
"Haus nih, kantin yuk," ajak Nadin pada Nei yang duduk di bangku sampingnya. Berbeda dengan Nadin yang terbiasa menulis ketika di jelaskan oleh guru. Nei harus memperhatikan pelajaran tanpa menulis, kalau tidak ya dia nggak paham.
"Nanti aja pinjem punyaku," yang diajak bicara hanya bergumam tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
"Udah lah Nei...," sambil menggoyangkan lengan kiri Nei yang bebas.
Nei yang sudah terbiasa dengan perlakuan temannya itu hanya mengangguk dalam diamnya, hanya fokus menulis.
Lima menit berlalu dengan suara berisik Nadin, Nei menutup bukunya, membereskan alat-alat tulisnya di atas meja.
Nei menghela nafas perlahan dengan senyum dan menoleh ke arah Nadin "Yuk,"
Nadin hanya tersenyum dengan mata sipitnya yang tenggelam.
"Eh, bentar," Nadin yang sudah berdiripun menengok pada Nei yang membereskan peralatan di atas meja Nadin dengan cepat.
"Biarin ajalah," kata Nadin cuek.
"Ya ya ya," lanjut Nei yang sudah selesai membereskan meja. Nei berjalan mendahului Nadin yang berada di belakangnya sambil membenahi kerudung putihnya.
Pertemanan mereka memang cukup lama. Islamic Junior High School sampai sekarang di Islamic Senior High School.
"Makan apa nih," Nadin menyusul Nei dan berjalan di sampingnya. Menyamakan langkah kaki keduanya. Itu kebiasaan Nadin. Kalau mereka hanya berjalan berdua, Nadin akan menyamakan langkah kakinya dengan Nei tanpa menggandeng tangannya.
"Aku nggak laper sih," jawab Nei.
Nadin menjelaskan wajah dan berkata," Tapi aku laper,".
"Tadi pagi nggak sarapan emang?" Nei memastikan. Seingatnya Nadin sudah bilang kalau pagi ini dia kekenyangan sampe-sampe dia hampir ketiduran di jam pertama tadi.
"Ih tapi kan tadi tuh Fisika Nei, Fisika," ucapnya bersemangat.
Nei hanya tertawa menanggapi ketidaksukaan Nadin pada pelajaran fisika. Berbeda dengannya yang bisa mengatakan seru pada pelajaran fisika, kalau Nadin mengatakan seru pada pelajaran seni, khususnya menggambar.
Beberapa langkah memasuki area kantin,
"Kok sepi ya kantinnya," kata Nadin bertanya-tanya. Dia dan Nei memutar pandangan ke seluruh sudut kantin. Kantinnya cucup luas dan terlihat kosong di banyak meja panjang dengan kursi yang berhadapan.
__ADS_1
"Pada kemana ya," Nei ikut penasaran. Biasanya hari Senin jadi banyak yang ke kantin waktu istirahat jam pertama, soalnya Ahad libur jadi pada kangen makanan kantin.
"Udah beli dulu yuk," ajak Nadin melangkah mendekati stan siomay.
"Aku beli minum aja ya," Nei berjalan menuju stan minuman dan memesan untuk keduanya.
"Maaf pak mau nanya, ini temen-temen pada kemana ya kok tumben kantinnya sepi," tanya Nadin pada Bapak Siomay yang sedang membuatkannya siomay.
"Bapak juga nggak tau tuh, biasanya yang tau ibu-ibu," ujar Bapak Bakso dengan lirih.
"Oke pak, makasih pak," kata Nadin sambil menyambut sepiring siomaynya.
"Eh, belum scan dek," teguran lembut karena Nadin yang lupa mengeluarkan kartu pelajarnya. Dia hanya tersenyum malu dan segera men-scan barcodenya.
Pada kartu pelajar mereka sudah disediakan barcode jadi mereka nggak boleh menggunakan uang untuk jajan di kantin maupun belanja kebutuhan di koperasi untuk bersama atau biasa disebut KUB.
"Eh udah tanya belum ada apa," tanya Nadin penasaran.
"Duduk dulu kali Nad," suruh Nei yang sudah mencari tempat duduk untuk mereka berdua.
Sambil duduk Nadin mengatakan,"Tumben banget lo Nei, pada kemana ya? Nanti kita yang ketinggalan info,".
"Makasih," sambil tersenyum manis. Nadin itu cantik yang cantiknya lucu gitu jadi kalo dia senyum manis deh dijamin.
Beda sama Nei yang cantik tapi dia jarang senyum. Jadi mukanya lebih sering serius tapi banyak ngomong juga sih. Tapi kalo sama Nadin, jumlah kata yang dikeluarkan Nei itu lebih sedikit daripada Nadin.
"Tadi nggak nanya Mbak Um, Nei?" tanya Nadin lagi sambil menyuapkan siomay ke mulutnya. Mbak UM itu sebutan ibu yang jualan es dan jus. Tapi kalo nama aslinya mereka nggak tau.
"Nggak sih, Kamu nggak nanya?" tanya Nei balik.
"Nggak tau pak-paknya,"
Nadin memakan siomaynya dan masih penasaran sedangkan Nei meminum jus jeruknya dengan santai tanpa penasaran.
"Eh Nei," panggil Nadin.
"Hah?" jawab Nei.
__ADS_1
"Inget kakak kelas tiga yang kemarin ke kelas nggak?" Mereka mengobrol di tengah suara-suara beberapa murid lain di kantin.
"Yang mana," sahut Nei yang memandang tepat mata Nadin. Sebelumnya dia melihat ke stan-stan yang berjejer.
"Yang nawarin lomba bahasa Arab kemarin itu loh," kata Nadin mengingatkan.
"Kemarin kan nggak sekolah," ingat Nei.
" Ya nggak kemarin gitu Nei," ujar Nadi sedikit malas.
"Oh hari Sabtu itu ya, Yang ngumumin lomba di kelas itu ya," papar Nei yang sudah mengingatnya.
"Betul sekali, Ganteng nggak?" tanya Nadin kemudian dia memakan suapan terakhir siomaynya dan lanjut menyeruput es teh di samping piringnya.
"Ya Alloh Nad, nggak boleh gitu," Kata Nei sambil menggelengkan kepala.
"Kan cuma tanya," sangkal Nadin. Temannya itu memang terlalu sensitif dengan laki-laki karena belum kenal aja.
"Biasa aja sih," sahut Nei santai.
"Ah masa, ganteng lo menurutku, Tapi aku nggak suka jadi buat kamu aja," ujar Nadin bergurau.
"Iyakah?" Nei terlihat berpikir mengingat dengan jelas wajah kakak itu.
"Eh liat tuh," Nadin menatap lurus ke depan, di kelas seberang kakak yang mereka bicarakan baru aja lewat dengan seorang teman laki-laki yang asing wajahnya.
Mereka berdua berjalan santai di lorong kelas sambil mengobrol tanpa terdengar suara karena jauh. Sama-sama tinggi dan kelihatan berwibawa dari jauh.
"Oh itu..." ucap Nei sambil menengok kebelakangnya, memutar badan.
"Iya ganteng," kata Nei tanpa sadar.
"Astaghfirullah Nei," ucap Nadin mengingatkan sambil mengusap pelan lengan Nei yang ada di atas meja.
"Eh," Nei reflek menutup mulutnya dan mengedipkan matanya cepat.
...
__ADS_1
To be continued