Luzia Senki: Catatan Perang Luzia

Luzia Senki: Catatan Perang Luzia
{1-12} Penyusupan.


__ADS_3

Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.


Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di zaman ini malam hari akan terlihat sangat gelap karena minimnya penerangan di berbagai tempat dan para penduduk di dunia ini masih bergantung menggunakan cahaya api yang tentu saja sangat kurang efektif.


Meskipun begitu di gelapnya malam terlihat sebuah sekelompok kecil yang berjalan secara berbaris dari belakang ke depan, mereka sendiri juga terlihat sedang membawa sebuah karung yang mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap dari dalamnya, maka karena itu pula orang-orang yang berada di kelompok tersebut semuanya memakai sebuah kain yang digunakan sebagai sebuah masker.


Dalam perjalanan mereka hampir setiap orangnya terlihat juga sedang menarik kuda yang di samping mereka, dengan suatu alasan mereka tidak menaiki kuda tersebut.


Jika ditotal jumlah orang yang berada di kelompok tersebut hanya sekitar dua belas orang, sepuluh di antaranya adalah para pemuda yang sudah tumbuh dan karena mereka di saat perekrutan paksa untuk berperang masih anak-anak, akhirnya mereka selamat dari wajib militer yang ada tiga tahun yang lalu.


Semua pemuda tersebut juga membawa sebuah busur yang sepertinya juga sudah menjadi ciri khas di wilayah benua selatan, busur tersebut terlihat seperti busur komposit. Sebuah busur yang cenderung terlihat lebih pendek dari busur-busur yang sering digunakan di benua ini.


Seperti namanya yang terdapat sebuah kata komposit, busur itu dibuat dari berbagai komposisi yang berasal dari tubuh hewan-hewan liar, yaitu kayu, tanduk hewan , otot yang dilaminasi dan lem hewan untuk menyatukan semua itu.


Butuh waktu yang lama dan kerja keras untuk membuat struktur busur itu, tetapi hasilnya busur itu mempunyai akurasi yang lebih tinggi dan strukturnya juga dapat menghemat energi di saat menggunakannya daripada busur kayu yang lainya, namun tetap saja busur itu juga mempunyai kelemahan yaitu kelembaban.


Lalu untuk sisanya yang berada di kelompok itu adalah seseorang Ksatria yang memimpin mereka, dia adalah Lilyana seorang wanita Ksatria yang juga adalah seorang perwira Ksatria yang memimpin sisa pasukan Ksatria yang berada di Desa Altunie, sebuah Desa lainnya yang juga menjadi garis depan pertempuran antara bandit dan Ksatria.


Penampilan Lilyana sendiri adalah rambut hitam lurus sedang, mempunyai mata biru berlian, warna kulit gelap, dan terdapat lesung di kedua pipinya. Postur tubuhnya sendiri juga sangat langsing dan benar-benar terlihat seorang model, namun aura Ksatrianya tetap pada dirinya.



Terlebih lagi dia mempunyai karisma yang menyenangkan, tak heran dia juga sangat populer di wilayah Claudia terutama dikalangan para pria, usianya saat ini sekitar 23 tahun.


Sebelumnya di Kota Carran Lilyana dia bertugas memimpin menjaga kota di saat pertemuan dan juga mendistribusikan makanan ke para penduduk desa yang baru saja datang ke kota, maka dari itu dia tidak terlihat di saat pertemuan.


Pada awalnya di saat dia masih di desa Altunie dia sangat terkejut karena tiba-tiba datang seorang Ksatria dari wilayah Kastil Claudia yang memberikan sebuah dekrit untuk menarik semua kekuatan dari garis depan dan juga memerintahkan semua penduduk Desa datang ke Kota Carran dengan sebagian besar harta mereka harus ditinggal.


Saat ini Lilyana sedang bertanya-tanya terhadap sebuah situasi karena di kelompoknya terdapat seorang gadis 13 tahun dengan rambut yang perak lembut sedang berjalan di sampingnya, dia juga adalah seorang yang memberi dekrit tersebut dan tentu saja dia adalah Luzia atau sang Viscounty.


Alasan Luzia sendiri untuk ikut dalam misi ini adalah untuk melihat sendiri bagaimana dengan penampilan para bandit dengan mata kepalanya sendiri karena dia sendiri mengetahui para bandit hanya dari mulut ke mulut, sedangkan bertempur tanpa mengenali musuhmu seperti kau mengenali dirimu sendiri bisa mengakibatkan hal yang fatal.


Luzia sudah tidak terlihat menggunakan gaun yang merepotkan seperti sebelumnya melainkan dia menggunakan pakaian yang cukup sederhana dengan tudung di kepalanya.


Pada dasarnya kelompok ini dibentuk oleh Luzia dengan tujuan untuk menyusup ke wilayah kekuasaan bandit dan juga sabotase sesuatu milik para bandit, karena sekarang seperti yang sudah direncanakan mereka sedang kelelahan sibuk berpesta atas rampasan yang mereka dapatkan dan kemenangan palsu mereka.


