Luzia Senki: Catatan Perang Luzia

Luzia Senki: Catatan Perang Luzia
{1-19} Interogasi dan Musuh Masa Depan?


__ADS_3

*Pov Ketiga.


Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.


Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia: Ruangan Bawah Tanah Kastil Claudia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tak peduli jika Booze memang dikenal karena reputasinya yang buruk dalam memimpin sebuah pasukan, tetapi itu juga tidak menghapus fakta bahwa dirinya dulunya juga adalah seorang Jenderal yang mempunyai ribuan pasukan di bawah kendalinya, semua itu membuat statusnya menjadi lebih tinggi dari status Rakyat Jelata. Jadi dia juga bisa dikategorikan menjadi seorang bangsawan kelas bawah.


Dengan statusnya tersebut dia bahkan beberapa kali dapat hadir dalam sebuah pesta yang diselenggarakan oleh para aristokrat Kerajaan Draeruz. Dalam pesta itu sendiri Booze sering berbincang-bincang akrab dengan beberapa bangsawan yang cukup berpengaruh, atau bahkan juga berdansa dengan para gadis bangsawan yang sangat anggun.


Namun setelah negaranya kalah dalam perang dan dengan Raja Joash mengambil alih tahta negara, status yang sangat dia banggakan tersebut akhirnya hilang seketika karena dengan alasan untuk mengurangi pengeluaran dana negara menurut Raja Joash itu sendiri.


Booze yang merasa diperlakukan secara tidak adil pada akhirnya ingin melakukan pemberontakan dengan menggunakan sisa pasukan yang dalam kendalinya, namun karena dia sendiri juga sering melakukan penyalahgunaan kekuasaan maka akhirnya dia menjadi sangat tidak populer di kalangan bawahannya tersebut. Justru sebaliknya banyak dari mereka membangkang dan bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Raja Joash langsung.


Karena merasa sudah tidak berguna lagi tanpa pasukannya, bangsawan yang dulunya sangat akrab dengan dia pun akhirnya juga menjadi tidak peduli lagi dengannya.


Setelah semua kesialannya tersebut ternyata itu belum benar-benar sampai di situ saja, karena sekarang Booze berada di sebuah ruangan bawah tanah yang berada di Kastil Claudia sebagai tempat untuk memenjarakan mereka semua.


Tentu saja karena memenjarakan mereka


semuanya di Penjara Bawah tanah Kastil Claudia maka sebagian juga disekap di Kota Carran dan dijaga oleh pasukan reguler dan pasukan gabungan suku.


"Bos roti itu punyaku!"


"Diamlah!"


Bahkan Booze sendiri tak akan menyangka jika dia sekarang harus berakhir dengan tidur berdesakan dengan para bawahannya di sebuah penjara yang bahkan juga untuk makan saja harus berebut dengan bawahannya, karena para Ksatria Claudia hanya memberika beberapa potongan roti ke setiap ruangan penjara yang isinya puluhan orang.


Sudah dua hari semenjak mereka dikalahkan di dalam sebuah pertempuran, karena mereka menjadi pihak yang kalah maka mereka harus berakhir menjadi seorang tawanan perang dengan sambil menunggu nasib mereka kedepannya akan seperti apa.


Ruangan penjaranya sendiri tampak terbuat dari banyak bongkahan batu kotak yang disusun dengan rapi di dindingnya dan bahkan lantainya sekali pun, tanpa alas sedikit pun mereka tinggal di atas lantai batu yang sangat tidak nyaman untuk ditempati, ditambah lagi suasana menyeramkan dengan kegelapan juga menyelimuti penjara tersebut.


Meskipun tempat bawah tanah itu dipenuhi oleh para tawanan tetapi tetap saja bahwa tempat itu terlihat sangat sunyi karena banyak dari mereka hanya bisa terdiam di tempat mereka dengan merenungkan banyak hal di pikiran mereka entah itu sebuah penyesalan atau sejenisnya.


Dalam kesunyian tersebut terdengar suara langkah kaki dari sisi arah pintu keluar ruang bawah tanah, secara berlahan suara itu semakin lama semakin terasa mendekat ke arah sel penjara yang di dalamnya terdapat Booze.


Orang-orang lain yang di dalam sel juga mulai mengalihkan perhatiannya ke arah suara tersebut karena mereka berharap itu adalah para penjaga yang membawakan beberapa makanan untuk diberikan kepada mereka semua meskipun di satu banyak dari mereka merasa kebingungan karena biasanya para penjaga membawa makanan hanya satu kali sehari sedangkan sebelum tadi pagi salah satu penjaga sudah membawakan mereka beberapa makanan untuk dimakan.


