Luzia Senki: Catatan Perang Luzia

Luzia Senki: Catatan Perang Luzia
{1-15} MASA BERSIAP.


__ADS_3

Kalender Umum Kontinental/benua 1330: Awal Musim Gugur.


Benua Drakea bagian tengah: Kerajaan Draeruz: Wilayah Claudia: Kota Carran.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Manusia mampu melakukan kekejaman yang mengerikan. banyaknya sejarah peperangan membuat semua ini menjadi lebih sangat jelas.


Berapa banyak yang tewas dalam perang?


Apa yang terjadi dengan ekonomi pasca perang?


Bagaimana dengan nasib generasi pasca perang?


Akankah sebuah moral akan terus berdiri di negara pasca perang?


Manusia tidak akan terlalu memperdulikan itu, mereka akan terus melakukan apa yang menurut mereka benar. Pada akhir sebuah peperangan baru di saat itulah mereka sadar bahwa yang mereka lihat hanyalah sebuah kematian di mana-mana. Tetapi terkadang kau akan berpikir bahwa itu hal yang positif jika peperangan itu sangat mengerikan, dengan begitu manusia yang waras lainnya tak akan tertarik dengan peperangan.


Mungkin aku sendiri terlihat munafik jika memikirkan hal tersebut namun terkadang kau akan dihadapkan sebuah situasi di mana opsi damai juga akan buruk dampaknya seperti dampak perang itu sendiri. Jika kita tidak menghentikan perang, maka perang itulah yang akan mengakhiri kita.


Aku bukanlah seseorang yang suci dan menjadi pahlawan untuk banyak orang tanpa imbalan, karena itulah aku harus bertahan hidup di dunia ini yang aku sendiri tidak mengetahui apa alasannya aku dipanggil di dunia ini.


Berusaha selalu waspada aku sekarang berada di atas tembok Kota Carran yang sayangnya masih berbahan kayu, meskipun begitu ini sudah sedikit lebih dari cukup untuk melawan bandit.


Sebelumnya aku mengirim sebuah Detasemen(pasukan kecil) pemanah berkuda untuk setidaknya menghambat musuh di kala kita sedang memperkuat pertahanan kota. Namun ini sudah 4 hari sejak aku mengirim mereka keluar dari Kota Carran, entah ini sebuah bertanda baik atau buruk jika mereka belum muncul dari kemarin. Kota Carran dengan Desa Moose sendiri jaraknya hanya beberapa kilometer dan jika kau berjalan dengan 3.000 pasukan mungkin kau tak butuh satu hari untuk sampai ke Kota Carran, jadi jika mereka se-terlambat ini mungkin justru ini adalah pertanda baik.


"Nona Luzia, anda ingin apel?"


"Ah, kakek Wiz terima kasih."


"Tentu saja, Nona Luzia."


Di saat aku sedang mengawasi keadaan di luar tiba-tiba Kakek Wiz menawarkan beberapa apel kepadaku. Yah, karena kesibukanku jadwal makanku pun berkurang bahkan Erliz dan Clotte yang mengetahuinya langsung membuatku duduk diam dan mendengarkan caramah mereka beberapa jam, jadi menerima apel darinya mungkin bukanlah ide yang buruk.


Aku bertemu Kakek Wiz di saat sedang mengorganisir pasukan bertahan Kota Carran, dia walaupun sudah terlihat tua dengan sukarela mengajukan dirinya untuk bertempur. Aku sendiri sudah tau tentang kematian istrinya.


Penampilan Kakek Wiz sendiri, berkulit kusut tua dengan mata biru tua, banyak keriput sudah menghiasi wajahnya. Dia memiliki rambut beruban yang kondisinya terlihat sangat tidak terurus, posisi tubuhnya pun juga sudah terlihat sedikit membukuk. Tak ketinggalan di tangannya memegang sebuah busur komposit yang sudah menjadi ciri khas suku.


"Nona Luzia tolong jangan melihatku seperti itu, jika kau melihatku seperti itu bahkan Istriku yang berada di Valhala akan menertawakanku, hahaha."

__ADS_1


"Ah, maafkan aku."


