
Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.
Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia: Kota Carran.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Wilayah Claudia adalah sebuah wilayah yang memang cukup luas tapi meskipun begitu letak tata geografisnya benar-benar tidak menguntungkan mereka, karena berada di pinggiran Kerajaan.
Pada dasarnya wilayah Claudia sudah ada dalam sejarah sejak Kerajaan ini dibentuk, dalam ceritanya jika Pemimpin pertama Keluarga Claudia mendapatkan gelar Bangsawannya karena berhasil mengalahkan serangan dari gerombolan suku Nomaden dari selatan.
Pada awalnya dia hanyalah pemimpin dari kelompok Tentara bayaran yang kecil dan tidak terkenal, tapi meskipun begitu karena kecakapannya dalam medan pertempuran dia tetap bisa menendang para suku Nomaden dari wilayah kerajaan dan langsung mendapatkan gelar Viscount dari Raja.
Walaupun begitu memang benar terdapat seseorang yang cakap dalam memimpin pasukan di medan pertempuran, tapi sayangnya dia tidak cakap dalam memimpin sebuah wilayah dan mengembangkannya.
Kedepannya seiring berjalannya waktu banyak penerus-penerus Keluarga Claudia yang sangat berbakat dalam pertempuran, tapi tetap saja banyak dari mereka yang tidak mengetahui cara memimpin sebuah wilayah, bahkan termasuk Ayah Luzia itu sendiri.
Para Ksatria Claudia yang terkenal di Kerajaan karena mempunyai doktrin militer yang keras dalam bertahan dan mempunyai motto "Bertahan dari segala gelombang" bahkan tidak bisa membantu dalam mengembangkan wilayah Claudia.
Belum cukup dengan itu masalah lain yang telah lama ada dalam wilayah Claudia juga menggerogoti wilayah Claudia, yaitu betapa konservatifnya para pendukung di wilayah Claudia. Menurut sejarah para penduduk wilayah Claudia sebenarnya hanyalah dari beberapa Suku wilayah selatan yang kabur ke utara karena kalah dalam perang suku yang di selatan.
Dengan izin pemimpin pertama Keluarga Claudia, akhirnya Beberapa dari suku yang mengungsi ke Wilayah kerajaan Draeruz mendirikan Desanya sendiri-sendiri di dalam wilayah Claudia.
Sayangnya karena tradisi suku-suku yang masih melekat pada mereka sampai keturunan-keturunanya, mereka akhirnya hidup saling mengisolasikan diri di desa dan tidak terlalu ingin berhubungan dengan desa lainya satu sama lain. Pemimpin pertama Keluarga Claudia yang melihat inj hanya cuma pasrah karena tidak tau apa yang harus dilakukan dan takut mengambil resiko.
Setelah sekian lama di saat ini para Tetua Desa saling bertemu sama lain dengan tujuan untuk mendiskusikan sesuatu atas perintah Putri dari Viscount sebelumnya. Di satu sisi mereka sebenarnya juga berat hati untuk datang ke dalam sebuah pertemuan karena mereka masih tidak suka dengan Ayah dari Luzia yang memaksa laki-laki yang sehat untuk berperang.
Meskipun begitu para tetua di satu sisi juga sadar jika mereka sendiri bisa hidup karena Pendahulu Luzia yang mengizinkan leluhurnya untuk mendirikan desa di wilayah ini setelah kalah dalam perang suku, jadi setidaknya mereka akan mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Luzia untuk saat ini karena keberadaan bandit juga semakin lama semakin mengancam.
Para tetua yang datang setidaknya hampir semuanya mempunyai umur yang terlihat sama, yaitu antara 50-60 tahun.
__ADS_1
Mereka saat ini duduk di sebuah kursi yang di depannya terdapat meja bundar yang sudah disiapkan, pertemuan ini berlangsung di sebuah halaman yang cukup luas yang berada di sekitar balai kota.
Atas perintah Sang Viscounty Luzia, pertemuan tersebut sengaja dilaksanakan secara terbuka dan terlihat di sekitar pertemuan terdapat banyak penduduk desa yang beragam suku yang sebelumnya juga secara beramai-ramai datang ke Kota Carran.
Setidaknya para tetua merasa cukup puas karena keinginan mereka untuk dilakukan pertemuan secara terbuka benar-benar dikabulkan oleh Luzia.
Untuk mencegah adanya mata-mata musuh terlihat para Pasukan Reguler penjaga kota Carran lebih memperketat penjagaannya dibeberapa titik atas perintah Luzia dan juga sepertinya para Ksatria-pun menyamar sebagai penduduk biasa dengan tujuan untuk mengawasi hal sekitar lebih mudah lagi.
