Luzia Senki: Catatan Perang Luzia

Luzia Senki: Catatan Perang Luzia
{1-18} SIAPA AKU?


__ADS_3

Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.


Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia: Hutan Agress.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Apa anda kelelahan, Nona Luzia?"


"Tenang saja aku tidak selemah itu, Erliz."


"Anda tak perlu memaksakan diri anda Nona Eliza, karena punggungku sudah siap untuk menggendong anda"


"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa!"


Sekarang dengan didampingi oleh Clotte, Erliz, Frende dan Kaba aku berada di Hutan Agress untuk mencari keberadaan orang tuaku yang kata Frende mereka disekap di markas persembunyian para bandit.


Ini adalah hutan yang cukup besar terletak di pinggiran timur wilayah Claudia. Itu sudah ada sejak siapa pun bisa mengingatnya. Dilaporkan bahwa hutan ini sebelumnya ya seperti hutan besar seperti biasanya, sampai para bandit itu menjadikan wilayah ini sebagai basis utama mereka.


Semenjak aku memberi mereka minum sebelumnya, Kaba dan Frende menjadi lebih mudah diajak untuk kerja sama bahkan mereka mengajukan diri mereka sendiri untuk menjadi pemanduku di markas mereka.


Sedangkan Erliz dan Clotte entah kenapa mereka benar-benar ngotot untuk ikut denganku, jadi pada akhirnya aku harus meninggalkan Lilyana di Kota Carran untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di sana, sungguh dua orang yang sangat merepotkan.


Ngomong-ngomong sungguh tidak mengherankan jika para Ksatria Claudia sendiri tidak bisa pergi masuk ke wilayah hutan dan menghancurkan markas para bandit, karena di wilayah ini sungguh sangat tertutup bahkan cahaya matahari hanya terlihat sedikit bisa menembusnya, jadi banyak tanah yang berlumpur dan tidak merata. Tempat yang benar-benar tidak cocok untuk dilewati oleh para Ksatria yang mempunyai armor berat tetapi tempat yang sangat strategis untuk para bandit.


Andaikan mereka lebih bisa menahan nafsu dan kepercayaan diri mereka lalu lebih memilih untuk melanjutkan serangan gerilya melawan para Ksatria di hutan ini. Yah, walaupun jika itu terjadi aku masih mempunyai taktik anti-gerilya yang banyak dari kehidupanku sebelumnya.


"Hey bodoh sok pintar, kapan kita segera sampai di persembunyianmu!? lihatlah Nona Luzia sudah terlihat kelelahan" teriak Erliz kepada Fendre yang berada di depan sebagai pemandu jalan.


"Diamlah orang mesum, sebentar lagi kita akan segera sampai jadi tutup mulutmu sedangkan aku bisa lebih fokus memandu kalian."

__ADS_1


"Hmhp, orang-orang barbar seperti kalian tidak akan mengerti yang namanya sebuah kesetiaan dan kehormatan. " dengan percaya dirinya Erliz mengucapkan itu.


Oy oy oy oy, Erliz. Apa yang diucapkan oleh Fendre itu benar, aku ragu jika tindakanmu itu adalah benar-benar untuk kesetiaan sedangkan aku melihatnya lebih dari itu.


"Aduh!"


"Apa kau tidak apa-apa? sini biar aku bantu."


Sebaliknya di sisi lain Clotte dan Kaba justru sepertinya malah terlihat akrab, bahkan Kaba membantu Clotte yang terjatuh dengan kerennya. Mereka berada di usia yang sama jadi mungkin karena itu mereka bisa lebih cepat akrab. Tunggu, usiaku sendiri juga tidak jauh dari mereka, sungguh perasaan ter-deskriminatif macam apa ini.


"Kita sudah sampai!" Fendre yang dari depan teriak kepada kita semua yang berada di belakangnya.


Terlihat di mata kita semua melihat sebuah lahan yang tidak terlalu luas tetapi juga tidak terlalu sempit dengan banyak pagar kayu kecil di sekitarnya, di dalam pagar itu terdapat banyak peralatan-peralatan untuk menopang hidup para pasukan bandit di dalam hutan seperti panci untuk masak dan sejenisnya.