Akhirnya setelah menunggu dengan perasaan harapan yang sangat tinggi, orang-orang di dalam sel sangat terkejut karena bukanya seorang penjaga yang membawakan makanan justru mereka malah melihat 12 Ksatria yang berada di luar sel dengan peralatan lengkapnya.


Salah di antara para Ksatria tampak dari mereka mengambil sebuah kunci dan segera memasukkan kunci tersebut ke pintu sel dan membukanya.


Lalu seketika semua Ksatria tersebut masuk ke dalam sel dengan menghunuskan pedangnya dengan tujuan untuk menghindari perlawanan, dengan tegas mereka memerintahkan tawanan untuk minggir dari hadapannya.


"Hey lepaskan aku bodoh!"


"Diamlah atau aku akan memenggal kepalamu!"


Dari banyaknya tawanan yang berada di sel tahanan hanya Boozelah yang mereka hampiri, awalnya Booze berusaha untuk memberontak tetapi apalah daya karena yang dia hadapi adalah Ksatria dengan perlengkapan tempur yang sangat lengkapnya.


"Mau kau bawa kemana aku sialan!?"


"Sudah kubilang diam bodoh!" tegas salah seorang Ksatria yang juga dengan keras memukul wajah Booze ketika dia memberontak di saat ingin diseret.


"Akh!"


Setelah para Ksatria berhasil mengambil Booze dengan paksa mereka dengan segera menutup kembali sel penjaranya dan menyeret Booze yang terbujur lemas dengan paksa keluar dari ruangan bawah tanah tak peduli jika tindakan tersebut bisa melukai dirinya.


Di satu sisi ketika Booze sudah mencapai luar ruangan dia sebenarnya cukup lega karena dia bisa melihat kembali cahaya matahari yang terang setelah disekap beberapa lama di tempat yang sangat gelap dan lembab sebelumya.

__ADS_1


Di luar Booze juga bisa melihat betapa sibuknya orang-orang yang berada di kawasan Kastil Claudia entah itu sedang latihan bertarung atau sibuk dengan hal yang lainnya. Tampak terlihat juga beberapa Ksatria melemparkan sesuatu ke tumpukan senjata yang sebelumnya milik para bandit di pojok, dengan tujuan semua itu untuk dijual kembali.


Ketika orang-orang yang di sekitar yang sebelumnya terlihat sibuk mulai mengarahkan pandangannya ke arah Booze, tentu saja itu bukan sebuah tatapan yang positif alias sebuah tatapan dingin. Bahkan ada diantara mereka yang meludah Booze yang sedang diseret lemah.


Tidak bisa merespon banyak tentang perlakuan tersebut, Booze hanya bisa diam dan menyimpan emosi yang sangat meledak ke dalam hatinya tanpa bisa melakukan apapun lagi.


* * * * *


Setelah melewati lautan negatif di halaman Kastil Claudia, akhirnya Booze yang dibawa dengan paksa berada di depan sebuah gubuk kecil sedikit di luar Kastil Claudia yang bertembok. Tanpa menunggu lama para Ksatria yang membawanya langsung masuk ke dalam Gubuk kayu tersebut.


Di dalam gubuk itu tampak sangat sempit yang bahkan membuat dari 12 Ksatria yang membawa paksa Booze hanya sekitar 5 saja yang dapat masuk ke dalamnya, karena di gubuk tersebut juga sudah diletakkan sebuah meja dengan ukuran yang sepertinya sudah muat untuk orang dewasa berbaring di atasnya.


Dan sepertinya benar saja karena Booze langsung diletakkan di meja tersebut oleh kelima Ksatria Claudia, namun ketika sudah dibaringkan di meja tersebut terlihat para Ksatria mengikat Booze dengan kuat menggunakan rantai agar dia tak dapat bangun dari meja itu.


"Hey lepaskan aku bodoh, hey!" teriak Booze dengan penuh emosi.


Booze yang sebelumnya hanya bisa terbujur lemah pun kembali memberontak karena dalam perasaannya sendiri ini bukanlah hal yang bagus akan terjadi. Tak peduli berapa kali Booze berteriak mereka tidak melepaskan ikatannya tersebut.


"Bukankah kau terlalu semangat? jangan khawatir kita mempunyai banyak waktu"


Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari pintu masuk Gubuk, Booze yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu dan tampak seseorang gadis kecil dengan rambut perak dengan mata merahnya menatap dirinya dengan mengerikannya. Bahkan Booze yang dulunya juga dianggap pemberani walaupun sering dianggap kecerobohan pun hampir mengalihkan pandangannya.