Walaupun di satu sisi Luzia sudah memperkirakan jika para bandit akan lebih sibuk untuk menyisir wilayah desa yang ditinggalkan, tetapi tetap saja Luzia tidak ingin mengambil resiko sedikit-pun.
"Aku tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Viscount yang satu ini, tapi aku harap dia tidak akan mempersulit Suku ku seperti yang dilakukan oleh Ayahnya."
"Hmph , lihatlah seperti biasa suku mu selalu bertindak pengecut persis seperti yang kalian lakukan sebelumnya, mengirim pria untuk berperang yang paling sedikit, kalian tidak punya hak untuk berbicara."
"Apa katamu!? "
Beberapa dari mereka juga berusaha untuk menenangkan situasi panas yang terjadi di meja pertemuan, dengan itu pada akhirnya setidaknya perselisihan di meja pertemuan itu masih bisa dipadamkan untuk saat ini, dan mereka kembali dalam situasi menunggu Viscount Luzia yang masih belum kunjung datang juga.
Meskipun begitu........
"Hey bodoh pakai matamu,
kau menginjak kaki ku! "
"Huh!? ah, sepertinya kau dari Suku Desa Moose karena kau terlihat lemah dan rewel hanya karena kaki ku, tidak heran para bandit menyerang kalian sebab seperti biasanya yang lemah akan selalu mengincar yang lemah"
"Kau..! "
"Hey jangan berkelahi!"
__ADS_1
Tidak hanya meja pertemuan tetapi di kerumunan penonton juga terdapat perselisihan antar anggota suku, banyak dari mereka mulai saling mendorong dan mencoba menyakiti satu sama lain. Malam yang biasanya sangat sunyi di Kota Carran tiba-tiba menjadi cukup ramai walaupun bukan dalam bentuk hal yang bagus.
Para tetua yang berada di meja hanya bisa diam dan tidak melakukan apapun, justru diantara mereka juga ada yang tersenyum melihat kerumunan yang dari berbagai suku yang berkumpul, seorang para tetua melihat kekacauan itu sebagai tontonan olahraga yang di mana kau menonton sambil mendukung salah satu tim favoritmu.
"Dasar manusia-manusia yang tidak beradab, bersikaplah sopan karena Viscount Luzia von Claudia telah hadir! "
Terdengar suara teriakan yang sangat tegas garang yang mengarah ke kerumunan yang sedang kacau, seolah seperti hewan buas yang sedang mendisiplinkan anaknya akhirnya teriakan dari salah satu Ksatria dengan tampang yang sangat lugas membuat para orang-orang yang berada di kerumunan tersebut tenang kembali.
Tidak hanya karena teriakan keras dan buas dari Ksatria yang bernama Erliz, mereka juga terdiam karena di sisi Erliz juga terlihat Sang Komandan Erwin Ksatria yang tentu saja mereka semua mengenalinya karena siapa juga di wilayah ini yang tidak mengenalinya, bahkan banyak dari anak-anak mereka mengidolakan dirinya.
Meskipun begitu entah kenapa mereka merasa ada yang lebih menyeramkan dan mengintimidasi dari kedua tokoh tersebut.
Di antara kedua tokoh Ksatria tersebut hanyalah terlihat seorang Gadis kecil dengan penampilan yang pucat seperti salju pada kulit nya yang lembut walaupun kau bisa mengetahuinya tanpa menyentuhnya dan juga rambutnya yang perak mencolok pada dirinya, terlebih lagi matanya yang merah seperti darah seolah sedang mengintimidasi apa yang dia lihat di depanya.
Dengan penampilan bajunya yang juga mencolok para hadirin yang ada di pertemuan akan langsung sadar jikalau dialah Sang Viscount Luzia atau pemimpin wilayah saat ini.
Pada dasarnya mereka semua sadar kalau dia dari luar terlihat seperti Gadis Kecil Bangsawan yang normal pada umumnya, tapi entah kenapa disaat mereka melihat wajah senyum yang gadis itu ekspresikan seolah itu bukanlah sebuah senyuman yang menggambarkan hal yang baik, yang justru membuat insting para mantan Suku Nomaden ini menjadi lebih waspada dari biasanya.
Bahkan terlihat para tetua juga bisa merasakan hal tersebut, dan disaat itulah mereka semua yang berada di pertemuan mencoba untuk tidak melakukan sesuatu yang konyol.
"Yah, maaf membuat kalian menunggu dan dengan ini pertemuan antar Desa atau Suku akan segera dimulai"
Gadis itu meminta maaf atas keterlambatannya dan juga mendeklarasikan mulainya sebuah pertemuan penting dengan wajah senyuman misterius yang dia tampilkan dan posisi kedua tangan yang agak terangkat di kedua samping badannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suku Nomaden adalah berbagai komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain di padang pasir atau daerah bermusim dingin, daripada menetap di suatu tempat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1