
Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.
Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia: Di Luar Kota Carran.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku sendiri pada awalnya sudah menduga tentu saja bahwa dalam akhir sebuah pertempuran akan terdapat banyak mayat yang bergeletakan di mana-mana dan juga tercium bau darah di udara sekitar area pertempuran itu sendiri.
Namun tetap saja aku adalah orang yang dibesarkan di dunia yang setidaknya cukup minim yang namanya sebuah perang, jadi melihat mayat yang begitu banyaknya akan sedikit membuatku cukup syok tak peduli kau mencoba untuk beradaptasi di awalnya. Yah, meskipun begitu aku harus tetap menampilkan sebuah sikap yang tegar karena itu tak baik jika bawahanmu melihat dirimu dalam kondisi yang lemah.
Aku sekarang berada di perkemahan musuh yang semalam terdapat sebuah peristiwa pembataian, terimakasih kepada pasukan Dayan yang menjadi senjata utama kita untuk menjadi pasukan kejut kepada musuh.
Sebenarnya taktik yang ku pakai di sini cukup simpel, kau cukup harus mengalihkan perhatian musuh dengan pasukan yang terlihat seperti sebuah pasukan utama sedangkan pasukan "utama" lainnya keluar dari posisi yang tak di duga musuh, hal ini cukup hampir sama dengan taktik Jerman mengalahkan Perancis, karena Perancis sendiri menganggap bahwa tidak mungkin pasukan Jerman bisa melewati Hutan Ardennes di perbatasannya. Perancis yang terkecoh bahwa mereka kira pasukan utama Jerman berada di Belgia akhirnya terkepung oleh Pasukan Jerman yang melewati Hutan Ardennes di selatan mereka.
"Nona Luzia jika anda terus bengong seperti itu anda akan tersandung" ucap Lilyana yang berjalan di sisiku.
"Ah, maafkan aku."
"Akhir-akhir ini kau terlalu sering bengong."
"Yah kau tau, banyak hal terjadi akhir-akhir inj"
"Mungkin anda terlalu banyak bengong juga karena umurmu sudah memasuki waktunya" Lilyana mengucapkan itu sambil bersenyum kecil.
"Apa maksudmu?"
"Kau akan mengerti jika kau sudah dewasa, hehehe~"
"Huh?"
Walaupun aku sendiri tidak bisa menebak pola pikir Lilyana tapi aku sendiri lebih memilihnya untuk menjadi pendampingku di saat aku berkeliling di daerah pasca pertempuran daripada Erliz yang menjadi pendampingku, jika dia menjadi pendampingku saat ini mungkin tanpa berpikir apapun lagi dia langsung menggendongku dengan alasan agar aku tidak kelelahan.
Terlihat banyak penduduk di area sekitar sedang melakukan kesibukannya masing-masing, terutama untuk mencegah adanya wabah penyakit baru maka tumpukan mayat para bandit akhirnya dibakar saja karena kita sendiri juga sudah terlalu lelah untuk mengubur mereka semua.
Beberapa juga aku beri perintah untuk mengumpulkan rampasan perang seperti pedang, busur, perisai, armor, dan lain-lain. Kau tau perang itu tidak baik untuk bisnis, jadi setidaknya kita bisa mengumpulkan itu untuk di jual lagi dan menutupi kerugian kita walaupun kualitasnya tidak terlalu baik.
"Lihatlah Nona Luzia, bukankah anak itu tidak asing?" akhirnya ucapan Lilyana menghentikan kita berkeliling.
__ADS_1
"Kau benar."
Seperti yang diucapkan oleh Lilyana terlihat seseorang yang cukup tak asing di mataku sedang diikat oleh tali di tubuhnya, dia adalah anak laki-laki yang sebelumnya hampir membuat kita ketahuan di saat dalam misi penyusupan sebelumnya. Terlihat juga di sampingnya terdapat seseorang pemuda pria dengan penampilan seperti di umur 20-an.
Tanpa alasan yang jelas Aku dan Lilyana dengan segera mulai menghampiri mereka yang sedang dalam posisi berlutut dan diikat dengan kuat oleh para pasukanku. Ketika sudah berada di dekat mereka, Pria pemuda tersebut memandangiku dengan wajah yang putus asa sedangkan ntah kenapa bocah yang sebelumnya kita pernah bertemu memandangiku dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
"Siapa nama kalian?" tanyaku kepada mereka.
"Namaku adalah Fendre.... "
"Aku Kaba"
"Hey aku tak tau kenapa, tapi kau melihaku seolah aku telah membunuh keluargamu." aku pun dengan penasaran menyampaikan apa yang di benaku kepada bocah yang bernama Kaba.
"Di Negaraku Aliansi Orte percaya bahwa orang yang mempunyai mata merah itu pembawa sial, jadi jangan mendekatiku!" ucap Kaba dengan nada mengusir.
Jika aku tidak salah Aliansi Orte adalah sebuah negara yang berada di bagian selatan benua Drakea, negara mereka sebelumnya adalah sebuah Kerajaan namun karena Raja dari kerajaan tersebut terlalu hidup mewah dan banyaknya korupsi akhirnya terjadi sebuah kemarahan di berbagai pihak yang membuat para saudagar pedagang melakukan sebuah pemberontakan yang pada akhirnya para pedagang itulah yang akan menjadi pemimpin negara.
Melihat perawakannya yang cukup berbeda daripada penduduk wilayah di Negara ini, aku sendiri tidak terlalu terkejut jika dia benar-benar dari negara tersebut.
