Luzia Senki: Catatan Perang Luzia

Luzia Senki: Catatan Perang Luzia
{1.10} We Are Only As Strong As We Are United, As Weak As We Devided.


__ADS_3

Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.


Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia: Kota Carran.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tidak seperti kelihatannya yang di mana lokasi pertemuan dipenuhi oleh banyak anggota dari beberapa suku, namun suasana di sekitar pertemuan terasa lebih sunyi setelah kehadiran Luzia yang sebenarnya cukup terlambat.


Para kerumunan yang sebelumnya sempat membuat keadaan menjadi rusuh tiba-tiba menjadi lebih tenang dari sebelumnya, yang saking tenang dan sunyinya lokasi pertemuan, kalian dapat mendengar suara dari beberapa serangga malam.


Para tetua melihat Luzia dengan penampilan anggun berjalan ke arah meja bundar dengan kawalan Sir Erwin, Perwira Ksatria Erliz, dan juga beberapa perwira muda Ksatria yang sudah berkumpul di sekitarnya setelah perintah penarikan mundur dari semua wilayah desa setelah diberikan perintah langsung dari Luzia.


Erliz yang tidak lupa tentang tugasnya dalam mengawal dan melayani Luzia dengan sigap langsung dengan cepat menuju ke kursi meja bundar dan mempersiapkan kursi tersebut untuk diduduki oleh Luzia. Setelah mendapatkan pelayanan yang elegan dari Erliz, Luzia pun lagi-lagi terlihat anggun berterimakasih kepada Erliz.


Sebuah Kesetiaan yang luar biasa dan juga penghormatan Kesetiaan tersebut yang sungguh menghibur untuk ditonton oleh para tetua desa atau suku yang berkumpul di meja bundar pertemuan.


Di antara para gerombolan yang datang bersama Luzia juga terdapat Clotte yang sedang membawa beberapa gelas teh yang berada di atas nampan, Clotte dengan profesionalnya meletakkan gelas-gelas tersebut ke para peserta di meja bundar pertemuan, yang setelah dia selesai dengan tugasnya langsung mencoba mundur dari meja bundar.


Beberapa Tetua desa yang melihatnya menyiapkan teh mulai mempunyai pandangan yang liar terhadap Clotte, bahkan beberapa dari mereka berpikir untuk menjodohkan dia dengan anak laki-lakinya dan membayangkan Clotte memanggilnya Ayah dengan nada yang imut, membuat wajah para Tetua desa tidak karuan karena Fantasinya yang ada di kepala mereka.


Sebuah hal yang tidak pantas ditunjukkan dalam pertemuan formal seperti itu, walaupun pada akhirnya mereka kembali sadar setelah merasakan aura ancaman yang datang dari arah Luzia.


"Ehem, terimakasih untuk kepada para tetua desa yaitu Tetua dari Desa Moose, Desa Altunie, Desa Viles, Desa Salbies telah hadir dalam pertemuan ini. Aku sendiri sadar bahwa kalian mempunyai kesibukannya sendiri-sendiri sampai dengan bodohnya tidak peduli dengan situasi buruk seperti ini, terlebih lagi kalian mengisolasi diri kalian sendiri seperti seorang Hikkimori konyol, hahaha"


Memang diawal terdengar seperti sebuah kata sambutan dan terimakasih, tapi pada akhirnya kata itu diakhiri seperti nada mengejek yang keluar dari mulut kecilnya tersebut.


Para tetua....


atau bahkan kerumunan yang berada di pertemuan tersebut memperlihatkan kemarahannya setelah mendengarkan sarkasme yang dilontarkan oleh Luzia, walaupun di satu sisi mereka sendiri tidak mengerti beberapa kata yang di ucapkan oleh Luzia terutama kosakata asing dari telinga mereka Yaitu "Hikkimori".


"Yang Mulia, hanya untuk datang ke pertemuan konyol ini kami sudah berusaha dengan keras, tapi ternyata justru hal yang kita dapat ternyata hanyalah sebuah sindiran, huh?"


Salah satu dari empat tetua Desa melontarkan ucapan protes kepada Luzia secara terang-terangan yang pada akhirnya membuat efek domino terjadi, para tetua desa lain juga tidak mau kalah juga mencoba melontarkan protes kepada Luzia. Di sisi lain para kerumunan yang sebelumnya saling berselisih tiba-tiba menjadi kompak untuk meneriakan protes kepada Luzia setelah mempunyai musuh yang sama.