"Aku mungkin sudah terlihat tua dan lemah namun jangan meremehkanku, dulu waktu masih muda aku pernah mengalahkan tiga serigala dewasa hanya dengan busurku, jadi para bandit yang sudah membunuh istriku bukanlah tandinganku!" Kakek Wiz benar-benar terlihat bersemangat untuk membalaskan dendam istrinya.


"Aku percaya dengan itu, Kakek Wiz."


"Nona Luzia, lihatlah itu." Kakek Wiz berteriak kepadaku dengan mengacungkan jari telunjuknya ke sesuatu.


Dari kejauhan terlihat sebuah kumpulan para pemanah berkuda menuju ke arah gerbang Kota Carran secara tergesa-gesa, jika dilihat lebih teliti lagi jumlah mereka tampaknya sedikit lebih berkurang dari sebelumnya dan walaupun aku sendiri sudah menduga akan ada korban jiwa di antara mereka. Meskipun begitu di wajah mereka tidak menunjukkan akan membawa sebuah kabar buruk.


Sedangkan aku sendiri tanpa berpikir apapun lagi juga langsung turun dari tembok dan dengan segera berlari ke arah gerbang Kota Carran yang di mana aku sendiri menjadi bahan tontonan di sekitarku. Akhirnya ketika aku mencapai Gerbang Kota terlihat para penunggang kuda sudah mencapainya terlebih dahulu, seolah seperti kilat yang menyambar mereka masuk ke dalam kota yang Gerbongnya sudah di buka oleh pasukan reguler Kota Carran.


Di antara penunggang kuda juga terlihat seseorang dengan janggut gelap yang lebat tumbuh di area wajahnya dan meninggalkan sebuah kesan prajurit kuat seperti gladiator di masa Romawi Kuno, dia adalah Dayan sekaligus seseorang yang bertanggung jawab memimpin Detasemen pemanah berkuda.


Dayan sendiri juga salah satu sedikit orang yang kembali pulang ke wilayah ini dari perang 7 tahun melawan Kekaisaran Kharza, maka karena itu juga dia bisa disebut sebagai seorang veteran karena guru yang terbaik adalah pengalaman, walaupun dibalik itu sifatnya benar-benar tidak ramah padaku.


"Dayan, jadi bagaimana situasinya?" tanpa bertele-tele aku pun langsung bertanya kepada Dayan.


"Kau benar-benar orang yang tidak sabaran ya. Seperti yang kau lihat, banyak dari kita dapat kembali ke sini walaupun tentu saja terdapat korban jiwa 17 meninggal dan taktik yang kau sarankan sebagian besar berjalan lancar. Di balik umurmu yang masih kecil, apakah ini kekuatan dari darah bangsawanmu, huh?"


"Yah....." aku benar-benar tidak bisa merespon setelah mendengar sarkasme-nya di akhir pernyataannya.


"Baiklah."


Merasa sudah cukup dengan laporan singkatnya aku pun langsung memerintahkan 50 pasukannya untuk beristirahat terlebih dahulu untuk tahap rencana berikutnya, sedangkan untuk sisanya aku beri perintah memasang posisi di bagian utara untuk membantu para ksatria mempertahankan bendungan.


Beberapa hari aku mendapatkan info dari Mayor kota Carran jika data populasi sebelumnya tidaklah akurat karena data itu di buat di saat perang akan berakhir dan sebenarnya populasi di wilayah ini sedikit lebih banyak dari data tersebut yang sepertinya banyak dari populasi wilayah ini tak terhitung. Meskipun begitu tidak menghapus fakta jika banyak populasi ini yang tewas karena perang dan jumlah personel kita masih cukup kalah jumlah dari musuh.


Total jumlah pasukanku adalah Ksatria 150 personil, Pasukan Reguler Kota Carran 200 personil, Pasukan gabungan Suku 350 (50 pemanah berkuda). Jadi total semua adalah 700 personil, setidaknya kita mempunyai tembok yang bisa menutupi kekurangan jumlah personil kita.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya terlihat dari kejauhan sebuah pasukan yang tentu saja jumlahnya lebih banyak dari kita berbaris mendekati Kota Carran, meskipun mereka mempunyai jumlah yang melampaui kita tampak aura negatif mempengaruhi mereka seolah moral mereka sudah di ambang kehancuran. Sepertinya Dayan benar-benar melakukan tugasnya dengan bagus.


