
*Pov Bird Eye (Dari atas pertempuran)
Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.
Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia: Kota Carran.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terlepas dari tembok Carran yang masih ketinggalan zaman yaitu berbabahan kayu dan kalah jumlahnya mereka dari pasukan bandit, namun tetap saja mereka terlihat lebih mempunyai moral tempur yang tinggi sejak saling bersatunya para kelompok suku yang sebelumnya terpecah belah.
Sedangkan di sisi lain tampak para pasukan bandit yang sebenarnya menang dalam jumlah malam mempunyai moral tempur yang mulai sangat rendah setelah sebelumnya di perjalanan mereka selalu di sergap oleh pasukan pemanah berkuda Luzia.
Di pagi hari yang bahkan matahari belum sepenuhnya menunjukkan wajahnya, kedua pasukan sudah bersiap dalam mode tempur mereka di posisi yang sebelumnya sudah di persiapan oleh atasan mereka.
Pasukan bandit masih seperti bentuk yang sebelumnya yaitu dibagi menjadi lima unit walaupun di salah satu unit tersebut jumlahnya terlihat lebih sedikit daripada sebelumnya di saat mereka berangkat, unit Fendre sendiri banyak anggota yang dipindah ke unit inti karena unit tersebut-lah yang paling terdampak karena taktik licik pemanah berkuda.
Untuk saat ini Unit Fendre berada di sayap kanan, sekaligus menunjukkan jika sepertinya musuh yang akan dia hadapi adalah Ksatria Claudia yang sedang menjaga bendungan dengan beberapa dukungan pemanah dan sebuah pagar kayu dengan bentuk yang cukup asing di mata Fendre.
Booze sendiri berpikir untuk menyerang Kota Bertembok kayu dengan secara frontal yang dimana terlihat jika kota Carran sendiri hanya dilindungi oleh sedikit pasukan reguler dan juga dicampur oleh relawan penduduk desa. Tentu Booze sendiri memilih opsi itu karena dia juga mendapat kabar bahwa anak perempuan viscount itu sendiri yang memimpin mereka di kota Carran, jadi dia berpikir daripada melawan Ksatria Claudia yang sangat merepotkan, mending langsung saja mengambil alih kota Carran, karena jika begitu maka tamatlah mereka.
Awalnya Fendre menentang strategi itu karena dalam pikirannya hal yang mereka butuhkan saat ini adalah pasokan air yang semakin menipis dan jika Booze tidak memikirkan itu maka pasukannya tak akan bertahan di pertempuran, karena kita sendiri tidak tahu berapa lama pertempuran ini akan berlangsung.
Seperti yang diduga Booze tentu saja menghiraukan hal tersebut yang bahkan terlihat pasukan bandit lainnya dengan bodohnya juga Ikut-ikut saja dengan Booze, karena mereka melihat sedikitnya jumlah musuh di kota Carran maka mereka berpikir jika pertempuran ini mungkin akan selesai tak sampai satu hari.
"Hari ini kita akan membalas dendam apa yang mereka lakukan sebelumnya, kita balas mereka dengan cara merebut harta mereka, ternak mereka, ladang mereka, atau bahkan gadis mereka!" teriak Booze kepada barisan pasukannya.
"Ludahi mayat mereka!" setelah pidato dari booze tampak dari mereka moralnya sedikit lebih meningkat daripada sebelumnya.
"Serang!" teriak Booze.
Pagi yang sebelumnya sangat damai dan sunyi tiba-tiba menjadi lebih berisik karena teriakan para pasukan bandit yang berlari menuju kota Carran, seolah tidak takut dengan kematian mereka terlihat seperti singa yang mencoba menerjang mangsanya.
Para bandit berusaha memanjat tembok kayu yang panjangnya 15 meter dengan tangga yang mereka sudah siapkan sebelum pertempuran terjadi, tentu saja para pasukan Luzia tidak membiarkan mereka mencapai atas dengan mudah, dengan senjata tombak pasukan Luzia menusuk para bandit dari atas.
Tampak pertempuran sendiri masih terlihat belum cukup terlalu intensif karena kedua pihak masih berusaha mencari kelemahan satu sama lain.
Meskipun begitu kau masih bisa mendengar jeritan kesakitan dan desingan pedang yang saling bertabrakan menembus suasana pagi yang sebelumnya sangat indah, namun para petarung tak memperdulikan itu karena mereka terlalu fokus pada tujuan mereka. Dari atas pertempuran kau bisa melihat area yang sebelumnya mempunyai rumput hijau menjadi sebuah ladang mayat dan puing-puing pertempuran.