Namun tidak berselang lama kekacauan tersebut kembali dipadamkan dan situasi menjadi sunyi kembali setelah Erliz berteriak kepada mereka untuk diam.


"Eh sindiran? jangan konyol itu hanyalah sebuah ucapan selamat datang, dan sepertinya kalian terlalu banyak mengeluh dan menyalahkan semua apa yang terjadi hanya kepada Keluarga Claudia tapi kalian sendiri lupa kalau karena sifat egois kalian tentang kehidupan suku kalian jugalah yang mempersulit wilayah ini untuk lebih berkembang lagi. Janganlah kalian lupa jika leluhur kalian juga bisa hidup di wilayah ini juga karena pendahuluku dan bahkan dengan polosnya pendahuluku memperbolehkan kalian untuk membayar pajak pokok dengan hanya beberapa hasil dari panen kalian."


"Yang Mulia! kehidupan bersuku kami adalah sebuah kebanggaan untuk kami jadi jangan berani-beraninya anda menghinany-"


"Kebanggaan, huh? buka matamu Sialan!"


Belum selesai dalam menyelesaikan kata-katanya, Luzia tanpa peduli lagi langsung menyela salah satu Tetua Desa tersebut, bahkan dia mengucapkan itu dengan nada membentak.


"Kebanggaan kalian itu tidak membuat kalian kenyang dan juga tidak akan membuat para bandit brensek itu dengan sukarela pergi dari sini, pada dasarnya kalian masih hidup dalam sebuah fantasi kejayaan di masa lampau. Ingatlah suku kalian di saat itu pada akhirnya hanyalah pihak yang kalah dan akhirnya mengungsi ke wilayah ini, aku sendiri tidak tahu apa yang dikatakan oleh leluhur kalian tapi aku bisa menebak jika mereka tidak ingin kehilangan harga dirinya dihadapan keturunannya maka banyak dari mereka memanipulasi sejarah yang sebenarnya. Kalian mungkin memang bisa memanipulasi sejarah tapi itu tidak akan membuat sejarah asli tersebut hilang dari dunia ini."

__ADS_1


Setelah mendengar kalimat yang cukup panjang dari Luzia, banyak dari peserta dalam pertemuan itu mulai tidak bisa berkata-kata apa lagi. Terlihat juga Clotte yang memberikan tanda-tanda kekhawatiran pada situasi saat ini.


"Jadi aku akan memberikan sebuah nasihat kepada kalian, mulai terbukalah satu sama lain dan cobalah untuk melupakan konflik masa lalu sekaligus bangunlah sebuah persatuan, jika kalian menolak hal tersebut, maka itu akan dianggap sebagai sebuah tindakan pemberontakan dan tentu saja para Ksatria di sini akan melakukan perkerjaannya dengan cepat."


"Tunggu, apa!? jadi dengan tujuan itulah kau mengumpulkan kita semua, terlebih lagi daripada sebuah nasihat itu lebih terlihat sebagai ancaman!"


"Ah, kau pikir begitu?"


Lebih baik menjadi pemimpin yang ditakuti daripada dicintai, jika kamu tidak bisa menjadi keduanya.


Dari tokoh mana ya kata-kata itu muncul, Niccolò Machiavelli? Yah, aku tidak peduli tentang itu sekarang.


Luzia mengutip sebuah kalimat dari tokoh sejarah di kehidupan sebelumnya, dia tahu jika metode ini juga bisa menjadi pedang bermata dua tapi karena situasi yang memaksanya, mau tidak mau dia harus melakukan ini.


Terlihat dari wajahnya jika apa yang Luzia katakan bukanlah main-main, Tetua dan kerumunan yang melihat itu mulai menunjukkan kepanikan dalam diri mereka karena yang mereka hadapi saat ini adalah Tentara Ksatria yang terkenal di Kerajaan karena pertahanannya yang kuat.


Yang lebih mengerikannya lagi, para Kerumunan dan Tetua melihat Luzia yang masih terlihat tenang dan meletakan kedua tanganya dibawah dagunya.