Tampak juga mereka sedang mendirikan sebuah perkemahan di luar kota Carran yang pada akhirnya menjadi tanda jika pertempuran tak akan mulai hari ini, namun besok setelah mereka beristirahat.


Awalnya aku tidak benar-benar menyangka musuh akan terpancing oleh sesuatu yang sudah jelas terlihat itu adalah jebakan, bahkan aku sempat mempunyai rencana cadangan yang sepertinya itu tak akan berguna karena sampai sekarang semuanya berjalan dengan lancar. Sepertinya musuh mempunyai pemimpin yang sungguh tidak kompeten, mempunyai pemimpin yang tak kompeten itu lebih mengerikan daripada mempunyai musuh yang kuat.


"Nona Luzia, tebak siapa aku!" tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakang kepalaku sekaligus mataku ditutup oleh kedua tangannya.


"Lilyana, sudah kubilang ini bukan saatnya untuk bersenang-senang." tentu saja aku bisa menebak jika itu adalah Lilyana.

__ADS_1


"Eh..... bukankah dulu Nona Luzia sangat suka bermain seperti ini, anda benar-benar berubah menjadi orang yang tidak menyenangkan."


"Aku tidak akan menjadi orang yang menyenangkan jika terdapat bandit di wilayahku yang bisa saja menjual diriku menjadi budak."


"Ya ya ya, aku mengerti." meskipun begitu terlihat dari wajahnya jika Lilyana tidak mengerti bahkan tidak peduli.


"Ngomong-ngomong, untuk apa kau ke sini? bukankah kau seharusnya bersama unitmu?"


"Aku ke sini atas perintah Sir Erwin jika pagar kayu yang anda usulkan sudah tertata rapi untuk melindungi bendungan sungai"


"Begitukah? baguslah jika begitu" aku benar-benar bersyukur ketika mendengar laporan Lilyana.


Beberapa hari sebelumnya setelah pertemuan aku memerintahkan pengrajin kayu dari Desa Moose yang berbakat untuk menciptakan sebuah pagar kayu tebal untuk melindungi bendungan di utara kota dari serangan musuh.


Kelebihan utama pagar kayu sendiri adalah mereka bisa di buat mudah dalam keadaan yang cukup genting dan mendadak seperti yang kita alami saat ini, terlebih lagi di bagian selatan kota Carran terdapat pepohonan yang cukup lebat.


Bentuk pagar itu pada dasarnya juga seperti pagar biasa namun dengan ketebalan yang luar biasa dengan sebuah celah dengan tujuan untuk posisi para pemanah handal dari para anggota suku. Metode ini hampir sama dengan pada zaman sengoku tetapi di celahnya biasanya adalah pasukan Tanegashima. Ini sedikit mengingatkanku dengan pertempuran Nagashino, fufufu.


"Ah tunggu! apa yang kau lakukan Lilyana?!" aku tidak tahu apa alasannya tiba-tiba Lilyana menggelitikku.


"Kau tiba-tiba menampilkan senyum yang menyeramkan, aku tidak tahu apa yang di pikiranmu tapi aku akan menghukummu."


"Ah tungg- hahahaha! tolong aku!"


Tidak peduli bahwa besok akan menjadi sebuah pertempuran menentukan yang kita sendiri tidak tahu hasilnya di masa depan, namun Lilyana tetap berusaha untuk menghiburku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


FYI bentuk pagar kayu zaman Sengoku:



FYI pasukan dengan senjata Tanegashima:



Sengoku atau dalam bahasa indonesianya adalah negara yang berperang, disebut demikian karena dalam kurun waktu lebih dari seratus tahun terjadi peperangan antar saudara di seluruh penjuru Jepang dalam memperebutkan kekuasaan yang dipicu oleh pergolakan sosial dan politik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2