__ADS_1
Dengan kekacauan di medan pertempuran sebuah kemenangan atau kekalahan masih belum jelas akan didapatkan oleh pihak siapa. Beberapa telah menyerah pada kepanikan, menangis dan menjerit, sementara yang lainnya masih berjuang dengan harapan untuk selamat dari teror ini dengan cara tetap bertarung.
Suasana yang mencekam seperti itu akan bertahan selama beberapa jam yang di mana kedua pihak bertarung tanpa sadar dengan waktu.
Booze sendiri yang melihat dari kejauhan di belakang medan pertempuran tidak menduga betapa solidnya pasukan kota Carran bertarung untuk melindungi kotanya, karena tak ada perkembangan yang cukup positif akhirnya dia memanggil kembali para pasukannya untuk mengistirahatkan mereka untuk pertempuran mereka selanjutnya.
* * * * *
Setelah pertempuran yang cukup stagnan kemarin, pada hari kedua pertempuran Fendre tampak terlihat sangat menjaga jarak dari sayap kiri musuh yaitu para Ksatria Claudia yang seperti biasa dengan perisai panjang khas mereka, tampak juga di antara mereka dicampur dengan beberapa pasukan pemanah musuh.
Dia sendiri menjaga jarak karena musuh pada dasarnya sudah mempunyai pertahanan yang sangat kuat dengan perisainya namun sekarang terlihat mereka juga diberi perlindungan lainnya yaitu sebuah pagar kayu yang bentuknya cukup asing di wilayah ini, belum cukup sampai di situ sela-sela pagar itu juga terdapat para pemanah handal yang siap menembakkan panah mereka ketika musuh sudah berada dj jarak tembaknya.
Fendre sendiri sudah sadar dengan kekuatan pertahanan musuh namun sekarang dia tidak punya pilihan lain karena cepat atau lambat pasokan air mereka akan segera habis jika tidak segera mengambil alih bendungan.
Dengan segera Fendre langsung memerintahkan 300 pasukannya untuk segera mendobrak pertahanan sayap kiri musuh, lagi-lagi kebisingan pun mulai terdengar kembali seperti hari sebelumnya.
"Serang!" teriak Fendre.
Seperti yang diperkirakan awalnya bahwa pasukan pemanah musuh tentu saja tak akan diam saja melihat itu ketika mangsanya sudah berada di area tembakan panahnya, satu persatu pasukan Fendre yang sebelumnya berlari ke arah pertahanan musuh pada akhirnya mulai berjatuhan.
Namun tetap saja banyak dari pasukan bandit berhasil mencapai pagar pertahanan musuh yang tetapi dari belakang pagar kayu para Ksatria Claudia langsung menggantikan posisi pasukan pemanah, pada saat pasukan bandit mencoba menerobos pagar pertahanan mereka langsung ditusuk dengan pedang khas Ksatria Claudia yang sangat kuat.
Dua tentara saling bertarung untuk supremasi, tetapi pertempuran ini sepertinya pihak pemenang sudah ditentukan dari awal sebelum pertempuran itu sendiri terjadi.
Yang terluka di satu sisi berlimpah dengan tergeletak di tumpukan mayat sekitar pagar kayu pertahanan dan wajah para pasukan bandit mulai kehilangan harapan dengan otot-otot mereka mulai tegang, mereka melawan pasukan Ksatria Claudia dalam pertempuran yang sepertinya sudah ditentukan pemenangnya.
Fendre yang melihat banyaknya korban jiwa dalam unitnya langsung segera memanggil kembali para pasukannya, seketika Fendre berpikir bahwa pertahanan sayap kiri musuh pada dasarnya tidak ada bedanya dengan tembok pertahanan kota.
"Sudah kubilang ini benar-benar sia-sia.... " ucap Fendre dengan perasaan putus asa.
* * * * * *
Pengepungan sudah mencapai pada hari ke lima namun tetap saja pasukan bandit belum sama sekali mendapatkan kemajuan sedikit pun karena mereka benar-benar tidak menduga bahwa pasukan pertahanan Kota Carran akan sesolid ini.
Hari sudah malam terlihat para bandit yang berada di perkemahannya benar-benar kacau balau, tampak banyak dari mereka bersender satu sama lain dan beberapa juga merawat yang terluka karena pertempuran yang sengit.
Sedangkan di sebuah kemah di dalamnya terdapat Booze dan Fendre yang seperti biasa sedang memperdebatkan sesuatu yang sepertinya apa yang harus dilakukan kedepannya melihat situasi mereka benar-benar tidak diuntungkan.
