Luzia Senki: Catatan Perang Luzia

Luzia Senki: Catatan Perang Luzia
{1.7} Kota Carran


__ADS_3

Setelah aku sudah berdandan akhirnya aku dan Clotte keluar dari kamar ku, di luar kamar atau lebih tepatnya di lorong terlihat sekitar sepuluh Ksatria yang sudah menungguku dan salah satu dari Ksatria itu juga terdapat Erliz yang juga menungguku. Erliz setelah melihat ku dari kamar dengan bergegas langsung menghampiri ku.


"Yang Mulia, kami dipilih dan diutus oleh Sir Erwin untuk mengawal ke Kota Carran anda hari ini, jadi jika anda sudah siap kami akan mengantarkan anda ke kereta kuda yang sudah kita siapkan." ucap Erliz yang dalam posisi berlutut kepadaku.


"Ah, ya.... "


Di rumah ketika aku masih hidup aku juga mengoleksi banyak film historical dan aku juga sering menontonnya di waktu luang ku, melihat scene di mana seseorang pengikut berlutut kepada tuan-nya sudah cukup sering untuk ku, tetapi meskipun begitu aku sepertinya masih sedikit gugup ketika Erliz berlutut kepada ku.


Dengan didampingi sepuluh Ksatria aku dan Clotte segera berjalan melawati lorong yang panjang di kastil menuju ke kereta kuda yang sudah disiapkan di depan kastil, aku sendiri sudah berpesan kepada Sir Erwin jika aku tidak ingin kereta kuda yang terlihat mewah karena itu akan membuat pandanganku kepada para rakyat ku menjadi buruk.


Terimakasih kepada Sir Erwin karena seperti apa yang kuminta kereta kuda yang akan kunaiki cukup sederhana dan tidak terlalu mencolok, karena aku seorang bangsawan jika menaik kereta kuda yang juga terlalu buruk juga akan merusak martabatku, hidup sebagai bangsawan memang penuh dengan serba salah.


Dengan dibantu berpegangan oleh Erliz ketika menaiki tangga kereta kuda, aku akhirnya masuk ke dalam kereta tersebut. Di dalam kereta ini syukurlah terlihat cukup nyaman walaupun aku tidak yakin, terlihat dua tempat duduk dengan posisi yang saling berhadapan dan Clotte mengambil tempat duduk yang berlawanan denganku atau lebih tepatnya di belakang kusir pas.


Ketika kami sudah memberikan aba-aba siap berangkat kepada kusir yang di depan akhirnya kendaraan kamipun mulai segera berjalan.


Terlihat juga dari jendela para Ksatria mengawal ku di samping dan belakang kereta kuda kami.


Sebelumnya aku bertanya kepada Clotte dengan hati-hati butuh waktu berapa lama untuk sampai ke pusat kota menggunakan kereta kuda, dia menjawab setidaknya hanya butuh waktu kurang dari satu jam karena jalan dari kastil ke pusat kota adalah jalan yang lebih sempurna daripada jalan yang lain di wilayah Viscount ini.


Walaupun dia bilang memang jalan yang terbaik tapi tetap saja standar kualitas jalan di dunia ini sangat rendah sekali, bahkan hanya beberapa saat saja sesudah kereta kuda ini berangkat pantat ku terasa sangat sakit karena goncangan kendaraan ini, tidak peduli walaupun terdapat bahan empuk di tempat duduk ini.


"Omong-omong Clotte, apa kau tau di mana Sir Erwin? aku belum melihatnya dari pagi tadi" tanyaku kepada Clotte dengan perasaan penasaran.


"Jika anda bertanya ku, Sir Erwin sekarang sudah berada di Kota Carran terlebih dahulu dengan alasan untuk mengatur keamanan untuk kedatangan anda."


"Hoh, sungguh pria yang sangat pekerja keras."


Jika dipikir-dipikir sepertinya ini kali pertama aku keluar dari Kastil Claudia dan ketika aku melihat suasana lingkungan dari jendela yang kulihat hanyalah tumbuhan liar biasa di lahan kosong yang sepertinya benar-benar belum tersentuh sama sekali, tapi sekilas ku lihat kondisi tanahnya terlihat tidak cocok dengan pertanian jadi mungkin itu alasannya tanah yang terlihat luas ini dibiarkan saja.