Awalnya Sir Erwin dan juga Erliz menentang keinginan Luzia untuk ikut dalam misi sabotase dan penyusupan ini, namun Luzia tetap kekeh untuk ikut yang akhirnya membuat mereka tidak punya pilihan lain lagi, untuk saat ini Sir Erwin dan Juga Erliz adalah orang yang memimpin kota Carran untuk bersiap rencana tahap berikutnya.


"Nona Luzia, sepertinya kau sudah berubah banyak sejak terakhir kita bertemu" ucap Lilyana dengan kesan sedikit bertanya.


"Begitukah?"


"Iya..... "

__ADS_1


Lilyana adalah orang yang dikenal sebagai orang yang menyenangkan dan dia sangat benci dengan situasi canggung seperti saat ini, namun setiap dia bertanya ke Luzia dia selalu menjawabnya dengan singkat, padat dan jelas.


Terakhir kalinya dia melihat Luzia dia adalah orang yang mudah ditebak dan sangat blak-blakan terhadap perasaannya, bahkan Lilyana sering bermain dengan Luzia untuk menjahili orang lain dengan beberapa trik kejahilannya, walaupun itu bukan sifat yang cocok ditampilkan untuk seorang wanita dewasa dan pemimpin salah satu unit Ksatria.


"Hey tidak bisakah kau jalan lebih cepat lagi!?"


"Huh!?"


Tiba-tiba perjalanan menuju ke Desa Moose terhenti karena dua orang dari anggota kelompok terlihat sedang saling berselisih satu sama lain, para anggota yang lain hanya bisa terdiam dan melihat mereka sedang berselisih. Kedua pemuda yang saling berselisih itu bernama Mujin dan Arban.


Pada dasarnya semua anggota kelompok pada dasarnya juga dari keempat suku yang berbeda, memang benar jika para kelompok suku secara resmi sudah menyatakan saling membantu namun tetap saja di lapangan akan berbeda.


"Jika kau berjalan lambat kita semua akan mencapai tujuan besok pagi, lemah. Inilah mengapa aku tidak menyukai para suku Moose, mereka semua sudah sangat lemah dari dulu." ucap Mujin dengan nada ejekan kepada Arban.


"Apa katamu!? Sukumu sendiri suku Viles sudah hidup bersembunyi di pojok wilayah ini, dasar pengecut!" Arban yang dengan emosi membalas ejekan Mujin.


"Huh!? kau ngajak berantem!? "


Situasi menjadi lebih rumit lagi karena setelah mereka saling mengejek satu sama lain, mereka langsung mengambil panah di punggung mereka dan saling membidik satu sama lain. Lagi-lagi para anggota kelompok yang lain hanya bisa diam dan tidak melakukan apapun.


Di dalam situasi tersebut Lilyana melihat ke arah Luzia dan dia melihatnya menganggukan kepalanya kepada Lilyana sebagai tanda isyarat untuk menghentikan perkelahian.


Seketika Lilyana langsung mengambil pedang dari sarung pedangnya yang berada di pinggangnya, dia berlari ke arah dua pemuda tersebut dan langsung menerjang mereka tanpa ragu-ragu dengan cara membenturkan gagang pedangnya ke arah perut mereka secara bergantian.


Orang-orang yang di sekitar hanya bisa mematung karena terkejut melihat terjangan Lilyana yang seperti kilat menjatuhkan mereka berdua.


Sedangkan di belakang Lilyana dia melihat Luzia yang sedang tersenyum dan menganggukkan kepalanya lagi seakan dia memujinya, Lilyana yang lagi-lagi melihatnya itu merasa heran karena dia benar-benar tidak terlihat seperti Luzia yang dia kenal dulu, namun tetap saja di hatinya dia merasa senang karena dipuji olehnya.


"Seperti yang kalian tau sebelumnya, kita turun dari kuda karena kita sudah dekat dengan wilayah musuh, jadi mungkin inj sudah saatnya kita meninggalkan kuda kita di sini untuk kita pulang kembali." dengan santainya Luzia memberikan sebuah perintah baru.


Dengan begitu anggota lainnya yang sebelumnya hanya selalu diam mulai membantu Mujin dan Arban untuk berdiri dan akhirnya mereka semua kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Desa Moose yang sudah dekat.


********


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka semua sampai di pinggiran Desa Moose bagian Utara, untuk menghindari keberadaan mereka diketahui semua anggota kelompok bersembunyi di balik semak-semak yang cukup tebal mengelilingi pinggiran Desa Moose.


Dari balik semak-semak Luzia mengamati keadaan yang di mana sepertinya para bandit benar-benar sedang sibuk berpesta bahkan beberapa ada yang terlihat kelelahan karena saking terlalu semangatnya berpesta, Luzia yang melihat itu merasa cukup lega karena umpan yang dia tinggalkan benar-benar dimakan oleh mangsanya.