__ADS_1
"Sudahlah bos, kita di sini benar-benar sudah dikalahkan, bahkan pasokan air kita sudah habis untuk memberikan para pasukan minum"
"Aku bahkan sudah lelah untuk berdebat denganmu lagi, Fendre."
"Aku sendiri juga sudah lelah dengan semua ini, lihat bahkan para penduduk Kota Carran terlihat sudah merayakan Pesta, betapa percaya dirinya mereka dengan pertahanannya."
"Jika begitu ayo kita serang mereka selagi sibuk berpesta!" teriak Booze.
"Dengan kondisi pasukan yang hancur lebur seperti ini? itu tidak mungkin" ucap Fendre.
Namun tiba-tiba di saat mereka sedang berbincang di dalam kemah terdengar suara keributan di luar yang di mana suara jeritan kesakitan lagi-lagi terdengar seolah berada di pertempuran, lalu di saat itu pula Kaba masuk ke dalam kemah dengan wajah khawatir.
"Bos gawat, tiba-tiba pasukan kavaleri(berkuda) musuh menyerang kita dari pepohonan lebat di selatan!"
"Apa!? bagaimana itu bisa!?" ucap Booze dengan perasaan bertanya-tanya.
Dengan tergesa-gesa Booze langsung keluar dari kemahnya dan betapa terkejutnya mereka bahwa terlihat pasukan kavaleri musuh berada di wilayah perkemahanya dengan juga membawa obor untuk membakar kemah para pasukan bandit. Karena elemen kejutan yang tinggi para pasukan bandit pun yang tak siap hanya bisa lari ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas.
Dengan kemenangan yang sudah terlihat di depan mata para pasukan kaveleri yang dipimpin oleh Dayan, mereka terus-terusan menekan para bandit. Beberapa telah menyerah pada kemarahan dan mengamuk terhadap siapa pun yang menghalangi jalan mereka, sementara di pihak bandit berharap semua ini segera berakhir.
Ternyata selama ini Luzia masih menyimpan kartu AS-nya yaitu pasukan kaveleri yang dipimpin oleh Dayan, selama pertempuran di hari-hari sebelumnya mereka atas perintah taktik Luzia menuju ke pepohonan lebat di selatan, tentu saja mereka melakukan itu secara bergantian agar keberadaan mereka tidak diketahui dan mereka melakukan itu di saat para musuh sedang sibuk berusaha merebut kota Carran.
Ketika semua anggota pasukannya sudah berkumpu dan dengan sebuah tanda dari Kota Carran, Dayan segera melancarkan serangan kejutan terhadap perkemahan para bandit. Tak peduli jumlahnya lebih sedikit tetapi jika pasukan musuh mempunyai moral yang sangat rendah serangan itu bisa menjadi serangan yang sangat berdampak.
Seolah seperti di sejarah di mana pasukan muslim mengepung kota Tripoli yang mempunyai tembok yang solid dengan prajurit Romawi di dalamnya, lalu 8 prajurit muslim yang sedang melakukan rutinitas berburunya menemukan sebuah lokasi di bagian tembok kota Tripoli bisa dimasuki, di saat itulah mereka menuju ke pusat kota dan membuat kerusuhan, para pasukan Romawi yang mengetahui keributan itu mengira jika pasukan muslim sudah berhasil masuk ke dalam kota dan akhirnya mereka pun kabur dengan kapal mereka.
Semua itu terjadi karena rendahnya sebuah moral tempur pasukan, tak peduli jika pasukan musuh berjumlah sedikit mereka tetap akan mudah di hancurkan jika mempunyai moral yang sangat rendah, tentu saja Luzia melihat itu sebelumnya.
"Kemenangan atau kematian!"
"Serang!"
"Kematian bagi para bandit!"
Sedangkan di sisi barat Booze melihat pasukan musuh yang sebelumnya dia kira sedang berpesta juga malah keluar dari kota untuk menyerang perkemahannya, di saat itulah dia akhirnya benar-benar sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan dia pun pada akhirnya hanya bisa jatuh berlutut ke tanah sambil melihat pasukannya di bantai oleh musuh.
Namun tiba-tiba di antara pasukan musuh yang menyerang, Booze melihat seorang gadis dengan Rambut perak indah dengan mata merah mengerikan dan juga kulit yang putih pucat seperti mayat hidup menghampiri dirinya dengan mengendarai kudanya.
__ADS_1
"Dengan ini hari penghakimanmu akan segera tiba." ucap gadis itu dengan dinginnya.