano cacat...
" papa senang kalian bisa cepat akrab " ucap Vrans
" itu kan harus pah kita cuma dua bersaudara kalau gak akur gak bagus juga bertengkar " ucap Virna
Vrans hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya, Vrans menatap anak laki-laki bungsunya mungkin Vano masih canggung terhadap kakak perempuannya karena baru bertemu walaupun Vano pernah melihat wajah Virna dari foto yang Vrans tunjukkan, tapi tetap saja saat bertemu langsung akan ada rasa canggung...
" papa sudah selesai, mau ganti baju dulu nanti papa tunggu di ruang keluarga suratnya " ucap Vrans
" iya pah " ucap Virna sambil membereskan bekas makan papa dan dirinya sedangkan Vano dia masih makan karena ingin menghabiskan semua sarapan yang Virna buat...
" mau tambah lagi " tanya Virna
" gak " ucap Vano singkat
" ya sudah Kaka kebelakang dulu simpan bekas piring kotor, kamu lanjutin saja makannya " ucap Virna yang ditanggapi anggukan oleh Vano...
Virna membawa piring kotor menuju wastafel, dia sangat senang karena bisa memasak untuk orang yang dia sayangi, Virna juga sesekali suka memikirkan gimana keadaan Arlan sekarang, tapi semua itu dia langsung tepis karena mana mungkin Arlan tidak bahagia sejak dia tinggalkan...
Virna melihat sang adik yang sudah selesai sarapannya dan akan pergi ke kamarnya, Virna menghampiri niat ingin membantu mendorong kursi rodanya...
" mau Kaka bantu " tanya Virna
" gak usah aku bisa sendiri " ucap Vano
__ADS_1
" apa kamu gak seneng Kaka disini " ucap Virna lirih
Vano yang akan memajukan kursi rodanya terhenti karena mendengar ucapan sang kaka, Vano memutar kursi rodanya sampai menghadap sang kaka...
" kenapa Kaka ngomong kaya gitu " ucap Vano
" Kaka merasa kamu menghindar, Kaka merasa kamu merasa terganggu akan kehadiran Kaka disini " ucap Virna
" gak gitu, aku takut kaka malu karena aku cacat, aku takut kaka gak mau nerima aku kaya mama gak mau nerima aku " ucap Vano sedih
" Kaka gak ada pikiran seperti itu malah Kaka seneng tau kalau Kaka punya saudara, jangan pernah berpikir yang tidak-tidak " ucap Virna
" makasih kak " ucap Vano
" ayo Kaka antar ke kamar buat siap-siap kita ke rumah sakit " ucap Virna
" serius kak aku bisa sendiri, lagian tangan aku masih kuat buat ngedorong kursi roda " ucap Vano
" ya sudah kalau begitu Kaka ke atas duluan " ucap Virna
" iya " ucap Vano singkat
semenjak Vano kecelakaan kamar Vano yang awalnya di atas bersebelahan dengan kamar Virna yang sekarang, sekarang kamar Vano di bawah tepatnya di kamar tamu dekat kamar ayahnya...
Virna pergi ke kamarnya untuk siap-siap, Virna selain ingin menemani Vano terapi dia juga akan memeriksakan kembali kandungannya Virna takut kenapa-napa...
setelah siap Virna keluar dari dalam kamarnya tidak lupa Virna membawa amplop coklat yang di minta ayahnya, mulai sekarang Virna akan memulai kehidupan barunya disini bersama ayah dan juga adiknya, saat sampai di bawah Virna melihat ayahnya sudah siap dengan setelan jasnya sedangkan adiknya menggunakan kaos berwarna hitam dan celana jeans sangat cocok dengan warna kulit Vano yang putih...
" papa ini suratnya " ucap Virna lalu memberikan amplop coklat yang isinya surat gugatan cerai...
" papa hari ini akan pergi ke Jakarta kamu sama Vano gak apa-apa di tinggal berdua " tanya Vrans
" gak apa-apa biar Virna yang jaga Vano, papa fokus aja sama perceraian Virna " ucap Virna
" walaupun perceraian sangat di benci sama Allah, tapi kalau salah satu dari kita sudah tidak menginginkan apa pihak yang lain harus memaksakan, itu juga tidak baik untuk ke depannya, lagian Virna ingin melepaskan luka yang ada didalam rumah tangga Virna dan juga mas Arlan " ucap Virna
" jangan sedih papa akan usahakan surat cerai kamu secepatnya akan selesai " ucap Vrans
" terima kasih papa udah mau bantuin Virna persyaratan cerai sudah Virna masukan juga di dalam map " ucap Virna
" bagus papa akan ke kantor lebih dulu lalu langsung pergi ke Jakarta, mungkin papa akan berada di Jakarta selama seminggu kalian harus akur " ucap Vrans
" iya pah " ucap Virna
" papa percaya sama kamu, Vano yang semangat terapinya sekarang giliran kakamu yang menemani " ucap Vrans
" iya pah, hati-hati disana " ucap Vano
" pasti, kalian harus saling menjaga apalagi Vano sebagai adik laki-laki harus bisa melindungi kakamu " ucap Vrans
" Vano usahakan " ucap Vano
" kalau gitu papa pamit assalamualaikum " ucap Vrans
" walaikumsalam " ucap Virna dan juga Vano barengan...