Booze sendiri setelah kekalahannya sudah mendapatkan informasi jika nama gadis tersebut adalah Luzia, seorang anak perempuan dari Viscount sebelumnya.


"Sudah tenang? baguslah jika begitu" ucap Luzia dengan wajah polosnya.


"Wah wah wah lihatlah siapa yang datang, seorang anak anjing busuk dari anjing busuk lainnya" jawab Booze ke Luzia tanpa takut sama sekali.


"Kau jaga mulutmu!"


Tentu saja ketika melihat tindakan yang sangat tidak sopan tersebut para Ksatria tak akan diam saja, terutama Erliz yang berada di sisi Luzia daritadi namun Luzia dengan sigap langsung menghentikan mereka.


"Kau pikir aku peduli dengan itu!? kalian semua sama saja, sama-sama brenseknya!" dengan emosi yang meledak-ledak Booze mengucapkan kekesalannya tersebut.


Setelah melihat respon buruk dari Booze terlihat Luzia hanya bisa menghela nafas dan mulai mendekati Booze yang sedang terbaring di meja. Namun tentu saja jika tubuh Luzia itu terbilang cukup pendek dari meja yang di depannya, Erliz dengan segera langsung berlari keluar dari gubuk dan terlihat kembali dengan membawa sebuah batu yang akhirnya digunakan Luzia sebagai pijakan, bahkan Booze yang melihat itu cukup agak terkejut.


"Iya iya terserah denganmu, Kapten Booze. Yang lalu biarlah berlalu, bukankah begitu?" ucap Luzia ke Booze.


"Jika memang begitu kenapa kau tidak melepaskanku?" Tanya Booze dengan percaya dirinya.


"Apa maksudmu Kapten Booze? maafkanlah musuhmu tapi jangan lupakan namanya, tidakah kau pernah mendengar kata-kata itu? terlebih lagi kau sudah membunuh orang tuaku"


"Huh? lalu apa yang kau inginkan sekarang?"


"Melihat situasinya kau harusnya sudah tau Kapten Booze, cukup ucapkan semua hal yang tahu tentang hal-hal dibalik kelompok banditmu dan terutama bagaimana caranya kau bisa menculik kedua orang tuaku"


"Whahaha, lalu apa yang akan kau lakukan jika aku tidak peduli dengan itu, huh? menyanyikanku sebuah lagu tidur?" ucap Booze dengan nada mengejek.


"Yah, sudah kuduga tak akan semudah itu. Erliz akan kuserahkan semuanya kepadamu."


"Baik Nona Luzia, aku akan melakukan semuanya berdasarkan apa yang anda ucap sebelumnya. " tampak dengan senyuman kebahagiaan Erliz mengucapkan itu.


Dengan segera Erliz dengan segera langsung mengambil ember yang dipenuhi oleh air dan juga sebuah benda yang bentuknya seperti corong, sedangkan Luzia juga setelah itu mulai turun dari pijakanya dan mulai menuju pintu keluar gubuk.


"Hey hey hey apa ini? seember air? betapa baiknya dirimu untuk sampai tau jika aku sudah kehausan" ucap Booze yang terlihat masih ingin sok kuat.


"Begitukah? selamat bersenang-senang jika begitu." balas Luzia.


Di saat itu Booze benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya kedepannya yang akan penuh penyiksaan selama berturut-turut lamanya.


* * * * *

__ADS_1


{Luzia Pov}


Sudah 2 hari lamanya sejak aku bertemu dengan Ketua bandit tersebut, namun aku belum mendapat kabar dari Erliz selama dua hari ini. Sepertinya dia benar-benar sangat bersenang-senang.


"Nona Luzia, anda sama sekali belum istirahat akhir-akhir ini."


"Yah, aku baik-baik saja Clotte jadi jangan khawatir."


Aku sekarang sedang duduk di sebuah jendela di kamarku dengan pakaian piyama putihku yang sangat sederhana. Karena kejadian sebelumnya di saat menemukan Mayat kedua orang tua Luzia, aku merasakan tubuhku menjadi sangat lemas dan pikiranku menjadi sangat tidak karuan lagi seolah itu bukan Raisa atau diriku yang sebenarnya


Aku tidak sepenuhnya yakin tapi aku rasa jika Luzia yang asli berada di tubuhnya dia juga pasti merasakan apa yang kurasakan sekarang, karena itu adalah reaksi yang wajar jika seseorang menemukan orang tuanya yang sangat dia cintai mati secara mengenaskan.