Namun yang lebih menarik perhatian kita adalah sebuah goa yang berada di tengah-tengah lahan tersebut, tanpa berlama-lama lagi Fendre pun langsung mengajak kita untuk masuk ke dalam goa itu.


Kuil kecil yang rusak di hutan suram menandai pintu masuk ke goa mencurigakan ini. Di sisi dinding goa yang terbuat dari batu terlihat banyak obor yang memungkinkan dirimu untuk melihat sisa-sisa dari apa yang ditinggalkan oleh para bandit.


"Apa yang kau harapkan dari tempat yang dulunya adalah markas orang-orang barbar?" dengan sinisnya Erliz mengucapkan itu.


Kita semua secara perlahan berbaris maju, lebih dalam masuk ke goa tersebut. Aku melewati beberapa ruangan dan lorong lagi, yang sebagian besar mungkin mengarah ke kedalaman lain dari goa ini. kita semua akhirnya berhasil mencapai ruangan terakhir. Pintu logam lebar menghalangi jalan kita. Berbagai simbol ganjil ada di mana-mana, entah bagaimana terlihat tidak tersentuh oleh waktu dan unsur-unsurnya.


Ketika kita membuka pintu tersebut sungguh dikejutkan kita semua bahwa tampak terlihat sepasang laki-laki dan perempuan terikat duduk di sebuah kursi kayu, kondisi mereka benar-benar sangat mengenaskan. Banyaknya luka-luka di tubuh mereka membuktikan bahwa mereka sebelumnya di sudah disiksa secara terus menerus. Lebih parahnya lagi, sudah dipastikan mereka berdua sudah tidak bernyawa.


"Mereka adalah orang tuamu....." ucap Fendre dengan nada menyesal.


"Dasar orang barbar!" Erliz yang mendengar ucapan Fendre tentu saja langsung menyergapnya dan bahkan memukuli wajahnya berkali-kali.


Itu bukanlah hal yang aneh, mengingat mereka adalah tuanya dan sekarang kondisinya bahkan kau bisa bilang bahwa hewan pun tak akan diperlakukan seperti ini. Clotte tentu saja yang melihat ini juga langsung membalikkan badanya dan pada akhirnya muntah-muntah.

__ADS_1


Aku? pada dasarnya aku sama sekali belum pernah bertemu dengan orang tua Luzia jadi aku sendiri tidak tau harus berbuat apa, tunggu.....


"Lihat Luziaku sudah bisa berjalan, suamiku."


Tunggu apa ini? ingatan Luzia? sakit, aku tidak tau dadaku entah kenapa sangat sakit....


"Ayah, apakah mata merah ini adalah mata monster?"


"Siapa yang bilang itu Luzia? tak peduli apa kata orang-orang kau adalah dirimu, dan ayah selalu menyayangimu. "


Hentikan, tolong hentikan ingatan ini menyakitiku. Aku sendiri bahkan di kehidupan sebelumnya tak tahu apa arti kasih sayang orang tua, jika ini terus berlanjut aku akan.....


"Selamat ulang tahun yang ke-10 Luzia!"


"Terimakasih, Ayah Ibu. "


Tolong sudah hentikan ini.....


Seketika semua ingatan Luzia tentang orang tuanya muncul di kepalaku tidak peduli aku dulunya bahkan belum bertemu dengan mereka, namun semua ingatan ini benar-benar sangat nyata. Bahkan ini terasa jika aku pernah hidup bahagia dengan mereka, jika begini terus lalu siapakah aku ini? Luzia? atau Raisa?


Di saat aku sedang bertanya-tanya di benaku, air mataku tiba-tiba mengalir di pipiku dengan derasnya, aku benar-benar tidak tau cara menahan perasaan ini.


"Nona Luzia!" Clotte yang melihatku sedang menangis langsung melompat dan memelukku dari belakang.


"Aku akan membunuhmu!" Sedangkan Erliz sedang sibuknya memukuli wajah Fendre daritadi.


"Hentikan itu Erliz!"


"Ta-tapi Nona Luzia.... "

__ADS_1


"Kita kembali ke Kota Carran dan menguburkan mayat mereka, lalu baru kita beri mereka semua keadilan yang sebenarnya"


__ADS_2