Vrans keluar dari dalam rumah hari ini dia akan menjadi pengacara pribadi anaknya, dia akan melepaskan penderitaan yang selama ini anaknya alami, dia akan menjauhkan luka terdalam itu dari anak perempuan satu-satunya itu...
sedangkan Virna membantu Vano mendorong kursi roda keluar dari rumah, jadwal terapi Vano sebentar lagi mangkanya mereka harus cepat-cepat ke rumah sakit, Virna membawa mobil sendiri karena mereka tidak memiliki supir dan tadi sebelum papanya pergi Vrans sempat memberikannya kunci mobil agar mereka kemana-mana tidak susah...
__ADS_1
" rumah sakit mana " tanya Virna
" rumah sakit kasih bunda " ucap Vano
" jalannya " tanya Virna dia masih fokus ke jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan lain...
" lurus aja nanti habis lampu merah belok kanan " ucap Vano yang ditanggapi anggukan oleh Virna...
setelah menempuh beberapa menit akhirnya mobil yang Virna kendarain sampai di depan rumah sakit, Virna mencari tempat parkir dulu setelah itu dia mengeluarkan kursi roda dari bagasi dan membantu adiknya berpindah tempat duduk...
" jadwal kamu di hari Rabu saja " tanya Virna sambil mendorong kursi roda Vano
" iya dalam sebulan aku cuma empat kali terapi " ucap Vano
" kenapa sedikit, bukannya lebih sering lebih baik dan kamu bisa cepat sembuh " ucap Virna
" dulu saat awal-awal memang sering terapi seminggu bisa tiga kali, tapi sekarang aku bisa jalan sedikit-sedikit mangkanya intens pertemuannya jadi jarang dan terapinya juga tidak sesering dulu " ucap Vano
" lantai berapa kamu biasanya terapi, apa harus temuin dokternya dulu " tanya Virna
" kita langsung ke tempat terapi saja, soalnya biasanya juga kita ketemu di tempat terapi " ucap Vano
" oh gitu, kalau begitu kita langsung kesana lantai berapa " tanya Virna
" lantai tiga " ucap Vano
Virna menekan tombol tiga saat mereka sudah ada di dalam lift, hanya ada beberapa orang yang berada di dalam lift, sesampainya di lantai tiga Vano mengarahkan Virna agar langsung menuju ruangan khusus terapi...
Virna bisa melihat kalau lantai tiga di khususkan untuk orang-orang yang ingin memulihkan kesehatan pada tulang kaki mereka, ada yang di dampingi oleh perawat kebanyakan mereka berlatih di luar ruangan, Virna masuk membawa Vano ke dalam satu ruangan besar banyak alat-alat untuk berlatih berjalan...
" ayo kesana " ucap Vano sambil menunjuk ke arah dimana ada seorang laki-laki dengan berpakaian khas rumah sakit yang berwarna biru...
Virna mendorong kursi roda milik Vano menuju arah seseorang yang Vano tunjuk tadi...
" pagi dokter Adrian " ucap Vano menyapa
seseorang yang di sapa langsung membalikkan badannya saat pertama kali yang dokter Adrian lihat ada perempuan cantik yang memakai hijab, lalu matanya melirik ke arah Vano lalu tersenyum...
" pagi juga Vano " ucap dokter Adrian ramah
" apa saya terlambat " tanya Vano
" tidak jadwal kamu pukul sembilan pagi ini baru jam delapan lima puluh menit masih ada sepuluh menit lagi untuk kamu bersiap, dan apa hari ini kamu di antar sama kekasih kamu " tanya dokter Adrian karena penasaran siapa perempuan cantik yang membantu mendorong kursi roda Vano...
" dia bukan kekasih saya dok " ucap Vano
" tidak usah malu saya paham kok kamu perlu dukungan moril dari kekasih biar cepat sembuh " ucap dokter Adrian
" serius dok perempuan cantik ini bukan kekasih saya tapi kakak perempuan saya hari ini dia yang menemani saya terapi " ucap Vano
" oh Kaka, cantik " ucap dokter Adrian sedikit malu karena memuji perempuan langsung di depan orangnya...
" terima kasih " ucap Virna sambil tersenyum membuat dokter Adrian semakin tersipu...
" kenalkan saya Adrian dokter pendamping terapi Vano " ucap dokter Adrian sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman...
" Virna " ucap Virna sambil menangkup kedua tangannya di depan dada...
bagi Virna berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya itu tidaklah Virna perbolehkan mangkanya dia lebih baik menangkupkan kedua tangannya, sedangkan Adrian langsung menarik kembali tangannya lalu tersenyum kearah Virna dia tidak tersinggung dengan sikap Virna malahan Adrian tersentuh masih ada perempuan yang menjaga haknya sebagai perempuan...
__ADS_1
thanks jangan lupa like and komen jangan lupa juga tambahin ke favorit ☺️☺️
happy reading guys 😉😉