Para tetua yang melihat ke arah Sir Erwin yang dari tadi dengan santainya meminum tehnya yang tidak habis-habis berusaha meminta isarat minta pertolongan padanya, tapi tanpa di duga Sir Erwin yang terkenal dikalangan penduduk mengucapkan....


"Selalu bertahan dalam gelombang apapun, selalu setia kepada Keluarga Claudia di kondisi apapun, Itu adalah motto kami."


Mendengar hal tersebut para tetua pada akhirnya terlihat putus asa karena Sir Erwin yang adalah satu-satunya harapan untuk mereka ternyata lebih memilih untuk berada di sisi Viscount Luzia.


Ucap dari seseorang Pria dengan perawakan lebih tua dari Tetua lainya, dia adalah Tetua Desa Moose sekaligus menjadi Tetua yang paling tua diantara Tetua lainya dan karena Desanya menjadi lebih sering yang terkena serangan Bandit jadi dia lebih mempunyai pandangan yang lebih baik tentang apa yang diusulkan oleh Luzia.


"Aku tahu kalian masih tidak bisa melupakan tentang apa yang dilakukan oleh Ayahku, jadi biarkan aku mewakili seluruh keluarga Claudia untuk memohon maaf atas hal buruk yang dilakukan oleh Ayahku. Yah, walaupun hanya akulah yang tersisa di keluarga ini."


Para tetua dan kerumunan yang berada di pertemuan tersebut terkejut setelah melihat Luzia dengan tulusnya membungkukan badanya ke arah mereka dan meminta permohonan minta maaf. Mereka yang melihat itu seketika merasa bersalah terhadap Luzia yang juga meneteskan air matanya.


Bagaimana mungkin kita membebankan semua masalah ini hanya kepada Gadis kecil seperti dirinya, itu akan menodai kebanggaan suku kita dan para leluhur akan menghina kita di Valhalla!


Dengan kompak mereka semua juga langsung memikirkan hal yang sama tentang kebanggaan suku mereka dan hati mereka merasa langsung tersentuh, walaupun sayangnya mereka tidak tahu jika air mata yang dikeluarkan oleh Luzia hanyalah air mata palsu.


Tidak hanya itu, Erliz yang mempunyai sifat Overprotective terhadap Luzia mulai terlihat gugup dan khawatir disaat melihat Luzia yang mengeluarkan air mata.


Banyak dari mereka akhirnya merespon dengan positif setelahnya, pada akhirnya setelah sekian lama dalam sejarah saling bergesekan satu sama lain, mereka mulai berpikir untuk berkerjasama dalam melawan para bandit penjajah yang sudah lama mengganggu kedamaian mereka. Walaupun mereka sendiri belum cukup yakin.


"Tapi mari kita juga dengarkan dari pihak ksatria yang bertugas di garis depan." Luzia dengan santainya mengucapkan itu.


Luzia yang sambil menyeka air mata palsunya mulai kembali dalam posisi sebelumnya meletakkan kedua tangannya dibawah dagunya. Dia juga memberikan isyarat kepada Luze Archis sebagai seorang Perwira Ksatria yang bertugas di Garis Depan.


"Seperti yang anda ketahui sebelum kami datang ke sini, kami mendapatkan serangan habis-habisan dari para bandit dan kami juga tidak memprediksi hal tersebut karena pola waktu serangan bandit yang tiba-tiba berubah. Meskipun begitu aku masih menentang penarikan diri para Ksatria, terlebih lagi anda bahkan memerintahkan para penduduk meninggalkan harta-hartanya dan hasil paneh mereka, padahal seperti yang anda tahu musim dingin akan segera datang."


Sepertinya pihak Ksatria bagian Garis Depan juga memperlihatkan pandangan tidak percaya kepada Luzia setelah semua apa yang diperintahkan oleh Luzia, pihak Desa lain yang mendengar sebuah perintah tentang meninggalkan hasil panen mulai mempertanyakan lagi kepimpinan Luzia, karena memang benar jika musim dingin yang keras sudah menunggu di depan.

__ADS_1


"Sungguh, aku ragu terhadap nasib Ksatria ku di masa depan."


"Kau!"