Para anggota kelompok setelah mengamati situasi dari semak-semak mulai meletakkan karung yang mereka bawa dari ke tanah, dengan cukup tergesa-gesa mereka melepas tali yang menutup karung tersebut.


Setelah karung itu di buka tercium bau menyengat yang sangat tidak enak dari dalamnya, karena yang terdapat di dalam itu adalah gumpalan tinja manusia yang sudah di kumpulkan sebelum mereka berangkat ke Desa Moose atas perintah Luzia.


"Kalian seharusnya masih ingat apa yang harus kalian lakukan sekarang jadi tunggu apa lagi, lakukan secepatnya dan berusahalah untuk tidak ketahuan." perintah Luzia kepada bawahnya.


"Siap, nona Luzia!"


Tanpa berlama-lama lagi mereka semua kembali berdiri dan mengangkat karung yang sudah mereka buka sebelumnya, terlihat mereka semua berpencar dengan arah yang berbeda-beda namun mereka semua mempunyai tujuan yang sama yaitu menumpahkan tinja yang ada di karung ke semua sumur yang berada di desa Moose.

__ADS_1


Ternyata semua tinja yang Luzia perintahkan untuk dibawa tujuannya adalah untuk menjadikannya sebagai senjata biologis, sebenarnya trick ini sudah ada di sejarah Luzia bahkan sudah ada sejak zaman Romawi, dan akhirnya Luzia berusaha mengadopsinya di sini.


"Kita jangan ketinggalan, ayo tumpahkan semua isi karung ke sumur yang ada di depan kita." ucap Luzia dengan tegasnya kepada Lilyana.


Di saat mereka secara berlahan keluar dari semak-semak untuk menuju ke sumur tiba-tiba seorang anak laki-laki dengan rambut acak-acakan dan terlihat penampilannya bukan dari Kerajaan ini berdiri dari balik sumur.


Lilyana dan Luzia benar-benar terkejut karena anak tersebut muncul dari tempat titik buta jadi sebelum mereka tidak bisa melihatnya dari semak-semak.


"Ah..... " ucap Luzia dan anak itu secara canggung.


Luzia dan anak itu saling berhadapan dan memandang secara sangat canggung, mereka benar-benar tidak menyangka apa yang mereka lihat, terutama anak tersebut tentu saja sangat kaget karena yang dia lihat adalah seorang gadis cantik walaupun dia menggunakan tudung, anak itu tetap bisa sedikit mengetahuinya.


"Eh, apa ini? apa ini? apa ini? cinta pandangan pertama?" dengan tanpa bersalah Lilyana menggoda mereka di saat situasi canggung tersebut.


Namun sebaliknya anak itu yang mendengar itu langsung sadar kembali dan mencoba berusaha melarikan diri dua orang yang menurutnya sangat asing, tapi dia tahu jika pedang yang dibawa salah orang tersebut adalah pedang Ksatria, jadi dia merasa harus memberi tahu yang lainya.


Sialnya di saat dia sudah berbalik badan dan berusaha melarikan diri, Lilyana dengan sigapnya langsung menjegal dia dan menjatuhkannya ke tanah lalu menduduki punggungnya.


"Lepaskan aku, sialan!" terlihat bocah laki-laki tersebut berusaha memberontak.


"Oh~ dia cukup kuat juga, kita harus mengikatnya di pohon" ucap Lilyana dengan santainya.


"Mengikatnya?" tanya Luzia kepada Lilyana.


"Lalu apa? nona Luzia ingin membunuhnya? dia terlalu imut untuk itu!"


"Itu bukanlah sebuah alasan, tapi baiklah....... "


Akhirnya Lilyana mengikatnya di sebuah pohon terdekat dan meletakkan sebuah kain ke mulutnya dengan tujuan dia tidak akan berteriak meminta tolong, setelah melakukan hal tersebut mereka berdua langsung segera mengambil karung kembali dan menumpahkannya ke sumur.


"Ugh.... baunya sungguh menyengat, aku heran dari mana Nona Luzia mendapat ide ini."


"Bukankah itu hal yang bagus jika baunya sangat menyengat, karena itu akan semakin menyiksa mereka"


"Nona Luzia, kau benar-benar iblis kecil...... "


"Hahaha...... "


Setelah beberapa saat menahan bau yang sangat menyengat akhirnya mereka telah selesai dalam menumpahkan semua kotoran itu ke dalam sumur, mereka-pun segera menjauhi tempat tersebut dan kembali menuju ke titik pertemuan yang sudah direncanakan sebelumnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


FYI bentuk busur komposit(versi punya suku mongol dulu)



Sabotase adalah tindakan perusakan yang dilakukan secara terencana, disengaja dan tersembunyi terhadap peralatan, personel dan aktivitas di bidang militer atau tidak sekalipun. Sabotase sendiri harus mempunyai dampak psikologis yang besar kepada sasaranya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2