
"Hm," suara dehaman terdengar membuat Nei dan Nadin yang sedang menghadap ke arah lapangan teralihkan.
Mereka menoleh ke pintu dan menemukan kak Arsa yang berdiri dengan membawa paper bag dan kantong plastik yang terlihat berat di sisi yang lain.
Nadin bergegas mengambilnya.
"Makasih ya kak," ucap Nadin tulus.
Kak Arsa hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Nadin hanya mendengus dan Nei tersenyum kepadanya.
"Akhirnya, selesai juga," kata Nadin lega.
"Kita nggak ngapa-ngapain sih, cuma duduk aja, tapj ya..." kata Nadin menambahkan.
Nei membawa paper bag sedangkan Nadin membawa kantong plastik yang berisi lembaran kertas.
Nei menarik nafas dan bersiap untuk berjalan terlebih dahulu. Sepertinya di halaman masih di penuhi anak-anak kecil dan tidak ada santri putra.
Nadin yang lebih percaya diri mendongakkan kepalanya dan melihat-lihat sekitar.
"Nei, di koperasi ada kak Izzat," ucap Nadin berbisik.
Nei yang berjalan di depannya menolehkan kepalanya ke belakang.
"Hah?" ucap Nei karena tak mendengar jelas perkataan Nadin.
Tanpa mereka sadari, ada bola yang sedang mengarah kepada mereka.
Nadin yang melihatnya, menarik agar Nei kebelakang. Sedangkan Nei yang tidak tau hanya diam dan,
"Ah," ucap Nei merasakan sakit di kepalanya.
Bukannya membantu Nei menghindari bola, Nadin malah membuat Nei terkena bola.
"Nei..." Nadin langsung duduk jongkok mengikuti Nei.
"Eh, sana, kena orang tu..." ucap salah satu orang yang bermain bola.
Nadin merasakan ada orang yang sedang mendekat kemudian ia melihat ke arah atas ternyata,
"Maaf," ucap kak Izzat canggung.
Ia pun ikut duduk jongkok dengan jarak yang cukup jauh. Kak Izzat berusaha melihat siapa yang terkena bola yang ditendang olehnya.
"Aneisha," ucap kak Izzat reflek.
Nei hanya melihat kak Izzat dengan mata menyipit.
"Bediri dulu Nei," ucap Nadin sembari membawa paper bag dan kantong plastik.
Nei berdiri dan berjalan perlahan keluar Ma'had. Tanpa mereka sadari orang-orang yabg yang tadi bermain bola memperhatikan gerak-gerik mereka.
Salah satu dari mereka memberi isyarat pada kak Izzat untuk melempar bola yang berada di sekitarnya, dan menyuruh kak Izzat mengikuti Nei untuk meminta maaf.
"Duduk dulu Nei," ucap Nadin setelah mereka berada di depan warung samping pintu gerbang utama Ma'had putra.
Kak Izzat yang tak tau harus apa hanya berdiri di depan Nei dengan canggung.
__ADS_1
Nadin berdiri membelikan minuman dan menyisakan mereka berdua.
"Aneisha, aku minta maaf," ucap kak Izzat tulus.
"Nggak apa-apa kok kak, cuma pusing dikit. Ternyata bola nya berat juga ya," jawab Nei sambil tertawa kecil.
Kak Izzat yang melihatnya tertawa ikut menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"Udah kakak balik aja nanti ada ustad dikira ngapain lagi," ucap Nei menambahkan.
Kak Izzat mengangguk dan berkata "Oke," sembari berjalan meninggalkannya.
"Kak Izaat udah balik?" tanya Nadin sambil memberikan mineral water dingin pada Nei.
Nei mengangguk dan meminumnya.
"Gitu aja?" tanya Nadin menuntut.
"Ya dia juga nggak sengaja," jawab Nei halus.
"Tapi tadi bolanya berat lo, udah nggak pusing?" tanya Nadin sambil memegang pundak Nei dan memutar kanan kiri.
"Udah nggak pusing kok," ucap Nei menenangkan.
Nei merasakan sangat pusing ketika bola baru saja menghantam kepalanya. Namun setelah duduk dan merilekskan diri sudah lebih mendingan.