Setelah menahan penyiksaan pada pantat ku selama satu jam lebih karena goncangan sialan ini, akhirnya pria kusir yang membawa kami berteriak kepada kami jika kita sudah dekat dengan Kota Carran, bahkan aku sudah bisa melihatnya dari jendelaku.


Dari jendela aku melihat banyak para pengungsi dari kedua desa yang baru datang pagi ini, sedang mendirikan tenda untuk tempat mereka tidur di luar tembok Kota.


Banyak dari pengungsi akhirnya berhenti melakukan aktivitas mereka dan mulai berpaling untuk melihat kedatanganku menggunakan kereta kuda, tetapi entah kenapa aku merasakan perasaan yang terintimidasi dari tatapan mereka dan mau itu lelaki atau perempuan, lansia, semuanya mempunyai tatapan yang sama.

__ADS_1


Apakah keluargaku punya reputasi yang sangat buruk? aku benar-benar tidak mengetahuinya, karena Luzia yang sebelumnya hanyalah seorang yang nolep dan jarang sekali keluar dari kastil atau bahkan bertemu para rakyat.


Untuk kebijakan ayahku sendiri dia kurang terlalu suka dengan gaya hidup yang mewah diterapkan di Keluarga Claudia, jadi kenapa mereka memperlihatkan tatapan mengerikan mereka kepadaku seolah aku telah melakukan sesuatu yang buruk?


Di sisi lainya aku tiba-tiba terperhatikan oleh sesuatu yang tidak wajar di antara para pengungsi dari desa, aku memang banyak melihat banyak para lansia, wanita, anak-anak tapi aku jarang sekali melihat laki-laki dewasa di antara para pengungsi itu.


"Clotte bukankah ini aneh jika di antara para pengungsi jarang sekali ada lelaki dewasa?"


Entah kenapa ketika aku menanyakan Clotte tentang itu, wajahnya langsung sedih dan hanya menundukkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaanku.


"Tentu saja karena perang sepuluh tahun yang lalu, wajar jika anda sendiri tidak mengetahuinya karena waktu itu anda masih kecil."


"Tidak mungkin.... "


"Aku sendiri juga tidak mengetahuinya karena sama seperti Yang Mulia, aku juga masih kecil. Jadi, jika anda ingin tahu lebih lengkapnya lebih baik anda bertanya kepada Sir Erwin"


".... "


Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu kaget ketika mendengarnya karena itu sebuah siklus yang sangat klasik, ketika orang kelas atas sangat menginginkan perang tetapi justru banyak orang yang kelas bawah akan mati di medan perang.


Akhirnya setelah melewati para pengungsi di luar kamipun berhasil masuk ke dalam Kota Carran, terlihat suasana di dalam kota memang banyak orang yang lalu lalang di jalanan kota dan terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, suara pedagang yang menawarkan dagangannya dan suara pukulan penempa besi membuat suasana di kota terlihat lebih ramai.


Setelah melewati tatapan mengerikan dari para penduduk kota akhirnya kereta kudaku berhenti di depan sebuah bangunan yang lumayan besar di tengah-tengah kota, menurutku bangunan ini sepertinya sebuah balai kota. Terlihat pula di depan balai kota terlihat Sir Erwin yang berdiri menunggu diriku.


Lagi-lagi dengan bantuan Erliz aku berpegangan padanya ketika berusaha turun dari kereta kuda ini, syukurlah aku akhirnya bisa keluar dari kendaraan sialan ini karena pantatku sudah tidak bisa menahan penderitaan lagi.


"Yang Mulia selamat datang di Kota Carran dan semoga perjalanan anda sebelumnya menyenangkan"


"Haha, sungguh menyenangkan Sir Erwin.... "


Sebenernya aku ingin terus terang saja jika perjalanan ini menyiksaku tapi karena aku tidak ingin memperlihatkan kesan yang buruk jadi sebaiknya aku diam saja.


"Sir Erwin, jadi bagaimana apakah semuanya sudah siap?"