Namun ada yang lebih membingungkan lagi menurutku karena aku sendiri pada dasarnya belum pernah menemui orang tua Luzia, maka seharusnya aku tak terlalu memikirkan kematian mereka. Meskipun begitu aku merasakan sebuah emosi ingin mengambil alih tubuh ini ketika setelah menemukan kedua orang tua Luzia.


Bahkan sejak hal tersebut setiap malam aku mulai menangis tanpa sebab yang membuatku menjadi susah tidur dan ketika aku tidur sekali pun aku selalu diberi mimpi tentang kasih sayang kedua orang Luzia sampai-sampai ketika aku bangun dari mimpi itu beberapa air mata sudah mengalir sebelumnya.


Jika emosi itu benar-benar mengambil alihku maka siapa siapa diriku yang sebenarnya? Raisa? atau Luzia? aku sendiri bertemu dengan Luzia yang asli terakhir kali di sebuah tempat yang sangat asing, ini sungguh membuatku kebingungan.


"Nona Luzia, bolehkah saya masuk?"


Akhirnya hal yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba karena mungkin beberapa informasi yang dia dapatkan akan menjawab kebingunganku.


"Erliz? masuklah." ucapku yang mengizinkan Erliz untuk masuk.


Seketika tampak Erliz mempunyai aura yang terlihat seperti melakukan hal yang menyenangkan sebelumnya masuk kedalam ruanganku, sedangkan Clotte dengan sendirinya langsung keluar seolah dia tahu percakapanku dengan Erliz bukanlah hal yang harus dia dengar.


"Jadi?"


"Itu luar biasa Nona Luzia! aku tidak pernah melihat metode penyiksaan dan interogasi yang seefektif ini!" jawab Erliz dengan gembiranya.


"Begitu ya.... "


Yah, metode yang aku berikan kepada adalah penyiksaan dengan cara Water Purge. Itu adalah sebuah penyiksaan dengan cara memberikan korbannya air secara berlebihan sampai-sampai dia merasa sangat tidak nyaman.


Semua itu karena jika dirimu minum terlalu banyak air akan dapat mengurangi kadar natrium dalam darah ke tingkat yang sangat rendah, menyebabkan masalah ringan hingga mengancam jiwa. Namun tentu saja aku memberikan takaran yang hati-hati agar tidak terlalu merusak organ dalam Booze secara berlebihan dan hanya memberinya efek psikologis yang berkesan.


"Lupakan tentang itu Erliz, jadi apa informasi yang kau dapatkan Erliz?"


"Kau tidak akan mempercayainya, Nona Luzia" ucap Erliz yang tiba-tiba dengar wajah seriusnya.


"Jadi apa itu?"


"Bagaimana cara orang tua anda menghilang secara misterius adalah karena seorang Penyihir dengan kekuatan mantra pemanggilannya, walaupun Booze sendiri tidak yakin karena dia tidak sendiri tidak melihatnya secara langsung tetapi salah satu anak buahnya yang sedang ingin buang air kecil pernah secara tidak sengaja melihat penyihir itu sedang melakukan ritualnya"


"Penyihir!?"


"Aku juga bereaksi seperti itu sebelumnya tapi hal yang mengejutkan belum sampai di situ karena penyihir itu tidak mengincar orang tua Nona Luzia sama sekali"


"Lalu kenapa!?" aku bertanya dengan tanpa memperdulikan apapun lagi.


"Penyihir ingin mengincar anda tetapi justru malah mendapatkan orang tua anda entah karena suatu kesalahan dan pada akhirnya memberikan orang tua anda ke para bandit, Booze sendiri bilang jika penyihir itu memberitahunya jika dia ingin anda karena anda mempunyai apa yang seharusnya miliknya." dengan sedikit nada tidak yakin Erliz memberitahuku.


"Benar-benar tidak bisa dipercaya...." bahkan aku tidak bisa berkata banyak lagi.


"Aku juga merasa seperti itu, Nona Luzia. Seolah semua itu terdengar seperti rumor palsu yang beredar di kelompok bandit saja, namun melihat bagaimana orang tua anda menghilang dalam satu malam secara misterius membuat ini semua agak masuk akal." tampak Erliz sendiri tak ingin mempercayainya namun dia sendiri juga merasa ada yang sangat ganjal.


Ini memang menjawab beberapa kebingunganku sebelumnya tetapi juga memberiku banyak pertanyaan baru karena penyihir sendiri di dunia ini hanya ada tercatat di artefak kuno dan keberadaannya masih belum bisa benar-benar dibuktikan.


Lalu apa maksudnya aku mempunyai hal yang seharusnya dia punya?


Jika dia memang penyihir apakah dia yang memanggilku ke dunia ini? lalu mengapa?

__ADS_1


__ADS_2