"Hey Kaba kita berada di pihak yang kalah jadi minta maaf kepadanya dan tutup mulutmu!" orang yang sebelumnya memberi tahu jika namanya adalah Fendre berusaha untuk menasehati Kaba.
"Hey itu tidak ada hubungannya dengan tubuhku!" aku sendiri tak tahu mengapa tetapi ketika dia menyinggung tubuhku aku langsung spontan menjawabnya.
"Whahahahahah!" sedangkan di saat aku sedang terkejut dengan sikap Kaba, Lilyana justru malah menertawakanku dengan kerasnya.
Namun di balik sifat Kaba yang sangat blak-blakan, pria yang bernama Fendre di sisinya terlihat sendikit cukup cerdas memahami situasi yang dialaminya dan aku sendiri melihatnya benar-benar terlihat tidak cocok sebagai seorang bandit.
"Kau yang bernama Fendre, dari mana asalmu?" karena penasaran aku pun memberinya sebuah pertanyaan tentang dirinya.
"Aku? aku duluan adalah seseorang penjahat kecil dari daerah kumuh lalu Bos Booze mengajaku membentuk kelompok bandit dan karena dia mengakui kecerdasanku akhirnya dia menganggapku sebagai ajudan atau apa karena aku sendiri tidak mengerti posisi seperti apa itu"
"Jika kau berada di militer posisi ajudan untuk jendral itu cukup berpengaruh, jika kau sampai-sampai dianggap seorang ajudan di bandit karena kecerdasanmu kenapa kau sebelumnya tidak menyadari bahwa ini sudah terlihat jelas sebuah jebakan?" lagi-lagi aku memberinya sebuah pertanyaan.
"Aku sendiri sudah memperingatinya berkali-kali, tetapi karena sudah sampai sini aku yakin kau sudah bisa menebaknya sendiri" ucap Fendre sambil terdengar putus asa.
"Ah, pada akhirnya karena keegoisannya dan kecerobohannya itulah yang membawa kalian ke semua ini."responku kepada jawaban Fendre.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak menyangka akan mendengar itu dari seorang gadis kecil." ucap Fendre setelah mendengar pernyataanku.
Setelah perbincangan singkat tersebut aku pun mulai melihat sekitar untuk mencari seseorang yang ingin aku minta tolong untuk sesuatu, di saat itulah Kakek Wiz yang sedang mengumpulkan rampasan perang berjalan di sekitarku. Setelah memanggilnya Kakek Wiz mulai mengalihkan pandangannya kepadaku dan menghampiriku dengan beberapa rampasan perang yang dibawanya.
"Kakek Wiz, sudah cukup untuk mengumpulkan rampasan perangnya lalu beristirahatlah tetapi sebelum itu bisakah kau memberi mereka minum?"
"Aku akan melakukannya dengan segera, Nona Luzia."
"Terimakasih, Kakek Wiz."
Setelah memberi memberi arahan kepada Kakek Wiz, Fendre dan Kaba yang melihat itu memperlihatkan wajah yang terkejut. Namun karena urusanku di sini sudah selesai akhirnya Aku dan Lilyana kembali berkeliling untuk melanjutkan tugas inspeksiku di area pasca pertempuran.
Semakin kau berjalan ke daerah pusat area pasca pertempuran semakin menyengat pula bau mayat yang dikar oleh pasukanku, karena tidak kuat aku pun menutup hidungku dengan tanganku. Sebaliknya Lilyana yang berada di sisiku benar-benar tidak terpengaruh oleh bau yang sangat menyengat ini, bahkan dia sempat-sempatnya senyum kepadaku. Para Ksatria memang menyeramkan.
"Nona Luzia!" terdengar suara seseorang pria memanggilku dari kejauhan, dia adalah Sir Erwin yang sedang mendata keadaan setelah pertempuran.
Dengan tubuhnya yang sangat maskulin dan suara armor yang berbunyi ketika berjalan, Sir Erwin mendekatiku. Aku yang melihat itu sebenarnya berasa ingin segera mundur dan menjauhinya.
"A-ah, S-Sir Erwin." lagi-lagi dengan perasaan gugup aku merespon panggilan tersebut.
"Nona Luzia kau tidak apa-apa?" tanya Sir Erwin kepadaku.
"Lupakan aku tidak apa-apa, jadi apa kau punya sesuatu untuk dilaporkan kepadaku?"
"Tentu saja, untuk saat ini aku akan melaporkan jumlah korban di kedua pihak" terlihat setelah berbicara Sir Erwin membuka sebuah gulungan kertas dan mulai akan membacakannya kepadaku.
"Baiklah, kupingku sudah kupasang untuk itu."
"Jumlah korban para bandit sendiri diperkirakan banyak dari mereka meninggal di pertempuran dan sekitar 900 dari mereka menjadi tawanan kita, lalu..... " Sir Erwin terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan akhirnya, benar-benar tidak cocok untuk pria dengan perawakan yang sangat maskulin.
"Lalu apa, Sir Erwin?"
"Sekitar 72 tewas di pihak kita."
"Begitu ya.... "
Aku sendiri tidak terlalu berharap jika pertempuran ini tak akan memakan jiwa di pihakku, namun tetap saja meminggul sebuah tanggung jawab seperti ini benar-benar perasaan yang cukup asing untukku.
__ADS_1
"Jadi apa yang akan kita lakukan dengan para tawanan, Nona Luzia?" Sir Erwin memberiku sebuah pertanyaan yang aku sendiri sebenarnya cukup tidak yakin.
"Aku belum memutuskannya, kita sendiri tidak mempunyai banyak pasokan dan tempat untuk merawat mereka di sebuah penjara.'