"Seperti yang anda perintahkan Yang Mulia, semua tetua desa akan berkumpul di balai kota malam ini. Jadi, selagi anda menunggu waktu tiba kami sudah mempersiapkan sebuah kamar tamu di balai kota"

__ADS_1


"Bagus, tapi sebelum itu aku ingin berbicara denganmu Sir Erwin"


"Berbicara denganku?"


Seperti beberapa hari sebelumnya ketika aku baru bertemu Sir Erwin kali pertama, kami bertiga termasuk Clotte berada di kamar tamu yang sudah disiapkan sebelumnya. Aku dan Sir Erwin lagi-lagi duduk dengan arah yang berlawanan sedangkan Clotte berdiri di belakangku, seperti biasa wajah Sir Erwin tetap memperlihatkan perasaan yang mengintimidasi tetapi syukurlah karena sepertinya aku sudah mulai terbiasa.


"Di saat kami baru saja ingin memasuki kota aku melihat sesuatu yang aneh karena di antara para pengungsi aku jarang sekali melihat lelaki dewasa karena mayoritas yang kulihat hanyalah seorang lansia, anak-anak, dan wanita dewasa.


Ketika aku menanyakannya kepada Clotte dia menjawabnya karena perang, tetapi dia tidak punya cerita lengkapnya jadi aku ingin mendapatkan informasi lengkapnya darimu, Sir Erwin"


Setelah mendengarkan pernyataanku dan pertanyaanku Sir Erwin awalnya hanya bisa menghela nafasnya dan menggaruk-garuk rambutnya, tetapi akhirnya dia meresponku dengan cara mengangguk.


"Sebenernya aku ingin memberitahu anda pada waktu yang lebih tepat, tapi aku tidak menyangka anda bisa mengamati penduduk yang jarang sekali lelaki dewasa. Jadi, sebenernya memang benar keluarga anda bukanlah keluarga yang hidup dalam kemewahan yang berlebihan, tetapi.... "


"Tapi apa Sir Erwin?"


"Semua ini karena Raja sebelumnya yang maniak perang itu!"


Tiba-tiba Sir Erwin sangat marah dan memukul meja yang berada di depan kita, bahkan di meja yang terkena pukulannya terlihat sedikit lagi akan patah karena pukulannya. Clotte yang di belakang hanya bisa berdiam dan tidak melakukan apa-apa, sedangkan aku sendiri juga tidak jauh berbeda dengan Clotte.


"Tenanglah Sir Erwin, jika kau bercerita seperti ini aku tidak akan mengerti sama sekali"


"Maafkan aku Yang Mulia, aku akan melanjutkannya lagi"


"Silakan."


"Seperti yang anda tahu negara ini terlibat perang dengan negara tetangga di sebelah selatan kita, Kekaisaran Kharza"


"Aku sudah tau itu, lalu?"


"Karena situasi kita semakin lama semakin terpojok, Raja sebelumnya memberi perintah kepada Ayahmu untuk merekrut lelaki dari umur tiga belas tahun sampai empat puluh tahun menjadi tentara. Sang Viscount sempat menentang itu tetapi akhirnya dia terpaksa mengikuti perintah Sang Raja, karena kurangnya pengalaman banyak rekrutan itu gugur dalam medan perang, dan sekarang karena kejadian itu reputasi keluarga anda menjadi turun drastis."


Sialan, ini benar-benar akan membuatku kesusahan ketika nanti bernegosiasi kepada para ketua desa. Raja sebelumnya benar-benar terlalu membebankan perang pada wilayah ini.


Yah, aku memang mengerti jika sepertinya dia ingin memenangkan perang tapi tidak terlalu ingin populasi di pusat negara berkurang jadi dia mau tidak mau harus mengorbankan para populasi di wilayah pinggiran kerajaannya.

__ADS_1


Sepertinya ini akan menjadi halangan untuk kebijakanku yang mengadakan sebuah wajib militer di wilayah ku, karena dengan wilayah yang sangat lemah ini jika dengan wajib militer setidaknya wilayah ini menjadi sedikit lebih aman.


Sebagai bukti terdapat dalam sejarah Vlad III Sang Drakula dari Kepangeranan Wallacia yang dimana dia berhasil membuat Kesultanan Ottoman kesusahan menaklukkan Wallacia karena kebijakan wajib militernya.


__ADS_2