Tidak peduli tentang apa yang terjadi melihat bagaimana Ksatria Claudia yang bahkan dikenal tentang kedisiplinannya dalam bertahan di sindir oleh Gadis berusia 13 tahun di depan umum adalah sebuah kejadian yang langka, Tetua dan kerumunan bahkan tidak percaya terhadap apa yang mereka lihat di depannya.


Luze yang mendapat hinaan dari gadis kecil di depan umum langsung merasa harga dirinya dihancurkan seketika, dia berusaha ke arah Luzia dengan amarah di sekujur tubuhnya tapi dia juga langsung membatalkan tindakannya tersebut setelah melihat Erliz dengan buasnya bersiap untuk membunuhnya jika dia berani-beraninya menyentuh Luzia.


Bahkan Sir Erwin dengan kalemnya memberi perintah mundur kepada Luze, mendapati dirinya di cegah oleh dua orang berpengaruh akhirnya dia kembali mendapat ketenangannya kembali.


"Untuk menangkap tikus tanah yang berada di lubangnya kau janganlah memasukkan tanganmu ke dalam lubang karena tikus itu hanya akan malah menggali lebih dalam lagi, tapi bukan berarti kau juga harus menunggu di dekat lubang untuk menangkap tikus tanah itu, karena yang harus kau lakukan hanyalah memancing tikus tersebut dan memasang jebakan, lalu tikus itu akan datang dengan sendirinya."


Sir Erwin yang juga mendengar perumpamaan dari Luzia langsung dengan seketika menganggukkan kepalanya, karena selama ini yang dilakukan tentara Ksatria garis depan hanyalah menunggu dan bertahan, dengan harapan para bandit menyerah dengan sendirinya.


Sedangkan di sisi para tokoh Desa mereka masih cukup belum benar-benar yakin untuk saling berkerjasama dengan suku lain, di satu sisi mereka takut dengan kutukan leluhur atau justru mereka terikat dengan perasaan gengsi mereka.


meskipun begitu pada akhirnya mereka sendiri tidak mempunyai banyak pilihan, dan di saat itulah.....


"Baiklah, saya sebagai perwakilan dari Suku Desa Altunie untuk saat ini akan benar-benar patuh dalam perintahmu, Yang Mulia"


Tokoh Desa yang tersisa akhirnya cuma saling menatap satu sama lain, terlihat keraguan yang cukup besar terlihat di wajah mereka. Meskipun begitu akhirnya mereka untuk sekarang akan mencoba patuh kepada Luzia, dan terlihat mereka juga membungkukan tubuhnya.


"bisakah kalian memaafkan para bandit-bandit itu? Tuhan sudah pasti memaafkan mereka, tetapi tugas kita adalah mengatur pertemuan mereka!"


"Untuk kebanggaan Suku! "


"Leluhur lihatlah kita dari atas sana!"


Tiba-tiba para kerumunan yang mendengar pernyataan dari Luzia langsung meneriakkan sesuatu yang seketika menambah moral mereka, teriakan tangisan pertempuran terdengar sampai di seluruh Kota Carran.


Memang benar mereka tidak seratus persen yakin tapi tetep saja mereka juga sudah lelah dengan kehadiran para Bandit, jadi untuk sekarang mereka memilih untuk saling berkerjasama sama.


Para anggota suku dengan seketika mulai mengambil senjata khas suku mereka, yaitu busur panah. Memang benar mereka sudah tidak hidup secara nomaden seperti dulu, tetapi bakat alami memanah mereka masih diajarkan sampai ke generasi berikutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan penting: Untuk kedepannya mungkin chapter-chapter akan lebih sering mengambil Pandangan Ketiga untuk mendapatkan kesan yang lebih cocok untuk cerita, mohon maaf atas ketidak konsistennya.


Valhalla: Sebuah kehidupan setelah kematian yang dipercaya oleh bangsa nordik, yang dimana itu adalah Surga yang dipenuhi peperangan tanpa akhir.


Niccolo Machiavelli: Seorang diplomat dari Italia pada era Renaisans, dia terkenal karena bukunya yang berjudul The Prince yang isinya memberi pelajaran bagaimana cara memimpin walau terkadang pandangannya terlihat cukup ekstrem. Dia juga dikenal dengan julukan "Bapak Politik Modern"


Hikkimori adalah istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Istilah hikikomori merujuk kepada fenomena sosial secara umum sekaligus sebutan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2