"Minum sampe abis airnya trus kita pulang," putus Nadin.
Hari mulai siang, karena Nei tak mau berlama-lama di sini, takutnya ada santri putra yang keluar hendak ke warung yang mereka singgahi, Nei dengan segera menghabiskan minumannya.
"Abis..." ucap Nei dengan tersenyum bangga.
"Beneran nggak pusing kan?" tanya Nadin kembali memastikan.
"Nggak Nad..." ucap Nei dengan senyuman lebar.
Mereka pun berpamitan pada ibu-ibu penjaga warung dan berjalan kembali ke Ma'had.
Baru saja melangkah keluar warung, ada anak kecil yang menahan bajunya.
Nei melihat ke bawah dengan alis mengerut, sepertinya ia tidak kenal.
"Kenapa dek?" tanya Nei.
"Ini kak, dihabisin ya," ucap anak kecil itu kemudian berlari kembali ke Ma'had putra.
Nei yang menerima kantong plastik yang diberikan padanya hanya berkedip bingung.
Sampai ia melihat kak Izzat di celah gerbang utama hanya beridri diam sambil tersenyum.
Kemudian saat anak kecil itu menghampirinya ia berbicara sebentar kemudian mengajaknya berjalan masuk.
"Nei..." ucap Nadin dengan pandangan mencurigakan.
"Tadi kak Izzat bilang apa pas aku nggak ada?" kata Nadin melanjutkan kecurigaannya.
"Nggak ngomong apa-apa," jawab Nei sungguh-sungguh.
"Tapi kok..." kata Nadin menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Udah ah balik, keburu siang," ajak Nei sambil menepuk pundak Nadin kemudian mereka berjalan kembali ke Ma'had.
Mereka berjalan dalam diam, Nadin hanya melihat aneh pada Nei yang senyum sendiri sembari melihat kantong plastik pemberian kak Izzat.
"Isinya apa sih, pengen liat dong," kata Nadin penasaran.
"Nanti aja di Ma'had," ucap Nei.
"Sekarang aja..." kata Nadin dengan nada memohon.
"Nad..." ucap Nei mengelak.
"Cie... Aneisha," kata Nadin menggoda dengan nama panggilan kak Izzat pada Nei.
"Apaan sih, nggak boleh gitu," ucap Nei menepis tapi masih tersenyum.
"Nggak boleh senyum-senyum sendiri dong," kata Nadin meledeknya.
Nei hanya berpura-pura menatap sinis Nadin yang berjalan di sampingnya.
Sesampainya di Ma'had, mereka langsung bergegas ke Mushola dan bertanya,
"Ada yang tau kak Salwa dimana?" tanya Nadin pada sekelompok teman yang terlihat menulis.
"Baru aja ke atas," jawab salah satunya.
"Makasih ya," kata Nadin.
"Kamu langsung ke kamar dulu aja," ucap Nadin pada Nei. Lalu Nadin bergegas pergi ke kamar kak Salwa.
Nei ikut ke atas dan menuruti perkataan Nadin, langsung ke kamar.
Sesampainya di kamar kak Salwa, Nadin mengetuk pintu terlebih dulu.
"Assalamu'alaikum kak," ucap Nadin.
Pintu terbuka dan muncul kak Salwa dengan wajah sumringah.
"Makasih ya Nadin... duh maaf banget ngerepotin," kata Kak Salwa dengan nada penyesalan.
"Iya kak nggak apa-apa," kata Nadin dengan senyum kecil.
"Bentar," ucap kak Salwa sembari masuk ke dalam kanarnya.
"Bunda ku tadi ke sini dan bawain aku ini," kata kak Salwa sambil memberikan Nadin sekotak martabak.
"Ah, nggak usah kak, nggak apa-apa kok," ucap Nadin menolak.
"Nggak apa-apa, sama sampein makasih juga ya bua Nei," ucap kak Salwa meyakinkan.
Kak Salwa melambaikan tangan dan menutup pintu kamarnya.
Nadin segera berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Nadin menggeleng melihat sekotak martabak yang ia bawa mengingat perjuangan mereka hanya untuk membantu kakak kelasnya fotocopy, mana berat lagi kantong plastik yang ia bawa balik.
...
To be continued.
__ADS_1